<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Ade Alam&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://adealam.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://adealam.wordpress.com</link>
	<description>Seorang Penuntut Ilmu</description>
	<lastBuildDate>Mon, 08 Aug 2011 08:26:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='adealam.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/a394cf057a405d132e2e47a483a46612?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Ade Alam&#039;s Blog</title>
		<link>http://adealam.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://adealam.wordpress.com/osd.xml" title="Ade Alam&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://adealam.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Tanya Jawab tentang Kemungkaran Ziarah Kubur</title>
		<link>http://adealam.wordpress.com/2010/09/14/tanya-jawab-tentang-kemungkaran-ziarah-kubur/</link>
		<comments>http://adealam.wordpress.com/2010/09/14/tanya-jawab-tentang-kemungkaran-ziarah-kubur/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Sep 2010 04:27:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Ziarah Qubur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adealam.wordpress.com/?p=1039</guid>
		<description><![CDATA[PERTANYAAN Pada bulan-bulan tertentu seperti Rajab, Sya’ban, dan Syawal, sering terlihat orang-orang ramai melakukan ziarah kubur, baik laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda dan sebagian mereka membawa air dan kembang untuk ditaburkan ke kuburan yang diziarahi. Fenomena ini mengundang pertanyaan di benak saya tentang beberapa hal yaitu: Apa hukumnya berziarah kubur? Apakah ada waktu-waktu khusus [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adealam.wordpress.com&amp;blog=1504761&amp;post=1039&amp;subd=adealam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PERTANYAAN </strong></p>
<p>Pada bulan-bulan tertentu seperti Rajab, Sya’ban, dan  Syawal, sering terlihat orang-orang ramai melakukan ziarah kubur, baik  laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda dan sebagian mereka membawa  air dan kembang untuk ditaburkan ke kuburan yang diziarahi. Fenomena ini  mengundang pertanyaan di benak saya tentang beberapa hal yaitu:<br />
<span id="more-1039"></span></p>
<ol>
<li>Apa hukumnya berziarah kubur?</li>
<li>Apakah ada waktu-waktu khusus dan hari-hari tertentu yang afdhal untuk berziarah?</li>
<li>Apakah ziarah kubur itu mempunyai manfaat?</li>
<li>Bagaimana sebenarnya tata cara berziarah kubur yang syar’i?</li>
<li>Apakah ada hal-hal yang terlarang sehubungan dengan ziarah kubur tersebut?</li>
</ol>
<p><strong>JAWABAN PERTAMA : Hukum Ziarah Kubur </strong></p>
<p>Berziarah  kubur adalah sesuatu hal yang disyariatkan dalam agama berdasarkan  (dengan dalil) hadits-hadits Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa  sallam dan ijma’.</p>
<p>Dalil-dalil dari hadits Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam tentang disyariatkannya ziarah kubur di antaranya:</p>
<p><strong>Pertama</strong> , hadits Buraidah bin Al-Hushaib radhiyallâhu ‘anhu dari Rasulullah  shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam beliau bersabda,</p>
<p>إِنِّيْ كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ فَزُوْرُوْهَا</p>
<p>”Sesungguhnya  aku pernah melarang kalian untuk menziarahi kubur, maka (sekarang)  ziarahilah kuburan.” Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Muslim (3/65 dan  6/82) dan Imam Abu Dâud (2/72 dan 131) dengan tambahan lafazh,</p>
<p>فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمْ الْآخِرَةَ</p>
<p>“Sebab ziarah kubur itu akan mengingatkan pada hari akhirat.”</p>
<p>Dan  dari jalan Abu Dâud hadits ini juga diriwayatkan maknanya oleh Imam  Al-Baihaqy (4/77), Imam An-Nasâ`i (1/285-286 dan 2/329-330), dan Imam  Ahmad (5/350, 355-356 dan 361).</p>
<p><strong>Kedua</strong> , hadits Abu Sa’id Al-Khudry  radhiyallâhu ‘anhu, yang semakna dengan hadits Buraidah. Dikeluarkan  oleh Imam Ahmad (3/38,63 dan 66), Al-Hâkim (1/374-375), dan Al-Baihaqy  (4/77) dari jalan Al-Hâkim.</p>
<p><strong>Ketiga</strong> , hadits Anas bin Malik radhiyallâhu ‘anhu, yang juga semakna dengan hadits Buraidah dikeluarkan oleh Al-Hâkim (1/376).</p>
<p>Adapun ijma’ diriwayatkan (dihikayatkan) oleh:</p>
<ul>
<li>Al-‘Abdary sebagaimana disebutkan oleh Imam An-Nawawy dalam kitab Al-Majmû’ Syarh Al-Muhadzdzab (5/285).</li>
<li>Al-Imam  Muwaffaquddin Abu Muhammad ‘Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Qudâmah  Al-Maqdasy Al-Hambaly (541-620 H) dalam kitab Al-Mughny (3/517).</li>
<li>Al-Hâzimy sebagaimana disebutkan oleh Imam Asy-Syaukâny dalam kitab Nailul Authâr (4/119).</li>
</ul>
<p><strong>Batasan Disyari’atkannya Ziarah Kubur </strong></p>
<p>Syariat  yang telah disebutkan di atas tentang ziarah kubur adalah disunnahkan  bagi laki-laki berdasarkan dalil-dalil dari hadits-hadits maupun hikayat  ijma’ tersebut di atas. Adapun bagi wanita, maka hukumnya adalah mubah  (boleh), makruh bahkan sampai kepada haram bagi sebagian wanita.</p>
<p>Perbedaan  hukum antara laki-laki dan wanita dalam masalah ziarah kubur ini  disebabkan oleh adanya hadits yang menunjukkan larangan ziarah kubur  bagi wanita,</p>
<p>عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : أَنَّ  رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ لَعَنَ زَائِرَاتِ  الْقُبُوْرِ</p>
<p>“Dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu dia berkata, ‘  Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam melaknat wanita-wanita  peziarah kubur.’.”</p>
<p>Hadits ini diriwayatkan Ibnu Hibbân di dalam  Shahîh -nya sebagaimana dalam Al-Ihsân no. 3178, dan mempunyai syawahid  (pendukung-pendukung) yang diriwayatkan oleh beberapa orang shahabat,  di antaranya,</p>
<ul>
<li>Hadits Hassan bin Tsabit, dikeluarkan oleh Ahmad  3/242, Ibnu Abi Syaibah 4/141, Ibnu Mâjah 1/478, Al-Hâkim 1/374,  Al-Baihaqy dan Al-Bushîry di dalam kitabnya Az-Zawâ`id dan dia berkata  isnad-nya shahih dan rijal-nya tsiqah.</li>
<li>Hadits Ibnu ‘Abbâs,  dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan Ashhâbus Sunan Al-Arba’ah (Abu  Dâud, An-Nasâ`i, At-Tirmidzy dan Ibnu Mâjah), Ibnu Hibbân, Al-Hâkim dan  Al-Baihaqy.</li>
</ul>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Catatan </span></strong><br />
Hadits dengan lafazh seperti di atas (  زَائِرَاتِ ) menunjukkan pengharaman ziarah kubur bagi wanita secara  umum tanpa ada pengecualian, akan tetapi ada lafazh lain dari hadits  ini, yaitu,</p>
<p>لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ زُوَّارَاتِ الْقُبُوْرِ. وَ فِيْ لَفْظٍ : لَعَنَ اللهُ</p>
<p>“  Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam ) dalam lafazh yang  lain Allah Subhânahu wa Ta’âlâ) melaknat wanita-wanita yang banyak  berziarah kubur.”</p>
<p>Lafazh زُوَّارَاتِ (wanita yang banyak  berziarah) menjadi dalil bagi sebagian ulama untuk menunjukkan bahwa  berziarah kubur bagi wanita tidaklah terlarang secara mutlak (haram)  akan tetapi terlarang bagi wanita untuk sering melakukan ziarah kubur.</p>
<p>Sebagian dari Perkataan Para Ulama Tentang Ziarah Kubur bagi Wanita</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Yang melarang, di antaranya: </span></p>
<ul>
<li>Berkata  Imam An-Nawawy Asy-Syâfi’iy , “Nash-nash Imam Asy-Syâfi’iy dan  Al-Ashhâb (pengikut Madzhab Syâfi’iyyah) telah sepakat bahwa ziarah  kubur disunnahkan bagi laki-laki.” ( Al-Majmu’ 5/285). Kata disunnahkan bagi laki-laki mempunyai pengertian bahwa bagi wanita tidak disunnahkan.</li>
<li>Berkata  Imam Al-Muwaffaq Ibnu Qudâmah Al-Maqdasy Al-Hambaly , “Kami tidak  mengetahui adanya perbedaan di kalangan Ahlul ‘Ilmi tentang bolehnya  laki-laki berziarah kubur.” Lihat Al-Mughny 3/517.  Kata bolehnya laki-laki berziarah kubur memiliki pengertian bahwa bagi wanita belum tentu boleh atau tidak boleh sama sekali.</li>
<li>Berkata  Al-Imam Muhammad bin Muhammad Al-Abdary Al-Mâlikiy, yang terkenal  dengan nama kunyahnya “Ibnul Hâjj” , “Dan seharusnya (selayaknya),  baginya (laki-laki), melarang wanita-wanita keluar ke kuburan, meskipun  wanita-wanita tersebut memiliki mayat (karena si mayat adalah keluarga  atau kerabatnya) sebab As-Sunnah telah menghukumi/menetapkan bahwa  mereka (para wanita) tidak diperkenankan untuk keluar rumah.” Lihat  Madkhal As-Syar‘u Asy-syarîf 1/250.</li>
<li>Berkata Abu An-Najâ Musa bin  Ahmad Al-Maqdasy Al-Hambaly (pengarang Zâdul Mustaqni’ ) , “Disunnahkan  ziarah kubur kecuali bagi wanita.” Lihat Hâsyiah Ar-Raudhul Murbi’  Syarh Zâdul Mustaqni’ 3/144-145.</li>
<li>Berkata Al-Imam Mar’iy bin  Yûsuf Al-Karmy , “Dan disunnahkan berziarah kubur bagi laki-laki dan  dibenci (makruh) bagi wanita.” Lihat Manâr As-Sabîl Fî Syarh Ad-Dalîl  1/235.</li>
<li>Berkata Syaikh Ibrâhim Dhuwaiyyân , “Minimal hukumnya adalah makruh.”</li>
<li>Berkata  Syaikh Dr. Shâleh bin Fauzân Al-Fauzân , “Dan ziarah itu disyariatkan  bagi laki-laki, adapun wanita diharamkan bagi mereka berziarah kubur.”  Lihat Al-Muntaqâ Min Fatâwâ Syaikh Shâlih Al-Fauzân .</li>
</ul>
<p><span style="text-decoration:underline;">Yang membolehkan, di antaranya:</span></p>
<ul>
<li>Imam Al-Bukhâry, bahwa beliau  meriwayatkan hadits Anas bin Malik radhiyallâhu ‘anhu, “Rasulullah  shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam melewati seorang wanita yang  sedang berada di sebuah kuburan, sambil menangis. Maka Rasulullah  shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam berkata padanya, ‘ Bertaqwalah  engkau kepada Allah dan bersabarlah.’ Maka berkata wanita itu, ‘  Menjauhlah dariku, engkau belum pernah tertimpa musibah seperti yang  menimpaku,’ dan wanita itu belum mengenal Nabi shallallâhu ‘alaihi wa  âlihi wa sallam, lalu disampaikan padanya bahwa dia itu adalah  Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam, ketika itu ditimpa  perasaan seperti akan mati (karena merasa takut dan bersalah-ed.).  Kemudian wanita itu mendatangi pintu (rumah) Rasulullah shallallâhu  ‘alaihi wa âlihi wa sallam dan dia tidak menemukan penjaga-penjaga pintu  maka wanita itu berkata, ‘ Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku (pada  waktu itu) belum mengenalmu, maka Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa  âlihi wa sallam berkata, ‘ Sesungguhnya yang dinamakan sabar itu adalah  ketika (bersabar) pada pukulan (benturan) pertama.’.” Al-Bukhâry  memberi terjemah (judul bab) untuk hadits ini dengan judul “Bab tentang  ziarah kubur” yang menunjukkan bahwa beliau tidak membedakan antara  laki-laki dan wanita dalam berziarah kubur. Lihat Shahîh Al-Bukhâry  3/110-116.</li>
<li>Al-Imam Al-Hâfizh Ibnu Hajar Al-Asqâlany menerangkan  hadits di atas dalam Fathul Bâry , “Dan letak pendalilan dari hadits ini  adalah bahwa Nabi shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam tidak  mengingkari duduknya (keberadaan) wanita tersebut di kuburan. Dan taqrir  (pembolehan) Nabi adalah hujjah.”</li>
<li>Berkata Al-‘Ainy, “Dan pada  hadits ini terdapat petunjuk tentang bolehnya berziarah kubur secara  mutlak, baik peziarahnya laki-laki maupun wanita dan yang diziarahi  (penghuni kubur) muslim atau kafir karena tidak adanya pembedaan  padanya.” Lihat ‘ Umdatul Qâry 3/76.</li>
<li>Al-Imam Al-Qurthuby  berkata, “Laknat yang disebutkan di dalam hadits (tersebut) adalah bagi  wanita-wanita yang memperbanyak ziarah karena bentuk lafazhnya  menunjukkan mub alaghah (berlebih-lebihan). Dan sebabnya mungkin karena  hal itu akan membawa wanita kepada penyelewengan hak suami dan berhias  diri dan akan munculnya teriakan, erangan, raungan dan semisalnya. Dan  dikatakan jika semua hal tersebut aman (dari terjadinya) maka tidak ada  yang bisa mencegah untuk memberikan izin kepada para wanita, sebab  mengingat mati diperlukan oleh laki-laki maupun wanita.” Lihat Jâmi’  Ahkâmul Qur`ân .</li>
<li>Berkata Al-Imam Asy-Syaukâny, “Dan perkataan  (pendapat) ini adalah yang pantas untuk pegangan dalam mengkompromikan  antara hadits-hadits bab yang saling bertentangan pada lahirnya.” Lihat  Nailul Authâr 4/121.</li>
<li>Berkata Syaikh Muhammad Nâshiruddin  Al-Albâny, “Dan wanita (sama) seperti laki-laki dalam hal disunnahkannya  berziarah kubur.” Kemudian beliau rahimahullah menyebutkan empat alasan  yang sangat kuat dalam menunjukkan hal tersebut di atas. Setelah itu,  beliau berkata, “Akan tetapi tidak dibolehkan bagi mereka (para wanita)  untuk memperbanyak ziarah kubur dan bolak-balik ke kuburan sebab hal ini  akan membawa mereka untuk melakukan penyelisihan terhadap syariat  seperti meraung, memamerkan perhiasan/kecantikan, menjadikan kuburan  sebagai tempat tamasya dan menghabiskan waktu dengan obrolan kosong  (tidak berguna), sebagaimana terlihatnya hal tersebut dewasa ini pada  sebagian negeri-negeri Islam, dan inilah maksud, Insya Allah, dari  hadits masyhur,</li>
</ul>
<p style="padding-left:30px;">لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ (وَفِيْ لَفْظٍ : لَعَنَ اللهُ) زَوَّارَاتِ الْقُبُوْرِ</p>
<p>“Rasulullahshallallâhu  ‘alaihi wa âlihi wa sallam melaknat (dalam sebuah lafadz Allah  melaknat) wanita-wanita yang banyak berziarah kubur.” ( Sunan Al-Baihaqy  4/6996, Sunan Ibnu Mâjah no. 1574, Musnad Ahmad 2/8430, 8655)</p>
<p>Lihat Ahkâmul Janâiz 229-237karya Syaikh Al-Albâny.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><strong>Kesimpulan Penulis </strong></span></p>
<p>Wanita  tidak dianjurkan untuk berziarah kubur, karena ditakutkan akan terjadi  padanya hal-hal yang bertentangan dengan syari’at disebabkan karena  kelemahan hati wanita dan karena perbuatannya, seperti akan terjadinya  teriakan atau raungan ketika menangis/sedih, tabarruj (berhias),  ikhtilâth (bercampur baur dengan laki-laki) dan hal-hal lain yang  sejenis. Itulah sebabnya Nabi shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam  melaknat wanita-wanita yang sering melakukan ziarah kubur karena  banyaknya (seringnya) berziarah kubur tersebut akan mengantarkannya  kepada penyelisihan/penyelewengan terhadap syari’at. Akan tetapi jika  seorang wanita kebetulan melewati kuburan atau berada di kuburan karena  kebetulan (tanpa sengaja) seperti yang terjadi pada ‘Âisyah radhiyallahu  ‘anha ketika mengikuti Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa  sallam ke pekuburan Baqî’, maka pada waktu itu keadannya seperti  laki-laki dalam hal bolehnya wanita tersebut berziarah, dengan memberi  salam dan mendoakan para penghuni kubur.<br />
Berkata Syaikh Ibrâhim  Duwaiyyân, “Jika seorang wanita yang sedang berjalan melewati suatu  kuburan di jalannya dia memberi salam dan mendoakan penghuni kubur  (mayat) maka hal ini baik (tidak mengapa) sebab wanita tersebut tidak  sengaja keluar untuk ke pekuburan.” Lihat Manâr As-Sabîl Fî Syarh  Ad-Dalîl .</p>
<p>Wallâhu A’lam Bish Shawab .</p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><strong>Hikmah dilarangnya para wanita memperbanyak (sering) berziarah</strong></span></p>
<p>Di antara hikmah tersebut:</p>
<ul>
<li>Karena  ziarah dapat membawa kepada penyelewengan hak-hak suami akan keluarnya  para wanita dengan berhias lalu dilihat orang lain dan tak jarang ziarah  tersebut disertai dengan raungan ketika menangis. Hal ini disebutkan  oleh Imam Asy-Syaukâny dalam Nailul Authâr 4/121.</li>
<li>Karena para  wanita memiliki kelemahan/kelembekan dan tidak memiliki kesabaran maka  ditakutkan ziarah mereka akan mengantarkan kepada perkataan-perkataan  dan perbuatan-perbuatan yang akan mengeluarkan mereka dari keadaan sabar  yang wajib. Hal ini disebutkan oleh ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman  Al-Bassâm dalam Taudhîhul Ahkâm 2/563-564.</li>
<li>Sebab wanita sedikit  kesabarannya, maka dia tidaklah aman dari gejolak kesedihannya ketika  melihat kuburan orang-orang yang dicintainya, dan ini akan membawa dia  pada perbuatan-perbuatan yang tidak halal baginya, berbeda dengan  laki-laki. Disebutkan oleh Syaikh Ibrâhim Duwaiyyân menukil dari Al-Kâfi  . Lihat Manâr As-Sabîl Fî Syarh Ad-Dalîl 1/236.</li>
<li>Berkata Imam  Ibnul Hâjj rahimahullah setelah menyebutkan 3 pendapat ulama tentang  boleh tidaknya berziarah kubur bagi wanita, “Dan ketahuilah bahwa  perselisihan pendapat para ‘ulama yang telah disebutkan adalah dengan  kondisi wanita pada waktu itu (zamannya para ‘ulama salaf sebelum Ibnul  Hâjj yang wafat pada thn 732 H), maka mereka sebagaimana diketahui dari  kebiasaan mereka yang mengikuti sunnah, sebagaimana telah lalu (tentang  hal itu). Adapun keluarnya mereka (para wanita untuk berziarah) pada  zaman ini (zaman Ibnul Hâjj), maka kami berlindung kepada Allah dari  kemungkinan adanya seorang dari ‘ulama atau dari kalangan orang-orang  yang memiliki muru`ah (kehormatan dan harga diri) atau cemburu  (kepedulian) terhadap agamanya yang akan membolehkan hal ini. Jika  terjadi keadaan darurat (yang mendesak) baginya untuk keluar maka  hendaknya berdasarkan hal-hal yang telah diketahui dalam syari’at berupa  menutup aurat sebagaimana yang telah lalu (pembahasannya) bukan  sebagaimana adat mereka yang tercela pada masa ini. Lihatlah,  mudah-mudahan Allah Subhânahu Wa Ta’âla merahmati kami dan merahmatimu.  Lihatlah mafsadah (kerusakan) ini yang telah dilemparkan oleh syaithan  kepada sebagian mereka (para wanita) di dalam membangun (menyusun)  tingkatan-tingkatan kerusakan ini di kuburan.” ( Madkhal Asy-Syar’u  Asy-Syarif 1/251)</li>
</ul>
<p><strong>JAWABAN KEDUA: Adakah Waktu-Waktu Tertentu (Khusus) Untuk Berziarah? </strong></p>
<p>Ziarah  Kubur dapat dilakukan kapan saja, tidak ada waktu yang khusus dan tidak  boleh (tidak layak) dikhususkan untuk itu, baik pada bulan Sya’ban,  Syawal maupun waktu-waktu yang lainnya. Hal ini karena tidak adanya  dalil yang menunjukkan tentang adanya waktu khusus atau afdhal (paling  baik) untuk berziarah kubur.</p>
<p>Ketika Syaikh Dr. Shâleh bin Fauzân  Al-Fauzân ditanya tentang waktu/hari yang afdhal untuk berziarah, beliau  berkata, “Tidak ada waktu khusus dan tidak ada waktu tertentu untuk  berziarah kubur.” Lihat Al-Muntaqâ min Fatâwâ Syaikh Shâlih Al-Fauzân  2/166.</p>
<p><strong>JAWABAN KETIGA Faidah Ziarah Kubur </strong></p>
<p>Bagi yang Berziarah</p>
<p>Faidah yang bisa dipetik dan hasil yang akan didapatkan oleh orang yang berziarah kubur, antara lain :</p>
<ul>
<li>Memberikan nasihat bagi dirinya.</li>
<li>Mengingatkannya kepada kematian, balasan dan hari kiamat.</li>
<li>Menambahkan kebaikan baginya.</li>
<li>Mengambil pelajaran.</li>
<li>Melunakkan (melembutkan) hati.</li>
<li>Menjadikannya zuhud terhadap dunia dan tamak terhadap kebaikan hari akhirat.</li>
</ul>
<p>Semua hal tersebut di atas ditunjukkan oleh hadits-hadits Nabi shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam ,</p>
<p>إِنِّيْ  كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ فَزُوْرُوْهَا فَإِنَّهَا  تُذَكِّرُكُمُ الْآخِرَةَ وَلْتَزِدْكُمْ زِيَارَتُهَاخَيْرًا</p>
<p>“Sesungguhnya  aku pernah melarang kalian dari berziarah kubur maka (sekarang)  ziarahilah kubur sebab ziarah itu akan mengingatkan kalian terhadap hari  akhirat dan akan menambah kebaikan pada diri kalian.” Diriwayatkan oleh  Imam Ahmad dari hadits Buraidah bin Al-Hushaib (5/350, 355, 356 dan  361).</p>
<p>Dalam riwayat yang lain dari Abu Sa’id Al-Khudry radhiyallâhu ‘anhu ,</p>
<p>فَإِنَّ فِيْهَا عِبْرَةً</p>
<p>“Sesungguhnya pada ziarah itu terdapat pelajaran”.</p>
<p>Diriwayatkan oleh Ahmad (3/38, 63, 66), Al-Hâkim (1/374-375) dan Al-Baihaqy (4/77) dari jalan Al-Hâkim.</p>
<p>Dalam riwayat yang lain dari Anas bin Mâlik radhiyallahu ‘anhu ,</p>
<p>فَإِنَّهَا يُرِقُّ الْقَلْبَ وَتَدْمَعُ الْعَيْنُ وَتُذِكَّرُ الْآخِرَةَ</p>
<p>“Sesungguhnya  ziarah itu akan melunakkan hati, mengundang air mata dan mengingatkan  pada hari kiamat.” Diriwayatkan oleh Al-Hâkim (1/376).</p>
<p><strong>Bagi Penghuni Kubur </strong></p>
<p>Penghuni  kubur akan mendapatkan manfaat dari ziarah kubur dengan adanya salam  yang ditujukan padanya yang berisi permohonan keselamatan, ampunan dan  rahmat baginya. Semua hal ini hanya bisa didapatkan oleh seorang muslim.  (Disebutkan oleh Syaikh Al-Albâny dalam Ahkâmul Janâiz 239)</p>
<p>Berkata Ibnul Qayyim rahimahullâh ,</p>
<p>“Pasal:  Tentang Petunjuk Nabi shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam dalam  ziarah kubur: Adalah beliau shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam jika  menziarahi kubur para shahabatnya beliau menziarahinya untuk mendoakan  mereka dan memintakan rahmat dan pengampunan bagi mereka. Inilah bentuk  ziarah yang disunnahkan bagi ummatnya dan beliau syariatkan untuk mereka  dan memerintahkan mereka jika menziarahi kuburan untuk mengatakan ,</p>
<p>اَلسَّلاَمُ  عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ  وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ لَلاَحِقُوْنَ نَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ  الْعَافِيَةَ</p>
<p>“Salam keselamatan atas penghuni rumah-rumah  (kuburan) dan kaum mu’minin dan muslimin, mudah-mudahan Allah merahmati  orang-orang yang terdahulu dari kita dan orang-orang yang belakangan,  dan kami Insya Allah akan menyusul kalian, kami memohon kepada Allah  keselamatan bagi kami dan bagi kalian.” (Disebutkan dalam Zâdul Ma’âd  karya Ibnul Qayyim)</p>
<p><strong>JAWABAN KEEMPAT :  Tata Cara Ziarah Kubur</strong></p>
<p>Yang dilakukan oleh seorang peziarah adalah:</p>
<ul>
<li>Memberi  salam kepada penghuni kubur (muslimin) dan mendo’akan kebaikan bagi  mereka. Diantara doa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi  wa âlihi wa sallam kepada umatnya yang berziarah kubur ,</li>
</ul>
<p style="padding-left:30px;">
اَلسَّلاَمُ  عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ  وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ لَلاَحِقُوْنَ نَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ  الْعَافِيَةَ</p>
<p>“Salam keselamatan atas penghuni rumah-rumah  (kuburan) dan kaum mu’minin dan muslimin, mudah-mudahan Allah merahmati  orang-orang yang terdahulu dari kita dan orang-orang yang belakangan,  dan kami Insya Allah akan menyusul kalian kami memohon kepada Allah  keselamatan bagi kami dan bagi kalian.” Diriwayatkan oleh Imam Muslim  975, An-Nasâ`i 4/94, Ahmad 5/353, 359, 360.</p>
<p>اَلسَّلاَمُ عَلَى  أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَيَرْحَمُ  اللهُ الْمُسْتَقْدِمِيْنِ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِيْنَ وَإِنَّا إِنْ  شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَلاَحِقُوْنَ</p>
<p>“Keselamatan atas penghuni  kubur dari kaum mu’minin dan muslimin mudah-mudahan Allah merahmati  orang-orang terdahulu dari kita dan orang-orang belakangan dan kami  Insya Allah akan menyusul kalian.”</p>
<ul>
<li>Tidak berjalan di atas kuburan dengan mengenakan sandal. Hal ini berdasarkan hadits Basyir bin Khashashiah ,</li>
</ul>
<p style="padding-left:30px;">بَيْنَمَا  هُوَ يَمْشِيْ إِذْ حَانَتْ مِنْهُ نَظَرَةٌ فَإِذَا رَجُلٌ يَمْشِيْ  بَيْنَ الْقُبُوْرِ عَلَيْهِ نَعْلاَنِ فَقَالَ يَا صَاحِبَ  السِّبْتِيَّتَيْنِ وَيْحَكَ أَلْقِ سِبْتِيَّتَيْكَ فَنَظَرَ فَلَمَّا  عَرَفَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ خَلَعَ  نَعْلَيْهِ فَرَمَى بِهِمَا</p>
<p>“Ketika Rasulullah shallallâhu  ‘alaihi wa âlihi wa sallam sedang berjalan, tiba-tiba beliau memandang  seorang laki-laki yang berjalan di antara kubur dengan mengenakan  sandal, maka Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam bersabda ,  ‘Wahai pemilik (yang memakai) sandal celakalah engkau lepaskanlah  sandalmu. ’ Maka orang itu memandang tatkala ia mengetahui Rasulullah  shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam ia melepaskan kedua sandalnya dan  melemparkannya.” Diriwayatkan oleh Abu Dâud 2/72, An-Nasâ`i 1/288, Ibnu  Mâjah 1/474, Al-Hâkim 1/373 dan dia berkata , “Sanadnya shahih,” dan  disepakati oleh Adz-Dzahaby dan dikuatkan (diakui) oleh Al- Hâfizh Ibnu  Hajar ( Fathul Bâry 3/160).</p>
<p>Berkata Al- Hâfizh Ibnu Hajar ,  “Hadits ini menunjukkan makruhnya berjalan diantara kuburan dengan  sandal.” ( Fathul Bâry 3/160). Berkata Syaikh Al-Albâny , “Hadits ini  menunjukkan makruhnya berjalan di atas kuburan dengan memakai sandal.”  Lihat Ahkâmul Janâiz 252.</p>
<ul>
<li>•Tidak duduk atau bersandar pada kuburan.</li>
</ul>
<p style="padding-left:30px;">Hal ini berdasarkan hadits Abu Marbad radhiyallâhu ‘anhu dari Nabi shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam ,</p>
<p>لاَ تَجْلِسُوْا عَلَى الْقُبُوْرِ وَلاَ تُصَلُّوا إِلَيْهَا</p>
<p>“Janganlah kalian duduk di atas kuburan dan jangan melakukan shalat padanya.” Dikeluarkan oleh Imam Muslim 2/228.</p>
<p>Dan hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam bersabda ,</p>
<p>لَأَنْ  يَجْلِسَ أَحُدُكُمْ عَلَى جَمْرَةٍ فَتُحْرِقَ ثِيَابَهُ فَتَخْلُصَ  إِلَى جِلْدِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَجْلِسَ عَلَى قَبْرٍ</p>
<p>“Seandainya  salah seorang dari kalian duduk di atas bara api hingga (bara api itu)  membakar pakaiannya sampai mengenai kulitnya itu adalah lebih baik  daripada dia duduk di atas kuburan.” Diriwayatkan oleh Imam Muslim.</p>
<ul>
<li>Dibolehkan  bagi peziarah untuk mengangkat tangannya ketika berdoa untuk penghuni  kubur, berdasarkan hadits ‘Âisyah radhiyallâhu ‘anhâ ,</li>
</ul>
<p style="padding-left:30px;">“Rasulullah  shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam keluar pada suatu malam, maka aku  (‘Âisyah) mengutus Barîrah untuk membuntuti kemana saja beliau  (Rasulullah) pergi, maka Rasulullah mengambil jalan ke arah Baqî’  Al-Garqad kemudian beliau berdiri pada sisi yang terdekat dari Baqî’  lalu beliau mengangkat tangannya, setelah itu beliau pulang, maka  kembalilah Barîrah kepadaku dan mengabariku (apa yang dilihatnya). Maka  pada pagi hari aku bertanya dan berkata, ‘Wahai Rasulullah keluar kemana  engkau semalam? ’ Beliau berkata, ‘Aku diutus kepada penghuni Baqî’  untuk mendoakan mereka ’ .” Dikeluarkan oleh Imam Ahmad (6/92) dan  sebelumnya oleh Imam Malik pada kitabnya ( Al-Muwaththa` (1/239-240)).</p>
<ul>
<li>Berkata  ‘Abdullah Al-Bassâm , “Tidaklah pantas bagi seseorang yang berada di  pekuburan, baik dia bermaksud berziarah atau hanya secara kebetulan  untuk berada dalam keadaan bergembira dan senang seakan-akan dia berada  pada suatu pesta, seharusnya dia ikut hanyut atau memperlihatkan  perasaan ikut hanyut di hadapan keluarga mayat.” Lihat Taudhîhul Ahkâm  2/564.</li>
</ul>
<ul>
<li>Menghadap ke kuburan ketika memberi salam kepada penghuni kubur.</li>
</ul>
<p style="padding-left:30px;">Hal ini diambil dari hadits-hadits yang lalu tentang cara memberi salam pada penghuni kubur.</p>
<ul>
<li>Ketika  mendoakan penghuni kubur tidak menghadap ke kuburan melainkan menghadap  kiblat. Sebab Nabi shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam melarang  umatnya shalat menghadap kubur dan karena doa adalah intinya ibadah,  sebagaimana sabda Nabi shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam ,</li>
</ul>
<p style="padding-left:30px;">الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ<br />
“Doa adalah ibadah.”<br />
Diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzy (4/178,223) dan Ibnu Mâjah (2/428-429).</p>
<p><strong>Macam-macam Ziarah Kubur dan Hal-hal yang diharamkan dalam dalam Ziarah Kubur. </strong></p>
<p>Hal  ini telah disebutkan oleh Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman Al-Bassâm  dalam Taudhîhul Ahkâm (2/562-563), bahwa keadaan seorang yang berziarah  ada empat jenis, yaitu:</p>
<ul>
<li>Mendoakan para penghuni kubur dengan  cara memohon kepada Allah Subhânahu wa Ta’âla pengampunan dan rahmat  bagi para penghuni kubur, dan memohonkan doa khusus bagi yang dia  ziarahi dan pengampunan. Mengambil pelajaran dari keadaan orang mati  sehingga bisa menjadi peringatan dan nasihat baginya. Inilah bentuk  ziarah yang syar’i.</li>
</ul>
<p style="padding-left:30px;">
<ul>
<li>Berdoa kepada Allah Subhânahu wa Ta’âla bagi  dirinya sendiri dan bagi orang-orang yang dicintainya di pekuburan atau  di dekat sebuah kuburan tertentu dengan keyakinan bahwa berdoa di  pekuburan atau pada kuburan seseorang tertentu afdhal (lebih utama) dan  lebih mustajab daripada berdoa di masjid. Dan ini adalah bid’ah  munkarah, haram hukumnya.</li>
</ul>
<p style="padding-left:30px;">
<ul>
<li>Berdoa kepada Allah Subhânahu wa  Ta’âla dengan mengambil perantara jâh (kedudukan) penghuni kubur atau  haknya, melalui perkataan , “Aku memohon pada-Mu, wahai Rabbku ,  berikanlah …(sesuatu)… dengan jâh (kedudukan) penghuni kuburan ini atau  dengan haknya terhadap-Mu, atau dengan kedudukannya disisi-Mu,” atau  yang semisalnya. Dan ini adalah bid’ah muharramah dan haram hukumnya,  sebab perbuatan tersebut adalah sarana/jalan yang mengantar kepada  kesyirikan kepada Allah Subhânahu wa Ta’âla .</li>
</ul>
<p style="padding-left:30px;">
<ul>
<li>Tidak berdoa  kepada Allah Subhânahu wa Ta’âla melainkan berdoa kepada para penghuni  kubur atau kepada penghuni kubur tertentu, melalui perkataan , “Wahai  wali Allah, wahai nabi Allah, wahai tuanku, cukupilah aku atau berilah  aku …(sesuatu) …,” dan semisalnya. Dan ini adalah syirik Akbar (besar).</li>
</ul>
<p style="padding-left:30px;">
<p>Berkata  Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullâhu Ta’âla dalam kitabnya,  Ar-Raddu ‘Alal Bakry hal. 56-57, ketika menyebutkan tingkatan bid’ah  yang berhubungan dengan ziarah kubur, “Bid’ahnya bertingkat-tingkat:</p>
<p>Tingkatan  Pertama (yang paling jauh dari syariat) , dia (penziarah) meminta  hajatnya pada mayat atau dia beristighatsah (meminta tolong ketika  terjepit/susah) padanya sebagaimana dilakukan oleh kebanyakan orang  terhadap kebanyakan penghuni kubur. Dan ini adalah termasuk jenis  peribadahan kepada berhala.</p>
<p>Tingkatan kedua , dia (penziarah)  meyakini bahwa berdoa di sisi kuburnya mustajab atau bahwa doa tersebut  afdhal (lebih baik) daripada berdoa di masjid-masjid dan di rumah-rumah.  Dan dia maksudkan ziarah kuburnya untuk hal itu (berdoa di sisi  kuburan), atau untuk shalat di sisinya atau untuk tujuan meminta  hajat-hajatnya padanya. Dan ini juga termasuk kemungkaran-kemungkaran  yang baru berdasarkan kesepakatan imam-imam kaum muslimin. Dan ziarah  tersebut haram. Dan saya tidak mengetahui adanya pertentangan pendapat  di kalangan imam agama ini tentang masalah ini.</p>
<p>Tingkatan ketiga ,  dia (penziarah) meminta kepada penghuni kubur agar memintakan (hajat)  baginya kepada Allah. Dan ini adalah bid’ah berdasarkan kesepakatan para  imam kaum muslimin.</p>
<p><strong>JAWABAN KELIMA :  Hal-Hal yang Diharamkan/Bid’ah-Bid’ah Ziarah Kubur </strong></p>
<ul>
<li>Kesyirikan.</li>
</ul>
<p>Syirik  Akbar (besar) sering terjadi dan dilakukan oleh sebagian orang di  kuburan. Batasan syirik besar (Asy-Syirkul Akbar) itu sendiri adalah  jika seseorang memalingkan satu jenis atau satu bentuk dari  jenis-jenis/bentuk-bentuk ibadah kepada selain Allah Subhânahu wa Ta’âla  . Segala i’tiqâd (keyakinan), perkataan atau perbuatan yang telah  tsabit (kuat) bahwa itu adalah diperintahkan oleh Allah Subhânahu wa  Ta’âla , maka memalingkannya kepada selain Allah Subhânahu wa Ta’âla  adalah kesyirikan dan kekufuran ( Al-Qaul As-Sadid Syarh kitâb At-Tauhid  hal. 48 karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nâshir As-Sa’dy).</p>
<p>Syirik Akbar (besar) yang mungkin sering terjadi di kuburan adalah:</p>
<ul>
<li>Menyembelih untuk penghuni kubur,</li>
<li>Menunaikan nadzar kepadanya,</li>
<li>Memberikan  persembahan kepada penghuni kubur yang disertai dengan keyakinan dan  perasaan cinta dan atau berharap dan atau takut terhadap penghuni kubur,</li>
<li>Bertawakkal kepadanya,</li>
<li>Berdoa kepadanya,</li>
<li>Meminta pertolongan untuk mendapatkan kebaikan (isti’ânah) atau untuk lepas dari kesulitan (istighatsah) pada penghuni kubur,</li>
<li>Thawaf pada kuburan, dan</li>
<li>Ibadah lainnya yang ditujukan untuk penghuni kubur.</li>
</ul>
<p>Semua  hal tersebut di atas adalah syirik besar dan mengakibatkan batalnya  seluruh amalan. Allah Subhânahu wa Ta’âla berfirman, setelah menyebutkan  tentang para nabi dan rasul-Nya,</p>
<p>“Itulah petunjuk Allah, yang  dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di  antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya  lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” [ Al-An’âm:  88 ]</p>
<p>Tidak ada seorang pun yang beramal seperti amalannya para  nabi dan rasul, sebab merekalah orang-orang yang paling tahu tentang  Allah dan paling takwa kepada-Nya, tetapi Allah Subhânahu wa Ta’âla  tetap menyatakan bahwa seandainya mereka berbuat kesyirikan, maka akan  sirna/lenyap semua apa yang mereka kerjakan. Seperti juga firman Allah  Subhânahu wa Ta’âla yang lainnya,</p>
<p>“Dan sesungguhnya telah  diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, “Jika kamu  mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu  termasuk orang-orang yang merugi. Karena itu, maka hendaklah Allah saja  yang kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang  bersyukur.” [ Az-Zumar: 65-66 ]</p>
<p>Dan ayat-ayat di atas  menggambarkan tentang betapa berbahayanya syirik tersebut dan betapa  sesatnya manusia jika terjatuh ke dalam kesyirikan tersebut. Sebagaimana  firman Allah Subhânahu wa Ta’âla ,</p>
<p>“Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” [ An-Nisâ`: 48 ]</p>
<p>dan firman Allah Subhânahu wa Ta’âla ,</p>
<p>“Sesungguhnya  Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan  Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang  dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan  Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” [ An-Nisâ`:  116 ]</p>
<p>dan firman Allah Subhânahu wa Ta’âla ,</p>
<p>“Dan  (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi  pelajaran kepadanya, ‘ Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan  (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar  kezhaliman yang besar. ’ .” [ Luqman: 13 ]</p>
<ul>
<li>Duduk di atas kuburan, sebagaimana penjelasan yang lalu dalam tata cara ziarah kubur.</li>
</ul>
<ul>
<li>Shalat menghadap kuburan.</li>
</ul>
<p>Point 2 dan 3 berdasarkan sabda Nabi shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam,<br />
لاَ تُصَلُّوْا إِلَى الْقُبُوْرِ وَلاَ تَجْلِسُوْا عَلَيْهَا</p>
<p>“Janganlah  kalian shalat menghadap kuburan dan jangan pula kalian duduk di  atasnya.” Diriwayatkan oleh Imam Muslim 3/62 dari hadits Abi Martsad  Al-Ghanawy.</p>
<ul>
<li>Shalat di kuburan, meskipun tidak menghadap padanya, berdasarkan hadits Abu Sa’id Al-Khudry,</li>
</ul>
<p>الْأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلاَّ الْمَقْبَرَةَ وَالْحَمَّامَ</p>
<p>“Bumi  ini semuanya adalah masjid (tempat shalat) kecuali pekuburan dan kamar  mandi.” Diriwayatkan oleh At-Tirmidzy no. 317, Ibnu Mâjah 1/246 no. 745,  Ibnu Hibbân 8/92 no. 2321.</p>
<p>Dan hadits Anas bin Mâlik,<br />
نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ عَنِ الصَّلاَةِ بَيْنَ الْقُبُوْرِ</p>
<p>“Rasulullah  shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam melarang dari shalat di antara  kuburan.” Diriwayatkan oleh Ibnu Hibbân 4/596 no. 1698.</p>
<p>Dan Hadits Ibnu ‘Umar,<br />
اِجْعَلُوْا فِيْ بُيُوْتِكُمْ مِنْ صَلاَتِكُمْ وَلاَ تَتَّخِذُوْهَا قُبُوْرًا</p>
<p>“Lakukanlah  di rumah-rumah kalian sebagian dari shalat-shalat kalian dan janganlah  menjadikannya sebagai kuburan.” H.R. Bukhâry no. 422.</p>
<p>Maksudnya  bahwa kuburan tidaklah boleh dijadikan tempat shalat sebagaimana rumah  yang dianjurkan untuk dilakukan sebagian shalat padanya (shalat-shalat  sunnah bagi laki-laki).</p>
<p>Dan hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam bersabda,<br />
لاَ تَجْعَلُوْا بُيُوْتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِيْ تَقْرَأُ فِيْهِ سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ.</p>
<p>“Janganlah  kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai pekuburan, sesungguhnya  syaithan akan lari dari rumah yang dibacakan padanya surah Al-Baqarah.”  Diriwayatkan oleh Imam Muslim no. 780.</p>
<ul>
<li>Menjadikan kuburan  sebagai tempat peringatan, dikunjungi pada waktu-waktu tertentu dan pada  musim-musim tertentu untuk beribadah di sisinya atau untuk selainnya,  berdasarkan hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa  âlihi wa sallam bersabda,</li>
</ul>
<p>لاَ تَتَّخِذُوْا قَبْرِيْ عِيْدًا وَلاَ  تَجْعَلُوْا بُيُوْتَكُمْ قُبُوْراً وَحَيْثُمَا كُنْتُمْ فَصَلُّوْا  عَلَيَّ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ تَبْلُغُنِيْ</p>
<p>“Janganlah kalian menjadikan  kuburanku sebagai tempat peringatan dan janganlah menjadikan rumah  kalian sebagai kuburan dan dimanapun kalian berada bershalawatlah  kepadaku sebab shalawat kalian akan sampai kepadaku.” Diriwayatkan oleh  Imam Ahmad 2/367, Abu Dâud no. 2042 ( Ahkâmul Janâ`iz dan Min Bida’il  Qubûr )</p>
<ul>
<li>Melakukan perjalanan (bersafar) dengan maksud hanya untuk berziarah  kubur, berdasarkan hadits Abu Hurairah dari Nabi shallallâhu ‘alaihi wa  âlihi wa sallam,</li>
</ul>
<p>لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ  مَسَاجِدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الرَّسُوْلِ صَلَّى اللهُ  عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى. أَخْرَجَهُ  الْبُخَارِيْ وَمُسْلِمٌ وَلَفْظُهُ ” إِنَّمَا يُسَافَرَ إِلَى ثَلاَثَةِ  مَسَاجِدَ مَسْجِدِ الْكَعْبَةِ وَمَسْجِدِيْ وَمَسْجِدِ إِيْلِيَاءَ.</p>
<p>“Tidaklah  (boleh) dilakukan perjalanan (untuk ibadah) kecuali kepada tiga masjid:  Al-Masjidil Haram , masjid Ar-Rasul dan masjid Al-Aqshâ”. Dikeluarkan  oleh Imam Bukhâry dan Muslim dengan lafazh, “Safar itu hanyalah kepada  tiga masjid (yaitu) masjid Al-Ka’bah, Masjidku dan Masjid Iliyâ`.”</p>
<p>Juga hadits Abu Sa’id Al-Khudry dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam,</p>
<p>لاَ  تُشَدُّ وَفِيْ لَفْظٍ : لاَ تَشُدًّوْا الرِّحَالَ إِلاَّ إِلَى  ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ مَسْجِدِيْ هَذَا وَمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ  الْأَقُصَى. أَخْرَجَهُ الشَّيْخَانِ وَاللَّفْظُ الْآخَرُ لِمُسْلِمٍ.</p>
<p>“Tidaklah  (boleh) dilakukan perjalanan -dan dalam sebuah riwayat: janganlah  kalian melakukan perjalanan- (untuk ibadah) kecuali kepada tiga masjid:  Masjidku (Masjid Nabawy), Masjidil Haram dan masjid Al-Aqshâ.”  Muttafaqun ‘alaihi .</p>
<ul>
<li>Menyalakan lampu (pelita) pada kuburan,  karena perbuatan tersebut adalah bid’ah yang tidak pernah dikenal oleh  para salafus shalih, merupakan pemborosan harta, dan menyerupai Majûsi  (para penyembah api) ( Ahkâmul Janâ`iz hal. 294).</li>
</ul>
<ul>
<li>Membaca Al-Qur`ân di kuburan.</li>
</ul>
<p>Membaca  Al-Qur`ân di pekuburan adalah suatu bid’ah dan bukanlah petunjuk Nabi  shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam. Bahkan petunjuk (sunnah)  Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam adalah berziarah dan  mendoakan mereka, bukan membaca Al-Qur`ân.</p>
<p>Dan hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam bersabda,</p>
<p>لاَ تَجْعَلُوْا بُيُوْتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِيْ تُقْرَأُ فِيْهِ سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ.</p>
<p>“Janganlah  kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai pekuburan, sesungguhnya  syaithan akan lari dari rumah yang dibacakan padanya surah Al-Baqarah.”  Diriwayatkan oleh Imam Muslim no. 780.</p>
<p>Pada hadits ini terkandung  pengertian bahwa Nabi shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam  memerintahkan umatnya membaca Al-Qur`ân di rumah-rumah mereka  (menjadikan rumah-rumah mereka sebagai salah satu tempat membaca  Al-Qur`ân), kemudian beliau menjelaskan hikmahnya, yaitu bahwa syaithân  akan lari dari rumah-rumah mereka jika dibacakan surah Al-Baqarah.</p>
<p>Dan  sebelumnya Nabi shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam telah melarang  untuk menjadikan rumah-rumah mereka sebagai kuburan yang dihubungkan  dengan hikmah (illat tersebut), maka mafhûm (dipahami) dari hadits di  atas adalah bahwa kuburan bukanlah tempat yang disyari’atkan untuk  membaca Al-Qur`ân, bahkan tidak boleh membaca Al-Qur`ân padanya.</p>
<p>Berkata  Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, “ Para ulama telah menukil dari Imam  Ahmad tentang makruhnya membaca Al-Qur`ân dikuburan dan ini adalah  pendapat jumhur As-Salaf dan para shahabatnya (Ahmad) yang terdahulu  juga di atas pendapat ini, dan tidak ada seorang pun dari ulama yang  diperhitungkan mengatakan bahwa membaca Al-Qur`ân di kuburan afdhal  (lebih baik). Dan menyimpan mashâhif (kitab-kitab Al-Qur`ân) di kuburan  adalah bid’ah meskipun untuk dibaca… dan membacakan Al-Qur`an bagi mayat  adalah bid’ah.” ( Min Bida’il Qubûr hal. 59).</p>
<ul>
<li>Mengeraskan suara di kuburan.</li>
</ul>
<p>Berkata  Qais bin Abbâd, “Adalah shahabat-shahabat Rasulullah shallallâhu  ‘alaihi wa âlihi wa sallam menyukai merendahkan suara dalam tiga  perkara: dalam penerangan, ketika membaca Al-Qur`ân dan ketika di dekat  jenazah-jenazah.” Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah no. 11201. ( Min  Bida’il Qubûr hal. 88).</p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><strong>Catatan: </strong></span></p>
<p>Untuk no.10 dan seterusnya akan disebutkan saja bentuk  bid’ahnya dengan menunjuk rujukannya kalau ada. Adapun yang tidak  disebutkan rujukannya, maka ia masuk ke dalam perkara-perkara bid’ah  secara umum karena tidak dicontohkan oleh Nabi shallallâhu ‘alaihi wa  âlihi wa sallam maupun para shahabatnya walaupun sebab untuk  melakukannya ada. Hal ini dilakukan agar tulisan ini tidak menjadi  terlalu panjang. Wallâhul Musta’ân.</p>
<ul>
<li>Memasang payung (lihat Min Bida’il Qubûr hal. 93-94).</li>
<li>Menanaminya dengan pohon dan kembang.</li>
<li>Menyiraminya dengan air</li>
<li>Menaburkan kembang padanya.</li>
<li>Berziarah  kubur setelah hari ke-3 dari kematian dan berziarah pada setiap akhir  pekan kemudian pada hari ke-15, kemudian pada hari ke-40 dan sebagian  orang hanya melakukannya pada hari ke-15 dan hari ke-40 saja ( Ahkâmul  Janâ`iz ).</li>
<li>Menziarahi kuburan kedua orang tua setiap hari Jum’at ( Ahkâmul Janâ`iz ).</li>
<li>Keyakinan  sebagian orang yang menyatakan bahwa mayat, jika tidak diziarahi pada  malam Jum’at, dia akan tinggal dengan hati yang hancur di antara  mayat-mayat lainnya dan bahwa mayat itu dapat melihat orang-orang yang  menziarahi ketika mereka keluar dari batas kota ( Al-Madkhal 3/277).</li>
<li>Mengkhususkan ziarah kubur pada hari ‘Âsyûra` ( Al-Madkhal 1/290).</li>
<li>Mengkhususkan ziarah pada malam Nisfu Sya’bân ( Al-Madkhal 1/310, Talbis Iblis hal. 429).</li>
<li>Bepergian ke pekuburan pada 2 hari raya ‘Ied (‘Iedhul Fithri dan ‘Iedhul Adha) ( Ahkâmul Janâ`iz hal. 325).</li>
<li>Bepergian ke pekuburan pada bulan Rajab, Sya’bân dan Ramadhân ( Ahkâmul Janâ`iz hal.325).</li>
<li>Mengkhususkan berziarah kubur pada hari Senin dan Kamis ( Ahkâmul Janâ`iz hal.325).</li>
<li>Berdiri  dan diam sejenak dengan sangat khusyu’ di depan pintu pekuburan  seakan-akan meminta izin untuk masuk, kemudian setelah itu baru masuk ke  pekuburan ( Ahkâmul Janâ`iz hal.325).</li>
<li>Berdiri di depan kubur  sambil meletakkan kedua tangan seperti seorang yang sedang shalat,  kemudian duduk di sebelahnya ( Ahkâmul Janâ`iz hal. 325).</li>
<li>Bertayammum untuk berziarah kubur ( Ahkâmul Janâ`iz hal. 325).</li>
<li>Membacakan surah Al-Fatihah untuk para mayit ( Ahkâmul Janâ`iz hal. 325).</li>
<li>Membaca doa,</li>
</ul>
<p style="padding-left:30px;">اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِحُرْمَةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ أَنْ لاَ تُعَذِّبَ هَذَا الْمَيِّتَ</p>
<p style="padding-left:30px;">“Ya  Allah, aku meminta kepada-Mu dengan (perantara) kehormatan Muhammad  shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam agar Engkau tidak menyiksa mayat  ini.” ( Ahkâmul Janâ`iz hal. 326).</p>
<ul>
<li>Menamakan ziarah terhadap kuburan tertentu sebagai haji ( Ahkâmul Janâ`iz ).</li>
<li>Mengirimkan salam kepada para nabi melalui orang yang menziarahi kuburan mereka ( Ahkâmul Janâ`iz hal. 327).</li>
<li>Mengirimkan  surat dan foto-foto kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam  melalui orang yang berziarah ke Masjid Nabawy. Hal ini sering  terjadi/dialami.</li>
<li>Berziarah ke kuburan pahlawan tak dikenal ( Ahkâmul Janâ`iz 327).</li>
<li>Perkataan bahwa doa akan mustajab jika dibaca di dekat kuburan orang-orang shalih ( Ahkâmul Janâ`iz ).</li>
<li>Memukul  beduk, gendang dan menari di sisi kuburan Al-Khalil Nabi Ibrahim  ‘alaihis salam dalam rangka pendekatan diri kepada Allah Subhânahu wa  Ta’âla ( Al-Madkhal 4/246).</li>
<li>Meletakkan mushaf di kuburan bagi orang-orang yang bermaksud membaca Al-Qur`ân ( Al-Fatâwâ 1/174).</li>
<li>Melemparkan sapu tangan dan pakaian ke kuburan dengan tujuan tabarruk (mencari berkah) ( Al-Madkhal 1/263).</li>
<li>Berlama-lamanya  seorang wanita pada sebuah kuburan dan menggosok-gosokkan kemaluannya  pada kuburan dengan tujuan supaya ia bisa hamil ( Ahkâmul Janâ`iz hal.  330).</li>
<li>Mengusap-usap kuburan dan menciumnya ( Iqtidhâ` Ash-Shirâthal Mustaqîm karya Ibnu Taimiyah, Al-I’tishâm karya Asy-Syâthiby).</li>
<li>Menempelkan  perut dan punggung atau sesuatu dari anggota badan pada tembok kuburan (  Ziyâratul Qubûr Wal Istinjâd Bil Maqbûr hal. 54 oleh Ibnu Taimiyah).</li>
<li>Berziarah  ke kubur para nabi dan orang-orang shalih dengan maksud untuk berdoa di  sisi kuburan mereka dengan harapan terkabulnya doa tersebut ( Ar-Raddu  ‘Alal Bakry hal. 27-57).</li>
<li>Keluar dari kuburan (pekuburan) yang diagungkan dengan cara berjalan mundur ( Al-Madkhal 4/238).</li>
<li>Berdiri  lama di kuburan Nabi untuk mendoakan dirinya sendiri sambil menghadap  ke kuburan ( Ar-Raddu ‘Alal Bakry / Ahkâmul Janâ`iz hal. 335).</li>
</ul>
<p>Masih  banyak lagi bentuk-bentuk amalan/perbuatan yang dilakukan ketika  berziarah kubur yang menyelisihi cara berziarah yang syar’i, yang semua  bentuk-bentuk tersebut adalah bid’ah di dalam agama ini yang telah  dinyatakan oleh Nabi shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam bahwa setiap  bid’ah adalah sesat dan setiap yang sesat tempatnya di neraka. Na’ûdzu  billâhi minhâ. Wallâhu Ta’âla A’lam Bishshawab.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><strong>Maraji</strong></span>’</p>
<ul>
<li>Ahkâmul Janâ`iz Wa Bid’auhâ / Syaikh Al-Imam Muhammad Nâshirudddin Al-Albâny.</li>
<li>Al-I’tishâm / Al-Imam Asy-Syâthiby.</li>
<li>Al-Majmû’ Syarh Al-Muhadzdzab / Al-Imam An-Nawawy.</li>
<li>Al-Mughny / Ibnu Qudâmah.</li>
<li>Al-Muntaqâ Min Fatâwâ Syaikh Shâlih bin Fauzân Al-Fauzân .</li>
<li>Ash-Shârimul Munky Fî Ar-Raddi ‘ Ala As-Subky / Muhammad bin Abdul Hâdy.</li>
<li>Hâsyiah Ar-Raudhah Murbi’ Syarh Zâdul Mustaqni’ / ‘Abdurrahman bin Muhammad bin Qasim An-Najdy.</li>
<li>Iqtidhâ` Ash-Shirâthal Mustaqîm Fî Mukhâlafatu Ashhâbul Jahîm / Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.</li>
<li>Madkhal Asy-Syar’u Asy-Syarîf / Al-Imam Muhammad bin Muhammad Al-Abdary Ibnul Hâjj.</li>
<li>Majmu’ Al-Fatâwâ / Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.</li>
<li>Manâr As-Sabîl Fî Syarh Ad-Dalîl / Syaikh Ibrâhim bin Muhammad Duwaiyyân.</li>
<li>Min Bida’il Qubûr / Hamad bin ‘Abdullah bin Ibrâhim Al-Humaidy.</li>
<li>Nailul Authâr Min Ahâditsi Sayyidil Akhyâr / Al-Imam Muhammad bin ‘Ali Asy-Syaukâny.</li>
<li>Talbîs Iblîs / Ibnul Jauzy.</li>
<li>Talkhîs Kitâb Al-Istighâtsah (Ar-Raddu ‘Alal Bakry) / Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.</li>
<li>Taudhîhul Ahkâm / ‘Abdullah Al-Bassâm.</li>
<li>Zâdul Ma’âd Fî Hadyi Khairil ‘Ibâd / Ibnul Qayyim Al-Jauzy.</li>
<li>Ziyâratul Qubûr Wa Hukmul Istinjâd Bil Maqbûr / Syaikh Islam Ibnu Taimiyah.</li>
</ul>
<p>Sumber :  <a rel="nofollow" href="http://an-nashihah.com/?p=20" target="_blank">http://an-nashihah.com/?p=20</a> dan  <a rel="nofollow" href="http://an-nashihah.com/?p=34" target="_blank">http://an-nashihah.com/?p=34</a></p>
<p><a rel="nofollow" href="http://kaahil.wordpress.com/2010/08/09/hukum-tatacara-menziarahi-kubur-hal-hal-yang-diharamkanbid%e2%80%99ah-bid%e2%80%99ah-ziarah-kubur-menyalakan-lampu-memasang-payung-tabur-bunga-shalat-dan-membaca-quran-di-kuburan-dll/" target="_blank">http://kaahil.wordpress.com/2010/08/09/hukum-tatacara-menziarahi-kubur-hal-hal-yang-diharamkanbid%e2%80%99ah-bid%e2%80%99ah-ziarah-kubur-menyalakan-lampu-memasang-payung-tabur-bunga-shalat-dan-membaca-quran-di-kuburan-dll/</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adealam.wordpress.com/1039/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adealam.wordpress.com/1039/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adealam.wordpress.com/1039/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adealam.wordpress.com/1039/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/adealam.wordpress.com/1039/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/adealam.wordpress.com/1039/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/adealam.wordpress.com/1039/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/adealam.wordpress.com/1039/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adealam.wordpress.com/1039/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adealam.wordpress.com/1039/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adealam.wordpress.com/1039/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adealam.wordpress.com/1039/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adealam.wordpress.com/1039/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adealam.wordpress.com/1039/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adealam.wordpress.com&amp;blog=1504761&amp;post=1039&amp;subd=adealam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adealam.wordpress.com/2010/09/14/tanya-jawab-tentang-kemungkaran-ziarah-kubur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-6.760319 108.486755</georss:point>
		<geo:lat>-6.760319</geo:lat>
		<geo:long>108.486755</geo:long>
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ternyata tidak semua ziarah itu Sunnah</title>
		<link>http://adealam.wordpress.com/2010/09/14/ternyata-tidak-semua-ziarah-itu-sunnah/</link>
		<comments>http://adealam.wordpress.com/2010/09/14/ternyata-tidak-semua-ziarah-itu-sunnah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Sep 2010 03:59:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adealam.wordpress.com/?p=1037</guid>
		<description><![CDATA[بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ Hukum Berziarah Tahunan yang Terbatas (Waktu dan Tempatnya) ke Sebagian Kuburan Bukan hanya musik, nyanyian ataupun minuman keras yang digandrungi oleh sebagian kaum muslimin. Akan tetapi mereka pun gandrung kepada yang namanya bid’ah bahkan kesyirikan -dan tentunya semuanya ini adalah kemunkaran yang harus diingkari dan dihilangkan-. Di antara kebid’ahan ataupun kesyirikan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adealam.wordpress.com&amp;blog=1504761&amp;post=1037&amp;subd=adealam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<h2 style="text-align:center;">بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ</h2>
<div>Hukum Berziarah Tahunan yang Terbatas (Waktu dan Tempatnya) ke Sebagian Kuburan</p>
<p>Bukan  hanya musik, nyanyian ataupun minuman keras yang digandrungi oleh  sebagian kaum muslimin. Akan tetapi mereka pun gandrung kepada yang  namanya bid’ah bahkan kesyirikan -dan tentunya semuanya ini adalah  kemunkaran yang harus diingkari dan dihilangkan-. Di antara kebid’ahan  ataupun kesyirikan yang mereka gandrungi adalah berziarah ke  kuburan-kuburan tanpa mengindahkan syarat-syaratnya.<br />
<span id="more-1037"></span><br />
Di antara  mereka ada yang bersungguh-sungguh menyengaja mengadakan tour  (perjalanan) ke kuburan tertentu bahkan dengan bangga dipasang  pengumuman di masjid-masjid &#8220;Ikuti Ziarah Kubur ke Syaikh Fulan, dengan  biaya perjalanan sekian&#8221;. Yang datang ke sana pun macam-macam tujuannya,  ada yang ingin cari berkah dari kuburan tersebut (ngalap berkah), cari  rizki, cari jodoh, cari ketenaran atau ada juga yang hanya sekedar  bermaksiat dengan lawan jenisnya. Suatu perbuatan yang melanggar  syari’at, membuang-buang waktu dan harta belaka. Innaa lillaah wa innaa  ilaihi raaji’uun.</p>
<p>Sesungguhnya ziarah-ziarah seperti ini apakah  tahunan, bulanan ataupun yang sifatnya tertentu dan terbatas (waktu dan  tempatnya) ke sebagian kuburan, di mana terjadi padanya berbagai  kemunkaran seperti ikhtilath, tarian, ratap tangis dan yang lainnya dari  berbagai jenis kemunkaran, tidaklah dibenarkan oleh syari’at sedikit  pun, bahkan hal ini termasuk perbuatan yang diada-adakan dalam agama  (baca: bid’ah), dan peribadatan yang jelek yang Allah tidak menurunkan  sedikit pun keterangan akan hal ini.</p>
<p>Adalah wajib bagi  orang-orang yang bertanggung jawab (dari kalangan penguasa) semoga Allah  memantapkan kita dan mereka di atas Al-Haq- dan ‘ulama semoga Allah  memberikan taufiq kepada kita dan mereka- agar merubah kemunkaran yang  jelek seperti ini yang mengajak kepada penghancuran ‘aqidah islamiyyah  dari hati-hati kaum muslimin yang laki-laki maupun perempuannya dengan  adanya do’a mereka, penyembelihan, nadzar mereka untuk selain Allah dan  praktek-praktek kesyirikan yang lainnya, dan juga akan mengajak kepada  penghancuran akhlaq islamiyyah yang kuat.</p>
<p><strong>Macam-macam Ziarah Kubur</strong></p>
<p>Kemudian  ketahuilah semoga Allah memberikan taufiq kepadaku dan kepada kalian-  bahwasanya ziarah kubur terbagi menjadi tiga macam, yaitu:</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">1. Ziarah Syar’i</span></strong></p>
<p>Yaitu ziarah yang telah disyari’atkan oleh Islam dan harus terpenuhi padanya tiga syarat:</p>
<p><strong>1). Tidak sungguh-sungguh (menyengaja) mengadakan perjalanan kepadanya</strong><br />
Dalilnya  adalah hadits dari Abu Sa’id Al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu dia berkata,  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya),  &#8220;Janganlah kalian bersungguh-sungguh (menyengaja) mengadakan perjalanan  kecuali kepada tiga masjid (yaitu): masjidku ini (Masjid Nabawi),  Masjidil Haram, dan Masjidil Aqsha.&#8221; (HR. Al-Bukhariy no.1139 dan Muslim  dalam kitab Al-Hajj 2/976 nomor khusus 415 dan ini lafazhnya, dan  diriwayatkan pula oleh Al-Bukhariy no.1132 dan Muslim no.1397 dari Abu  Hurairah radhiyallahu ‘anhu dengan lafazh penafian)</p>
<p>Kita  disyari’atkan bersungguh-sungguh dan menyengaja untuk mengadakan  perjalanan ke tiga masjid ini karena adanya keutamaan di sana yaitu  dilipatkan pahala shalat di tiga masjid tersebut. Seperti shalat di  Masjidil Haram maka pahalanya sama dengan 100.000 kali shalat di masjid  yang lain selain Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsha. Adapun  bersungguh-sungguh (menyengaja) mengadakan perjalanan ke selain tiga  masjid ini dalam rangka mencari berkah dan keutamaan seperti ke kuburan,  maka ini adalah perbuatan bid’ah.</p>
<p><strong>2). Tidak boleh mengatakan perkataan yang keji</strong><br />
Dalilnya  adalah hadits dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), &#8220;(Dulu) Aku  pernah melarang kalian berziarah kubur, maka (sekarang) berziarahlah  kalian.&#8221; (HR. Muslim no.977). Diriwayatkan juga oleh An-Nasa`iy dengan  sanad shahih dalam kitab Al-Janaa`iz bab (100) 4/89 dengan lafazh, &#8220;…  (Dulu) Aku pernah melarang kalian berziarah kubur, maka (sekarang)  barangsiapa yang ingin berziarah maka berziarahlah dan jangan mengatakan  perkataan yang keji.&#8221;</p>
<p>Maka perhatikanlah semoga Allah  merahmatimu, bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang  kita dari perkataan yang keji dan bathil ketika ziarah kubur, dan  ucapan yang mana yang lebih keji dan lebih bathil daripada ucapan  seseorang yang berdo’a (meminta) kepada selain Allah dari orang-orang  yang telah mati, beristighatsah (meminta pertolongan ketika dalam  kesulitan) kepada mereka ataupun ucapan-ucapan syirik lainnya?</p>
<p>Maka  tentunya ini, demi Allah, benar-benar kekejian dan kebathilan yang  paling puncaknya, akan tetapi perkaranya adalah sebagaimana yang Allah  firmankan (yang artinya), &#8220;Akan tetapi kebanyakan manusia tidak  mengetahui.&#8221; Ayat ini terdapat dalam 11 tempat di dalam Al-Qur`an yaitu,  Al-A’raaf:187, Yuusuf:21, 40, 68, An-Nahl:38, Ar-Ruum:6, 30, Saba`:28,  36, Al-Mu`min:57, dan Al-Jaatsiyah:26.</p>
<p>Dan sungguh benar  Allah ketika berfirman (yang artinya),&#8221;Dan sebahagian besar dari mereka  tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan  Allah (dengan sembahan-sembahan lain).&#8221; [Yuusuf:106]</p>
<p><strong>3). Tidak boleh mengkhususkan dengan waktu tertentu karena tidak ada dalil yang mengkhususkan</strong><br />
Seperti  mengkhususkan hari jum’at, hari raya ataupun hari-hari lainnya, karena  tidak ada dalil yang menerangkan hal ini. Bahkan kita dianjurkan ziarah  kubur kapan saja tanpa pengkhususan pada hari-hari tertentu.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">2. Ziarah Bid’ah</span></strong><br />
Yaitu  ziarah yang tidak terpenuhi padanya satu syarat dari syarat-syarat yang  telah disebutkan, apalagi lebih dari satu syarat. Misalnya datang dari  jauh-jauh untuk ziarah ke kuburan, atau beribadah kepada Allah di  sekitar kuburan dengan anggapan dan perasaan mereka bahwa hal ini lebih  mengkhusyu’kan dalam beribadah. Atau mengkhususkan hari-hari tertentu.  Semuanya ini adalah perbuatan bid’ah.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">3. Ziarah Syirik </span></strong><br />
Yaitu  ziarah di mana pelakunya terjerumus pada salah satu jenis dari  jenis-jenis kesyirikan seperti berdo’a (meminta) kepada selain Allah,  atau menyembelih untuk mereka, atau bernadzar untuk mereka, atau  beristighatsah kepada mereka, atau meminta perlindungan kepada mereka,  atau meminta anak, meminta pertolongan, hujan, kesembuhan atau untuk  mengalahkan musuh dan menghilangkan kemudharatan/bahaya serta  mendatangkan kemanfaatan dan yang lainnya dari jenis-jenis kesyirikan.  (Lihat Majmuu’ Fataawaa Syaikhil Islaam Ibni Taimiyyah 1/165-166)</p>
<p>Disadur dari Al-Qaulul Mufiid fii Adillatit Tauhiid hal.192-194<br />
Sumber: Bulletin Al Wala’ Wal Bara’<br />
Judul Asli: Ziarah Kubur Antara Syar’i dan Bid’ah<br />
Edisi ke-31 Tahun ke-3 / 01 Juli 2005 M / 23 Jumadil Ula 1426 H</p>
<p><a rel="nofollow" href="http://ghuroba.blogsome.com/2007/05/28/ziarah-kubur-syari-atau-bidah/" target="_blank">http://ghuroba.blogsome.com/2007/05/28/ziarah-kubur-syari-atau-bidah/</a></div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adealam.wordpress.com/1037/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adealam.wordpress.com/1037/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adealam.wordpress.com/1037/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adealam.wordpress.com/1037/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/adealam.wordpress.com/1037/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/adealam.wordpress.com/1037/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/adealam.wordpress.com/1037/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/adealam.wordpress.com/1037/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adealam.wordpress.com/1037/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adealam.wordpress.com/1037/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adealam.wordpress.com/1037/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adealam.wordpress.com/1037/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adealam.wordpress.com/1037/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adealam.wordpress.com/1037/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adealam.wordpress.com&amp;blog=1504761&amp;post=1037&amp;subd=adealam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adealam.wordpress.com/2010/09/14/ternyata-tidak-semua-ziarah-itu-sunnah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-6.760319 108.486755</georss:point>
		<geo:lat>-6.760319</geo:lat>
		<geo:long>108.486755</geo:long>
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Puasa 6 hari di Bulan Syawal</title>
		<link>http://adealam.wordpress.com/2010/09/14/puasa-6-hari-di-bulan-syawal/</link>
		<comments>http://adealam.wordpress.com/2010/09/14/puasa-6-hari-di-bulan-syawal/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Sep 2010 03:53:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Syawal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adealam.wordpress.com/?p=1034</guid>
		<description><![CDATA[Para pembaca -yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala- Bulan Ramadhan telah berlalu beberapa hari yang lalu. Tetapi berlalunya Ramadhan (baca: bulan ramadhan) jangan sampai membuat kita putus asa dari meraih pahala Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Pemurah. Karena di bulan Syawal (bulan berikutnya setelah Ramadhan) masih ada peluang beramal kebaikan yang mendatangkan pahala [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adealam.wordpress.com&amp;blog=1504761&amp;post=1034&amp;subd=adealam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Para pembaca -yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala- Bulan  Ramadhan telah berlalu beberapa hari yang lalu. Tetapi berlalunya  Ramadhan (baca: bulan ramadhan) jangan sampai membuat kita putus asa  dari meraih pahala Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Pemurah. Karena  di bulan Syawal (bulan berikutnya setelah Ramadhan) masih ada peluang  beramal kebaikan yang mendatangkan pahala dan balasan kebaikan bagi  pelakunya.</p>
<p>Di antara amalan di bulan Syawal yang dapat kita  lakukan untuk meraih pahala dari Allah adalah “Puasa 6 hari di bulan  Syawal”.Yang insya Allah di bahas pada buletin edisi kali ini.</p>
<p>Semoga  semua amalan kita dilakukan dengan ikhlas (mengharap wajah Allah  Subhanahu wa Ta’ala) dan sesuai dengan petunjuk Rasulullah Shallallahu  ‘alaihi wa sallam, sehingga diterima Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai  amal shalih yang merupakan tabungan hari depan kita di akhirat  kelak.Amin ya Rabbal ‘Alamin. (red.)<br />
<span id="more-1034"></span><strong>LANDASAN HUKUM</strong></p>
<p>“Apakah ibadah tersebut (puasa 6 hari di bulan Syawal) ada dasarnya dari Hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam?”<br />
Jawabannya: ada,<br />
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:<br />
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثـــُمَّ أَتــْبَعَهُ سِتـــًَّا مِنْ<br />
شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ</p>
<p>“Barangsiapa  berpuasa Ramadhan, kemudian mengiringinya dengan (puasa) 6 (hari) di  bulan Syawal, maka jadilah seperti puasa setahun.” (HR. Muslim) (1)</p>
<p>Sehingga  kita tidak usah ragu lagi untuk mengamalkan amalan puasa 6 hari di  bulan syawal ini, karena dalilnya jelas bersumber dari hadits Nabi  Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Catatan Penting!!!</span><br />
-  Sebuah amal perbuatan yang dianggap sebagai ibadah harus di dasari  dengan dalil yang shahih, baik bersumber dari Al-Qur’an maupun dari  Hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih.<br />
( Dan ini harus ditanamkan pada diri kita.)</p>
<p><strong>KEUTAMAANNYA</strong></p>
<p>Bagaikan puasa selama satu tahun. Sebagaimana dapat kita pahami dari hadits yang disebutkan di atas.<br />
- Mengapa pahalanya seperti puasa selama satu tahun?<br />
;  Al-Imam An-Nawawi Rahimahullah menjelaskan (sebagaimana yang beliau  nukilkan dari pernyataan para Ulama` ) : “Karena kebaikan itu  dilipatgandakan sebanyak 10 kali lipat, maka (puasa) Ramadhan menjadi  seperti 10 bulan. Sedangkan puasa 6 hari (di bulan syawwal) seperti  puasa 2 bulan (2). (3)<br />
–&gt; Sehingga apabila digabungkan antara  kebaikan yang di dapat dari puasa Ramadhan dengan puasa 6 hari di bulan  Syawal sebanding dengan puasa selama 12 bulan (yaitu 1 tahun penuh),  atau bahkan lebih. Wallahu A’lam</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi  wa sallam bersabda (dalam sebuah hadits Qudsi): Allah Subhanahu wa  Ta’ala berfirman (memerintahkan Malaikat-Nya):<br />
… وَإِذ َا أَرَادَ  أَنْ يَعْمَلَ حَسَنَةً فَلَمْ يَعْمَلْهَا فَاكْتــُبُوهَا لَهُ حَسََنَةً  فَإِنْ عَمِلَهَاٍ فَاكْتـــُبُوهَا لَهُ بــِِعَشْرِ أَمْثــَالِهَا  إِلَى سَبْعِمِائــَةِ ضِعْفٍ .</p>
<p>“. . . Dan jika (hambaku) hendak  berbuat kebaikan (tetapi) belum sempat melakukannya , maka tulislah 1  (satu) kebaikan untuknya. (Tapi) jika sudah dilakukannya, maka tulislah  baginya sepuluh kebaikan semisalnya sampai 700 (tujuh ratus) kali  lipat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim) (4)</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">1. Berniat ikhlas karena  Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana ibadah yang lain, maka diantara  dua syarat diterimanya amalan adalah niat yang ikhlas dan mengikuti  sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. .</span><br />
Karena ini adalah puasa sunnah, maka boleh baginya berniat ketika sudah di pagi hari. (6)<br />
–&gt; dengan syarat: belum pernah makan atau minum sejak terbit fajar shubuh. .</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">2. Makan Sahur,</span><br />
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):<br />
“Pembeda antara shiyam (baca: puasa) kita dengan shiyamnya Ahlul Kitab adalah makan sahur.” (HR. Muslim) (5)<br />
Sehingga sangat dianjurkan bagi kaum Muslimin yang hendak berpuasa untuk bersahur. .<br />
Walaupun,  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berpuasa sunnah tanpa  makan sahur, ketika beliau tidak mendapatkan makanan di rumah ‘Aisyah  Radhiallahu ‘anha. (6)</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">3. Segera berbuka, jika matahari sudah tenggelam (masuk waktu Maghrib) . Sebagaimana pada puasa Ramadhan.</span></p>
<p><span style="text-decoration:underline;">4. Lebih baik atau afdhalnya dilakukan dengan berturut-turut (mulai tanggal 2,3,4, . . . sampai tanggal 7 Syawal).</span><br />
Walaupun  apabila dipisah-pisah atau diakhirkan hingga akhir Syawal boleh.  Sebagaimana dijelaskan oleh Al-Imam An-Nawawi Rahimahullah. (7)</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">5.  Bebas memilih hari-harinya, baik di awal bulan, pertengahan maupun di  akhir bulan, dan boleh pula terpisah-pisah (satu hari – satu hari tapi  tidak berurutan). (8)</span><br />
dengan catatan:<br />
- Selain tanggal 1 di bulan Syawal.<br />
-  Tidak berpuasa di hari Jum’at saja (9) atau hari Sabtu saja (10),  kecuali jika diiringi dengan puasa pada satu hari sebelumnya atau  sesudahnya. (9) .</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">6. Harus mendahulukan Qadha` (membayar hutang puasa Ramadhan), sebelum puasa 6 hari Syawal.</span><br />
Karena perkara yang wajib harus didahulukan daripada perkara yang sunnah.<br />
Dijelaskan dalam sebuah hadits, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):<br />
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan, kemudian mengiringinya dengan (puasa) 6 (hari) di bulan Syawal,…..” (HR. Muslim) (11)<br />
-  Sehingga jika masih memiliki hutang puasa Ramadhan dia baru dikatakan  “telah berpuasa sebagian Ramadhan”. Dan belum dikatakan “telah berpuasa  Ramadhan”. (12) .</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">7.Seorang istri harus mendapatkan izin dari suaminya.</span><br />
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:<br />
لاَ يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تـَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بــِإِذْنِهِ</p>
<p>“Tidak halal bagi seorang wanita untuk berpuasa saat suaminya ada (bersamanya) kecuali dengan seizinnya” (HR. AL-Bukhari) (13)<br />
Kecuali puasa wajib di bulan Ramadhan. (14)</p>
<p><strong>PERMASALAHAN TERKAIT .</strong></p>
<p><span style="text-decoration:underline;">- Pertanyaan: </span><br />
Apakah pahala puasa 6  hari Syawal bisa diperoleh bagi orang yang masih memiliki tanggungan  qadha’ Ramadhan (yaitu harus melunasi hutang puasanya, pen.), namun ia  mengerjakan puasa (syawal) tersebut sebelum melakukan puasa qadha`? .</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">- Jawab: </span><br />
Puasa  6 hari Syawal tidak akan diperoleh pahalanya kecuali jika seseorang  telah menyempurnakan puasa bulan Ramadhan. Barangsiapa masih memiliki  kewajiban mengqadha’ Ramadhan, maka jangan berpuasa 6 hari Syawal  kecuali setelah melaksakan puasa qadha’ Ramadhan (melunasi hutang puasa  Ramadhannya). Karena Nabi Shallallahu ‘laihi wa sallam bersabda (yang  artinya) : “Barangsiapa berpuasa Ramadhan, kemudian mengiringinya dengan  … “ (11)<br />
Atas dasar itu, kita katakan kepada orang yang masih punya  kewajiban qadha’, “Laksanakan puasa qadha’ terlebih dahullu, kemudian  baru lakukan puasa 6 hari Syawal. .<br />
Bila telah selesai bulan Syawal  sebelum ia sempat berpuasa 6 hari, maka ia tidak bisa memperoleh  keutamaan tersebut, kecuali jika memiliki udzur. .</p>
<p>Bila  pelaksanaan puasa 6 hari Syawal ini bertepatan dengan hari Senin atau  Kamis, maka dia bisa memperoleh dua pahala sekaligus dengan niat  mendapatkan pahala puasa 6 hari Syawal dan pahala puasa Senin – Kamis.  Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya):  “Amal-amal itu harus dengan niat. Dan bagi masing-masing orang akan  mendapat apa yang ia niatkan.(15)”. (16)</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">- Pertanyaan:</span><br />
Jika  seorang wanita masih memiliki hutang puasa Ramadhan, maka bolehkah  baginya untuk mendahulukan puasa 6 hari Syawal daripada melunasi hutang  puasa Ramadhannya? atau harus melunasi hutang puasanya sebelum melakukan  puasa 6 hari Syawal?</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">-Jawab:</span><br />
Jika seorang wanita masih  memiliki hutang puasa Ramadhan, maka dia belum boleh berpuasa 6 hari  Syawal kecuali setelah melunasi hutang puasa (Ramadhan)nya.<br />
Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):<br />
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan, kemudian mengiringinya dengan (puasa) 6 (hari) di bulan Syawal, . . .”(HR. Muslim) (17) .</p>
<p>(Maka)  barangsiapa masih memiliki kewajiban melunasi hutang puasa Ramadhan,  maka dia belumlah (dikatakan) berpuasa Ramadhan. Diapun tidak  mendapatkan pahala puasa 6 hari Syawal kecuali setelah selesai melunasi  (hutang puasa) nya. .</p>
<p>Kalaulah seandainya ditentukan bahwa pelunasan hutang puasa Ramadhannya meliputi (seluruh hari) di bulan Syawal. (18)<br />
Misalnya:  Ada seorang perempuan yang mengalami nifas, sehingga dia tidak berpuasa  seharipun di bulan Ramadhan. Kemudian dia mulai melunasi hutang puasa  (Ramadhan) nya di bulan Syawal, dan belum selesai kecuali setelah masuk  bulan Dzulqa’dah. Maka dia tetap berpuasa 6 hari Syawal, dan akan  mendapatkan pahala orang yang berpuasa 6 hari di bulan Syawal. Karena  (sebab) pengakhirannya adalah karena keadaan darurat yang dikategorikan  sebagai udzur. Sehingga dia tetap mendapatkan pahala. (19)</p>
<p>Wallahu A’lamu bish_Shawab<br />
dikumpulkan oleh: Abdul Hadi</p>
<p>Sumber bacaan:<br />
- Artikel di <a rel="nofollow" href="http://www.salafy.or.id/" target="_blank">www.salafy.or.id</a> dengan judul “Hukum dalam puasa Sunnah 6 hari bulan Syawal” ,  dari:Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts wal Ifta’, oleh: admin<br />
(<a rel="nofollow" href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu" target="_blank">http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu</a><br />
detil&amp;id_artikel=383)<br />
- Artikel di <a rel="nofollow" href="http://www.assalafy.org/" target="_blank">www.assalafy.org</a> dengan judul “Puasa 6 hari pada bulan Syawal” , oleh:admin assalafy.org.<br />
(<a rel="nofollow" href="http://www.assalafy.org/mahad/?p=366" target="_blank">http://www.assalafy.org/mahad/?p=366</a>#<br />
more-366)</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">CATATAN KAKI:</span></strong><br />
(1) HR. Muslim no.1164, dari shahabat Abu Ayyub Al-Anshari Radhiallahu ‘anhu.<br />
(2)  Puasa 6 hari seperti pahala puasa 2 bulan, sehingga menjadi 60 hari  jika satu bulannya 30 hari atau 58 hari jika satu bulannya 29 hari).  (ed.)<br />
(3) Lihat Syarhu Shahih Muslim (8/56).<br />
(4) HR. Al-Bukhari no.7062 dan Muslim no.129, dengan lafazh Al-Bukhari.<br />
(5) HR. Muslim no.1096.<br />
(6) HR. Muslim no.1154, At-Tirmidzi no.733 dan An-Nasa`i no. 2330,2322.<br />
Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung menyatakan akan berpuasa ketika  tahu bahwa di rumah ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha tidak ada sesuatu yang  bisa dimakan. Tanpa melakukan niat dari malam harinya dan tanpa makan  sahur. (ed.)<br />
(7) Lihat Syarhu Shahih Muslim (8/56).<br />
(8) Lihat penjelasan Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah di Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibni<br />
Utsaimin no.390 (20/8).<br />
(9) Lihat hadits riwayat Al-Bukhari no.1884 dan Muslim no.1144, dari shahabat Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu.<br />
(10) Lihat hadits riwayat Abu Dawud no.2421 , At-Tirmidzi no.744 ,dan Ibnu Majah no.1726<br />
(11) HR. Muslim no.1164, dari shahabat Abu Ayyub Al-Anshari Radhiallahu ‘anhu.<br />
(12) Lihat penjelasan Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah di Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibni<br />
Utsaimin no.384 (20/6).<br />
(13) HR. Al-Bukhari no.4899, dari shahabat Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu.<br />
(14) HR. Abu Dawud no.2458, At-Tirmidzi no.782, Ibnu Majah no.176, dari shahabat Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu.<br />
(15) HR. Al-Bukhari no.1, dari shahabat Umar bin Khaththab Radhiallahu ‘anhu.<br />
(16)  Lihat penjelasan Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin  Rahimahullah di Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibni Utsaimin no.385 (20/7).<br />
(17) HR. Muslim no.1164, dari shahabat Abu Ayyub Al-Anshari Radhiallahu ‘anhu.<br />
(18) Kecuali tanggal 1 syawal. (ed.)<br />
(19)  Lihat penjelasan Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin  Rahimahullah di Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibni Utsaimin no.386 (20/7)</p>
<p>Sumber Nukilan : <a rel="nofollow" href="http://buletinassalaf.wordpress.com/2009/10/02/puasa-6-hari-di-bulan-syawal/" target="_blank">http://buletinassalaf.wordpress.com/2009/10/02/puasa-6-hari-di-bulan-syawal/</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adealam.wordpress.com/1034/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adealam.wordpress.com/1034/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adealam.wordpress.com/1034/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adealam.wordpress.com/1034/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/adealam.wordpress.com/1034/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/adealam.wordpress.com/1034/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/adealam.wordpress.com/1034/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/adealam.wordpress.com/1034/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adealam.wordpress.com/1034/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adealam.wordpress.com/1034/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adealam.wordpress.com/1034/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adealam.wordpress.com/1034/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adealam.wordpress.com/1034/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adealam.wordpress.com/1034/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adealam.wordpress.com&amp;blog=1504761&amp;post=1034&amp;subd=adealam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adealam.wordpress.com/2010/09/14/puasa-6-hari-di-bulan-syawal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-6.760319 108.486755</georss:point>
		<geo:lat>-6.760319</geo:lat>
		<geo:long>108.486755</geo:long>
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jauhilah 11 KEMUNGKARAN YANG BIASA TERJADI PADA HARI RAYA</title>
		<link>http://adealam.wordpress.com/2010/09/14/jauhilah-11-kemungkaran-yang-biasa-terjadi-pada-hari-raya/</link>
		<comments>http://adealam.wordpress.com/2010/09/14/jauhilah-11-kemungkaran-yang-biasa-terjadi-pada-hari-raya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Sep 2010 03:34:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Syubhat]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adealam.wordpress.com/?p=1029</guid>
		<description><![CDATA[بسم الله الرحمن الرحيم Ketahuilah wahai saudaraku muslim -semoga Allah memberi taufik kepadaku dan kepadamu- sesungguhnya kebahagiaan yang ada pada hari-hari raya kadang-kadang membuat manusia lupa atau sengaja melupakan perkara-perkara agama mereka dan hukum-hukum yang ada dalam Islam. Sehingga engkau melihat mereka banyak berbuat kemaksiatan dan kemungkaran-kemungkaran dalam keadaan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adealam.wordpress.com&amp;blog=1504761&amp;post=1029&amp;subd=adealam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<h2 style="text-align:center;">
بسم الله الرحمن الرحيم</h2>
<div>Ketahuilah wahai saudaraku  muslim -semoga Allah memberi taufik kepadaku dan kepadamu- sesungguhnya  kebahagiaan yang ada pada hari-hari raya kadang-kadang membuat manusia  lupa atau sengaja melupakan perkara-perkara agama mereka dan hukum-hukum  yang ada dalam Islam. Sehingga engkau melihat mereka banyak berbuat  kemaksiatan dan kemungkaran-kemungkaran dalam keadaan mereka menyangka  bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya !! Semua inilah yang  mendorongku untuk menambahkan pembahasan yang bermanfaat ini dalam  tulisanku, agar menjadi peringatan bagi kaum muslimin dari perkara yang  mereka lupakan dan mengingatkan mereka atas apa yang mereka telah lalai  darinya[1].</p>
<p>Diantara Kemungkaran Itu Adalah :<br />
<span id="more-1029"></span><br />
<strong>Pertama : Berhias Dengan Mencukur Jenggot.</strong></p>
<p>Perkara  ini banyak dilakukan manusia. Padahal mencukur jenggot merupakan  perbuatan yang diharamkan dalam agama Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala  sebagaimana ditunjukkan dalam hadits-hadits yang shahih yang berisi  perintah untuk memanjangkan jenggot agar tidak tasyabbuh (menyerupai)  orang-orang kafir yang kita diperintah untuk menyelisihi mereka. Selain  berkaitan dengan hal itu, memanjangkan jenggot termasuk fithrah (bagi  laki-laki) yang tidak boleh kita rubah. Dalil-dalil tentang keharaman  mencukur jenggot terdapat dalam kitab-kitab Imam Madzhab yang empat[2]  yang telah dikenal.</p>
<p><strong>Kedua : Berjabat Tangan Dengan Wanita Yang Bukan Mahram.</strong></p>
<p>Ini  merupakan bencana yang banyak menimpa kaum muslimin, tidak ada yang  selamat darinya kecuali orang yang dirahmati Allah. Perbuatan ini haram  berdasarkan sabda Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p>&#8220;Seseorang  ditusukkan jarum besi pada kepalanya adalah lebih baik baginya daripada  menyentuh wanita yang tidak halal baginya&#8221; [Hadits Shahih, Lihta  takhrijnya secara panjang lebar dalam "Juz'u Ittiba' is Sunnah No. 15  oleh Adl-Dliya Al-Maqdisi -dengan tahqiqku]</p>
<p>Keharaman perbuatan  ini diterangkan juga dalam kitab-kitab empat Imam Madzhab yang terkenal  [Lihat 'Syarhu An Nawawi ala Muslim 13/10, Hasyiyah Ibnu Abidin 5/235,  Aridlah Al-Ahwadzi 7/95 dan Adlwau; Bayan 6/603]</p>
<p><strong>Ketiga :  Tasyabbuh (Meniru) Orang-Orang Kafir Dan Orang-Orang Barat Dalam  Berpakaian Dan Mendengarkan Alat-Alat Musik Serta Perbuatan Mungkar  Lainnya.</strong></p>
<p>Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam telah bersabda.</p>
<p>&#8220;Siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka&#8221; [3]</p>
<p>Beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam juga bersabda.</p>
<p>&#8220;Benar-benar  akan ada pada umatku beberapa kaum yang mereka menghalalkan zina,  sutera (bagi laki-laki ,-pent), khamr dan alat-alat musik. Dan  benar-benar akan turun beberapa kaum menuju kaki gunung untuk melepaskan  gembalaan mereka sambil beristirahat, kemudian mereka didatangi seorang  fasik untuk suatu keperluan. Kemudian mereka berkata : &#8216;Kembalilah  kepada kami besok!&#8217; Lalu Allah membinasakan dan menimpakan gunung itu  pada mereka dan sebagian mereka dirubah oleh Allah menjadi kera-kera dan  babi-bai hingg hari kiamat&#8221; [4]</p>
<p>[tambahan penulis : Belum lagi  kebiasaan sebahagian masyarakat kita yang biasa melakukan CIPIKA CIPIKI  dengan lawan jenis yang bukan mahromnya. Wallahul musta'an]</p>
<p><strong>Keempat : Masuk Dan Bercengkerama Dengan Wanita-Wanita Yang Bukan Mahram.</strong></p>
<p>Hal ini dilarang oleh Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dengan sabda beliau.</p>
<p>&#8220;Hati-hatilah  kalian masuk untuk menemui para wanita&#8221;. Maka berkata salah seorang  pria Anshar : &#8220;Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang Al-Hamwu&#8221;  Beliau berkata : &#8220;Al-Hamwu adalah maut&#8221; [Hadits Riwayat Bukhari 5232,  Muslim 2172 dari 'Uqbah bin Amir]</p>
<p>Al- Allamah Az-Zamakhsyari berkata dalam menerangkan &#8220;Al-Hamwu&#8221;</p>
<p>&#8220;Al-Hamwu  bentuk jamaknya adalah Ahmaa&#8217; adalah kerabat dekat suami seperti  ayah[5], saudara laki-laki, pamannya dan selain mereka&#8230; Dan sabda  beliau : &#8220;Al-Hamwu adalah maut&#8221; maknanya ia dikelilingi oleh kejelekan  dan kerusakan yang telah mencapai puncaknya sehingga Rasulullah  Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menyerupakannya dengan maut, karena hal  itu merupakan sumber segala bencana dan kebinasaan. Yang demikian karena  Al-Hamwu lebih berbahaya daripada orang lain yang tidak dikenal. Sebab  kerabat dekat yang bukan mahram terkadang tidak ada kekhawatiran atasnya  atau merasa aman terhadap mereka, lain halnya dengan orang yang bukan  kerabat. Dan bisa jadi pernyataan &#8220;Al-Hamwu adalah mau&#8221; merupakan do&#8217;a  kejelekan&#8230;&#8221; ["Al-Faiq fi Gharibil Hadits" 9 1/318, Lihat "An-Nihayah  1/448, Gharibul Hadits 3/351 dan Syarhus Sunnah 9/26,27]</p>
<p><strong>Kelima : Wanita-Wanita Yang Bertabarruj (Berdandan Memamerkan Kecantikan) Kemudian Keluar Ke Pasar-Pasar Atau Tempat Lainnya.</strong></p>
<p>Ini merupakan perbuatan yang diharamkan dalam syari&#8217;at Allah. Allah Ta&#8217;ala berfirman :</p>
<p>&#8220;Hendaklah  mereka 9wanita-wanita) tinggal di rumah-rumah mereka dan jangan  bertabarruj ala jahiliyah dulu dan hendaklah mereka mendirikan shalat  dan menunaikan zakat&#8221; [Al-Ahzab : 33]</p>
<p>Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda.</p>
<p>&#8220;Dua  golongan manusia termasuk penduduk neraka yang belum pernah aku  melihatnya : &#8230;&#8230;.. dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi  telanjang, berlenggak-lenggok[6], kepala-kepala mereka bagaikan  punuk-punuk unta[7]. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan  mendapatkan bau surga. Padahal bau suurga dapat tercium dari perjalanan  sekian dan sekian&#8221; [Hadits ini dikeluarkan oleh Muslim dalam "Shahihnya"  2128, 2856 dan 52, Ahmad 2/223 dan 236 dari Abu Hurairah]</p></div>
</div>
<div></div>
<div><strong>Keenam : Mengkhususkan Ziarah Kubur Pada Hari Raya : Membagi-bagikan  manisan dan makanan di pekuburan, duduk di atas kuburan, bercampur baur  antara pria dan wanita, bergurau dan meratapi orang-orang yang telah  meninggal, dan kemungkaran-kemungkaran lainnya.[Lihat perincian yang  lain tentang bid'ah yang dilakukan di kuburan dalam kitab "Ahkamul  Janaiz" 258-267 oleh Syaikh kami Al-Albani Rahimahullah]</strong></p>
<p><strong>Ketujuh : Boros Dalam Membelanjakan Harta Yang Tidak Ada Manfaatnya Dan Tidak Ada Kebaikan Padanya.</strong></p>
<p>Allah berfirman.</p>
<p>&#8220;Janganlah kalian berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan&#8221; [Al-An'am : 141]</p>
<p>&#8220;Dan  janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.  Sesungguhnya orang-orang yang berbuat boros itu adalah saudaranya  syaitan&#8221; [Al-Isra : 26-27]</p>
<p>Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda.</p>
<p>&#8220;Tidak  akan berpindah kedua kaki anak Adam pada hari kiamat dari sisi Rabb-nya  hingga ditanya tentang &#8230; dan hartanya dari mana ia perolah dan ke  mana ia infakkan&#8221; [8]</p>
<p><strong>Kedelapan : Kebanyakan Manusia  Meninggalkan Shalat Berjama&#8217;ah Di Masjid Tanpa Alasan Syar&#8217;i Atau  Mengerjakan Shalat Ied Tetapi Tidak Shalat Lima Waktu. Demi Allah,  Sesungguhnya Ini Adalah Salah Satu Bencana Yang Amat Besar.</strong></p>
<p><strong>Kesembilan  : Berdatangannya Sebagian Besar Orang-Orang Awam Ke Kuburan Setelah  Fajar Hari Raya ; Mereka meninggalkan shalat Ied, dirancukan dengan  bid&#8217;ah mengkhususkan ziarah kubur pada hari raya. [Al-Madkhal 1/286 oleh  Ibnu Hajj, Al-Ibda hal.135 oleh Ali Mahfudh dan Sunnanul Iedain hal.39  oleh Al-Syauqani]</strong></p>
<p>Sebagian mereka meletakkan pada kuburan itu pelepah kurma[9] dan ranting-ranting pohon !!</p>
<p>Semua ini tidak ada asalnya dalam sunnah.</p>
<p><strong>Kesepuluh : Tidak Adanya Kasih Sayang Terhadap Fakir Miskin.</strong></p>
<p>Sehingga  anak-anak orang kaya memperlihatkan kebahagiaan dan kegembiraan dengan  bebagai jenis makanan yang mereka pamerkan di hadapan orang-orang fakir  dan anak-anak mereka tanpa perasaan kasihan atau keinginan untuk  membantu dan merasa bertanggung jawab. Padahal Rasulullah Shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam bersabda.</p>
<p>&#8220;Tidak beriman salah seorang dari  kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk  dirinya&#8221; [Hadits Riwayat Bukhari 13 dan Muslim 45, An-Nasa'i 8/115 dan  Al-Baghawi 3474 meriwayatkan dengan tambahan ; "dari kebaikan" dan  isnadnya Shahih]</p>
<p><strong>Kesebelas : Bid&#8217;ah-bid&#8217;ah yang dilakukan  oleh kebanyakan orang yang dianggap syaikh dengan pengakuan bertaqqarub  kepada Allah Ta&#8217;ala, padahal tidak ada asalnya sama sekali dalam agama  Allah.</strong></p>
<p>Bid&#8217;ah itu banyak sekali[10]. Aku hanya menyebutkan satu  saja di antaranya, yaitu kebanyakan para khatib dan pemberi nasehat  menyerukan untuk menghidupkan malam hari Id (dengan ibadah) dalam rangka  mendekatkan diri kepada Allah. Tidak hanya sebatas itu yang mereka  perbuat, bahkan mereka menyandarkan hadits palsu kepada Rasulullah  Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, yaitu hadits yang berbunyi.</p>
<p>&#8220;Barangsiapa  yang menghidupkan malam Idul Fithri dan Idul Adha maka hatinya tidak  akan mati pada hari yang semua hati akan mati&#8221; [Hadits ini palsu  (maudlu'), diterangkan oleh ustazd kami Al-Albani dalam "Silsilah  Al-Ahadits Adl-Dlaifah" 520-521]</p>
<p>Hadits ini tidak boleh sama  sekali disandarkan kepada Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Dan  sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu &#8216;alaihi wa  sallam.</p>
<p>_________</p>
<p>Foote Note.</p>
<p>[1].  Kemungkinan-kemungkinan yang disebutkan secara umum dilakukan pada waktu  haru raya ataupun di luar hari raya, akan tetapi kemungkaran itu lebih  besar dan bertambah dilakukan pada hari-hari raya.</p>
<p>[2]. Lihat  Fathul Bari 10/351, Al-Ikhtiyar Al-Ilmiyah 6, Al-Muhalla 2/220,  Ghidza&#8217;ul Albab 1/376 dan selainnya. Al-Akh Syaikh Muhammad bin Ismail  telah meneliti dalam kitabnya &#8220;Adillah Tahrim Halqil Lihyah&#8221;  hadits-hadits yang ada dalam masalah ini, kemudian ia menyebutkan  penjelasan ulama tentangnya, dan juga nukilan-nukilan dari kitab-kitab  madzhab yang jadi sandaran. Lihatlah kitab yang berharga itu. dan lihat  juga &#8220;Majallah Al-Azhar&#8221; 7/328. Aku telah menulis risalah berjudul  &#8220;Hukum Ad-Dien Fil Lihyah wat tadkhin&#8221; -Alhamdulillah- Kitab itu telah  dicetak beberapa kali.</p>
<p>[3]. Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad  2/50 dan 92 dari Ibnu Umar dan isnadnya Hasan. Diriwayatkan oleh  Ath-Thahawi dalam Musykil Al Atsar 1/88 dari Hassan bin Athiyah, Abu  Nu&#8217;aim dalam Akhbar Ashbahan 1/129 dari Anas, meskipun ada pembicaraan  padanya, tetapi dengan jalan-jalan tadi, hadits ini derajatnya Shahih,  insya Allah.</p>
<p>[4]. Hadits Riwayat Bukhari 5590 secara muallaq dan  bersambung menurut Abu Daud 4039, Al-Baihaqi 10/221 dan selainnya.  berkata Al-Hafidzh dalam Hadyu As-Sari 59 : Al-Hasan bin Sufyan  menyambungnya dalam Musnadnya, dan Al-Isma&#8217;ili, Ath-Thabrani dalam  Al-Kabir. Abu Nua&#8217;im dari empat jalan, dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya  dan selain mereka. Aku katakan : Dalam hadits ini ada lafadh-lafadh yang  asing, aku akan menjelaskannya dengan berurutan. [tidak di salin,  -penyalin]</p>
<p>[5]. Dia dikecualikan berdasarkan nash Al-Qur&#8217;anul Karim, lihat &#8220;Al-Mughni&#8221; 6/570</p>
<p>[6]. Menyimpang dari taat kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala dan keharusan mereka untuk menjaga kemaluan, &#8220;An-Nihayah&#8221; 4/382</p>
<p>[7].  Berkata Al-Qadli &#8216;Iyadh dalam Masyariqul Anwar 1/79 : Al-Bukht adalah  unta yang gemuk yang memiliki dua punuk. Maknanya -wallahu a&#8217;lam-  wanita-wanita itu menggelung rambut mereka hingga kelihatan besar dan  tidak menundukkan pandangan mata mereka.</p>
<p>[8]. Hadits Riwayat  Tirmidzi 2416, Al-Khatib dalam Tarikh-nya 12/440 dari Ibnu Mas&#8217;ud,  padanya ada kelemahan. Akan tetapi ada pendukungnya dari Abi Zur&#8217;ah di  sisi Ad-Darimi Dzail Tarikh Baghdad 2/163. Dan dari Mu&#8217;adz di sisi  Al-Khatib 11/441. Maka hadits ini Hasan.</p>
<p>[9]. Lihat Ahkamul Jazaiz hal. 253, Ma&#8217;alimus Sunan 1/27 dan ta&#8217;liq Syaikh Ahmad Syakir atas Sunan Tirmidzi 1/103</p>
<p>[10]. Lihat beberapa di antaranya dalam kitab A&#8217;yadul Islam 58 pasal Bida&#8217;ul Iedain</p>
<p>[Disalin  dari Kitab Ahkaamu Al-Iidaini Fii Al-Sunnah Al-Muthahharah, edisi  Indonesia Hari Raya Bersama Rasulullah, Pustaka Al-Haura]</p></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adealam.wordpress.com/1029/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adealam.wordpress.com/1029/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adealam.wordpress.com/1029/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adealam.wordpress.com/1029/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/adealam.wordpress.com/1029/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/adealam.wordpress.com/1029/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/adealam.wordpress.com/1029/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/adealam.wordpress.com/1029/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adealam.wordpress.com/1029/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adealam.wordpress.com/1029/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adealam.wordpress.com/1029/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adealam.wordpress.com/1029/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adealam.wordpress.com/1029/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adealam.wordpress.com/1029/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adealam.wordpress.com&amp;blog=1504761&amp;post=1029&amp;subd=adealam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adealam.wordpress.com/2010/09/14/jauhilah-11-kemungkaran-yang-biasa-terjadi-pada-hari-raya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-6.760319 108.486755</georss:point>
		<geo:lat>-6.760319</geo:lat>
		<geo:long>108.486755</geo:long>
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>LENGKAPI RAMADHAN DENGAN PUASA SUNNAH 6 HARI SYAWAL</title>
		<link>http://adealam.wordpress.com/2010/09/14/lengkapi-ramadhan-dengan-puasa-sunnah-6-hari%c2%a0syawal/</link>
		<comments>http://adealam.wordpress.com/2010/09/14/lengkapi-ramadhan-dengan-puasa-sunnah-6-hari%c2%a0syawal/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Sep 2010 03:28:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adealam.wordpress.com/?p=1027</guid>
		<description><![CDATA[بسم الله الرحمن الرحيم Diriwayatkan dari Abu Ayyub radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang berpuasa Ramadhan dan melanjutkannya dengan 6 hari pada Syawal, maka itulah puasa seumur hidup.&#8221; (Hadits Riwayat Muslim, Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi) Puasa 6 hari di bulan Syawal hukumnya adalah sunnah. Imam Syafi&#8217;i, Ahmad dan banyak ulama terkemuka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adealam.wordpress.com&amp;blog=1504761&amp;post=1027&amp;subd=adealam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<h2 style="text-align:center;">بسم الله الرحمن الرحيم </p>
</h2>
<div></div>
<div>Diriwayatkan dari Abu Ayyub radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: </p>
<p>“Siapa  yang berpuasa Ramadhan dan melanjutkannya dengan 6 hari pada Syawal,  maka itulah puasa seumur hidup.&#8221; (Hadits Riwayat Muslim, Ahmad, Abu  Dawud, Tirmidzi)</p>
<p>Puasa 6 hari di bulan Syawal hukumnya adalah  sunnah. Imam Syafi&#8217;i, Ahmad dan banyak ulama terkemuka mengikutinya.  Hal-hal yang berkaitan dengannya adalah:</p>
<p><span id="more-1027"></span><br /><strong>1. TIDAK HARUS DILAKSANAKAN SECARA BERURUTAN</strong></p>
<p>Hari-hari  ini (berpuasa syawal-) tidak harus dilakukan langsung setelah ramadhan.  Boleh melakukannya satu hari atau lebih setelah &#8216;Ied, dan mereka boleh  menjalankannya secara berurutan atau terpisah selama bulan Syawal,  apapun yang lebih mudah bagi seseorang. &#8230; dan ini (hukumnya-) tidaklah  wajib, melainkan sunnah. (Fataawa Al-Lajnah Ad-Daa&#8217;imah lil Buhuutsil  Ilmiyah wal Ifta&#8217;)</p>
<p>Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:  &#8220;Shahabat-shahabat kami mengatakan ’Adalah mustahab (Sunnah) untuk  berpuasa 6 hari Syawal. Dari hadits ini mereka berkata: Sunnah  mustahabah melakukannya secara berurutan pada awal-awal Syawal, tapi  jika seseorang memisahkannya atau menunda pelaksanaannya hingga akhir  Syawal, ini juga diperbolehkan, karena dia masih berada pada makna umum  dari hadits tersebut. Kami tidak berbeda pendapat mengenai masalah ini  dan inilah juga pendapat Ahmad dan Abu Dawud.&#8221; (Al-Majmu&#8217; Syarh  Al-Muhadzdzab)</p>
<p>Bagaimanapun juga bersegera adalah lebih baik.  Berkata Musa ‘alaihis salam “Itulah mereka telah menyusul aku. Dan aku  bersegera kepada-Mu, Ya Rabbi, supaya Engkau ridho kepadaku.” (QS.  Thoha: 84)</p>
<p><strong>2. TIDAK BOLEH DILAKUKAN JIKA MASIH TERTINGGAL DALAM RAMADHAN<br /></strong><br />Jika  seseorang tertinggal beberapa hari dalam Ramadhan, dia harus berpuasa  terlebih dahulu (untuk menyelesaikan kewajibannya), lalu baru boleh  melanjutkannya dengan 6 hari puasa Syawal, karena dia tidak bisa  melanjutkan puasa Ramadhan dengan 6 hari puasa Syawal, kecuali dia telah  menyempurnakan Ramadhan-nya terlebih dahulu. (Fataawa Al-Lajnah  Ad-Daa&#8217;imah lil Buhuuts wal Ifta&#8217;)</p>
<p>TANYA: Bagaimana kedudukan orang yang berpuasa enam hari di bulan syawal padahal punya qadla(mengganti) Ramadhan ?</p>
<p>JAWAB: Dasar puasa enam hari syawal adalah hadits berikut:<br />&#8220;Barangsiapa berpuasa Ramadhan lalu mengikutinya dengan enam hari Syawal maka ia laksana mengerjakan puasa satu tahun&#8221;</p>
<p>Jika  seseorang punya kewajiban qadla puasa lalu berpuasa enam hari padahal  ia punya kewajiban qadla enam hari maka puasa syawalnya tak berpahala  kecuali telah mengqadla ramadlannya (Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih al  Utsaimin)</p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><strong>FATWA-FATWA Ulama Ahlussunnah Seputar Puasa 6 Hari Syawal:</strong></span><br /><strong><br />SYAIKH  ABDUL AZIZ BIN BAZ</strong> (Mufti Saudi Arabia) ditanya: Seorang wanita sudah  terbiasa menjalankan puasa enam hari di bulan Syawal setiap tahun, pada  suatu tahun ia mengalami nifas karena melahirkan pada permulaan Ramadhan  dan belum mendapat kesucian dari nifasnya itu kecuali setelah habisnya  bulan Ramadhan, setelah mendapat kesucian ia mengqadha puasa Ramadhan.  Apakah diharuskan baginya untuk mengqadha puasa Syawal yang enam hari  itu setelah mengqadha puasa Ramadhan walau puasa Syawal itu dikerjakan  bukan pada bulan Syawal ? Ataukah puasa Syawal itu tidak harus diqadha  kecuali mengqadha puasa Ramadhan saja dan apakah puasa enam hari Syawal  diharuskan terus menerus atau tidak ?</p>
<p>JAWAB: Puasa enam hari di  bulan Syawal, sunah hukumnya dan bukan wajib berdasarkan sabda  Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.<br />&#8220;Barangsiapa berpuasa di  bulan Ramadhan kemudian disusul dengan puasa enam hari di bulan Syawal  maka puasanya itu bagaikan puasa sepanjang tahun&#8221; (HR. Muslim)</p>
<p>Hadits  ini menunjukkan bahwa puasa enam hari itu boleh dilakukan secara  berurutan ataupun tidak berurutan, karena ungkapan hadits itu bersifat  mutlak, akan tetapi bersegera melaksanakan puasa enam hari itu adalah  lebih utama berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala: &#8220;Dan aku  bersegera kepada-Mu. Ya Rabbku, agar supaya Engkau ridha (kepadaku)&#8221;  (QS. Thaha: 84)</p>
<p>Juga berdasarkan dalil-dalil dari Al-Kitab dan  As-Sunnah yang menunjukkan kutamaan bersegera dan berlomba-lomba dalam  melakukan kebaikan. Tidak diwajibkan untuk melaksanakan puasa Syawal  secara terus menerus akan tetapi hal itu adalah lebih utama berdasarkan  sabda Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam: &#8220;Amalan yang paling  dicintai Allah adalah yang terus menerus dikerjakan walaupun sedikit&#8221;</p>
<p>Tidak  disyari&#8217;atkan untuk mengqadha puasa Syawal setelah habis bulan Syawal,  karena puasa tersebut adalah puasa sunnah, baik puasa itu terlewat  dengan atau tanpa udzur.</p>
<p><strong>SYAIKH ABDULLAH BIN JIBRIN</strong> ditanya:  Jika seorang wanita berpuasa enam hari di bulan Syawal untuk mengqadha  puasa Ramadhan, apakah ia mendapat pahala puasa enam hari Syawal ?</p>
<p>JAWAB:  Disebutkan dalam riwayat Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bahwa  beliau bersabda: &#8220;Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan kemudian  diikuti dengan puasa enam hari bulan Syawal maka seakan-akan ia berpuasa  setahun&#8221;</p>
<p>Hadits ini menunjukkan bahwa diwajibkannya  menyempurnakan puasa Ramadhan yang merupakan puasa wajib kemudian  ditambah dengan puasa enam hari di bulan Syawal yang merupakan puasa  sunnah untuk mendapatkan pahala puasa setahun. Dalam hadits lain  disebutkan: &#8220;Puasa Ramadhan sama dengan sepuluh bulan dan puasa enam  hari di bulan Syawal sama dengan dua bulan&#8221;</p>
<p>Yang berarti bahwa  satu kebaikan mendapat sepuluh kebaikan, maka berdasarkan hadits ini  barangsiapa yang tidak menyempurnakan puasa Ramadhan dikarenakan sakit,  atau karena perjalanan atau karena haidh, atau karena nifas maka  hendaknya ia menyempurnakan puasa Ramadhan itu dengan mendahulukan  qadhanya dari pada puasa sunnah, termasuk puasa enam hari Syawal atau  puasa sunnah lainnya. Jika telah menyempurnakan qadha puasa Ramadhan,  baru disyariatkan untuk melaksanakan puasa enam hari Syawal agar bisa  mendapatkan pahala atau kebaikan yang dimaksud. Dengan demikian puasa  qadha yang ia lakukan itu tidak berstatus sebagai puasa sunnah Syawal.</p>
<p><strong>SYAIKH  ABDULLAH BIN JIBRIN</strong> ditanya : Apakah saya berhak untuk melarang istri  saya jika ia hendak melakukan puasa sunnah seperti puasa enam hari  Syawal ? Dan apakah perbuatan saya itu berdosa ?</p>
<p>JAWAB: Ada nash  yang melarang seorang wanita untuk berpuasa sunnah saat suaminya hadir  di sisinya (tidak berpergian/safar) kecuali dengan izin suaminya, hal  ini untuk tidak menghalangi kebutuhan biologisnya. Dan seandainya wanita  itu berpuasa tanpa seizin suaminya maka boleh bagi suaminya untuk  membatalkan puasa istrinya itu jika suaminyta ingin mencampurinya. Jika  suaminya itu tidak membutuhkan hajat biologis kepada istrinya, maka  makruh hukumnya bagi sang suami untuk melarang istrinya berpuasa jika  puasa itu tidak membahayakan diri istrinya atau menyulitkan istrinya  dalam mengasuh atau menyusui anaknya, baik itu berupa puasa Syawal yang  enam hari itu ataupun puasa-puasa sunnah lainnya.</p>
<p><strong>SYAIKH SHALIH AL-FAUZAN</strong> ditanya : Bagaimanakah hukum puasa sunnah bagi wanita yang telah bersuami ?</p>
<p>JAWAB:  Tidak boleh bagi wanita untuk berpuasa sunnah jika suaminya hadir  (tidak musafir) kecuali dengan seizinnya, berdasarkan hadits yang  diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiallahu  &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: &#8220;Tidak halal  bagi seorang wanita unruk berpuasa saat suminya bersamanya kecuali  dengan seizinnya&#8221; -dalam riwayat lain disebutkan- : &#8220;kecuali puasa  Ramadhan&#8221;<br />Adapun jika sang suami memperkenankannya untuk berpuasa  sunnah, atau suaminya sedang tidak hadir (bepergian), atau wanita itu  tidak bersuami, maka dibolehkan baginya menjalankan puasa sunnah,  terutama pada hari-hari yang dianjurkan untuk berpuasa sunnah yaitu  Puasa hari Senin dan Kamis, puasa tiga hari dalam setiap bulan, puasa  enam hari di bulan Syawal, puasa pada sepuluh hari di bulan Dzulhijjah  dan di hari &#8216;Arafah, puasa &#8216;Asyura serta puasa sehari sebelum atau  setelahnya.</p>
<p>(Sumber: Al-Fatawa Al-Jami&#8217;ah Lil Mar&#8217;atil Muslimah,  edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita Muslimah, Amin bin Yahya  Al-Wazan. Disarikan dari situs <a rel="nofollow" href="http://www.salafy.or.id/" target="_blank">www.salafy.or.id</a>)</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adealam.wordpress.com/1027/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adealam.wordpress.com/1027/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adealam.wordpress.com/1027/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adealam.wordpress.com/1027/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/adealam.wordpress.com/1027/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/adealam.wordpress.com/1027/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/adealam.wordpress.com/1027/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/adealam.wordpress.com/1027/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adealam.wordpress.com/1027/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adealam.wordpress.com/1027/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adealam.wordpress.com/1027/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adealam.wordpress.com/1027/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adealam.wordpress.com/1027/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adealam.wordpress.com/1027/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adealam.wordpress.com&amp;blog=1504761&amp;post=1027&amp;subd=adealam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adealam.wordpress.com/2010/09/14/lengkapi-ramadhan-dengan-puasa-sunnah-6-hari%c2%a0syawal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-6.760319 108.486755</georss:point>
		<geo:lat>-6.760319</geo:lat>
		<geo:long>108.486755</geo:long>
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ternyata Tuhan Syi&#8217;ah Berbeda Dengan Tuhan Kita</title>
		<link>http://adealam.wordpress.com/2010/09/02/ternyata-tuhan-syiah-berbeda-dengan-tuhan-kita/</link>
		<comments>http://adealam.wordpress.com/2010/09/02/ternyata-tuhan-syiah-berbeda-dengan-tuhan-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 03:25:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[Syubhat]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Firqah]]></category>
		<category><![CDATA[Syi'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adealam.wordpress.com/?p=1023</guid>
		<description><![CDATA[Ni’matullah Al Jazairi berkata dalam kitabnya Al-Anwar An-Nu’maniyah 2/278: “Sesungguhnya kami tidak akan pernah berkumpul bersama mereka (Ahlus Sunnah/Sunni) diatas satu Rabb (Tuhan), satu Nabi, dan satu Imam. Sebab, mereka meyakini bahwa Rabb mereka adalah (Rabb) Yang mengangkat Muhammad sebagai nabi-Nya dan Yang mengganti setelahnya dengan Abu Bakar (maksud mereka adalah Allah). Kami tidak sepakat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adealam.wordpress.com&amp;blog=1504761&amp;post=1023&amp;subd=adealam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ni’matullah Al Jazairi berkata dalam kitabnya Al-Anwar An-Nu’maniyah  2/278: “Sesungguhnya kami tidak akan pernah berkumpul bersama mereka  (Ahlus Sunnah/Sunni) diatas satu Rabb (Tuhan), satu Nabi, dan satu Imam.  Sebab, mereka meyakini bahwa Rabb mereka adalah (Rabb) Yang mengangkat  Muhammad sebagai nabi-Nya dan Yang mengganti setelahnya dengan Abu Bakar  (maksud mereka adalah Allah). Kami tidak sepakat dengan jenis Rabb  seperti ini tidak pula dengan jenis nabi seperti ini. Bahkan kami  katakan: Sesungguhnya Rabb Yang (menjadikan) pengganti nabi-Nya adalah  Abu Bakar bukanlah Rabb kami dan nabi itu juga bukan nabi kami.”<br />
<span id="more-1023"></span><br />
Demikianlah yang dikatakan oleh salah seorang ulama rujukan mereka, Ni’matullah Al-Jazairi.<br />
Saudaraku, tentu kita semua tahu bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah  manusia terbaik umat ini setelah nabinya, kita juga tahu bahwa ia adalah  shahabat pertama yang menyambut seruan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa  Sallam dari kalangan laki-laki dewasa, dan kita juga tahu bahwa sejak  masuk islam tidak ada yang dia ibadahi kecuali hanya Allah.<br />
Kalaulah ada yang mengatakan bahwa ia tidak menyembah Rabb yang memilih  Abu Bakar sebagai pengganti nabi-Nya , lalu Rabb jenis apa yang dia  sembah?</p>
<p>Dalam redaksi lain, salah seorang ulama’ mereka yang masih hidup dan bisa dijadikan rujukan yaitu <a title="http://www.youtube.com/watch?v=BoVzPfemDuo" rel="nofollow" href="http://www.youtube.com/watch?v=BoVzPfemDuo" target="_blank"><strong>Muhammad At-Tijani</strong> mengatakan dalam pidatonya yang terekam:</a> “Jenis Rabb yang ridha bahwa Abu Sufyan mati diatas islam dan Abu  Thalib mati diatas kufur, kami tidak tertarik dengan jenis Rabb seperti  ini…”</p>
<p>Na’udzubillah, ucapan kufur keluar dari mulut salah seorang ‘ulama  Syi’ah. Saudaraku, tentu kita tahu bahwa Abu Sufyan meninggal diatas  islam walaupun sebelumnya ia sempat menjadi musuh islam. Karena memang  Allah memberikan hidayahnya kepada siapa saja yang Dia kehendaki.  Sebaliknya, kita juga tahu bahwa Abu Thalib yang mendukung penuh dakwah  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam meninggal diatas kekufuran.  Kisah tentang hal ini terdapat dalam Shahih Muslim</p>
<p>Sumber : <a rel="nofollow" href="http://haulasyiah.wordpress.com/" target="_blank">http://haulasyiah.wordpress.com/</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adealam.wordpress.com/1023/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adealam.wordpress.com/1023/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adealam.wordpress.com/1023/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adealam.wordpress.com/1023/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/adealam.wordpress.com/1023/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/adealam.wordpress.com/1023/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/adealam.wordpress.com/1023/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/adealam.wordpress.com/1023/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adealam.wordpress.com/1023/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adealam.wordpress.com/1023/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adealam.wordpress.com/1023/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adealam.wordpress.com/1023/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adealam.wordpress.com/1023/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adealam.wordpress.com/1023/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adealam.wordpress.com&amp;blog=1504761&amp;post=1023&amp;subd=adealam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adealam.wordpress.com/2010/09/02/ternyata-tuhan-syiah-berbeda-dengan-tuhan-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		<georss:point>-6.760319 108.486755</georss:point>
		<geo:lat>-6.760319</geo:lat>
		<geo:long>108.486755</geo:long>
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ternyata Abdullah bin Saba’ bukan Tokoh Rekaan</title>
		<link>http://adealam.wordpress.com/2010/09/02/ternyata-abdullah-bin-saba%e2%80%99-bukan-tokoh-rekaan/</link>
		<comments>http://adealam.wordpress.com/2010/09/02/ternyata-abdullah-bin-saba%e2%80%99-bukan-tokoh-rekaan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 03:21:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[Syubhat]]></category>
		<category><![CDATA[Firqah]]></category>
		<category><![CDATA[Syi'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adealam.wordpress.com/?p=1020</guid>
		<description><![CDATA[Bismillah Para ‘ulama terdahulu, baik dari kalangan ahli hadits, ahli sejarah, ataupun yang lainnya telah sepakat akan keberadaan tokoh besar syi’ah sekaligus pendirinya yang bernama Abdullah bin Saba’, tidak ada yang mengingkarinya kecuali sebagian syi’ah rafidhah. ————— Abdullah bin Saba’ yang juga dikenal dengan sebutan Ibnu Sauda’ adalah seorang Yahudi yang berasal dari negeri Yaman, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adealam.wordpress.com&amp;blog=1504761&amp;post=1020&amp;subd=adealam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bismillah</p>
<p>Para ‘ulama terdahulu, baik dari kalangan ahli hadits, ahli sejarah,  ataupun yang lainnya telah sepakat akan keberadaan tokoh besar syi’ah  sekaligus pendirinya yang bernama Abdullah bin Saba’, tidak ada yang  mengingkarinya kecuali sebagian syi’ah rafidhah.<br />
<span id="more-1020"></span><br />
—————</p>
<p>Abdullah bin Saba’ yang juga dikenal dengan sebutan Ibnu Sauda’ adalah  seorang Yahudi yang berasal dari negeri Yaman, tepatnya dari daerah  Shan’a (Ibu kota Yaman). Ia berpura-pura masuk islam pada masa  pemerintahan Utsman bin ‘Affan untuk menghancurkan islam dari dalam.</p>
<p>Berbagai macam fitnah ia timbulkan. Ia terlibat dalam pembunuhan  Khalifah Utsman bin ‘Affan, juga terlibat mengobarkan fitnah pada perang  Jamal antara Ali dan ‘Aisyah, dan perang Shiffin antara Ali dan  Mu’awiyyah radhiallahu ‘anhum. Kemudian pada pemerintahan ‘Ali ia  kembali membuat ulah dengan memunculkan satu fitnah besar yaitu mengajak  manusia untuk meyakini Khalifah Ali sebagai Tuhan. Dengan sebab ulahnya  itulah para Saba’iyyah ketika itu harus rela dibakar oleh seorang yang  mereka anggap sebagai Tuhan.<strong>[1]</strong></p>
<p>Abdullah bin Saba’ atau yang juga disebut dengan Ibnu Sauda’ bukanlah  tokoh fikti sebagaimana sangkaan sebagian orang-orang syi’ah sekarang.  Diantara alasan mereka yang tidak mengakui keberadaan Abdullah bin Saba’  adalah, kata mereka, riwayat-riwayat yang menjelaskan tentang hakekat  Abdullah bin Saba’ adalah lemah karena melewati jalur seorang perawi  bernama Saif bin Umar At-Tamimi, ia telah dilemahkan oleh beberapa pakar  hadits Ahlus Sunnah terkemuka.</p>
<p><strong>Alasan mereka yang sangat lemah ini dapat kita jawab dari beberapa sisi:</strong></p>
<p><strong>Pertama:</strong> pernyataan mereka bahwa para ulama pakar hadits telah  melemahkan Saif bin ‘Umar At-Tamimi adalah benar. Akan tetapi yang perlu  diperhatikan bahwa yang mereka lemahkan adalah periwayatan haditsnya  (maksudnya jika ia meriwayatkan hadits maka haditsnya lemah) adapun  dalam masalah sejarah maka beliau dapat dijadikan sandaran dan rujukan,  hal ini sebagaimana yang dinyatakan oleh Ibnu Hajar (beliau termasuk  ulama yang mereka jadikan rujukan untuk melemahkan Saif bin Umar  At-Tamimi) dalam kitabnya Tahdzibut Tahdzib 1/408 dan Taqribut Tahdzib  1/408 :</p>
<p>Saif bin Umar At-Tamimi pengarang kitab Ar-Riddah, ada yang mengatakan  dia Adh-Dhabi ada yang mengatakan selainnya, Al-Kufi Dha’if haditsnya,  (akan tetapi) Umdah (bisa dijadikan sandaran) dalam bidang  tarikh/sejarah.”</p>
<p>Imam Adz-Dzahabi (juga ‘ulama yang mereka jadikan rujukan untuk  melemahkan Saif bin Umar At-Tamimi) berkata dalam kitabnya Mizanul  I’tidal 2/ 255, “Ia adalah pakar sejarah yang paham.”</p>
<p>Demikian pula Al-Mubarakfuri dalam kitabnya Tuhfatul Ahwadzi 10/249 menyebutkan seperti ucapan Ibnu Hajar diatas.</p>
<p>Umar Kahalah dalam kitabnya Mu’jamul Muallifin 4/288 mengatakan, “Saif  bin Umar At-Tamimi Al Burjumi, Ahli sejarah berasal dari Kufah.”</p>
<p>Maka jelaslah bahwa yang dilemahkan oleh para muhaditsin adalah riwayat  haditsnya, adapun dalam permasalahan sejarah maka beliau termasuk  ahlinya yang dapat dijadikan sandaran.</p>
<p><strong>Kedua:</strong> perlu diketahui bahwa riwayat-riwayat yang menjelaskan  keberadaan Abdullah bin Saba’ baik yang terdapat dalam kitab Tarikh Ibnu  Asakir, Tarikh Thabari, atau selain keduanya tidak hanya datang dari  jalur Saif bin Umar At-Tamimi, akan tetapi juga diriwayatkan dari  beberapa jalur yang sebagiannya shahih. Diantaranya adalah:</p>
<ul>
<li> Diriwayatkan dari jalur Abu Khaitsamah ia berkata, telah  menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abbad ia berkata, telah  menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Ammar ad-Duhani katanya, saya  mendengar Abu Thufail berkata …..”</li>
<li>Diriwayatkan melalui jalur ‘Amr bin Marzuk ia berkata, telah  menceritakan kepada kami Syu’bah dari Salamah bin Kuhail dari Zain bin  Wahb ia berkata, “Ali radhiallahu ‘anhu berkata, ‘ada apa denganku dan  dengan orang jahat yang hitam ini (maksudnya Abdullah bin Saba’) ia  telah mencela Abu Bakar dan Umar radhiallahu ‘anhu.”</li>
<li>Diriwayatkan pula melalui jalur Muhammad bin ‘Utsman bin Abi  Syaibah ia berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Ala ia  berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin ‘Ayyas dari  Mujalid dari Sya’bi ia berkata, “Pertama kali yang berdusta adalah  Abdullah bin Saba’.”</li>
<li>Ibnu Ya’la Al-Mushili berkata dalam kitab Musnadnya, “Telah  menceritakan kepada kami Abu Kuraib ia berkata, telah menceritakan  kepada kami Muhammad bin Hasan Al-Asadi ia berkata, telah menceritakan  kepada kami Harun bin Shalih dari Harits bin Abdurrahman dari Abul  Jallas katanya, ‘aku mendengar Ali berkata kepada Abdullah bin Saba’,  ‘….”</li>
<li>Berkata Abu Ishaq al-Fazzari dari Syu’bah dari Salamah bin  Kuhail dari Abu Za’ra’ dari Zaid bin Wahb …………. (lihat semuanya di  Lisanul Mizan 2/40)</li>
</ul>
<p><strong>Ketiga:</strong> juga terdapat dalam kitab rujukan Syi’ah baik itu kitab  tentang firqah, hadits, atau rijal riwayat yang cukup banyak yang sama  sekali tidak melewati jalur Saif bin Umar At-Tamimi. Sebagaimana yang  akan kita jelaskan insya Allah</p>
<p><strong>Abdullah bin Saba’ di Kitab-kitab Ahlus Sunnah</strong></p>
<p>Tentunya sangat banyak sekali penyebutan Abdullah bin Saba’ dalam  kitab-kitab Ahlus Sunnah yang kesemuanya tidak lain menunjukkan  keyakinan mereka akan keberadaannya:</p>
<ul>
<li>Ibnu Taimiyyah berkata, “Sesungguhnya permulaan rafidhah berasal  dari seorang Zindiq, yaitu Abdullah bin Saba’.” (Majmu’ Fatawa 28/483)</li>
<li>Imam Adz-Dzahabi berkata, “Abdullah (bin Saba’) termasuk zindiq yang ekstrim, ia sesat dan menyesatkan.” (Mizanul I’tidal 2/426)</li>
<li>Ibnu Hajar berkata, “Abdullah bin Saba’ termasuk zindiq yang  paling ekstrim…. Ia memiliki pengikut yang disebut Sabaiyyah, mereka  (kaum Sabaiyyah) memiliki keyakinan sifat ketuhanan pada diri Ali bin  Abi Thalib. Beliau telah membakar mereka dengan api pada masa  kekhilafaannya.” (Lisanul Mizan 3/360)</li>
<li>Abul Muzhaffar Al Isfarayini dalam Al Milal wan Nihal ketika  menceritakan tentang As-Sabaiyyah berkata, “Dan bahwasanya yang membakar  mereka adalah Ali, yaitu kelompok dari rafidhah yang meyakini padanya  (pada Ali) ada sifat ketuhanan, merekalah yang disebut kelompok  Sabaiyyah pendirinya adalah Abdullah bin Saba’ seorang Yahudi yang  menampakkan keislaman…” (lihat Fathul Bari 12/270)</li>
<li>Abdullah bin Muslim bin Qutaibah dalam kitabnya Ta’wilu  Mukhtalafil Hadits 1/21 berkata, “Kami tidak pernah mengetahui ada pada  ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu yang meyakini adanya sifat ketuhanan  pada manusia selain mereka (yaitu rafidhah ekstrim). Sesungguhnya  Abdullah bin Saba’ meyakini adanya sifat ketuhanan pada diri Ali.”</li>
<li>Az Zarkali berkata, “Abdullah bin Saba’ pendiri kelompok Sabaiyyah.” (Al-A’lam 4/88)</li>
</ul>
<p>Demikian pula, para ulama’ Ahlus Sunnah sering sekali menjuluki seorang  rawi yang beraqidah Rafidhah ekstrim sebagai Sabaiyyah (pengikut  Abdullah bin Saba’), kalau seandainya Abdullah bin Saba’ adalah tokoh  fiktif mana mungkin mereka memakai istilah tersebut.</p>
<ul>
<li>Ash-Shafadi berkata, “As-Sabaiyyah dinisbahkan kepada Abdullah bin Saba’.’ (Al-Wafil Wafayat 5/30)</li>
<li>Beliau juga berkata, “Pendiri As-Sabaiyyah adalah Abdullah bin  Saba’, dialah pendiri kelompok Sabaiyyah, dia pula yang berkata kepada  Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, ‘Kamu adalah Tuhan.” (5/393)</li>
<li>Ibnu Hibban berkata, “Dan adalah al-Kalbi seorang Sabaiyyah  termasuk yang berkeyakinan Sesungguhnya Ali belum mati, dia akan kembali  ke dunia sebelum hari kiamat…” (Al-Majruhin 2/253)</li>
<li>Ibnu Makula berkata dalam kitab Rijalnya, “Faraj bin Sa’id bin  ‘Alqamah bin Abyadh bin Hamal As Sabay… dan Sabayyah termasuk rafidhah  yang paling ekstrim nisbah kepada Abdullah bin Saba’. (lihat Ikmalul  Kamal 4/536)</li>
<li> As Sam’ani dalam kitabnya Al Ansab 3/209 berkata, “Dan  Abdullah bin Wahb as Saba’i, gembong khawarij, menurutku bahwa Abdullah  bin Wahb ini dinisbahkan kepada Abdullah bin Saba’, dia dari rafidhah,  dan jama’ah dari mereka yang dinisbahkan kepadanya disebut, as  Sabaiyyah.”</li>
<li>As Suyuthi dalam kitabnya Lubbul Lubab fi Tahriril Ansab 1/42  berkata, “…Dan (dinisbahkan juga) kepada Abdullah bin Saba’ pendiri  Sabaiyyah dari rafidhah.”</li>
<li>Dan selain mereka banyak sekali.</li>
</ul>
<p><strong>Abdullah bin Saba’ di Kitab-kitab Syi’ah</strong></p>
<ul>
<li>Al Kisysyi dalam kitabnya Ar-Rijal 1/324 meriwayatkan dari  Muhammad bin Qauluwiyah ia berkata, telah menceritakan kepadaku Sa’d bin  Abdillah ia berkata, telah menceritakan kepadaku Ya’qub bin Yazid dan  Muhammad bin ‘Isa dari Ali bin Mihziyar dari Fudhalah bin Ayyub al-Azdi  dari Aban bin Utsman ia berkata, “Aku mendengar Abu Abdillah berkata,  ‘La’nat Allah atas Abdullah bin Saba’, sesungguhnya ia meyakini adanya  sifat ketuhanan pada diri Amirul Mukminiin (Ali), padahal demi Allah!  Amirul Mukminin hanyalah seorang hamba yang taat.”</li>
<li>Demikian pula Al Qummi dalam kitabnya Al Khishal meriwayatkan seperti diatas dengan sanad yang berbeda.</li>
<li>Dan selain keduanya.</li>
</ul>
<p>Maka dari uraian diatas kita mengetahui bahwa Abdullah bin Saba’  bukanlah tokoh fiktif/khayalan/rekaan/dongeng. Ini telah menjadi  kesepakatan para ‘ulama sejarah, hadits, dan pengarang kitab tentang  firqah, thabaqat, Rijal, adab, dan Ansab. Maka kaum syi’ah tidak  memiliki celah untuk mengingkari keberadaan Abdullah bin Saba’.</p>
<p>Jadi pembahasan tentang Abdullah bin Saba’ tidak sebatas ada dalam kitab  Tarikh Ath-Thabari saja dan tidak hanya melalui jalur periwayatan Saif  bin ‘Umar At-Tamimi, walaupun beliau adalah seorang yang dapat dijadikan  sandaran dalam bidang sejarah sebagaimana yang kami jelaskan diatas.</p>
<p><strong>Setelah ini semua, masihkah kita mengingkari keberadaan Abdullah bin Saba’ si Yahudi yang berpura-pura masuk islam?</strong></p>
<p>Inilah yang dapat kami suguhkan pada kesempatan kali ini.<br />
Wallahu a’lam bish shawwab.</p>
<p>_________________<br />
Footnote<br />
<strong>[1]</strong> Lihat biografi Abdullah bin Saba’ selengkapnya di Tarikh  Dimasyq 3/29, Tarikh Thabari, Al Kamil karya Ibnul Atsir, Al Ma’arif  hal.622 karya Ibnu Qutaibah, Mizanul I’tidal 2/426, Al Milal wan Nihal  hal.365 karya Asy-Syihristani, Al Wafi bil Wafayat 17/189.</p>
<p>Sumber : <a rel="nofollow" href="http://haulasyiah.wordpress.com/" target="_blank">http://haulasyiah.wordpress.com/</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adealam.wordpress.com/1020/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adealam.wordpress.com/1020/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adealam.wordpress.com/1020/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adealam.wordpress.com/1020/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/adealam.wordpress.com/1020/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/adealam.wordpress.com/1020/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/adealam.wordpress.com/1020/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/adealam.wordpress.com/1020/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adealam.wordpress.com/1020/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adealam.wordpress.com/1020/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adealam.wordpress.com/1020/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adealam.wordpress.com/1020/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adealam.wordpress.com/1020/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adealam.wordpress.com/1020/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adealam.wordpress.com&amp;blog=1504761&amp;post=1020&amp;subd=adealam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adealam.wordpress.com/2010/09/02/ternyata-abdullah-bin-saba%e2%80%99-bukan-tokoh-rekaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-6.760319 108.486755</georss:point>
		<geo:lat>-6.760319</geo:lat>
		<geo:long>108.486755</geo:long>
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MENILIK KITAB-KITAB HADITS KAUM SYI’AH</title>
		<link>http://adealam.wordpress.com/2010/09/02/menilik-kitab-kitab-hadits-kaum-syi%e2%80%99ah/</link>
		<comments>http://adealam.wordpress.com/2010/09/02/menilik-kitab-kitab-hadits-kaum-syi%e2%80%99ah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 03:19:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Firqah]]></category>
		<category><![CDATA[Syi'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adealam.wordpress.com/?p=1018</guid>
		<description><![CDATA[Dalam pembahasan ini, kita akab menengok beberapa kitab Syi’ah yang menjadi sandaran mereka dalam beragama, agar kita mengetahui seberapa jauh kedudukan kitab-kitab hadits andalan mereka dibandingkan kitab-kitab ahlus-sunnah, terkhusus Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Dalam agama Syi’ah, diantara sekian banyak kitab-kitab Syi’ah yang ditulis oleh para ulama mereka, ada empat kitab referensi yang merupakan referensi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adealam.wordpress.com&amp;blog=1504761&amp;post=1018&amp;subd=adealam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam pembahasan ini, kita akab menengok beberapa kitab Syi’ah yang  menjadi sandaran mereka dalam beragama, agar kita mengetahui seberapa  jauh kedudukan kitab-kitab hadits andalan mereka dibandingkan  kitab-kitab ahlus-sunnah, terkhusus Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.</p>
<p>Dalam agama Syi’ah, diantara sekian banyak kitab-kitab Syi’ah yang  ditulis oleh para ulama mereka, ada empat kitab referensi yang merupakan  referensi tersebutdalam madzhab mereka baik dari pengamalan akidah  maupun syari’ah. Empat kitab tersebut adalah:<br />
<span id="more-1018"></span><br />
<strong>Pertama: Kitab “Al-Kafi”</strong>, yang ditulis oleh Al-Kulaini, Muhammad bin Ya’qub bin Ishaq.</p>
<p><strong>Kedua: Tahdzib Al-Ahkam</strong>, karangan Abu Ja’far At-Thusi, Muhammad bin Hasan bin ‘Ali.</p>
<p><strong>Ketiga: Al-Istibshar</strong>, juga dikarang oleh At-Thusi.</p>
<p><strong>Keempat: Man La Yadhuruhul Faqih</strong>, oleh Ibnu Babawaih Al-Qummi, Abu Ja’far, Muhammad bin Ali bin Husain bin Musa.</p>
<p>Keempat kitab ini dinyatakan oleh Syi’ah Rafidhah sebagai empat kitab  yang paling mulia. Untuk mengkaji seluruh isi kitab-kitab ini, tentunya  akan memakan waktu yang sangat panjang. Namun kita akan menilik salah  satu dari empat kitab tersebut, yaitu kitab yang dianggap paling shahih  dari keempatnya menurut anggapan mereka, yaitu kitab: “Al-Kafi” oleh  Al-Kulaini.</p>
<p>Salah satu referensi terbesar Syi’ah, yang menampakkan kebenciannya terhadap ahlussunnah dalam tulisan-tulisannya, Abdul Husain<strong>(1)</strong> Syafruddin Al-Musawi, dalam kitabnya “Al-Muraja’at” mengatakan,<br />
“Yang terbaik yang dikumpulkan dari (riwayat) adalah empat kitab yang  menjadi referensi (Syi’ah) Imamiyah dalam ushul dan furu’nya, dari zaman  pertama hingga zaman kini yaitu Al-Kafi, At-Tabshir, Al-Istibshar, dan  Man La Yadhuruhul Fqih. Riwayatnya mutawatir dan kandungannya dipastikan  keshahihannya. Dan Al-Kafi yang tertua, termulia, terbaik, dan yang  paling teliti.” <strong>(2)</strong></p>
<p>Al-Kasyani menyatakan: Al-Kafi yang paling menjelaskan, paling mulia, paling terpercaya, paling sempurna, dan paling mencakup.<strong>(3)</strong>”<br />
Al-Majlisi menyatakan, “Kitab ¬Al-Kafi paling teliti ushul-nya, paling  mencakup, paling baik dari kitab-kitab tentang golongan selamat dan  paling agung.<strong>(4)</strong>”</p>
<p>Banyak lagi pujian para ulama mereka terhadap kitab ini, seperti Ali bin  Akbar Al-Ghifari, salah seorang pen-tahqiq kitab Al-Kafi, At-Thabarasi,  Al-Hurr Al-Amilii, Abbas Al-Qummi, Muhammad Amin Al-Istrabadi, dan yang  lainnya. Bahkan Al-Kulaini sendiri menyifatkan kitabnya sebagai kitab  yang mengandung hadits-hadits shahih dari orang-orang yang jujur.<strong>(5)</strong></p>
<p>Dari sini kita tahu bahwa kitab Al-Kafi adalah kitab yang paling  diagungkan syi’ah, paling shahih (menurut mereka) dan merupakan  referensi utama, sebagaimana yang kita saksikan dari para ulama’ mereka.  walaupun tidak dinamakan dengan shahih.</p>
<p>Setelah itu, kami mengajak para pembaca untuk melihat para perawi  (periwayat) yang menjadi sandaran riwayat-riwayat Al-Kafi, lalu kita  timbang berdasarkan kacamata Al-Jarh wat-ta’dil. Berikut ini sebagian  nama-nama para perawi mereka:</p>
<p><strong>1) ZURARAH BIN A’YAN BIN SANSAN, ABUL HASAN</strong><br />
Dia adalah seorang perawi yang jalur riwayatnya banyak terdapat dalam  kitab Al-Kafi. Abu Ja’far At-Thusi berkata, “Namanya Abdu Rabbihi,  diberi kunyah Abul Hasan, Zurarah adalah gelarnya.” Tanpa menukilkan  pendapat ahlus sunnah tentang orang ini, akan kami nukilkan dari kitab  mereka sendiri yang menjelaskan siapa Zurarah.</p>
<p>Al-Kisysyi telah meriwayatkan dalam kitab Rijal-nya bahwa tatkala salah  seorang bertanya kepada Al-Imam Ash-Shadiq, “Kapan pertemuan terakhirmu  dengan Zurarah? Beliau menjawab, “Aku tidak melihatnya semenjak beberapa  hari (lalu). Lalu berkata (Ash-Shadiq), “Jangan engkau  memperdulikannya, bila dia sakit maka jangan engkau menjenguknya,  apabila dia mati maka jangan engkau menghadiri jenazahnya.”</p>
<p>(sang penanya) bertanya, “Zurarah?”, sambil terheran-heran atas apa yang  diucapkan oleh Ash-Shadiq. Beliau menjawab, “Iya, Zurarah. Zurarah  lebih jahat dari yahudi dan Nashara, dan dari orang yang mengatakan:  Sesungguhnya Allah adalah satu di antara tiga.” <strong>(6)</strong></p>
<p>Lihatlah hukum yang diberikan oleh Imam Ash-Shadiq rahimahullah terhadap  seorang perawi yang dianggap kaum Syi’ah: Tsiqah. Bukankah Ash-Shadiq  ma’shum menurut madzhab Syi’ah? Apa yang diucapkannya dipastikan  kebenarannya menurut kalian, mengapa kalian tidak menerima jarh (celaan)  beliau terhadap Zurarah yang kalian anggap tsiqah?</p>
<p>Al-Kisysyi juga meriwayatkan dengan sanadnya dari Masma’ bin Karwin  berkata, “Aku mendengar Abu Abdillah (Ja’far Ash-Shadiq, pen) alaihis  salaam berkata:<br />
“Semoga Allah melaknat Barid dan semoga Allah melaknat Zurarah”. <strong>(7)</strong></p>
<p>Juga disebutkan Al-Kisysyi dalam Rijal-nya dengan sanadnya sampai kepada  Laits berkata, “Aku mendengar Abu Abdillah ‘alaihis salaam berkata:<br />
“Tidak akan mati Zurarah keceuali dalam keadaan sesat.” <strong>(8)</strong></p>
<p>Inna lillahi wainna ilaihi raji’un! “Selamat” bagi kaum yang mempercayai  seorang perawi yang dengan penuh ketegaran jiwa telah dibenci, dicaci,  dan bahkan dilaknat oleh cucunda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.  Benarlah seorang yang mengatakan:</p>
<p>إن كان هذا ثقة فالكلب لا شك ثقتي</p>
<p>Kalau orang seperti dia seorang yang terpercaya<br />
Maka tiada diragukan lagi bahwa anjing adalah kepercayaanku.</p>
<p>Disebutkan pula oleh Al-Kisysyi bahwa Zurarah adalah seorang yang pernah  mencaci Ja’far Ash-Shadiq rahimahullah, dan mengatakan tentangnya, “Dia  tidak akan beruntung selama-lamanya.” <strong>(9)</strong></p>
<p>Ini menunjukkan bahwa dia adalah seorang nashibi, pembenci ahlul bait.  Kalau bukan karena khawatir terlalu panjang, akan saya paparkan seluruh  riwayat dari Ash-Shadiq rahimahullah tentang Zurarah, dan celaannya  terhadap ahlul bait, keluarga Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Namun  apa yang kami sebutkan, sudah cukup mewakili yang lainnya.</p>
<p><strong>2) SALIM BIN QAIS AL-HILALI</strong><br />
Abdul Husain Syarafuddin Al-Musawi berkata tentang kitab milik Salim bin Qais:<br />
“Tidak ada perselisihan di antara seluruh kaum Syi’ah dari yang membawa  ilmu ataupun yang meriwayatkannya dari para imam bahwa kitab Salim bin  Qais Al-Hilali adalah inti dari kitab-kitab usul yang diriwayatkan ahli  ilmu dan para pembawa berita ahlul bait dan yang paling tua (umurnya),  dia termasuk dari ushul yang kaum Syi’ah merujuk kepadanya dan  menjadilkannya sebagai sandaran….” <strong>(10)</strong></p>
<p>Apa yang dikatakannya adalah bohong belaka, bahkan kitab ini telah dicerca oleh sebagian ulama dari kalangan Syi’ah sendiri.</p>
<p>As-Sayyid Hasyim Ma’ruf Al-Husaini tatkala memberikan komentar terhadap  riwayat yang pada sanadnya terdapat Salim bin Qais, menyatakan,<br />
“Cukuplah riwayat ini sebagai celaan bahwasanya ini adalah riwayat milik  Salim bin Qais dan dia termasuk orang yang tidak jelas dan tertuduh  berdusta”</p>
<p>Al-Mufid mengatakan,<br />
“Kitab ini tidak terpercaya, mayoritasnya tidak boleh diamalkan, telah terjadi pencampur adukan dan pentadlisan padanya.”</p>
<p>Ibnul Ghadha’iri mengatakan,<br />
“Lemah, dia tidak dihiraukan (riwayatnya)”</p>
<p>Disebutkan oleh Al-Hurr Al-Amili bahwa sebagian ulama menghukumi  palsunya kitab Salim bin Qais, dan ini saja sudah cukup untuk  menjatuhkan kitab yang dijadikan marji’ oleh Abdul Husain ini. <strong>(11)</strong></p>
<p><strong>3. HISYAM BIN AL-HAKAM</strong><br />
Salah seorang perawi andalan Syi’ah, padahal dia seorang ahlul bid’ah,  Mujassim, yaitu menyatakan bahwa Allah Azza Wajalla memiliki jasmani.  Padahal Allah Azza Wajalla berfirman:</p>
<p>ليس كمثله شيء وهو السميع البصير</p>
<p>“Tidak ada satupun yang menyerupai Allah dan Dia adalah Maha mendengar dan Maha melihat” <strong>(12)</strong></p>
<p>Telah diriwayatkan oleh Al-Kulaini dalam “Al-Ushul minal Kafi” (1/106)  dengan sanadnya. Hasan bin Abdurrahman Al-Hammani berkata, “Aku berkata  kepada Abul Hasan Musa bin Ja’far ‘alaihis salam, “Sesungguhnya Hisyam  bin Al-Hakam menyangka bahwa Allah memiliki jasmani, tidak ada yang  menyerupai-Nya dengan sesuatu apapun, mendengar, melihat, mampu,  berbicara, pembicaraan, kekuatan, ilmu, beredar, menyatu, tidak satupun  dari makhluk.” Maka (Musa bin Ja’far) menjawab, “Semoga Allah  memeranginya, apakah dia tidak tahu bahwa jasmani itu terbatas, dan  pembicaraan bukan sang pembicara, aku berlindung kepada Allah. Aku  berlindung kepada Allah dari perkataan ini…”<br />
Lihat pula dalam Al-Kafi (1/105), dan yang lainnya.</p>
<p>Lihatlah, mereka mencela Ahlus Sunnah meriwayatkan dari ahlul bid’ah, sementara<br />
kitab andalan mereka sendiri dipenuhi oleh para pendusta dari kalangan  ahli bid’ah, bahkan (dipenuhi dengan) orang-orang kafir. Wailallahil  musytakaa.</p>
<p><strong>4. AL-MUFADHDHAL BIN UMAR AL-JU’FI</strong><br />
Dia termasuk perawi yang terpuji menurut Abu Ja’far Ath-Thusi.<br />
Telah diriwayatkan oleh Al-Kisysyi dari Hammad bin Utsman berkata, “Aku  mendengar Abu Abdillah alaihissalam berkata kepada Mufadhdhal bin Umar  Al-Ju’fi:<br />
“Wahai Kafir, wahai musyrik”</p>
<p>Dari Ismail bin Jabir berkata, “Abu Abdillah mengatakan, “Datangilah  Al-Mufadhdhal dan katakan padanya, “Wahai kafir, wahai musyrik, apa yang  kau inginkan dari anakku, kamu ingin membunuhnya…” <strong>(13)</strong></p>
<p>Inna lillahiwainna ilaihi raji’un. Selamat! Bagi kaum yang mengambil  agamanya dari orang yang telah dinyatakan oleh imam mereka: Hai kafir,  hai musyrik.</p>
<p><strong>5. ABU BASHIR LAITS BIN AL-BUKHTURI AL-MURADI</strong><br />
Perawi ini dianggap oleh Abdul-Husein –dalam kitab sesatnya  “Al-Muraja’at” sebagai perawi yang handal yang telah mendapatkan  kemenangan dengan pelayanannya terhadap dua imam: Al-Baqir dan  Ash-Shadiq.</p>
<p>Mari kitab bandingkan dengan riwayat yang disebutkan oleh Al-Kisysyi  dengan sanadnya sampai kepada Syu’aib bin Ya’qub dia berkata, “Aku  bertanya kepada Abul Hasan alaihis salam tentang seseorang yang menikahi  seorang wanita sementara si wanita memiliki suami dan tidak diketahui  oleh pihak lelaki? Beliau menjawab, “Di rajam siwanita dan dikenakan  hukum atas si lelaki bila dia tidak mengetahui.” Akupun menyampaikan  fatwa ini kepada Abu Bashir Al-Muradi, lalu (dia) berkata: Ja’far telah  berkata kepadaku –demi Allah- bahwa dirajam si wanita dan dikenakan  hukum cambuk bagi lelaki. Lalu dia mengatakan dalam keadaan tangannya di  atas dadanya, “Aku mengira teman kita ini (Abul Hasan, pen) tidak  sempurna ilmumnya” <strong>(14)</strong></p>
<p>Diriwayatkan juga dari Syu’aib Al-‘Aqarquri berkata, “Dahulu aku berada  di dekat Abu Abdillah alaihissalam (Ja’far Ash-Shadiq, pen) sedang kami  bersama Abu Bashir dan beberapa orang dari penduduk gunung, mereka  bertanya kepadanya (Ja’far Ash-Shadiq) tentng hukuman sembelihan Ahli  Kitab? Abu Abdillah alaihissalam menjawab mereka, “Bukankah kalian telah  mendengar apa yang difirmankan Allah Azza Wajalla? Mereka menjawab,  “Jangan kalian memakannya.<br />
Tatkala kami telah keluar, Abu Bashir berkata, “Semua yang ada padanya  ada dileherku (bahwa dia telah menghafalnya, pen), sungguh aku telah  mendengarnya dan mendengar ayahnya, kedua-keduanya memerintahkan untuk  memakannya (sembelihan Ahli Kitab, pen). Kamipun kembali kepada Abu  Abdillah dan Abu Bashir berkata kepadaku,” Tanyailah!” Aku bertanya,  “Apa yang engkau katakan tentang sesembelihan Ahli Kitab?” beliau  menjawab, “Bukankah engkau telah hadir dipagi hari dan telah engkau  dengar? “ Aku menjawab, “Iya.” Beliau mengatakan, “Maka jangan kamu  memakannya.” <strong>(15)</strong></p>
<p>Perhatikanlah apa yang diperbuat oleh Abu Bashir dalam mempertentangkan  perkataan di antara para imam? Juga, berani berdusta dengan  mengatasnamakan Ja’far Ash-Shadiq rahimahullah?</p>
<p>___________________<br />
Footnote<br />
<strong>(1)</strong> Nama Abdul Husain ditinjau dari hukum syar’i adalah nama yang  tidak benar, karena mengandung penghambaan terhadap selain Allah  subhanahu wata’ala. Semestinya, jika seseorang memiliki nama,  menghambakan dirinya kepada Allah, tidak kepada selainnya. Seperti  Abdullah, Abdurrahman, dan yang semisalnya. Bahkan perkara ini bukan  hanya disebutkan dalam kitab Ahlus sunnah, namun juga disebutkan dalam  referensi Syi’ah, sebagaimana yang disebutkan Al Kulaini dengan sanadnya  dari Fulan bin Humaid bahwa dia bertanya kepada Abu Abdillah  rahimahullah sambil meminta saran tentang pemberian nama anaknya, maka  beliau menjawab: “Beri nama dengan nama penghambaan”. Ia bertanya: “Nama  apa itu?”. Beliau menjawab: “Abdurrahman”. Diriwayatkan juga dari Al  Kulaini dari Abu Ja’far rahimahullah berkata: “Nama yang paling benar  adalah yang diberi penghambaan, dan yang paling afdhal adalah nama-nama  para nabi. Al Majlisi ketika mengomentari riwayat ini mengatakan: “Makna  “penghambaan” adalah penghambaan kepada Allah, bukan Abduh Nabi (hamba  Nabi) dan Abdu Ali (hamba Ali) dan yang semisalnya. Perinciannya  disebutkan dalam kitab Mir’atul ‘Uqul fi Syarhi Akhbar Ala Ar-Rasul:  21/31. lihat kitab Al-Burhan fi Tabri’ati Abi Hurairah minal Buhtan:  1/7-8<br />
<strong>(2)</strong> Al-Muraja’at: 110<br />
<strong>(3)</strong> Muqaddimah Al-Muhaqqiq kitab Al-Kafi: 9<br />
<strong>(4)</strong> Mir’atul Al-‘Uqul: 1/3<br />
<strong>(5)</strong> lihat Muqaddimah Al-Kafi, Al-Kulaini: 7<br />
<strong>(6)</strong> Lihat Rijal Asy-Syi’ah fil Mizan, Aburrahman Az-Zar’i:8<br />
<strong>(7)</strong> Rijal Asy-Syi’ah: 9. yang dimaksud Barid di sini adalah Barid  bin Muawiyah Al-Ijli, salah seorang perawi yang juga mereka anggap  tsiqah.<br />
<strong>(8)</strong> Rijal Kisysyi: 149, Tanqih al-Maqul: 1/443<br />
<strong>(9)</strong> Riwayat panjang dalam Rijal Al-Kisysyi: 159<br />
<strong>(10)</strong> Kitab Al-Muraja’at: 307, menukil dari Raudhatul Jannat dan Rijal Asy-Syi’ah: 17<br />
<strong>(11)</strong> Lihat kitab: Rijal Asy-Syi’ah: 17. Al-Qanat:5.<br />
<strong>(12)</strong> QS. Asy-Syura:12<br />
<strong>(13)</strong> Rijal Asy-Syi’ah, Az-Zar’i:39<br />
<strong>(14)</strong> Rijal Asy-Syi’ah: 23<br />
<strong>(15)</strong> Rijal Asy-Syi’ah: 24</p>
<p>Dinukil dari: Al-Qaulush-Sharih fi Raddi ‘ala Munkiril Hadits Ash-Shahih/ Meluruskan Pemahaman tentang Hadits Sihir<br />
Oleh: Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al Bugisi hafizhahullah<br />
Studi kritis buku: Benarkah Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam Pernah (Tersihir? )<br />
Hal: 173-176, dengan sedikit tambahan.</p>
<p>Sumber : <a rel="nofollow" href="http://haulasyiah.wordpress.com/" target="_blank">http://haulasyiah.wordpress.com/</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adealam.wordpress.com/1018/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adealam.wordpress.com/1018/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adealam.wordpress.com/1018/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adealam.wordpress.com/1018/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/adealam.wordpress.com/1018/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/adealam.wordpress.com/1018/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/adealam.wordpress.com/1018/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/adealam.wordpress.com/1018/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adealam.wordpress.com/1018/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adealam.wordpress.com/1018/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adealam.wordpress.com/1018/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adealam.wordpress.com/1018/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adealam.wordpress.com/1018/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adealam.wordpress.com/1018/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adealam.wordpress.com&amp;blog=1504761&amp;post=1018&amp;subd=adealam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adealam.wordpress.com/2010/09/02/menilik-kitab-kitab-hadits-kaum-syi%e2%80%99ah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-6.760319 108.486755</georss:point>
		<geo:lat>-6.760319</geo:lat>
		<geo:long>108.486755</geo:long>
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Akibat Belajar Islam di Negeri Iran</title>
		<link>http://adealam.wordpress.com/2010/09/02/akibat-belajar-islam-di-negeri-iran/</link>
		<comments>http://adealam.wordpress.com/2010/09/02/akibat-belajar-islam-di-negeri-iran/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 03:16:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[Syubhat]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Firqah]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Syi'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adealam.wordpress.com/?p=1016</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari yang lalu kami memungut selembar koran harian Tribun Timur(edisi Jumat, 4 Juli 2008 M). Sejenak kami membolak-balik koran bekas itu, tiba-tiba kami menemukan pada (hal.4), di bawah rubrik Tribun Opini terdapat sebuah tulisan yang nampaknya cukup “ilmiah”. Hal itu terlihat dari judulnya yang tertulis “Islam: Inovasi atau Stagnasi?” yang ditulis oleh Ismail Amin, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adealam.wordpress.com&amp;blog=1504761&amp;post=1016&amp;subd=adealam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa hari yang lalu kami memungut selembar koran harian Tribun  Timur(edisi Jumat, 4 Juli 2008 M). Sejenak kami membolak-balik koran  bekas itu, tiba-tiba kami menemukan pada (hal.4), di bawah rubrik Tribun  Opini terdapat sebuah tulisan yang nampaknya cukup “ilmiah”. Hal itu  terlihat dari judulnya yang tertulis “Islam: Inovasi atau Stagnasi?”  yang ditulis oleh Ismail Amin, seorang mahasiswa Mostafa Internasional  University Islamic Republic of Iran. Selanjutnya kami sebut dengan “si  Penulis”<br />
<span id="more-1016"></span><br />
Nampaknya ilmiah, namun ternyata tulisan ini memuat beberapa perkara  yang menunjukkan bahwa tulisan ini tidak ilmiah menurut tinjauan  syari’at, bahkan bersifat tendensial. Si Penulis dalam artikel itu  berusaha mengomentari kondisi kemunduran teknologi dan perekonomian kaum  muslimin yang dikaitkan dengan agama.</p>
<p>Tulisan ini mengingatkan kami dengan sebuah hadits yang diriwayatkan  oleh Abu Hurairah-radhiyallahu ‘anhu- dari Rasulullah -Shallallahu  ‘alaihi wa sallam- bersabda,</p>
<p>سَيَأْتِيْ عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ, يُصَدَّقُ فِيْهَا  الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيْهَا الصَّادِقُ, وَيُؤْتَمَنُ فِيْهَا  الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيْهَا اْلأَمِيْنُ وَيَنْطِقُ فِيْهَا  الرُّوَيْبِضَةُ . قِيْلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قال: الرَّجُلُ  التَّافِهُ فِيْ أَمْرِ العَامَّةِ</p>
<p>“Akan datang pada manusia tahun-tahun yang menipu; di dalamnya pendusta  dibenarkan, orang jujur didustakan; orang yang penipu dipercaya, dan  orang yang amanah dianggap pengkhianat, serta ruwaibidhoh ikut  berbicara”. Ada yang bertanya, “Apa itu ruwaibidhoh (orang lemah)?”  Beliau bersabda, “Dia adalah seorang hina (dungu) berkomentar tentang  urusan umum”. [HR. Ibnu Majah dalam Kitab Al-Fitan (4036). Hadits ini  di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no.1887)]</p>
<p>Tulisan ini sengaja kami angkat &amp; komentari sebagai contoh sederhana  bahwa seorang yang belajar kepada orang-orang Syi’ah-Rofidhoh di  Repulik Iran, akan mengalami perubahan dalam gaya bahasa dan berpikir  bebas, tanpa kontrol dalam mengeritik perkara yang sudah baku, dan tak  ada hak otoritas baginya dalam hal itu. Sampai Nabi -Shollallahu ‘alaihi  wasallam- pun berusaha dikritik. Pembaca akan melihat sepak terjangnya  dalam beberapa poin berikut:</p>
<p><strong> Tertipu dengan Kemajuan kaum kafir, dan Bersedih atas Kemunduran Kaum Muslimin dalam Perkara Keduaniaan</strong></p>
<p>Para pembaca yang budiman, si Penulis termasuk rangkaian para korban  yang tertipu dengan kemajuan kaum kafir –semisal USA- dalam teknologi  dan perekonomian, dan sebaliknya menyedihkan ketertinggalan dan  kemunduran kaum muslimin dalam hal itu. Dengarkan ia bersedih,  “Ketertinggalan bangsa kita, khususnya umat Islam, dalam pengembangan  ilmu pengetahuan tidak terbantahkan. Etos keilmuan masyarakat kita  sangat rendah”. [Lihat Tribun Timur (hal.4)]</p>
<p>Sebelumnya ia mengawali kesedihannya dengan menukil ucapan orang yang  sepemikiran dengannya, yaitu Nurcholis Madjid saat ia berkata, “Praktis  di semua penganut agama besar di muka bumi ini, para pemeluk Islam  adalah yang paling rendah dalam sains dan teknologi”.[Tribun (hal.4)]</p>
<p>Seorang yang menyinari dirinya dengan cahaya Al-Qur’an &amp; Sunnah Nabi  -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, sebenarnya tak perlu terlalu  menyedihkan hal itu. Allah -Ta’ala- berfirman,</p>
<p>“Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir  bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian  tempat tinggal mereka ialah jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat  yang seburuk-buruknya”. (QS. Ali Imraan: 196-197).</p>
<p>Kebebasan dan kemajuan orang-orang kafir dalam perdagangan dan teknologi  tidak perlu menyedihkan kita, karena mereka hanya bersenang-senang  dalam waktu pendek. Adapun orang-orang beriman mereka akan mendapatkan  kesenangan abadi. Kalian Cuma bisa berusaha di dunia, Allah yang  menentukan kemenangan [Lihat Taisir Al-Karim (hal. 162)]</p>
<p>Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,</p>
<p>فَوَاللهِ لاَ الْفَقْرُ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنْ أَخْشَى عَلَيْكُمْ  أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ  قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوْهَا كَمَا تَنَافَسُوْهَا وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا  أَهْلَكَتْهُمْ</p>
<p>“Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku khawatirkan atas diri kalian.  Tapi khawatirkan kalau dibukakan dunia bagi kalian sebagaimana telah  dibukakan bagi orang-orang (kafir) sebelum kalian, lalu mereka pun  berlomba-lomba meraihnya sebagaimana mereka berlomba-lomba meraihnya;  (aku juga khawatirkan) kalau dunia itu akan membinasakan kalian  sebagaimana dunia telah membinasakan mereka”. [HR. Al-Buhkoriy dalam  Shohih-nya (3158, 4015 &amp; 6425), dan Muslim (2961)]</p>
<p>Yang perlu disedihkan adalah terjadinya kemunduran beragama . Kalian  akan melihat kemunduran beragama ini dengan merebaknya kesyirikan  dimana-mana, bid’ah, maksiat, dan kekafiran sebagaimana yang terlihat di  negeri kita, bahkan di negeri yang dikagumi oleh si Penulis, yaitu  Iran. Di Iran –khususnya bulan Muharram- banyak terjadi kesyirikan,  bid’ah, maksiat, kekafiran dan pelanggaran agama ketika memperingati  hari kematian Husain.</p>
<p>Di hari itu mereka (Syi’ah-Rofidhoh) di hari Karbala’ berpesta pora  sambil menzalimi diri mereka dengan melukai kepala mereka sebagai  ungkapan belasungkawa atas penderitaan Husain saat ia dibunuh menurut  sangkaan mereka yang batil. Di hari itu mereka melakukan acara ritual  yang aneh dengan meletakkan dahi mereka dan bersujud di tanah sambil  merangkak, menuju pusara Husain yang mereka pertuhankan. Belum lagi  kebencian mereka yang amat ekstrim kepada para pejuang Islam, yakni para  sahabat, seperti Abu Bakr, Umar, Utsman, Abu Hurairah, A’isyah dan  lainnya -radhiyallahu ‘anhum- .</p>
<p><strong> Pesantren Dianggap sebagai Tempat Pembelengguan Akal</strong></p>
<p>Di mata si Penulis, pesantren dianggap tempat pembelengguan akal. Ini  nampak dalam ucapannya, “Kebanyakan lembaga pendidikan Islam (baca:  pesantren) justru menjadi tempat pembelengguan potensi kreatif anak  didik yang paling efektif”. [Tribun hal.4]</p>
<p>Pesantren merupakan pusat pendidikan Islam dari dulu sampai kini yang  menciptakan banyak kader ulama, bukan tempat pembelengguan akal. Jika  sebagian pesantren memusatkan perhatiannya dengan masalah agama sehingga  mereka minim pengetahuan umumnya, maka ini bukanlah suatu celaan bagi  pesantren.</p>
<p>Sama halnya, jika ada lembaga pendidikan umum yang memusatkan  perhatiannya dengan ilmu pengetahuan umum sehingga lebih minim ilmu  agamanya, maka ini juga bukanlah celaan baginya. Masing-masing lembaga  mengembangkan kemampuannya dalam membangun Islam. Perlu diketahui oleh  si Penulis, pesantren kini juga telah mengembangkan sayapnya dalam ilmu  pengetahuan umum. Lalu mengapa si Penulis menyudutkan pesantren? Apakah  si Penulis menginginkan kita semua sibuk dengan ilmu dunia sehingga kita  meninggalkan ilmu agama dan semua jahil? Ataukah sekedar cari jalan  mencela Islam &amp; ulama agar ia naik pamor?! Wallahu a’lam.</p>
<p>Sebenarnya yang perlu disalahkan (baca: dikritik) oleh si Penulis jika  umat Islam terbelakang dalam teknologi adalah para inteketual dan  cendekiawan yang berkiprah di ilmu pengetahuan umum. Jangan malah  pesantren dikambinghitamkan sehingga pada gilirannya memberikan opini  bahwa Islam tidak relevan , statis, dan tidak menerima perkembangan  teknologi yang membangun Islam. Jika ada yang memusatkan diri belajar  agama, maka tak ada salahnya agar kaum muslimin juga kuat dalam segi  agama. Sebab kejayaan itu ada pada kekuatan pemeluknya berpegang teguh  dengan agamanya.</p>
<p>Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,</p>
<p>إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ  وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللهُ  عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَيَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلَى دِيْنِكُمْ</p>
<p>“Jika kalian berjual beli dengan cara ‘inah, memegang ekor-ekor sapi  (sibuk ternak), ridho dengan bercocok tanam (sibuk tani), dan kalian  meninggalkan jihad, maka Allah akan menguasakan kehinaan atas diri  kalian; tak akan dicabut oleh Allah sampai kalian kembali kepada agama  kalian”. [HR. Abu Dawud dalam Kitabul Ijaroh (3462). Hadits ini  di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (11)]</p>
<p>Dengan kembali kepada agama-Nya, maka Allah akan bukakan bagi mereka  pintu-pintu kebaikan dan berkah duniawi dan ukhrawi, seperti yang  dialami oleh negeri Saudi Arabia.</p>
<p><strong> Berburuk Sangka kepada Ulama &amp; Tidak Menghargai Jasa Para Ulama</strong></p>
<p>Kebiasaan orang Syi’ah-Rofidhoh dalam mencela ulama, ini diadopsi dan  diserap oleh si Penulis. Lihat saja ia merendahkan ulama dan menutup  mata dari jasa baik mereka saat si Penulis berkata, “Selain itu, apapun  dari ustadz dan ulama selalu dianggap benar tanpa studi kritis yang  berarti. Islam yang kita kenal dari mereka tidak lebih dari deretan  aturan hitam putih”.[Lihat Tribun (hal.4)]</p>
<p>Apa yang dinyatakan oleh si Penulis tidak bisa dibenarkan secara mutlak.  Sebab kaum muslimin paham bahwa para ulama bukan nabi dan rasul  sehingga harus taqlid sepenuhnya. Kaum muslimin paham bahwa seorang  ulama hanyalah pewaris para nabi dalam menyampaikan risalah Islam, namun  mereka tak maksum (tak bersih dari dosa dan kesalahan). Mereka manusia  biasa seperti kita, bisa jadi benar atau salah. Jika ia benar karena  mengikuti Sunnah, maka kita wajib mengikutinya. Sebaliknya, jika mereka  keliru karena menyelisihi sunnah Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-,  maka kita tinggalkan ucapan ulama tersebut, dengan tetap memuliakannya  sesuai posisinya, tanpa ekstrim dalam mendudukkan mereka seperti nabi  atau tuhan !! Al-Imam Malik -rahimahullah- berkata, “Setiap orang boleh  diambil ucapan dan pendapatnya, dan juga boleh ditinggalkan kecuali  penghuni kubur ini (yakni Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-)”. [Lihat  Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih (2/91)oleh Ibnu Abdil Barr]</p>
<p>Jadi, para ulama adalah pewaris para nabi dalam menyampaikan risalah  Islam, didudukkan pada tempatnya, tanpa mengkultuskannya, dan tidak pula  merendahkan dan menghinakannya. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-,</p>
<p>وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ, وَإِنَّ اْلأَنْبِيَاءَ  لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمًا, وَرَّثُوْا الْعِلْمَ  فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ</p>
<p>“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Sedang para nabi  tidaklah mewariskan dinar dan dirham. Tapi mereka hanya mewariskan ilmu  (agama). Jadi, barang siapa yang mengambilnya, maka sungguh ia telah  mengambil bagian yang banyak”. [HR. Al-Bukhoriy secara mu’allaq dalam  Kitabul Ilmi (1/37), Abu Dawud dalam Kitab Al-Ilmi (3641), At-Tirmidziy  dalam Kitabul Ilmi (2682), dan Ibnu Majah (223). Lihat Shohih Al-Jami’  (6297)]</p>
<p>Si Penulis bukan Cuma ulama masa kini yang direndahkan, bahkan sahabat  dan murid Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, yaitu sahabat Abu  Hurairah. Tak heran jika si Penulis melakukan hal itu, sebab para  pendahulu mereka dan guru mereka di Iran yang beragama Syi’ah-Rofidhoh,  amat besar kebenciannya kepada para sahabat, utamanya Abu Hurairah,  karena beliaulah yang banyak meriwayatkan hadits yang berisi ajaran  Islam. Mereka mencela Abu Hurairah agar dapat menjauhkan kaum muslimin  dari Islam.</p>
<p>Dengarkan si Penulis merendahkan sahabat Abu Hurairah -radhiyallahu  ‘anhu-, “Maksimalisme agama pada dasarnya hanya menempatkan otak hanya  sebagai isi kepala tanpa peran berarti… Maksimalisme agama hanya akan  menyeret manusia zaman Bill Gates ini ke zaman Abu Hurairah”. [Lihat  Tribun (hal.4)]</p>
<p>Ini merupakan pelecehan kepada sahabat Abu Hurairah, sebab ucapan ini  menjelaskan bahwa Abu Hurairah termasuk orang yang terpasung otaknya,  hanya membebek buta kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Bahkan  ini merupakan pelecehan kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-,  sebab menuduh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah memasung otak  dan akal para sahabatnya, tanpa dibiarkan berpikir. Sungguh ini adalah  ucapan kufur yang bisa membuat seorang murtad, sebab mengolok-olok Nabi  -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-.</p>
<p>“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan  itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah  bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah,  ayat-ayat-Nya dan rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”Tidak usah kamu  minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman”. (QS. At-Taubah: 65-66).</p>
<p>Syaikh Ibnu Nashir As-Sa’diy -rahimahullah- berkata ketika menafsirkan  ayat ini, “Sesungguhnya mengolok-olok Allah, ayat-ayat-Nya, dan  Rasul-Nya adalah kekafiran yang mengeluarkan orang dari agamanya, karena  prinsip agama ini terbangun di atas pengagungan kepada Allah, agama,  dan Rasul-Nya. Sedangkan mengolok sesuatu di antara perkara itu adalah  merobohkan prinsip ini, dan menentangnya dengan sekeras-kerasnya”.  [Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman (hal. 343)]</p>
<p>Demikian pula mengolok-olok sahabat, apalagi sampai merendahkan dan  mencelanya, bahkan sampai mengkafirkannya. Perbuatan seperti hanyalah  dilakukan kaum zindiq (munafiq). Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-  bersabda dalam menerangkan martabat para sahabat,</p>
<p>لاَ تَسُبُّوْا أَصْحَابِيْ فَلَوْا أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيْفَهُ</p>
<p>“Janganlah kalian mencela para sahabatku. Andaikan seorang di antara  kalian berinfaq emas sebesar gunung Uhud, niscaya infaq itu tak mampu  mencapai satu mud infaq mereka, dan tidak pula setengahnya”.  [HR.Al-Bukhary dalam Ash-Shahih (3470), Muslim (2541)].</p>
<p>Al-Imam Abu Zur’ah Ar-Rozy -rahimahullah- berkata, “Apabila engkau  melihat seseorang mencela salah seorang sahabat Rasulullah -shollallahu  ‘alaihi wasallam-, maka ketahui bahwa orang itu zindiq. Karena Rasul  -Shollallahu ‘alaihi wasallam- di sisi kami benar, dan Al-Qur’an adalah  kebenaran. Sedangkan yang menyampaikan Al-Qur’an ini kepada kami adalah  para sahabat Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wasallam-. Mereka (para  pencela tersebut) hanyalah berkeinginan untuk menjatuhkan saksi-saksi  kami agar mereka bisa membatalkan Al-Kitab dan As-Sunnah. Padahal celaan  itu lebih pantas bagi mereka, sedang mereka adalah orang-orang zindiq”.  [Lihat Al-Kifayah, (hal. 49)]</p>
<p>Terakhir, kami nasihatkan melalui ucapan Al-Hafizh Ibnu Asakir  -rahimahullah-, “Ketahuilah bahwa daging para ulama -rahmatullah alaih-  adalah beracun. Diantara sunnnatullah dalam menyingkap aib orang yang  merendahkan mereka adalah telah dimaklumi, karena mencela mereka dengan  sesuatu yang tak ada pada mereka adalah perkaranya besar”. [Lihat  Tabyiin Kadzib Al-Muftari (hal. 29)]</p>
<p>Mudah-mudahan torehan pena ini menjadi nasihat bagi si Penulis dan  orang-orang yang tertipu dengan agama Syi’ah-Rofidhoh. Kami berharap  kepada Allah Yang Maha Pemurah lagi Penyayang agar kami dimatikan di  atas Islam yang dibawa oleh para sahabat.</p>
<p>Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 95 Tahun II. Penerbit :  Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne  No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP :  08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab :  Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri  Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul  Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan  hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)</p>
<p>judul asli: Bahaya Kebebasan Berpikir<br />
Sumber: <a rel="nofollow" href="http://almakassari.com/?p=320" target="_blank">http://almakassari.com/?p=320</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adealam.wordpress.com/1016/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adealam.wordpress.com/1016/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adealam.wordpress.com/1016/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adealam.wordpress.com/1016/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/adealam.wordpress.com/1016/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/adealam.wordpress.com/1016/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/adealam.wordpress.com/1016/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/adealam.wordpress.com/1016/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adealam.wordpress.com/1016/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adealam.wordpress.com/1016/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adealam.wordpress.com/1016/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adealam.wordpress.com/1016/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adealam.wordpress.com/1016/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adealam.wordpress.com/1016/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adealam.wordpress.com&amp;blog=1504761&amp;post=1016&amp;subd=adealam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adealam.wordpress.com/2010/09/02/akibat-belajar-islam-di-negeri-iran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-6.760319 108.486755</georss:point>
		<geo:lat>-6.760319</geo:lat>
		<geo:long>108.486755</geo:long>
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SYI’AH MENCELA ISTRI-ISTRI RASUL (UMMAHATUL MUKMINIIN)</title>
		<link>http://adealam.wordpress.com/2010/09/02/syi%e2%80%99ah-mencela-istri-istri-rasul-ummahatul-mukminiin/</link>
		<comments>http://adealam.wordpress.com/2010/09/02/syi%e2%80%99ah-mencela-istri-istri-rasul-ummahatul-mukminiin/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 03:13:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[Firqah]]></category>
		<category><![CDATA[Syi'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adealam.wordpress.com/?p=1014</guid>
		<description><![CDATA[Bara api kebencian terhadap para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memang telah tertanam kuat di dada kaum Syi’ah Rafidhah. Bara api tersebut terus menerus menyala sehingga satu demi satu orang-orang terdekat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi bahan gunjingan dan cercaan mereka. Setelah Ahlul Bait beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, kini mereka mengarahkan cercaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adealam.wordpress.com&amp;blog=1504761&amp;post=1014&amp;subd=adealam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bara api kebencian terhadap para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa  sallam memang telah tertanam kuat di dada kaum Syi’ah Rafidhah. Bara api  tersebut terus menerus menyala sehingga satu demi satu orang-orang  terdekat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi bahan gunjingan dan  cercaan mereka.</p>
<p>Setelah Ahlul Bait beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, kini mereka  mengarahkan cercaan yang tidak kalah kejinya kepada para istri Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka melontarkan tuduhan-tuduhan dusta  kepada orang-orang yang telah mengorbankan waktu dan raganya untuk  membela dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, setia menemani dan  menghibur beliau ketika ditimpa berbagai musibah di dalam mengemban  amanah dakwah.<br />
<span id="more-1014"></span><br />
<strong>Kedudukan Para Istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam</strong><br />
Alangkah mulianya kedudukan mereka tatkala Allah subhanahu wa ta’ala  sendiri yang mengangkat derajat mereka di atas wanita lainnya. Allah  jalla jalaaluhu berfirman yang artinya:</p>
<p>يَانِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ</p>
<p>“Wahai istri Nabi, (kedudukan) kalian bukanlah seperti wanita-wanita yang lainnya.” (Al Ahzab: 32)</p>
<p>Allah ‘Azza wa Jalla telah meridhai mereka sebagai pendamping Nabi-Nya  yang termulia, sampai-sampai melarang beliau untuk menceraikan mereka.  Allah berfirman :</p>
<p>لاَ يَحِلُّ لَكَ النِّسَاءُ مِنْ بَعْدُ وَلاَ أَنْ تَبَدَّلَ بِهِنَّ مِنْ أَزْوَاجٍ وَلَوْ أَعْجَبَكَ حُسْنُهُنَّ</p>
<p>“Tidak halal bagimu wahai Nabi, untuk mengawini wanita-wanita lain  sesudahnya, dan tidak halal (pula) bagimu untuk mengganti mereka dengan  wanita-wanita lain walaupun kecantikan mereka memikat hatimu.” (Al  Ahzab: 52)</p>
<p>Para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ibu-ibu kaum  mukminin yang tentu saja wajib untuk dimuliakan dan dihormati. Oleh  karena itu para istri beliau mendapat gelar Ummahatul Mu`minin.</p>
<p>Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya:</p>
<p>النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ</p>
<p>“Nabi itu lebih berhak untuk dicintai kaum mukminin daripada diri mereka  sendiri, sedangkan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka (kaum  mukminin).” (Al Ahzab: 6)</p>
<p><strong>Nama Para Istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam</strong><br />
Telah tertulis di dalam buku-buku sejarah Islam nama-nama istri Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah mendampingi perjuangan beliau.  Mereka itu adalah:</p>
<ol>
<li>Khadijah binti Khuwailid</li>
<li>Saudah binti Zam’ah</li>
<li>Aisyah binti Abi Bakr Ash Shiddiq</li>
<li>Hafshah binti Umar Al Khaththab</li>
<li>Ummu Habibah yang bernama Ramlah binti Abi Sufyan</li>
<li>Ummu Salamah yang bernama Hindun binti Abi Umayyah</li>
<li>Zainab binti Jahsyin</li>
<li>Zainab binti Khuzaimah</li>
<li>Juwairiyah binti Al Harits</li>
<li>Shafiyah binti Huyai</li>
<li>Maimunah binti Al Harits</li>
</ol>
<p>Masing-masing mereka ini memiliki keutamaan yang tidak dimiliki lainnya,  hanya saja yang paling utama di antara mereka adalah Khadijah dan  Aisyah.</p>
<p><strong>Para Istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menurut Tinjauan Syi’ah Rafidhah</strong><br />
Tinjauan Syi’ah Rafidhah terhadap para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa  sallam sangat sarat dengan kebencian dan kedengkian. Hal ini  sebagaimana yang mereka terangkan dalam tulisan-tulisan yang luar biasa  kekejiannya.</p>
<p>Kalau seandainya kekejian tersebut mereka tuduhkan terhadap istri  seorang muslim biasa tentu orang tersebut akan murka dan marah.</p>
<p><strong>Diantara kekejian itu adalah:</strong></p>
<ol>
<li><strong>Jeleknya perangai dan akhlak para istri Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.</strong><br />
Ali bin Ibrahim Al Qummi di dalam tafsirnya 2/192 ketika menerangkan  sebab turunnya ayat ke 28 dari surat Al Ahzab, mengatakan: “Sebab turun  ayat itu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pulang dari  perang Khaibar. Beliau membawa harta keluarga Abul Haqiq. Maka mereka  (para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) berkata: “Berikan kepada  kami apa yang engkau dapatkan!” Beliaupun berkata: “Aku akan bagikan  kepada kaum muslimin sesuai perintah Allah.” Marahlah mereka (mendengar  itu) lalu berkata: “Sepertinya engkau menganggap kalau seandainya engkau  menceraikan kami, maka kami tidak akan menemukan para pria berkecukupan  yang akan menikahi kami.” Maka Allah menentramkan hati Rasul-Nya dan  memerintahkan untuk meninggalkan mereka. Maka akhirnya beliaupun  meninggalkan mereka.”</p>
<p>Sungguh tidak!! Tidak akan terlintas di benak seorang muslim pun bahwa  istri seorang muslim yang taat akan mengucapkan kata-kata seperti itu  kepada suaminya. Lalu bagaimana perbuatan itu dilakukan oleh istri  seorang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah Allah puji di  dalam Al Qur`an?! Demi Allah, tidaklah mereka tulis kecuali kedustaan  belaka!!</li>
<li><strong>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia karena diracun oleh sebagian mereka.</strong><br />
Didalam Tafsirul Iyasy 1/200, karya Muhammad bin Mahmud bin Iyasy  mengatakan -dengan dusta- bahwa Abu Abdillah Ja’far Ash Shidiq  rahimahullah pernah berkata: “Tahukah kalian apakah Nabi Shallallahu  ‘alaihi wa sallam meninggal dunia atau dibunuh?” Sesungguhnya Allah  telah berfirman yang artinya: “Apakah jika dia (Muhammad) mati atau  dibunuh, kalian akan murtad?” (Ali Imran: 144). Beliau sebenarnya telah  diberi racun sebelum meninggalnya. Sesungguhnya dua wanita itu (Aisyah  dan Hafshah) telah meminumkan racun kepada beliau sebelum meninggalnya.  Maka kami menyatakan: “Sesungguhnya dua wanita dan kedua bapaknya (Abu  Bakar dan Umar) adalah sejelek-jelek makhluk Allah.”</li>
<li><strong>Mereka menghukumi bahwasanya para istri Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pelacur.</strong><br />
Dinukilkan secara dusta di dalam kitab Ikhtiyar Ma’rifatur Rijal karya  At Thusi hal. 57-60 bahwa Abdullah bin Abbas pernah berkata kepada  Aisyah: “Kamu tidak lain hanyalah seorang pelacur dari sembilan pelacur  yang ditinggalkan oleh Rasulullah…”</li>
</ol>
<p>Diantara para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Aisyah  radhiyallahu ‘anha-lah yang paling dibenci kaum Syi’ah Rafidhah. Mereka  merendahkan kehormatan istri yang paling dicintai Rasulullah shallallahu  ‘alaihi wa sallam tersebut dengan kedustaan-kedustaan yang nyata.  Celaan kepada beliau akan mengakibatkan dua ribu lebih hadits Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beberapa ayat Al Qur`an gugur.  Beliaulah wanita yang paling banyak, menghafal dan meriwayatkan hadits  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di antara para sahabat yang lainnya.</p>
<p><strong>Beberapa celaan kaum Syi’ah Rafidhah terhadap kehormatan Aisyah:</strong></p>
<ol>
<li>Aisyah telah keluar dari iman dan menjadi penghuni jahannam. (Tafsirul Iyasi 2/243 dan 269)</li>
<li>Aisyah digelari Ummusy Syurur (ibunya kejelekan) dan Ummusy  Syaithan (ibunya syaithan), hal ini dikatakan oleh Al Bayadhi di dalam  kitabnya Ash Shirathal Mustaqim 3/135 dan 161.</li>
<li>Riwayat-riwayat beliau bersama Abu Hurairah dan Anas bin Malik  tertolak di sisi Syi’ah Rafidhah (Al Khishal 1/190 karya Ibnu Babuyah Al  Qumi).</li>
<li>Aisyah telah menggerakkan kaum muslimin untuk memerangi Utsman  bin Affan radhiyallahu ‘anhu (Minhajul Karamah hal. 112, karya Ibnu  Muthahhar Al Hilali).</li>
<li>Aisyah sangat memusuhi dan membenci Ali bin Abi Thalib  radhiyallahu ‘anhu sampai meletuslah perang Jamal (An Nushrah hal. 229  karya Al Mufid).</li>
<li>Aisyah tidak mau bertaubat dan terus menerus memerangi Ali sampai meninggal. (At Talkhishusy Syafi hal. 465-468).</li>
</ol>
<p>Inna lillahi wa Inna ilaihi raji’un!! Kesesatan apa yang menghinggapi  hati mereka? Sedemikian besarkah kedengkian dan kebencian mereka  terhadap para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terutama Aisyah?</p>
<p><strong>Tuduhan-tuduhan Dusta Syi’ah Rafidhah kepada Aisyah Berkaitan dengan Perang Jamal</strong></p>
<ol>
<li>Aisyah tidak menerima dan dengki terhadap pengangkatan Ali bin  Abi Thalib sebagai khalifah pengganti Utsman bin Affan. (Siratul A`immah  Itsna Asyar 1/4222)</li>
<li>Pemberontakan Aisyah terhadap kekhilafahan Ali bin Abi Thalib  dan keinginannya untuk saudara sepupunya yaitu Thalhah bin Ubaidillah  menjadi khalifah. (Syarhu Nahjil Balaghah 2/460)</li>
<li>Aisyah menolak tawaran Ali bin Abi Thalib untuk damai dan pulang ke Madinah. (Al Khishal 2/377)</li>
<li>Aisyah-lah yang memulai perang Jamal melawan Ali bin Abi Thalib. (Siratul A`immah 1/456)</li>
</ol>
<p><strong>Jawaban terhadap Kedustaan Mereka</strong></p>
<ol>
<li>Aisyah menerima bahkan memerintahkan kaum muslimin untuk berbai’at kepada Ali bin Abi Thalib. (Al Mushannaf 7/540)</li>
<li>Keluarnya Aisyah bersama Thalhah dan Az Zubair bin Al Awwam ke  Bashrah dalam rangka mempersatukan kekuatan mereka bersama Ali bin Abi  Thalib untuk menegakkan hukum qishash terhadap para pembunuh Utsman bin  Affan. Hanya saja Ali bin Abi Thalib meminta penundaan untuk menunaikan  permintaan qishash tersebut. Ini semua mereka lakukan berdasarkan  ijtihad walaupun Ali bin Abi Thalib lebih mendekati kebenaran daripada  mereka. (Daf’ul Kadzib 216-217)</li>
<li>Tawaran Ali bin Abi Thalib kepada Aisyah semata-mata untuk  menyatukan cara pandang bahwa hukum qishash baru bisa ditegakkan setelah  keadaan negara tenang. Beliaupun sangat mengetahui bahwa Aisyah bersama  Thalhah dan Az Zubair tidaklah datang ke Bashrah dalam rangka  memberontak kekhilafahannya. Akhirnya hampir terbentuk kesepakatan  diantara mereka. (Tarikh Ath Thabari 5/158-159 dan 190-194)</li>
<li>Akan tetapi melihat keadaan seperti ini, beberapa kaum  Saba’iyah (pengikut faham Abdullah bin Saba’-pendiri Syi’ah) mulai  memancing konflik diantara pasukan Aisyah dan Ali. Hal ini menimbulkan  dugaan bahwa salah satu pasukan telah berkhianat. Maka terjadilah perang  Jamal. (Tarikh Ath Thabari 5/195-220)</li>
</ol>
<p><strong>PUJIAN ALI BIN ABI THALIB TERHADAP AISYAH</strong><br />
Di dalam Tarikh Ath Thabari 5/225 diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib pernah berkata di saat perang Jamal:<br />
“Wahai kaum muslimin ! Dia (Aisyah) adalah seorang yang jujur dan demi  Allah dia seorang yang baik. Sesungguhnya tidak ada antara kami dengan  dia kecuali yang demikian itu. Dan (ketahuilah-pen) dia adalah istri  Nabi kalian di dunia dan di akhirat.”</p>
<p>Dikutip dari Buletin Al Ilmu Jember</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adealam.wordpress.com/1014/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adealam.wordpress.com/1014/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adealam.wordpress.com/1014/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adealam.wordpress.com/1014/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/adealam.wordpress.com/1014/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/adealam.wordpress.com/1014/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/adealam.wordpress.com/1014/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/adealam.wordpress.com/1014/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adealam.wordpress.com/1014/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adealam.wordpress.com/1014/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adealam.wordpress.com/1014/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adealam.wordpress.com/1014/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adealam.wordpress.com/1014/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adealam.wordpress.com/1014/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adealam.wordpress.com&amp;blog=1504761&amp;post=1014&amp;subd=adealam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adealam.wordpress.com/2010/09/02/syi%e2%80%99ah-mencela-istri-istri-rasul-ummahatul-mukminiin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-6.760319 108.486755</georss:point>
		<geo:lat>-6.760319</geo:lat>
		<geo:long>108.486755</geo:long>
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>CINTA PALSU SYI’AH TERHADAP AHLUL BAIT</title>
		<link>http://adealam.wordpress.com/2010/09/02/cinta-palsu-syi%e2%80%99ah-terhadap-ahlul-bait/</link>
		<comments>http://adealam.wordpress.com/2010/09/02/cinta-palsu-syi%e2%80%99ah-terhadap-ahlul-bait/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 03:11:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[Firqah]]></category>
		<category><![CDATA[Syi'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adealam.wordpress.com/?p=1012</guid>
		<description><![CDATA[“Ahlul Bait” bukanlah istilah yang asing lagi di telinga sebagian kita. Bila disebut maka akan terlintas di benak kita tentang seseorang yang memiliki pertalian kekerabatan dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tentu saja, ini merupakan kehormatan tersendiri bagi orang tersebut. Siapakah Ahlul Bait Itu? Ahlul Bait adalah orang-orang yang sah pertalian nasabnya sampai kepada Hasyim [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adealam.wordpress.com&amp;blog=1504761&amp;post=1012&amp;subd=adealam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Ahlul Bait” bukanlah istilah yang asing lagi di telinga sebagian kita.  Bila disebut maka akan terlintas di benak kita tentang seseorang yang  memiliki pertalian kekerabatan dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa  sallam. Tentu saja, ini merupakan kehormatan tersendiri bagi orang  tersebut.<br />
<span id="more-1012"></span><br />
<strong>Siapakah Ahlul Bait Itu?</strong><br />
Ahlul Bait adalah orang-orang yang sah pertalian nasabnya sampai kepada  Hasyim bin Abdi Manaf (Bani Hasyim) baik dari kalangan laki-laki (yang  sering disebut dengan syarif) atau wanita (yang sering disebut  syarifah), yang beriman kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan  meninggal dunia dalam keadaan beriman. Diantara Ahlul Bait Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah:</p>
<ol>
<li>Para istri Rasul, berdasarkan konteks surat Al-Ahzab:33</li>
<li>Putra-putri Rasulullah (tidak dikhususkan pada Fathimah saja)</li>
<li>Abbas bin Abdul Muththalib dan keturunannya</li>
<li>Al-Harits bin Abdul Muththalib dan keturunannya</li>
<li>Ali bin Abi Thalib dan keturunannya (tidak dikhususkan pada Al-Hasan dan Al-Husain saja)</li>
<li>Ja’far bin Abi Thalib dan keturunannya</li>
<li>Aqil bin Abi Thalib dan keturunannya</li>
</ol>
<p>(Untuk lebih rincinya, silahkan lihat kitab “Syi’ah dan Ahlul Bait” dan “Minhajus Sunnah An-Nabawiyyah”)</p>
<p><strong>Kedudukan Ahlul Bait</strong><br />
Kedudukan Ahlul Bait di sisi Allah dan Rasul-Nya amat mulia. Diantara kemuliaan itu adalah:</p>
<ol>
<li>Allah bersihkan Ahlul Bait dari kejelekan. Dia shallallahu ‘alaihi wa sallam berfirman yang artinya:<br />
“Hanyalah Allah menginginkan untuk membersihkan kalian (wahai) Ahlul  Bait dari kejelekan dan benar-benar menginginkan untuk mensucikan  kalian.” (Al-Ahzab:33)</li>
<li>Perintah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berpegang dengan bimbingan mereka. Beliau bersabda:
<p>يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي تَرَكْتُ فِيْكُمْ مَا إِنْ أَخَذْتُمْ بِهِ  لَنْ تَضِلُّوْا: كِتَابَ اللهِ وَعِتْرَتِي أَهْلَ بَيْتِيْ</p>
<p>“Wahai manusia sesungguhnya aku telah meninggalkan sesuatu kepada kalian  yang apabila kalian berpegang teguh dengannya, maka kalian tidak akan  tersesat: Kitabullah dan Ahlul Bait-ku.” (HR. At-Tirmidzi dengan sanad  shahih)</li>
</ol>
<p>Oleh karena itu tidaklah ragu lagi, bahwa Ahlul Bait memiliki kedudukan  yang sangat istimewa di sisi Allah dan Rasul-Nya. Syaikhul Islam Ibnu  Taimiyyah rahimahullah berkata: “Dan tidak ragu lagi bahwa mencintai  Ahlul Bait adalah wajib.” Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Dan  termasuk memuliakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah berbuat  baik kepada keluarga dan keturunan beliau.”</p>
<p>Para sahabat adalah orang-orang yang sangat memuliakan Ahlul Bait baik dari kalangan para sahabat sendiri maupun para tabi’in.<br />
Demikianlah hendaknya sikap seorang muslim kepada mereka. Wajib atas  dirinya untuk mencintai, menghormati, memuliakan dan tidak menyakiti  mereka.</p>
<p>Namun sudah barang tentu, tolok ukur kecintaan terhadap mereka  semata-mata karena iman dan kekerabatan mereka dengan Rasul shallallahu  ‘alaihi wa sallam. Tanpa iman tidak akan bermanfaat sama sekali  kekerabatan seseorang dengan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah  ‘Azza wa Jalla berfirman yang artinya:<br />
“Yaitu di hari (hari kiamat) yang harta dan anak keturunan tidak lagi  bermanfaat. Kecuali seseorang yang menghadap Allah dengan hati yang  lurus.” (Asy-Syu’ara`:88-89)</p>
<p>Demikian pula bila ada Ahlul Bait yang jauh dari sunnah Rasul, maka  martabatnya di bawah seseorang yang berpegang teguh dengan sunnah Rasul,  walaupun dia bukan Ahlul Bait. Allah berfirman yang artinya:<br />
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (Al-Hujurat:13)</p>
<p><strong>Ahlul Bait Menurut Tinjauan Syi’ah Rafidhah</strong><br />
Tinjauan mereka tentang Ahlul Bait sangat bathil dan zhalim, yaitu:</p>
<ul>
<li>Mereka membatasi Ahlul Bait Nabi hanya 4 orang: Ali, Fathimah, Al-Hasan dan Al-Husain</li>
<li>Mereka keluarkan putra-putri Rasul selain Fathimah dari lingkaran Ahlul Bait</li>
<li>Mereka keluarkan semua istri Rasul dari lingkaran Ahlul Bait</li>
<li>Mereka keluarkan 12 putra Ali (selain Al-Hasan dan Al-Husain) dan 18 atau 19 putri beliau dari lingkaran Ahlul Bait</li>
<li>Mereka keluarkan putra-putri Al-Hasan dari lingkaran Ahlul Bait</li>
<li>Mereka mengklaim bahwa keturunan Al-Husain-lah yang Ahlul Bait,  namun tragisnya mereka keluarkan pula sebagian keturunan Al-Husain dari  lingkaran Ahlul Bait karena tidak dicocoki oleh hawa nafsu mereka. Oleh  karena itu, mereka vonis sebagian keturunan Al-Husain dengan kedustaan,  kejahatan dan kefasikan, bahkan vonis kafir dan murtad pun dijatuhkan  untuk mereka. Wallahul Musta’an. (Lihat kitab “Syi’ah dan Ahlul Bait”)</li>
</ul>
<p>Walhasil, Syi’ah Rafidhah mempunyai dua sikap yang saling berlawanan  terhadap Ahlul Bait yaitu ifrath (berlebihan di dalam mencintai)  sebagian Ahlul Bait dan tafrith (berlebihan di dalam membenci) sebagian  yang lain.</p>
<p><strong>Fakta Sikap Ifrath Syi’ah Rafidhah terhadap Ahlul Bait</strong><br />
Al-Kulaini di dalam Al-Ushul Minal Kafi 19/197 mengatakan -dengan dusta-  bahwa Ali bin Abi Thalib pernah berkata: “Sesungguhnya aku telah diberi  beberapa sifat yang belum pernah diberikan kepada seorang pun sebelumku  -sekalipun para nabi-: Aku mengetahui seluruh kenikmatan, musibah,  nasab, dan keputusan hukum (yang pada manusia). Tidaklah luput dariku  perkara yang telah lampau dan tidaklah tersembunyi dariku perkara yang  samar.”<br />
Di dalam kitab Al-Irsyad hal.252 karya Al-Mufid bin Muhammad An-Nu’man:  “Ziarah kepada Al-Husain -yaitu kuburnya- radhiyallahu ‘anhu  kedudukannya seperti 100 kali haji mabrur dan 100 kali umrah.”</p>
<p>Semakin parah lagi ketika mereka -dengan dusta- berkata bahwa Baqir bin  Zainal Abidin rahimahullah berkata: “Dan tidaklah keluar setetes air  mata pun untuk meratapi kematian Al-Husain, melainkan Allah akan  mengampuni dosa dia walaupun sebanyak buih di lautan.” Dalam riwayat  lain ada tambahan lafazh: “Dan baginya Al-Jannah.” (Jala`ul ‘Uyun 2  hal.464 dan 468 karya Al-Majlisi Al-Farisi)</p>
<p>Perhatikanlah wahai para pembaca, kecintaan kaum Syi’ah Rafidhah kepada  beberapa Ahlul Bait ternyata lebih bersifat pengkultusan, bahkan  menjadikan Ali bin Abi Thalib sebagai sekutu bagi Allah. Wallahul  Musta’an!!</p>
<p><strong>Fakta Sikap Tafrith Syi’ah Rafidhah terhadap Ahlul Bait</strong><br />
Diriwayatkan di dalam kitab Rijalul Kasysyi hal.54 karya Al-Kasysyi bahwa firman Allah yang artinya:<br />
“Dialah sejelek-jelek penolong dan sejelek-jelek keluarga.” (Al-Hajj:13)  turun tentang perihal Al-Abbas (paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa  sallam).</p>
<p>Adapun tentang saudara sepupu Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu  Abdullah bin Abbas, Al-Qahbani di dalam kitab Majma’ur Rijal 4/143  mengatakan: “Sesungguhnya dia ini telah berkhianat kepada Ali dan telah  mengambil harta (shadaqah) dari baitul mal di kota Bashrah.”</p>
<p>Di sisi lain ketika hendak menjelekkan para istri Rasul shallallahu  ‘alaihi wa sallam tanpa malu mereka menukil secara dusta dari Abdullah  bin Abbas bahwa ia pernah berkata kepada Aisyah: “Kamu tidak lain  hanyalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan  Rasulullah …” (Ikhtiyar Ma’rifatur Rijal karya Ath-Thusi hal.57-60)</p>
<p><strong>Sikap Para Imam Ahlul Bait terhadap Syi’ah Rafidhah</strong><br />
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata: “Tidaklah seseorang  mengutamakan aku daripada dua syaikh (Abu Bakar dan Umar) melainkan aku  dera dia sebagai pendusta.”<br />
Muhammad bin Ali (Al-Baqir) rahimahullah berkata: “Keluarga Fathimah  telah bersepakat untuk memuji Abu Bakar dan Umar dengan sebaik-baik  pujian.”</p>
<p>Ja’far bin Muhammad (Ash-Shadiq) rahimahullah berkata: “Allah ‘azza wa  jalla membenci siapa saja yang membenci Abu Bakar dan Umar.”<br />
Jelaslah, barangsiapa yang mengaku-ngaku mencintai dan mengikuti jejak  Ahlul Bait namun ternyata mereka berlepas diri dari orang-orang yang  dicintai Ahlul Bait, maka yang ada hanya kedustaan belaka. Lalu Ahlul  Bait mana yang mereka ikuti?! Sangat tepatlah ucapan seorang penyair:</p>
<p>كُلٌّ يَدَّعِي وَصْلاً بِلَيْلَى<br />
وَلَيْلَى لاَ تُقِرُّ لَهُمْ بِذَاكَ</p>
<p>Setiap lelaki mengaku kekasih Laila<br />
Namun Laila tidak pernah mengakuinya</p>
<p><strong>Terbunuhnya Al-Husain radhiyallahu ‘anhu<br />
tidaklah lepas dari penipuan Syi’ah Rafidhah</strong></p>
<p><strong>Ternyata Syi’ah Rafidhah menyimpan kebencian terhadap Ahlul Bait.</strong><br />
Kebencian itu tidak hanya berupa ucapan atau tulisan belaka.</p>
<p>Bahkan mereka telah membuktikannya dengan perbuatan, yaitu dengan ikut  andilnya mereka dalam peristiwa terbunuhnya Al-Husain radhiyallahu  ‘anhu.</p>
<p>Terlalu panjang untuk mengungkapkan peristiwa menyedihkan itu, namun  cukuplah tulisan para ulama mereka sebagai bukti atas kejahatan mereka.</p>
<p>Didalam kitab Al-Irsyad hal.241 karya Al-Mufid diriwayatkan bahwa  Al-Husain pernah mengatakan: “Ya Allah jika engkau memanjangkan hidup  mereka (Syi’ah Rafidhah) maka porak-porandakanlah barisan mereka,  jadikanlah mereka terpecah-belah dan janganlah selama-lamanya engkau  ridhai pemimpin-pemimpin mereka. Sesungguhnya mereka mengajak orang  untuk membela kami, namun ternyata mereka memusuhi dan membunuh kami.”</p>
<p>Didalam kitab Al-Ihtijaj 2/29 karya Abu Manshur Ath-Thibrisi  diriwayatkan bahwa Ali bin Husain yang dikenal dengan Zainal Abidin  pernah berkata tentang kaum Syi’ah Rafidhah di negeri Irak:  “Sesungguhnya mereka menangisi kematian kami padahal siapakah yang  membunuh kami, kalau bukan mereka?!”</p>
<p>Masihkah ada keraguan, apakah Syi’ah Rafidhah benar-benar mencintai  Ahlul Bait atau hanya sekedar kedok belaka?! Coba silahkan baca dan  pahami sekali lagi! Mudah-mudahan Allah ‘azza wa jalla memberikan taufiq  kepada kita semua.</p>
<p><strong>Hadits-hadits Palsu dan Lemah yang Tersebar di Kalangan Umat</strong><br />
Hadits Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu:</p>
<p>مَثَلُ أَهْلِ بَيْتِي مَثَلُ سَفِيْنَةِ نُوْحٍ مَنْ رَكِبَهَا نَجَا وَمَنْ تَخَلَّفَ عَنْهَا غَرَقَ</p>
<p>“Perumpamaan Ahlul Bait-ku seperti kapal Nabi Nuh, barangsiapa yang  menaikinya pasti dia selamat dan barangsiapa yang enggan untuk  menaikinya, maka dia akan tenggelam (binasa).”</p>
<p><strong>Keterangan:</strong><br />
Hadits ini dha’if (lemah) walaupun diriwayatkan dari beberapa sanad  (jalan). Beberapa ulama pakar hadits seperti Al-Imam Yahya bin Ma’in,  Al-Bukhari, An-Nasaa`i, Ad-Daruquthni, Adz-Dzahabi dan beberapa ulama  yang lainnya telah mengkritik beberapa rawi (periwayat) hadits tersebut.  (Lihat Silsilah Adh-Dha’ifah no.4503 karya Asy-Syaikh Al-Albani)</p>
<p>Sumber: Buletin Islam Al Ilmu Edisi 30/I/II/1425, Ma’had As-Salafy Jember.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adealam.wordpress.com/1012/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adealam.wordpress.com/1012/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adealam.wordpress.com/1012/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adealam.wordpress.com/1012/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/adealam.wordpress.com/1012/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/adealam.wordpress.com/1012/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/adealam.wordpress.com/1012/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/adealam.wordpress.com/1012/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adealam.wordpress.com/1012/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adealam.wordpress.com/1012/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adealam.wordpress.com/1012/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adealam.wordpress.com/1012/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adealam.wordpress.com/1012/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adealam.wordpress.com/1012/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adealam.wordpress.com&amp;blog=1504761&amp;post=1012&amp;subd=adealam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adealam.wordpress.com/2010/09/02/cinta-palsu-syi%e2%80%99ah-terhadap-ahlul-bait/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-6.760319 108.486755</georss:point>
		<geo:lat>-6.760319</geo:lat>
		<geo:long>108.486755</geo:long>
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kebencian Syi&#8217;ah Kepada Shahabat Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wasallam</title>
		<link>http://adealam.wordpress.com/2010/09/02/kebencian-syiah-kepada-shahabat-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam/</link>
		<comments>http://adealam.wordpress.com/2010/09/02/kebencian-syiah-kepada-shahabat-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 03:07:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Firqah]]></category>
		<category><![CDATA[Syi'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adealam.wordpress.com/?p=1008</guid>
		<description><![CDATA[Kata Mereka: “‘Aisyah, Zubair, dan Tholhah Lebih Buruk dari Anjing dan Babi” Al-Khumaini dalam kitabnya Ath-Thaharah 3/457 berkata: “ Sucinya An-Nashib (Pembenci Ahlul bait) dan Al-Kharij (Pemberontak Ali) karena tujuan Dunia dan selainnya Adapun semua sekte Nawashib bahkan Khawarij maka tidak ada dalil tentang najisnya mereka, walaupun mereka lebih dahsyat adzabnya dari orang-orang kafir. Seandainya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adealam.wordpress.com&amp;blog=1504761&amp;post=1008&amp;subd=adealam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div><strong><big>Kata Mereka: “‘Aisyah, Zubair, dan Tholhah Lebih Buruk dari Anjing dan Babi”</big></strong><br />
Al-Khumaini dalam kitabnya Ath-Thaharah 3/457 berkata: “<br />
Sucinya An-Nashib (Pembenci Ahlul bait) dan Al-Kharij (Pemberontak Ali) karena tujuan Dunia dan selainnya<br />
Adapun semua sekte Nawashib bahkan Khawarij maka tidak ada dalil tentang  najisnya mereka, walaupun mereka lebih dahsyat adzabnya dari  orang-orang kafir. Seandainya mereka memberontak terhadap Amirul  Mukminin ‘alaihis salam bukan karena prinsip agama, tapi karena unsur  kekuasaan atas tujuan lainnya, seperti ‘Aisyah, Zubair, Thalhah,  Mu’awiyah dan yang lainnya. Atau menancapkan permusuhan kepadanya (Ali)  atau kepada salah seorang imam ‘alaihimus salam bukan karena prinsip  agama tapi karena permusuhan terhadap Quraisy atau Bani Hasyim atau  Bangsa Arab, atau disebabkan ia (Ali) telah membunuh anaknya atau  bapaknya atau selain itu. (Itu semua) tidak menyebabkan -dengan jelas-  atas kenajisannya secara zhahir, walaupun mereka lebih buruk dari  anjing-anjing dan babi-babi; karena tidak ada dalil baik ijma’ atau  khabar atas hal itu (atas kenajisan mereka).</p>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=99789&amp;fbid=103577209655407&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=160096919456&amp;aid=-1&amp;auser=0&amp;oid=160096919456&amp;id=100000093843020"><br />
</a><span id="more-1008"></span></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=99795&amp;fbid=103577262988735&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=160096919456&amp;aid=-1&amp;auser=0&amp;oid=160096919456&amp;id=100000093843020"><img class="alignnone size-medium wp-image-1009" title="Kitab Syi'ah 1" src="http://adealam.files.wordpress.com/2010/09/9026_103577209655407_100000093843020_99789_1253109_n.jpg?w=192&#038;h=300" alt="" width="192" height="300" /><img class="alignnone size-medium wp-image-1010" title="Kitab Syi'ah 2" src="http://adealam.files.wordpress.com/2010/09/9026_103577262988735_100000093843020_99795_7698243_n.jpg?w=195&#038;h=300" alt="" width="195" height="300" /><br />
</a></div>
</div>
<p><strong><big>Kata Mereka: “‘Aisyah Adalah Keledai Betina Kecil”</big></strong><br />
“Mengapa ‘Aisyah dijuluki Al-Hamra/Humaira…”<br />
Katanya: Humaira adalah isim tashgir dari himara (keledai betina kecil).<br />
Na’udzubillah, istri tercinta Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam diejek seperti itu, mana adab mereka terhadap Rasulullah!<br />
Seaindainyalah ada orang yang mengatakan bahwa isteri mereka adalah  keledai, tentu mereka akan marah. Lalu bagaimana mungkin celahan hina  ini mereka tujukan kepada istri Rasulullah, makhluk termulia disisi  Rabbul ‘alamin.</p>
<p><strong>ini bukti perkataan mereka:</strong><br />
<a rel="nofollow" href="http://www.youtube.com/watch?v=R_cYDT16BTs" target="_blank">http://www.youtube.com/watch?v=R_cYDT16BTs</a></div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adealam.wordpress.com/1008/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adealam.wordpress.com/1008/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adealam.wordpress.com/1008/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adealam.wordpress.com/1008/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/adealam.wordpress.com/1008/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/adealam.wordpress.com/1008/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/adealam.wordpress.com/1008/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/adealam.wordpress.com/1008/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adealam.wordpress.com/1008/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adealam.wordpress.com/1008/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adealam.wordpress.com/1008/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adealam.wordpress.com/1008/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adealam.wordpress.com/1008/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adealam.wordpress.com/1008/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adealam.wordpress.com&amp;blog=1504761&amp;post=1008&amp;subd=adealam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adealam.wordpress.com/2010/09/02/kebencian-syiah-kepada-shahabat-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-6.760319 108.486755</georss:point>
		<geo:lat>-6.760319</geo:lat>
		<geo:long>108.486755</geo:long>
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">admin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://adealam.files.wordpress.com/2010/09/9026_103577209655407_100000093843020_99789_1253109_n.jpg?w=192" medium="image">
			<media:title type="html">Kitab Syi'ah 1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://adealam.files.wordpress.com/2010/09/9026_103577262988735_100000093843020_99795_7698243_n.jpg?w=195" medium="image">
			<media:title type="html">Kitab Syi'ah 2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SYI’AH DAN IMAMAH (KEPEMIMPINAN)</title>
		<link>http://adealam.wordpress.com/2010/09/02/syi%e2%80%99ah-dan-imamah-kepemimpinan/</link>
		<comments>http://adealam.wordpress.com/2010/09/02/syi%e2%80%99ah-dan-imamah-kepemimpinan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 02:54:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Firqah]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Mahdi]]></category>
		<category><![CDATA[Syi'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adealam.wordpress.com/?p=1006</guid>
		<description><![CDATA[Imamah (kepemimpinan umat) adalah masalah yang selalu ditonjolkan oleh Syi’ah Rafidhah, sehingga mereka dikenal dengan sebutan Syi’ah Imamiyah. Mereka membatasi imamah ini hanya untuk keduabelas imam yaitu Ali bin Abi Thalib dan keturunannya. Sehingga mereka dikenal pula dengan sebutan Syi’ah Itsna ‘Asyariyah. Pemikiran ini sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan pemikiran Yahudi, karena memang pendiri Syi’ah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adealam.wordpress.com&amp;blog=1504761&amp;post=1006&amp;subd=adealam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Imamah (kepemimpinan umat) adalah masalah yang selalu ditonjolkan oleh  Syi’ah Rafidhah, sehingga mereka dikenal dengan sebutan Syi’ah Imamiyah.  Mereka membatasi imamah ini hanya untuk keduabelas imam yaitu Ali bin  Abi Thalib dan keturunannya. Sehingga mereka dikenal pula dengan sebutan  Syi’ah Itsna ‘Asyariyah.<br />
<span id="more-1006"></span><br />
Pemikiran ini sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan pemikiran Yahudi,  karena memang pendiri Syi’ah yang bernama Abdullah bin Saba’ adalah  seorang Yahudi. Al Imam Abu Hafs bin Syahin di dalam kitabnya Al Lathifu  fis Sunnah menyebutkan tentang mereka: “Diantara tanda-tanda mereka  (Syi’ah) adalah bahwasanya kesesatannya mirip dengan kesesatan Yahudi.  Orang-orang Yahudi mengatakan: ‘Tidaklah berhak menjadi raja kecuali  dari keturunan Nabi Daud.’ Demikian pula orang-orang Syi’ah mengatakan:  ‘Tidaklah berhak memegang tampuk kepemimpinan umat kecuali keturunan Ali  bin Abi Thalib.’” (Minhajus Sunnah 1/24-25).</p>
<p>Adapun para imam yang mereka yakini itu adalah:</p>
<ol>
<li>Ali bin Abi Thalib yang mereka juluki Al Murtadha (lahir 10 tahun sebelum diutusnya Nabi – 40 H)</li>
<li>Al Hasan bin Ali (Az Zaki) (3-50 H)</li>
<li>Al Husain bin Ali (Sayyid Syuhada’) (4-61 H)</li>
<li>Ali bin Husain (Zainal Abidin) (38-95 H)</li>
<li>Muhammad bin Ali bin Husain (Al Baqir) (57-114 H)</li>
<li>Ja’far bin Muhammad (Ash Shadiq) (83-148 H)</li>
<li>Musa bin Ja’far (Al Khadim) (128-182 H)</li>
<li>Ali bin Musa (Ar Ridha) (148-202 atau 203 H)</li>
<li>Muhammad bin Ali (Al Jawwad) (195-220 H)</li>
<li>Ali bin Muhammad (Al Hadi) (212-254 H)</li>
<li>Abu Muhammad bin Al Hasan (Al Askari) (232-260 H)</li>
<li>Muhammad bin Al Hasan yang mereka juluki Al Mahdi (256-260 H)</li>
</ol>
<p>Imam kedua belas inilah yang diyakini kaum Syi’ah Rafidhah sebagai Imam Mahdi yang akan muncul di akhir jaman.</p>
<p>Diantara yang melatarbelakangi pemikiran tersebut adalah bahwasanya  Abdullah bin Saba’ Al Yahudi –pendiri Syi’ah- berpendapat adanya pewaris  kepemimpinan sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal itu  dikarenakan bahwasanya setiap nabi memiliki pewaris sebagaimana halnya  Yusya’ bin Nuun yang beliau merupakan pewaris Nabi Musa ‘alaihis salam.  Adapun pewaris Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Ali bin Abi  Thalib radhiyallahu ‘anhu.</p>
<p><strong>Kesesatan Syi’ah Rafidhah dalam Masalah Imamah</strong><br />
Diantara sekian kesesatan mereka dalam masalah ini adalah:</p>
<ol>
<li><strong>Keimamahan itu ditetapkan dengan nash dari Allah dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam</strong><br />
Dalam hal ini mereka tidak segan-segan menetapkan nash-nash palsu yang  penuh dengan rekayasa. Di antaranya apa yang terdapat di dalam kitab Al  Amaali hal. 586 karya Abu Ja’far bin Babuyah Al Qummi bahwa Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Allah melaknat  orang-orang yang menyelisihi Ali… Ali adalah seorang imam… dia adalah  khalifah setelahku… Barangsiapa mendahului (kekhalifahan) Ali maka dia  telah mendahului (kenabian)ku dan barangsiapa yang berpisah darinya maka  dia telah berpisah dariku.”</p>
<p>Atas dasar ini mereka mengklaim Abu Bakr, Umar, dan Utsman sebagai  perampas kekuasaan. Sehingga mereka cerca bahkan mereka kafirkan.  Padahal Ali bin Abi Thalib sendiri pernah berkhutbah di Kufah dengan  mengatakan: Wahai sekalian manusia, sesungguhnya sebaik-baik umat  setelah Rasul-Nya adalah Abu Bakr kemudian Umar, dan bila mau aku akan  sebutkan yang ketiganya. Lalu beliau turun dari mimbar, seraya  mengatakan: “Kemudian Utsman, kemudian Utsman.” (Al Bidayah wan Nihayah  8/13)</li>
<li><strong>Masalah Imamah merupakan pokok terpenting dalam rukun Islam</strong><br />
Al Kulaini di dalam kitab Al Kafi fil Ushul 2/18 dari Zurarah dari Abu  Ja’far ‘alaihis salam …, beliau berkata: “Islam itu dibangun di atas 5  perkara… shalat, zakat, haji, puasa dan Al Wilayah (Imamah),” Zurarah  bertanya: “Mana yang paling utama?” Beliau (Abu Ja’far) menjawab: “Al  Wilayah-lah yang paling utama.”</p>
<p>Di dalam Ashlusy Syi’ah wa Ushuliha hal. 49 karya Muhammad Husain Al  Githa’, dia menegaskan bahwa imamah merupakan rukun keenam dari  rukun-rukun Islam!!</li>
<li><strong>Seseorang yang tidak meyakini imamah sebagaimana keyakinan Syi’ah Rafidhah maka dia kafir atau sesat.</strong><br />
Didalam Al Amaali hal. 586 disebutkan bahwa Ibnu Abbas –padahal mereka  mencaci beliau radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah bersabda:  “Barangsiapa mengingkari kepemimpinan Ali setelahku maka dia seperti  orang yang mengingkari kenabian semasa hidupku. Dan barangsiapa yang  mengingkari kenabianku maka dia seperti orang yang mengingkari ketuhanan  Allah ‘azza wa jalla.”</p>
<p>Lebih keterlaluan lagi, Ibnu Muthahhar Al Hulli berpendapat bahwa  mengingkari imamah lebih jelek daripada mengingkari kenabian. Dia  berkata: “Imamah adalah sebuah taufik Allah yang bersifat umum sedangkan  kenabian adalah taufik Allah yang bersifat khusus. Sebab sangat  dimungkinkan suatu masa itu kosong dari seorang nabi yang hidup, berbeda  dengan imam. Maka, mengingkari taufik Allah yang bersifat umum tentu  lebih jelek daripada mengingkari taufik Allah yang bersifat khusus.”  (Atsarut Tasyayyu’ hal. 135)</li>
<li><strong> Kedudukan para imam lebih tinggi daripada kedudukan para nabi dan malaikat</strong><br />
Al Khumaini di dalam kitab Al Hukumah Al Islamiyah hal. 52 berkata:  “Bahwasanya kedudukan imam tersebut tidak bisa dicapai malaikat yang  dekat dengan Allah dan tidak pula bisa dicapai seorang nabi yang diutus  sekalipun.”</li>
<li><strong>Para imam memiliki sifat ma’shum (tidak pernah berbuat kesalahan)</strong><br />
Dasar pijak tinjauan ini adalah keyakinan mereka bahwa syarat keimaman  adalah kema’shuman. Di dalam kitab Mizanul Hikmah 1/174, Muhammad Ar  Rayyi Asy Syahri menyebutkan bahwa salah satu syarat imamah dan  kekhususan imam yaitu: “Telah diketahui bahwa dia adalah seorang yang  ma’shum dari seluruh dosa, baik dosa kecil maupun besar, tidak  tergelincir di dalam berfatwa, tidak salah dalam menjawab, tidak lalai  dan lupa serta tidak lengah dengan satu perkara dunia pun.”</li>
<li><strong>Para imam mengetahui perkara yang ghaib.</strong><br />
Al Majlisi di dalam kitab Biharul Anwar 26/109 menulis sebuah bab yaitu:  “Bab: Bahwa mereka (para imam, pen) tidak terhalangi untuk mengetahui  perkara ghaib di langit dan di bumi, jannah dan jahannam. Seluruh  perbendaharaan langit dan bumi diperlihatkan kepada mereka dan mereka  pun mengetahui apa yang terjadi dan akan terjadi sampai hari kiamat.”</p>
<p>Padahal Allah berfirman: “Katakanlah: Tidak ada seorangpun di langit dan  di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah.” (An Naml:  65)</li>
<li><strong>Para imam memiliki sejumlah hukum syariat yang tidak diketahui umat Islam.</strong><br />
Didalam Ushulul Kafi 1/192, Al Kulaini menyebutkan bahwa setelah  meninggalnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebenarnya pensyariatan  hukum itu belum sempurna. Bahkan ada sejumlah syariat diwasiatkan Rasul  kepada Ali. Kemudian Ali menyampaikan sebagiannya sesuai dengan masanya.  Sampai akhirnya beliau wasiatkan kepada imam selanjutnya. Demikian  seterusnya sampai imam yang masih bersembunyi (Imam Mahdi).</p>
<p>Padahal Allah telah sempurnakan syari’at ini sebelum Nabi shallallahu  ‘alaihi wa sallam meninggal dunia, sebagaimana firman-Nya: “Pada hari  ini telah Ku-sempurnakan untukmu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu  nikmat-Ku dan telah Ku-ridhai Islam itu sebagai agamamu.” (Al Maidah: 3)</li>
<li><strong>Para imam akan bangkit setelah kematiannya untuk menegakkan hukuman (had) di muka bumi sebelum hari kiamat (Aqidah Raj’ah)</strong><br />
Kaum Syi’ah Rafidhah meyakini bahwa kedua belas imam mereka yang telah  meninggal dunia akan muncul kembali ke muka bumi untuk menegakkan  hukuman (had) kepada para penentang mereka. Mereka menegakkan hukuman  yang memang belum sempat diterapkan sebelumnya. Sehingga dunia pada saat  itu penuh dengan keadilan setelah sebelumnya dipenuhi dengan kezhaliman  sampai tegaknya hari kiamat. (Syi’ah wat Tashhih hal. 141-142 dan  Aqa’idul Imamiyah hal. 67-68 dengan beberapa tambahan)</li>
</ol>
<p><strong>Para penentang yang mendapatkan hukuman dari para imam tersebut:</strong></p>
<ol>
<li>Khulafaur Rasyidin yang tiga yaitu: Abu Bakr, Umar dan Utsman radhiyallahu ‘anhum</li>
<li>Aisyah</li>
<li>Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan putranya Yazid bin Mu’awiyah dari kalangan Bani Umayyah</li>
<li>Marwan bin Hakam dari kalangan Bani Abbasiyyah</li>
<li>Ibnu Ziyad dan selain mereka</li>
</ol>
<p>(Mukhtashar At Tuhfah Al Itsna Asyariyah hal. 200-201 dengan beberapa tambahan)</p>
<p><strong>Beberapa Kiprah Imam Mahdi Syi’ah Rafidhah selama Muncul di Muka Bumi</strong></p>
<ol>
<li>Memerangi bangsa Arab (Biharul Anwar 52/318, 333 dan 349)</li>
<li>Merobohkan Masjidil Haram dan Masjid An Nabawi sampai luluh  lantak. Kemudian mengambil Hajar Aswad untuk dipindah ke Kufah (Irak),  sehingga kota tersebut menjadi kiblat kaum muslimin. (Biharul Anwar  52/338 dan 386, Al Ghaibah hal. 282 dan Al Wafi 1/215)</li>
<li>Menegakkan hukum keluarga Nabi Daud ‘alaihis salam. (Al Ushul Minal Kafi 1/397 dan selainnya)</li>
</ol>
<p>Al Majlisi di dalam Biharul Anwar 52/353 dari Abu Abdillah ‘alaihis  salam menggambarkan sepak terjang Imam Mahdi tersebut dengan ucapannya:  “Kalau seandainya manusia mengetahui apa yang akan dilakukan Imam Mahdi  ketika muncul maka sungguh mereka tidak ingin melihat kurban yang ia  perangi… sampai-sampai kebanyakan manusia berkata: “Dia ini bukan dari  keluarga Muhammad. Kalau seandainya dia dari keluarga Muhammad, maka  sungguh dia akan berlaku kasih sayang.”</p>
<p><strong>Hadits-hadits Palsu dan Lemah yang Tersebar di Kalangan Umat</strong></p>
<p>يَا عَلِيُّ، مَنْ صَلَّى مِائَةَ رَكَعَاتٍ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ  شَعْبَانَ يَقْرَأُ مِنْ كُلِّ رَكَعَةٍ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَقُلْ  هُوَ اللهُ أَحَدٌ عَشْرَةَ مَرَّاتٍ قَضَى اللهُ لَهُ كُلَّ حَاجَتِهِ</p>
<p>“Wahai Ali, barangsiapa yang shalat 100 raka’at pada malam Nishfu  Sya’ban disertai pada setiap raka’atnya membaca surat Al Fatihah dan  surat Al Ikhlash sebanyak 10 kali, pasti Allah akan memenuhi seluruh  kebutuhannya…”</p>
<p><strong>Keterangan:</strong><br />
Hadits ini dha’if (lemah), disebabkan kebanyakan para perawinya majhul  (tidak dikenal oleh para ahli hadits) sebagaimana yang dikatakan Al Imam  Asy Syaukani. Sehingga beliau rahimahullah dan Asy Syaikh Ibnu Baaz  mendha’ifkan hadits tersebut. (Hirasatu Tauhid hal. 64, karya Asy Syaikh  Ibnu Baaz)</p>
<p>Sumber: Buletin Islam AL ILMU edisi 32/III/II/1425, Yayasan As Salafy Jember</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adealam.wordpress.com/1006/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adealam.wordpress.com/1006/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adealam.wordpress.com/1006/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adealam.wordpress.com/1006/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/adealam.wordpress.com/1006/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/adealam.wordpress.com/1006/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/adealam.wordpress.com/1006/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/adealam.wordpress.com/1006/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adealam.wordpress.com/1006/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adealam.wordpress.com/1006/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adealam.wordpress.com/1006/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adealam.wordpress.com/1006/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adealam.wordpress.com/1006/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adealam.wordpress.com/1006/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adealam.wordpress.com&amp;blog=1504761&amp;post=1006&amp;subd=adealam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adealam.wordpress.com/2010/09/02/syi%e2%80%99ah-dan-imamah-kepemimpinan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-6.760319 108.486755</georss:point>
		<geo:lat>-6.760319</geo:lat>
		<geo:long>108.486755</geo:long>
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PERBEDAAN IMAM MAHDI AHLUSSUNNAH DENGAN MAHDI SYI’AH</title>
		<link>http://adealam.wordpress.com/2010/09/02/perbedaan-imam-mahdi-ahlussunnah-dengan-mahdi-syi%e2%80%99ah/</link>
		<comments>http://adealam.wordpress.com/2010/09/02/perbedaan-imam-mahdi-ahlussunnah-dengan-mahdi-syi%e2%80%99ah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 02:52:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[Firqah]]></category>
		<category><![CDATA[Syi'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Syubhat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adealam.wordpress.com/?p=1004</guid>
		<description><![CDATA[Penulis : Al-Ustadz Qomar ZA, Lc. Seperti yang telah disinggung, sebenarnya Mahdi ala Syi’ah hanyalah khurafat yang tiada nyatanya. Sehingga perbandingan di sini adalah perbandingan antara Mahdi nyata dan Mahdi fiktif yang diyakini Syi’ah. Mahdi Ahlus Sunnah bernama Muhammad bin Abdillah sesuai dengan nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan nasabnya. Sedangkan Mahdi Syi’ah namanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adealam.wordpress.com&amp;blog=1504761&amp;post=1004&amp;subd=adealam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis : Al-Ustadz Qomar ZA, Lc.</p>
<p>Seperti yang telah disinggung, sebenarnya Mahdi ala Syi’ah hanyalah  khurafat yang tiada nyatanya. Sehingga perbandingan di sini adalah  perbandingan antara Mahdi nyata dan Mahdi fiktif yang diyakini Syi’ah.</p>
<p><span id="more-1004"></span></p>
<ol>
<li><strong>Mahdi Ahlus Sunnah bernama Muhammad bin Abdillah sesuai dengan nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan nasabnya.</strong><br />
Sedangkan Mahdi Syi’ah namanya Muhammad bin Hasan Al-‘Askari.</li>
<li><strong>Mahdi Ahlus Sunnah dari keturunan Al-Hasan bin ‘Ali.</strong><br />
Sedangkan Mahdi Syi’ah dari keturunan Al-Husain bin ‘Ali.</li>
<li><strong>Mahdi Ahlus Sunnah kelahiran dan kehidupannya seperti layaknya manusia yang lain.</strong><br />
Sedangkan Mahdi Syi’ah dikandung dan dilahirkan dalam waktu semalam,  lalu masuk sirdab pada umur 9 tahun, sementara telah berlalu di dalamnya  waktu sepanjang 1.150 tahun lebih.</li>
<li><strong>Mahdi Ahlus Sunnah muncul untuk menolong muslimin secara umum, tanpa membedakan jenis mereka. </strong><br />
Sedangkan Mahdi Syi’ah hanya untuk Syi’ah Rafidhah, bahkan sangat benci kepada bangsa Arab, terlebih Quraisy.</li>
<li><strong>Mahdi Ahlus Sunnah mencintai para shahabat dan ibu-ibu kaum mukminin (istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam). </strong><br />
Sementara Mahdi Syi’ah sangat membenci mereka, bahkan menyiksa mereka setelah mengeluarkan mereka dari kubur mereka.</li>
<li><strong>Mahdi Ahlus Sunnah mengamalkan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memberantas bid’ah. </strong><br />
Sementara Mahdi Syi’ah mengajak kepada agama baru dan kitab yang baru.</li>
<li><strong>Mahdi Ahlus Sunnah memakmurkan masjid. </strong><br />
Sementara Mahdi Syi’ah menghancurkan masjid. Ia menghancurkan Masjidil Haram Ka’bah, masjid Nabawi, dan seluruh masjid.</li>
<li><strong>Mahdi Ahlus Sunnah berhukum dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. </strong><br />
Sedangkan Mahdi Syi’ah berhukum dengan hukum keluarga Dawud.</li>
<li><strong>Mahdi Ahlus Sunnah muncul dari negeri timur. </strong><br />
Sementara Mahdi Syi’ah muncul dari sirdab Samarra`.</li>
<li><strong>Mahdi Ahlus Sunnah benar-benar ada, seperti terdapat dalam hadits dan penjelasan ulama. </strong><br />
Sementara Mahdi Syi’ah adalah khayalan dan tidak akan muncul sampai  kapanpun. (diringkas dari kitab Badzlul Majhud karya Asy-Syaikh Abdullah  Al-Jumaili, 1/255-257)</li>
<li><strong> Mahdi Ahlus Sunnah datang membawa keadilan. </strong><br />
Sementara Mahdi Syi’ah datang membawa malapetaka dan kehancuran.</li>
</ol>
<p>Sumber: <a rel="nofollow" href="http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&amp;id_online=510" target="_blank">http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&amp;id_online=510</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adealam.wordpress.com/1004/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adealam.wordpress.com/1004/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adealam.wordpress.com/1004/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adealam.wordpress.com/1004/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/adealam.wordpress.com/1004/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/adealam.wordpress.com/1004/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/adealam.wordpress.com/1004/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/adealam.wordpress.com/1004/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adealam.wordpress.com/1004/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adealam.wordpress.com/1004/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adealam.wordpress.com/1004/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adealam.wordpress.com/1004/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adealam.wordpress.com/1004/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adealam.wordpress.com/1004/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adealam.wordpress.com&amp;blog=1504761&amp;post=1004&amp;subd=adealam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adealam.wordpress.com/2010/09/02/perbedaan-imam-mahdi-ahlussunnah-dengan-mahdi-syi%e2%80%99ah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-6.760319 108.486755</georss:point>
		<geo:lat>-6.760319</geo:lat>
		<geo:long>108.486755</geo:long>
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BANTAHAN SINGKAT TERHADAP KEYAKINAN SYI’AH TENTANG IMAM MAHDI VERSI MEREKA</title>
		<link>http://adealam.wordpress.com/2010/09/02/bantahan-singkat-terhadap-keyakinan-syi%e2%80%99ah-tentang-imam-mahdi-versi-mereka/</link>
		<comments>http://adealam.wordpress.com/2010/09/02/bantahan-singkat-terhadap-keyakinan-syi%e2%80%99ah-tentang-imam-mahdi-versi-mereka/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 02:49:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[Firqah]]></category>
		<category><![CDATA[Syi'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Syubhat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adealam.wordpress.com/?p=1002</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Penulis : Al-Ustadz Qomar ZA, Lc. Para ulama telah membongkar kebohongan Mahdi versi Syi’ah dan membantah tuntas syubhat-syubhat mereka. Di antara para ulama yang telah melakukannya adalah Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, Ibnu Katsir, dan ulama-ulama masa kini. Untuk itu kami ringkaskan pembahasan berikut ini dari kitab Badzlul Majhud Fi Itsbati Musyabahatir Rafidhah Lil Yahud [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adealam.wordpress.com&amp;blog=1504761&amp;post=1002&amp;subd=adealam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis: Penulis : Al-Ustadz Qomar ZA, Lc.</p>
<p>Para ulama telah membongkar kebohongan Mahdi versi Syi’ah dan membantah tuntas syubhat-syubhat mereka.<br />
<span id="more-1002"></span><br />
Di antara para ulama yang telah melakukannya adalah Ibnu Taimiyyah,  Ibnul Qayyim, Ibnu Katsir, dan ulama-ulama masa kini. Untuk itu kami  ringkaskan pembahasan berikut ini dari kitab Badzlul Majhud Fi Itsbati  Musyabahatir Rafidhah Lil Yahud karya Asy-Syaikh Abdullah Al-Jumaili.</p>
<ol>
<li>Al-Hasan Al-‘Askari sebagai bapak Al-Mahdi versi Syi’ah  sebenarnya tidak mempunyai anak. Ia meninggal tanpa keturunan. Dan  sungguh ini adalah hikmah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang besar untuk  membongkar kedok kedustaan mereka. Dan ini diakui oleh buku-buku Syi’ah  sendiri seperti Al-Kafi karya Al-Kulaini, Al-Irsyad karya Al-Mufid, dan  lain-lain.</li>
<li>Anggaplah kelahiran itu ada, tapi persembunyiannya yang lama  ini membuat keberadaannya tiada arti. Ath-Thusi, ulama mereka,  menyebutkan sebab tidak keluarnya adalah takut dibunuh. Ini adalah sebab  yang dibuat-buat, karena dalam keyakinan mereka, ia akan muncul dan  mendapat pertolongan dari Allah (Biharul Anwar, 52/191).<br />
Lalu mengapa takut? Ataukah dia tidak beriman dengan berita-berita  riwayat mereka itu? Demikian pula, bila dia takut dibunuh alias  pengecut, maka ini –menurut mereka juga– tidak sesuai dengan syarat  keimaman. Sebab, menurut mereka, syarat sebagai seorang imam adalah  harus yang paling pemberani. (Al-Anwar An-Nu’maniyyah, 1/34)</li>
<li>Artinya pula, ia akan keluar nanti bila sudah aman. Lalu untuk apa keluar jika sudah aman, tidak ada perlunya?!</li>
<li>Sekarang negara Syi’ah sudah ada, yaitu Iran. Bukankah negara itu siap melindungi Mahdi mereka? Mengapa tidak keluar?</li>
<li>Kalau ia tidak bisa melindungi dirinya dari pembunuhan,  bagaimana mau melindungi orang lain? Alasan yang dibuat-buat itu, justru  menunjukkan bahwa Mahdi mereka memang tidak ada.</li>
<li>Mahdi mereka itu tidak ada maslahatnya dari sisi din dan dunia.  Lebih-lebih di antara prinsip Syi’ah adalah bahwa hukum-hukum syariat  tidak bisa dilaksanakan sampai munculnya Mahdi. Sementara Mahdi mereka  hanya fiktif. Artinya, mereka hidup tanpa syariat.</li>
</ol>
<p>Apakah ini bisa diterima oleh akal seorang muslim, siapapun dia? Oleh  karenanya, mau tidak mau Khomeini (tokoh Syiah) harus mengakui realita  ini, sehingga dia katakan: “Sesungguhnya, kita berada pada masa  persembunyian besar (Mahdi) dan telah lewat masanya lebih dari 1.200  tahun… Sekarang sesungguhnya hukum-hukum Islam dan undang-undang  syariat, apakah akan dibiarkan dan ditinggalkan sampai masanya muncul,  supaya selama selang waktu persembunyian yang panjang masanya ini  orang-orang menjadi tanpa beban, mereka berada dalam kebebasan semau  mereka? Maknanya bahwa syariat Islam hanya untuk waktu yang terbatas.  Dalam kurun waktu 1 atau 2 abad saja. Dan ini adalah termasuk  penghapusan syariat Islam yang paling jelek yang kami tidak sependapat  dengannya. Demikian pula tidak seorang muslim pun sependapat….”  (Al-Hukumah Al-Islamiyyah, hal. 41-42, dinukil dari Badzlul Majhud karya  Asy-Syaikh Abdullah Al-Jumaili, 1/272)<br />
Asy-Syaikh Abdullah Al-Jumaili mengatakan: “Apa yang disebutkan oleh  Khomeini bahwa keyakinan Al-Ghaibah (persembunyian Al-Mahdi) pada  akhirnya mengarah kepada penghapusan syariat mereka. Ini adalah pendapat  yang benar yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tampakkan melalui lisannya,  untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala tegakkan hujjah atas mereka (orang-orang  Syi’ah).” (Badzlul Majhud karya Asy-Syaikh Abdullah Al-Jumaili, 1/272)<br />
Dari sini, mungkinkah Sunnah dan Syi’ah bergandeng tangan? Orang yang  berakal tentu menjawab tidak mungkin. Hal itu bagaikan mencampur antara  minyak dan air.<br />
Atas dasar itu, maka segala ajakan menuju pendekatan antara Sunnah dan  Syi’ah adalah merupakan kesesatan dan upaya untuk mengubur al-wala` dan  al-bara` serta menghapus identitas As-Sunnah dari Ahlus Sunnah.<br />
Tidakkah kalian sadar –wahai pengikut aliran Syi’ah– akan kebatilan  aqidah kalian ini? Dan ini baru satu masalah. Demikian pula  aqidah-aqidah kalian yang lain. Tak jauh kebatilannya dari itu, bahkan  banyak yang lebih batil darinya. Sadarlah dan kembalilah kepada Islam  yang dibawa oleh Rasul Rabb semesta alam, Muhammad bin Abdillah  Al-Qurasyi, Al-Hasyimi…<br />
Wallahu a’lam.</p>
<p>Sumber: <a rel="nofollow" href="http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&amp;id_online=511" target="_blank">http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&amp;id_online=511</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adealam.wordpress.com/1002/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adealam.wordpress.com/1002/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adealam.wordpress.com/1002/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adealam.wordpress.com/1002/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/adealam.wordpress.com/1002/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/adealam.wordpress.com/1002/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/adealam.wordpress.com/1002/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/adealam.wordpress.com/1002/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adealam.wordpress.com/1002/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adealam.wordpress.com/1002/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adealam.wordpress.com/1002/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adealam.wordpress.com/1002/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adealam.wordpress.com/1002/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adealam.wordpress.com/1002/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adealam.wordpress.com&amp;blog=1504761&amp;post=1002&amp;subd=adealam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adealam.wordpress.com/2010/09/02/bantahan-singkat-terhadap-keyakinan-syi%e2%80%99ah-tentang-imam-mahdi-versi-mereka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-6.760319 108.486755</georss:point>
		<geo:lat>-6.760319</geo:lat>
		<geo:long>108.486755</geo:long>
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SYI’AH MENGHINA PARA SHAHABAT NABI</title>
		<link>http://adealam.wordpress.com/2010/09/02/syi%e2%80%99ah-menghina-para-shahabat-nabi/</link>
		<comments>http://adealam.wordpress.com/2010/09/02/syi%e2%80%99ah-menghina-para-shahabat-nabi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 02:45:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[Firqah]]></category>
		<category><![CDATA[Syi'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adealam.wordpress.com/?p=1000</guid>
		<description><![CDATA[Berbagai mahkota keutamaan dan kemuliaan yang hakiki telah berhasil diraih oleh generasi terbaik umat ini, seiring kebaikan mereka yang tak akan pernah tertandingi oleh generasi sesudahnya sepanjang jaman. Merekalah para shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Pribadi-pribadi manusia yang telah Allah pilih untuk mendampingi utusan-Nya yang termulia Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, di dalam mengemban risalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adealam.wordpress.com&amp;blog=1504761&amp;post=1000&amp;subd=adealam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berbagai mahkota keutamaan dan kemuliaan yang hakiki telah berhasil  diraih oleh generasi terbaik umat ini, seiring kebaikan mereka yang tak  akan pernah tertandingi oleh generasi sesudahnya sepanjang jaman.  Merekalah para shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa  sallam.Pribadi-pribadi manusia yang telah Allah pilih untuk mendampingi  utusan-Nya yang termulia Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, di  dalam mengemban risalah dakwah-Nya. Allah Ta’ala berfirman yang artinya:</p>
<p>“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan  dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang  sesama mereka, kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah  dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas  sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat  mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya  maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan  tegak lurus di atas pokoknya.” (Al-Fath: 29)<br />
<span id="more-1000"></span><br />
Maka tak ayal lagi, kalau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  merekomendasikan bahwa mereka adalah sebaik-baik generasi umat ini.  Beliau bersabda:</p>
<p>خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ</p>
<p>“Sebaik-baik manusia adalah generasiku (para shahabat) kemudian generasi  sesudahnya (para tabi’in) kemudian generasi sesudahnya (para pengikut  tabi’in).” (Muttafaqun ‘alaih)</p>
<p>Al-Imam Ibnu Hazm rahimahullah berkata: “Dan masing-masing mereka (para  shahabat) adalah orang yang adil, imam yang memiliki keutamaan dan  keridhaan. Diwajibkan atas kita untuk memuliakan, menghormati,  memintakan ampunan untuk mereka dan mencintai mereka. Satu buah kurma  yang mereka sedekahkan lebih utama dari sedekah seluruh apa yang kita  miliki. Duduknya mereka bersama Nabi lebih utama daripada ibadah kita  sepanjang masa. Kalau seandainya seluruh umur kita gunakan untuk  beribadah terus-menerus maka tidak akan mampu menandingi amalan sesaat  atau lebih dari mereka.” (Al-Ahkam fi Ushulil Ahkam 5/663)</p>
<p><strong>Para Shahabat dalam Tinjauan Syi’ah Rafidhah</strong><br />
Ternyata mahkota keutamaan dan kemuliaan ini telah dicabik-cabik para  tentara Iblis yang telah memendam kebencian dan kedengkian terhadap  mereka. Syi’ah Rafidhah-lah, tentara pertama kali dan paling gigih  mengobarkan api kebencian dan kedengkian tersebut.<br />
Wujud kebencian kaum Syi’ah Rafidhah telah tertuang di dalam  lembaran-lembaran tulisan ulama mereka seiring dengan bergantinya  generasi dan kurun waktu. Dalam kitab Syarh Nahjil Balaghah 20/22, Ibnu  Abil Hadid mengatakan: “Para shahabat adalah satu kaum yang mendapat  kebaikan dan kejelekan sebagaimana manusia lainnya. Barangsiapa di  antara mereka yang berbuat kejelekan maka kami cela, sedangkan yang  berbuat kebaikan kami puji. Mereka tidak memiliki keutamaan yang besar  dibandingkan kaum muslimin yang lainnya kecuali hanya sekedar pernah  melihat Rasulullah. Tidak lebih daripada itu. Bahkan bisa jadi, dosa  mereka lebih besar daripada dosa selain mereka.”</p>
<p>Al-Kulaini di dalam kitab Ar-Raudhah minal Kafi 8/245-246 meriwayatkan  dari Abu Ja’far bahwa dia berkata: “Para shahabat adalah orang-orang  yang telah murtad (sepeninggal Nabi-pent), kecuali tiga orang saja.”  Maka aku (periwayat) bertanya: “Siapa tiga orang itu?” Maka dia  menjawab: “Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifari dan Salman  Al-Farisi.”</p>
<p>Muhammad Baqir Al-Majlisi di dalam kitab Haqqul Yaqin hal. 519 berkata:  “Aqidah kami dalam hal kebencian adalah membenci empat berhala yaitu Abu  Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, Mu’awiyah dan empat wanita yaitu ‘Aisyah,  Hafshah, Hindun, Ummul Hakam serta seluruh orang yang mengikuti mereka.  Mereka adalah sejelek-jelek makhluk Allah di muka bumi ini. Tidaklah  sempurna iman kepada Allah, Rasul-Nya dan para imam (menurut keyakinan  mereka) kecuali setelah membenci musuh-musuh tadi.”<br />
Al-Mulla Kazhim di dalam kitab Ajma’ul Fadha’ih hal. 157 meriwayatkan  dari Abu Hamzah Ats-Tsumali -berdusta atas nama Ali Zainal Abidin  rahimahullah- bahwa beliau berkata: “Barangsiapa yang melaknat Al-Jibt  (yaitu Abu Bakar) dan Ath-Thaghut (yaitu ‘Umar) dengan sekali laknatan  maka Allah catat baginya 70 juta kebaikan dan Dia hapus sejuta  kejelekan. Allah angkat dia setinggi 70 juta derajat. Barangsiapa sore  harinya melaknat keduanya dengan sekali laknatan maka baginya (pahala)  seperti itu.”<br />
Bahkan di dalam kitab wirid mereka Miftahul Jinan hal. 114 disebutkan  wirid Shanamai Quraisy (dua berhala Quraisy yaitu Abu Bakar dan ‘Umar),  di antara lafazhnya berbunyi:</p>
<p>اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَالْعَنْ  صَنَمَيْ قُرَيْشٍ وَجِبْتَيْهِمَا وَطَاغُوْتَيْهِمَا وَابْنَتَيْهِمَا</p>
<p>“Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya. Laknatilah  dua berhala Quraisy, dua syaithan, dua thaghut dan kedua anak perempuan  mereka (’Aisyah dan Hafshah).”</p>
<p>Para ulama Syi’ah Rafidhah telah menukilkan ijma’ mereka tentang  kafirnya para shahabat, di antaranya Al-Mufid bin Muhammad An-Nu’man di  dalam kitab Awa’ilul Maqalat hal. 45, dia berkata: “Imamiyyah (Syi’ah  Rafidhah), Zaidiyyah dan Khawarij bersepakat bahwa orang-orang yang  melanggar perjanjian dan menyeleweng, dari penduduk Bashrah dan Syam  (para shahabat -menurut anggapan mereka- pent) adalah orang-orang kafir,  sesat dan terlaknat karena memerangi Amirul Mukminin (Ali -pent).  Mereka itu kekal di Jahannam.”</p>
<p>Para pembaca, perhatikanlah kata-kata keji mereka! Dengan berbekal  kedustaan dan kebencian, mereka berupaya meruntuhkan pondasi-pondasi  Islam yang kokoh. Setelah Al-Qur`an mereka usik keabsahannya, maka kini  giliran manusia-manusia terbaik umat ini dari para shahabat Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka lecehkan dan kafirkan. Lalu Islam  apa yang ada pada mereka?<br />
Kenapa mereka menyembunyikan firman Allah yang artinya: “Orang-orang  yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara  orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka  dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah  dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir  sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.  Itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah: 100) dan firman-Nya yang  lain?!?</p>
<p>Tidak ingatkah mereka dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:</p>
<p>لاَ تَسُبُّوْا أَصْحَابِيْ فَوَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَوْ أَنْفَقَ  أَحَدُكُمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ  نَصِيْفَهُ</p>
<p>“Janganlah kalian mencerca para shahabatku. Demi Dzat yang jiwaku ada di  tangan-Nya, kalau seandainya salah seorang di antara kalian berinfaq  emas sebesar gunung Uhud maka (pahala) infaq kalian tidak akan mencapai  (pahala) infaq sebanyak dua telapak tangan mereka bahkan tidak pula  setengahnya.” (Muttafaqun ‘alaih)</p>
<p><strong>Konspirasi Jahat di balik Pelecehan Mereka terhadap Para Shahabat</strong><br />
Ternyata di balik pelecehan mereka terhadap para shahabat, ada  konspirasi jahat yang terselubung yaitu mencela Nabi shallallahu ‘alaihi  wa sallam, menggugurkan Al-Qur`an dan As-Sunnah sekaligus agama Islam.</p>
<p>Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata: “Mereka itu adalah suatu  kaum yang sebenarnya berambisi untuk mencela Nabi shallallahu ‘alaihi wa  sallam namun ternyata tidak mampu. Maka akhirnya mereka mencela para  shahabatnya sampai kemudian dikatakan bahwa beliau adalah orang jahat,  karena kalau memang beliau orang baik, niscaya para shahabatnya adalah  orang-orang baik pula.”<br />
Al-Imam Abu Zur’ah rahimahullah berkata: “Bila engkau melihat seseorang  merendahkan kedudukan seorang shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa  sallam maka ketahuilah bahwa dia adalah Zindiq (munafiq). Sebab, Sunnah  Rasul dan Al-Qur`an adalah kebenaran di sisi kita. Sedangkan yang  menyampaikan Al-Qur`an dan As-Sunnah tadi kepada kita adalah para  shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka (Syi’ah  Rafidhah) mencela para saksi kita dengan tujuan untuk menggugurkan  Al-Qur`an dan As-Sunnah. Justru mereka inilah yang lebih pantas untuk  dicela. Merekalah orang-orang zindiq.”</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Celaan terhadap mereka (para shahabat) adalah celaan terhadap agama ini.”</p>
<p><strong>Hukuman bagi Orang-orang yang Mencela Para Shahabat</strong><br />
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah di dalam kitab Ash-Sharimul  Maslul ‘ala Syatimir Rasul memberikan rincian tentang hukum orang yang  mencela para shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bisa  diringkas sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Bila orang tersebut mencela para shahabat dengan celaan yang  tidak sampai menjatuhkan keadilan dan agama mereka seperti: mensifati  para shahabat dengan kebakhilan, penakut, dangkal ilmunya dan selain itu  maka dia tidak dihukumi sebagai orang yang murtad atau kafir. Hanya  saja orang ini dihukum ta’zir (hukuman dera atau penjara yang  dilaksanakan oleh pemerintah kaum muslimin setelah dimintai taubat dan  diberi penjelasan -pent).</li>
<li>Adapun orang yang mencela para shahabat karena keyakinan bahwa  mereka telah murtad atau sesat sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa  sallam maka tidak ragu lagi bahwa orang tersebut kafir (setelah memenuhi  kriteria syari’at untuk dikafirkan -pent).</li>
<li>Demikian juga seseorang yang ragu terhadap kafirnya orang jenis kedua maka dia kafir.</li>
</ol>
<p>Wallahu A’lam.<br />
Sumber: Buletin Islam Al Ilmu Edisi 29/II/II/1425, Ma’had As-Salafy Jember</p>
<p><a rel="nofollow" href="http://www.assalafy.org/" target="_blank">www.assalafy.org</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adealam.wordpress.com/1000/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adealam.wordpress.com/1000/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adealam.wordpress.com/1000/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adealam.wordpress.com/1000/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/adealam.wordpress.com/1000/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/adealam.wordpress.com/1000/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/adealam.wordpress.com/1000/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/adealam.wordpress.com/1000/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adealam.wordpress.com/1000/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adealam.wordpress.com/1000/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adealam.wordpress.com/1000/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adealam.wordpress.com/1000/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adealam.wordpress.com/1000/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adealam.wordpress.com/1000/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adealam.wordpress.com&amp;blog=1504761&amp;post=1000&amp;subd=adealam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adealam.wordpress.com/2010/09/02/syi%e2%80%99ah-menghina-para-shahabat-nabi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-6.760319 108.486755</georss:point>
		<geo:lat>-6.760319</geo:lat>
		<geo:long>108.486755</geo:long>
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KEDUDUKAN PARA SHAHABAT, DISISI ALLAH DAN RASUL-NYA SERTA KAUM MUKMINIIN</title>
		<link>http://adealam.wordpress.com/2010/09/02/kedudukan-para-shahabat-disisi-allah-dan-rasul-nya-serta-kaum-mukminiin/</link>
		<comments>http://adealam.wordpress.com/2010/09/02/kedudukan-para-shahabat-disisi-allah-dan-rasul-nya-serta-kaum-mukminiin/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 02:42:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adealam.wordpress.com/?p=998</guid>
		<description><![CDATA[Olrh : Asy Syaikh Rabi’ Al Madhkali Sesungguhnya para shahabat Rasulullah mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Allah dan Rasul-Nya serta di sisi kaum mukminin. Allah telah memuji mereka di dalam Al-Qur’anul Karim, mengkhabarkan keridhaan-Nya kepada mereka dan keridhaan mereka kepada Allah . Di antaranya adalah firman Allah (yang artinya): “Kamu adalah umat yang terbaik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adealam.wordpress.com&amp;blog=1504761&amp;post=998&amp;subd=adealam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Olrh : Asy Syaikh Rabi’ Al Madhkali</p>
<p>Sesungguhnya para shahabat Rasulullah mempunyai kedudukan yang tinggi di  sisi Allah dan Rasul-Nya serta di sisi kaum mukminin. Allah telah  memuji mereka di dalam Al-Qur’anul Karim, mengkhabarkan keridhaan-Nya  kepada mereka dan keridhaan mereka kepada Allah . Di antaranya adalah  firman Allah (yang artinya):</p>
<p>“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh  kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada  Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi  mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah  orang-orang yang fasik.” (Ali Imran: 110)<br />
<span id="more-998"></span><br />
“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang  adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan  agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas perbuatan) kamu.” (Al-Baqarah:  143)</p>
<p>Al-Khathib Al-Baghdadi berkata: “Lafazh ini (di atas) walaupun sifatnya  umum, namun yang dimaksud adalah orang-orang tertentu (para shahabat).  Ada yang berpendapat pula bahwa ini hanya berkaitan dengan para shahabat  semata.” Allah berfirman (yang artinya):</p>
<p>“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min ketika  mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa  yang ada di dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka  dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat  waktunya.” (Al-Fath: 18)</p>
<p>“Orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk islam) di antara  orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka  dengan baik, Allah ridha pada mereka dan merekapun ridha kepada Allah.”  (At-Taubah : 100)</p>
<p>“Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dulu  (masuk al jannah). Mereka itulah orang yang didekatkan (kepada Allah).  Berada dalam al jannah yang penuh dengan kenikmatan.” (Al-Waqi’ah:  10-12)</p>
<p>“Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mu’min yang mengikutimu.” (Al-Anfaal: 64)</p>
<p>“(Juga) bagi para fuqara yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman  dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan  keridhaan(Nya) dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah  orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang telah menempati kota  Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka  (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan  mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang  diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan  (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka  memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari  kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung,”  (Al-Hasyr: 8-9)</p>
<p>Dan ayat-ayat lainnya yang cukup banyak tentang keutamaan dan kedudukan mereka.</p>
<p><strong>Adapun Rasulullah</strong> , sesungguhnya beliau telah memuji para  shahabat dan menjelaskan keutamaan mereka dalam sekian banyak  hadits-haditsnya. Di antaranya adalah sabda beliau :</p>
<p>“Sebaik-baik manusia (generasi) adalah yang hidup di abadku, kemudian  generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya, setelah itu akan  datang suatu kaum yang persaksiannya mendahului sumpahnya dan sumpahnya  mendahului persaksiannya.” (HR. Al-Bukhari no. 3650 dari shahabat Imran  bin Hushain, dan Muslim no. 4533 dari hadits Ibnu Mas’ud, Imran bin  Hushain, dan Abu Hurairah)</p>
<p>“Janganlah mencela para shahabatku, Janganlah mencela para shahabatku!  Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya (Allah), kalaulah salah  seorang dari kalian berinfaq emas sebesar Gunung Uhud, niscaya tidak  akan menyamai infaq salah seorang dari mereka (para shahabat) yang hanya  sebesar cakupan tangan atau setengahnya.” (HR. Al-Bukhari no. 3673 dan  Muslim no. 2540, dari shahabat Abu Sa’id Al Khudri)</p>
<p><strong>Shahabat Abdullah bin Abbas berkata:</strong> “Janganlah mencela para  shahabat Nabi Muhammad , sungguh keberadaan salah seorang dari mereka  bersama Rasulullah walau sesaat, lebih baik dari ibadah salah seorang  dari kalian sepanjang hidupnya.” (Syarh Ath-Thahawiyyah hal. 532,  berkata Asy-Syaikh Al-Albani: Shahih)</p>
<p><strong>Shahabat Abdullah bin Mas’ud berkata:</strong> “Sesungguhnya Allah melihat  kepada hati segenap hamba-Nya, maka didapatilah hati Nabi Muhammad  sebagai hati yang terbaik di antara hati para hamba, sehingga Allah  memilihnya dan mengutusnya untuk mengemban risalah-Nya. Kemudian Allah  melihat kepada hati para hamba maka didapatilah hati para shahabat Nabi  sebagai hati-hati terbaik (setelah hati Nabi Muhammad ), sehingga Allah  jadikan mereka sebagai para pembela Nabi-Nya, siap bertempur di atas  agamanya. Segala apa yang dipandang baik oleh para shahabat maka di sisi  Allah baik dan segala apa yang dipandang buruk oleh mereka maka buruk  pula di sisi Allah.” (Syarh Ath-Thahawiyyah, hal. 532, berkata  Asy-Syaikh Al-Albani: Hasan mauquf, dikeluarkan oleh Ath-Thayalisi,  Ahmad dan yang lainnya dengan sanad yang hasan, Dishahihkan Al-Hakim dan  disepakati oleh Adz-Dzahabi)</p>
<p><strong>Al-Imam Ath-Thahawi (ketika menjelaskan prinsip Ahlussunnah Wal Jama’ah) berkata:</strong> “Kami mencintai para shahabat Rasulullah , tidak berlebihan di dalam  mencintai salah seorang dari mereka dan tidak pula berlepas diri (bara’)  terhadap siapa pun dari mereka. Kami membenci siapa saja yang membenci  para shahabat dan yang menjelek-jelekkan mereka, dan tidaklah kami  menyebut mereka kecuali dengan kebaikan. Kecintaan kepada mereka  merupakan bagian dari agama, iman dan ihsan, sedangkan kebencian  terhadap mereka merupakan suatu kekufuran, kemunafikan dan perbuatan  yang melampaui batas.” (Syarh Ath-Thahawiyyah, hal. 528)</p>
<p><strong>Al-Khathib Al-Baghdadi</strong> setelah menyebutkan ayat-ayat dan  hadits-hadits seputar kedudukan dan keutamaan para shahabat, berkata:  “Hadits-hadits yang semakna dengan ini cukup luas, semuanya sesuai  dengan apa yang terdapat di dalam Al-Qur’an; yang kesemuanya itu  membuktikan tentang kesucian para shahabat dan kepastian keadilan dan  kebersihan mereka. Dengan adanya rekomendasi dari Allah (Dzat Yang Maha  Mengetahui segala apa yang tersembunyi) untuk mereka ini, maka sungguh  tidak seorang pun dari mereka yang butuh terhadap rekomendasi siapa pun  dari makhluk di muka bumi ini. Para shahabat akan senantiasa berada  dalam posisi yang mulia ini, kecuali bila salah seorang dari mereka  benar-benar terbukti melakukan kemaksiatan dengan sengaja, maka gugurlah  keadilan (rekomendasi) tersebut. Namun Allah telah bersihkan diri  mereka dari perbuatan tersebut, bahkan Allah mengangkat derajat mereka  di sisi-Nya. Dan kalaulah nash-nash pujian dari Allah dan Rasul-Nya  untuk mereka ini tidak ada, maka amalan-amalan mereka, seperti: hijrah,  jihad, membela agama Allah, mengorbankan nyawa dan harta, siap bertempur  melawan orang tua dan anak (karena agama), saling menasehati dalam  urusan agama, serta kuatnya iman dan keyakinan mereka, sudah menunjukkan  secara yakin tentang keadilan dan kesucian mereka serta sebagai bukti  bahwa mereka lebih utama dari semua pemberi rekomendasi dari generasi  yang datang setelah mereka selama-lamanya. Inilah pendapat keseluruhan  ulama dan orang-orang diperhitungkan kata-katanya dari kalangan  fuqaha’.” (Al-Kifayah, hal. 96)</p>
<p><strong>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:</strong> “Di antara prinsip  Ahlussunnah Wal Jama’ah adalah bersihnya hati dan lisan mereka terhadap  para shahabat Rasulullah , sebagaimana yang Allah sifati dalam  firman-Nya (yang artinya):</p>
<p>“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar),  mereka berdoa: “Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan sudara-saudara  kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau  membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman;  Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”  (Al-Hasyr: 10)</p>
<p>Dan juga mentaati Rasulullah dalam sabdanya: “Janganlah mencela para  shahabatku, Janganlah mencela para shahabatku! Demi Dzat yang jiwaku  berada di tangan-Nya (Allah), kalaulah salah seorang dari kalian  berinfaq emas sebesar Gunung Uhud, niscaya tidak akan menyamai infaq  salah seorang dari mereka (para shahabat) yang hanya sebesar cakupan  tangan atau setengahnya”, menerima segala apa terdapat dalam Al-Qur’an,  As-Sunnah dan Ijma’ tentang keutamaan dan martabat mereka, berlepas diri  dari prinsip Syi’ah Rafidhah yang membenci dan mencela mereka, serta  dari prinsip Nawashib (Khawarij) yang menyakiti Ahlul Bait (keluarga  Rasul) dengan perkataan dan perbuatannya. Ahlussunnah Wal Jama’ah  menahan diri dari apa (fitnah) yang terjadi di antara para shahabat,  dengan mengatakan:</p>
<p>Sesungguhnya riwayat-riwayat tentang kejelekan mereka ada yang palsu,  ada yang ditambah dan dikurangi serta dirubah-rubah dari yang  sebenarnya. Adapun yang terjadi dengan sebenarnya maka mereka mendapat  udzur dalam permasalahan tersebut, di antara mereka ada yang berijtihad  dan benar ijtihadnya, di antara mereka ada pula yang berijtihad dan  keliru ijtihadnya. Barangsiapa memperhatikan perjalanan hidup mereka dan  segala keutamaan yang Allah karuniakan kepada mereka dengan ilmu dan  bashirah, pasti dia akan mengetahui dengan penuh keyakinan bahwasanya  mereka adalah makhluk terbaik setelah para Nabi, tidak ada yang manyamai  mereka baik dulu ataupun di masa yang akan datang, dan mereka merupakan  generasi pilihan umat ini, sebaik-baik umat dan yang paling mulia di  sisi Allah . (Al-Aqidah Al-Wasithiyyah, hal. 142-151)</p>
<p><a rel="nofollow" href="http://www.assalafy.org/al-ilmu.php?tahun3=21" target="_blank">http://www.assalafy.org/al-ilmu.php?tahun3=21</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adealam.wordpress.com/998/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adealam.wordpress.com/998/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adealam.wordpress.com/998/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adealam.wordpress.com/998/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/adealam.wordpress.com/998/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/adealam.wordpress.com/998/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/adealam.wordpress.com/998/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/adealam.wordpress.com/998/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adealam.wordpress.com/998/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adealam.wordpress.com/998/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adealam.wordpress.com/998/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adealam.wordpress.com/998/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adealam.wordpress.com/998/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adealam.wordpress.com/998/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adealam.wordpress.com&amp;blog=1504761&amp;post=998&amp;subd=adealam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adealam.wordpress.com/2010/09/02/kedudukan-para-shahabat-disisi-allah-dan-rasul-nya-serta-kaum-mukminiin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-6.760319 108.486755</georss:point>
		<geo:lat>-6.760319</geo:lat>
		<geo:long>108.486755</geo:long>
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SYI’AH MENGHALALKAN ZINA</title>
		<link>http://adealam.wordpress.com/2010/09/02/syi%e2%80%99ah-menghalalkan-zina/</link>
		<comments>http://adealam.wordpress.com/2010/09/02/syi%e2%80%99ah-menghalalkan-zina/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 02:39:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[Syubhat]]></category>
		<category><![CDATA[Firqah]]></category>
		<category><![CDATA[Syi'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adealam.wordpress.com/?p=995</guid>
		<description><![CDATA[Jika kaum muslimin memiliki pandangan bahwa pernikahan yang sah menurut syariat Islam merupakan jalan untuk menjaga kesucian harga diri mereka, maka kaum Syi’ah Rafidhah memiliki pandangan lain. Perzinaan justru memiliki kedudukan tersendiri di dalam kehidupan masyarakat mereka. Bagaimana tidak, perzinaan tersebut mereka kemas dengan nama agama yaitu nikah mut’ah. Tentu saja mereka tidak ridha kalau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adealam.wordpress.com&amp;blog=1504761&amp;post=995&amp;subd=adealam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jika kaum muslimin memiliki pandangan bahwa pernikahan yang sah menurut  syariat Islam merupakan jalan untuk menjaga kesucian harga diri mereka,  maka kaum Syi’ah Rafidhah memiliki pandangan lain. Perzinaan justru  memiliki kedudukan tersendiri di dalam kehidupan masyarakat mereka.  Bagaimana tidak, perzinaan tersebut mereka kemas dengan nama agama yaitu  nikah mut’ah. Tentu saja mereka tidak ridha kalau nikah mut’ah  disejajarkan dengan perzinaan yang memang benar-benar diharamkan Allah  ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Kenyataan-lah yang akan membuktikan hakekat nikah mut’ah ala Syi’ah  Rafidhah.<br />
<span id="more-995"></span><br />
<strong>Definisi Nikah Mut’ah</strong><br />
Nikah mut’ah adalah sebuah bentuk pernikahan yang dibatasi dengan  perjanjian waktu dan upah tertentu tanpa memperhatikan perwalian dan  saksi, untuk kemudian terjadi perceraian apabila telah habis masa  kontraknya tanpa terkait hukum perceraian dan warisan. (Syarh Shahih  Muslim hadits no. 1404 karya An-Nawawi dengan beberapa tambahan)</p>
<p><strong>Hukum Nikah Mut’ah</strong><br />
Pada awal tegaknya agama Islam nikah mut’ah diperbolehkan oleh  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam beberapa sabdanya, di  antaranya hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu dan Salamah bin  Al-Akwa’ radhiyallahu ‘anhu: “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa  sallam pernah menemui kami kemudian mengizinkan kami untuk melakukan  nikah mut’ah.” (HR. Muslim)<br />
Al-Imam Al-Muzani rahimahullah berkata: “Telah sah bahwa nikah mut’ah  dulu pernah diperbolehkan pada awal-awal Islam. Kemudian datang  hadits-hadits yang shahih bahwa nikah tersebut tidak diperbolehkan lagi.  Kesepakatan ulama telah menyatakan keharaman nikah tersebut.” (Syarh  Shahih Muslim hadits no. 1404 karya An-Nawawi)<br />
Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai manusia!  Sesungguhnya aku dulu pernah mengizinkan kalian untuk melakukan nikah  mut’ah. Namun sekarang Allah ‘azza wa jalla telah mengharamkan nikah  tersebut sampai hari kiamat.” (HR. Muslim)</p>
<p>Adapun nikah mut’ah yang pernah dilakukan beberapa sahabat di zaman  kekhalifahan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu dan Umar radhiyallahu ‘anhu,  maka hal itu disebabkan mereka belum mendengar berita tentang  diharamkannya nikah mut’ah selama-lamanya. (Syarh Shahih Muslim hadits  no. 1405 karya An-Nawawi)</p>
<p><strong>Gambaran Nikah Mut’ah di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam</strong><br />
Di dalam beberapa riwayat yang sah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa  sallam, jelas sekali gambaran nikah mut’ah yang dulu pernah dilakukan  para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Gambaran tersebut dapat dirinci  sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Dilakukan pada saat mengadakan safar (perjalanan) yang berat  seperti perang, bukan ketika seseorang menetap pada suatu tempat. (HR.  Muslim hadits no. 1404)</li>
<li>Tidak ada istri atau budak wanita yang ikut dalam perjalanan tersebut. (HR. Bukhari no. 5116 dan Muslim no. 1404)</li>
<li>Jangka waktu nikah mut’ah hanya 3 hari saja. (HR. Bukhari no. 5119 dan Muslim no. 1405)</li>
<li>Keadaan para pasukan sangat darurat untuk melakukan nikah  tersebut sebagaimana mendesaknya seorang muslim memakan bangkai, darah  dan daging babi untuk mempertahankan hidupnya. (HR. Muslim no. 1406)</li>
</ol>
<p><strong>Nikah Mut’ah menurut Tinjauan Syi’ah Rafidhah</strong><br />
Dua kesalahan besar telah dilakukan kaum Syi’ah Rafidhah ketika  memberikan tinjauan tentang nikah mut’ah. Dua kesalahan tersebut adalah:</p>
<p><strong>A. Penghalalan Nikah Mut’ah yang Telah Diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya</strong><br />
Bentuk penghalalan mereka nampak dari kedudukan nikah mut’ah itu sendiri  di kalangan mereka. Ash-Shaduq di dalam kitab Man Laa Yahdhuruhul Faqih  dari Ash-Shadiq berkata: “Sesungguhnya nikah mut’ah itu adalah agamaku  dan agama pendahuluku. Barangsiapa mengamalkannya maka dia telah  mengamalkan agama kami. Sedangkan barangsiapa mengingkarinya maka dia  telah mengingkari agama kami dan meyakini selain agama kami.”<br />
Di dalam halaman yang sama, Ash-Shaduq mengatakan bahwa Abu Abdillah  pernah ditanya: “Apakah nikah mut’ah itu memiliki pahala?” Maka beliau  menjawab: “Bila dia mengharapkan wajah Allah (ikhlas), maka tidaklah dia  membicarakan keutamaan nikah tersebut kecuali Allah tulis baginya satu  kebaikan. Apabila dia mulai mendekatinya maka Allah ampuni dosanya.  Apabila dia telah mandi (dari berjima’ ketika nikah mut’ah, pen) maka  Allah ampuni dosanya sebanyak air yang mengalir pada rambutnya.”<br />
Bahkan As-Sayyid Fathullah Al Kasyaani di dalam Tafsir Manhajish  Shadiqiin 2/493 melecehkan kedudukan para imam mereka sendiri ketika  berdusta atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau  bersabda: “Barangsiapa melakukan nikah mut’ah satu kali maka derajatnya  seperti Al-Husain, barangsiapa melakukannya dua kali maka derajatnya  seperti Al-Hasan, barangsiapa melakukannya tiga kali maka derajatnya  seperti Ali radhiyallahu ‘anhu, dan barangsiapa melakukannya sebanyak  empat kali maka derajatnya seperti aku.”</p>
<p><strong>B. Betapa Keji dan Kotor Gambaran Nikah Mut’ah Ala Syi’ah Rafidhah</strong></p>
<ol>
<li><strong>Akad nikah</strong><br />
Di dalam Al Furu’ Minal Kafi 5/455 karya Al-Kulaini, dia menyatakan  bahwa Ja’far Ash-Shadiq pernah ditanya seseorang: “Apa yang aku katakan  kepada dia (wanita yang akan dinikahi, pen) bila aku telah berduaan  dengannya?” Maka beliau menjawab: “Engkau katakan: Aku menikahimu secara  mut’ah berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya, namun engkau tidak  mendapatkan warisan dariku dan tidak pula memberikan warisan apapun  kepadaku selama sehari atau setahun dengan upah senilai dirham demikian  dan demikian.” Engkau sebutkan jumlah upah yang telah disepakati baik  sedikit maupun banyak.” Apabila wanita tersebut mengatakan: “Ya” berarti  dia telah ridha dan halal bagi si pria untuk menggaulinya. (Al-Mut’ah  Wa Atsaruha Fil-Ishlahil Ijtima’i hal. 28-29 dan 31)</li>
<li><strong>Tanpa disertai wali si wanita</strong><br />
Sebagaimana Ja’far Ash-Shadiq berkata: “Tidak apa-apa menikahi seorang  wanita yang masih perawan bila dia ridha walaupun tanpa ijin kedua orang  tuanya.” (Tahdzibul Ahkam 7/254)</li>
<li><strong>Tanpa disertai saksi (Al-Furu’ Minal Kafi 5/249)</strong></li>
<li><strong>Dengan siapa saja nikah mut’ah boleh dilakukan?</strong><br />
Seorang pria boleh mengerjakan nikah mut’ah dengan:<br />
- wanita Majusi. (Tahdzibul Ahkam 7/254)<br />
- wanita Nashara dan Yahudi. (Kitabu Syara’i&#8217;il Islam hal. 184)<br />
- wanita pelacur. (Tahdzibul Ahkam 7/253)<br />
- wanita pezina. (Tahriirul Wasilah hal. 292 karya Al-Khumaini)<br />
- wanita sepersusuan. (Tahriirul Wasilah 2/241 karya Al-Khumaini)<br />
- wanita yang telah bersuami. (Tahdzibul Ahkam 7/253)<br />
- istrinya sendiri atau budak wanitanya yang telah digauli. (Al-Ibtishar 3/144)<br />
- wanita Hasyimiyah atau Ahlul Bait. (Tahdzibul Ahkam 7/272)<br />
- sesama pria yang dikenal dengan homoseks. (Lillahi… Tsumma Lit-Tarikh hal. 54)</li>
<li><strong> Batas usia wanita yang dimut’ah</strong><br />
Diperbolehkan bagi seorang pria untuk menjalani nikah mut’ah dengan  seorang wanita walaupun masih berusia sepuluh tahun atau bahkan kurang  dari itu. (Tahdzibul Ahkam 7/255 dan Lillahi… Tsumma Lit-Tarikh hal. 37)</li>
<li><strong>Jumlah wanita yang dimut’ah</strong><br />
Kaum Rafidhah mengatakan dengan dusta atas nama Abu Ja’far bahwa beliau  membolehkan seorang pria menikah walaupun dengan seribu wanita karena  wanita-wanita tersebut adalah wanita-wanita upahan. (Al-Ibtishar 3/147)</li>
<li><strong>Nilai upah</strong><br />
Adapun nilai upah ketika melakukan nikah mut’ah telah diriwayatkan dari  Abu Ja’far dan putranya, Ja’far yaitu sebesar satu dirham atau lebih,  gandum, makanan pokok, tepung, tepung gandum, atau kurma sebanyak satu  telapak tangan(segenggam). (Al-Furu’ Minal Kafi 5/457 dan Tahdzibul  Ahkam 7/260)</li>
<li><strong>Berapa kali seorang pria melakukan nikah mut’ah dengan seorang wanita?</strong><br />
Boleh bagi seorang pria untuk melakukan mut’ah dengan seorang wanita berkali-kali. (Al-Furu’ Minal Kafi 5/460-461)</li>
<li><strong>Bolehkah seorang suami meminjamkan istri atau budak wanitanya kepada orang lain?</strong><br />
Kaum Syi’ah Rafidhah membolehkan adanya perbuatan tersebut dengan dua model:</p>
<ul>
<li>Bila seorang suami ingin bepergian, maka dia menitipkan istri  atau budak wanitanya kepada tetangga, kawannya, atau siapa saja yang dia  pilih. Dia membolehkan istri atau budak wanitanya tersebut diperlakukan  sekehendaknya selama suami tadi bepergian. Alasannya agar istri atau  budak wanitanya tersebut tidak berzina sehingga dia tenang selama di  perjalanan!!!</li>
<li>Bila seseorang kedatangan tamu maka orang tersebut bisa  meminjamkan istri atau budak wanitanya kepada tamu tersebut untuk  diperlakukan sekehendaknya selama bertamu. Itu semua dalam rangka  memuliakan tamu!!!</li>
</ul>
<p>(Lillahi… Tsumma Lit-Tarikh hal. 47)</li>
<li><strong>Nikah mut’ah hanya berlaku bagi wanita-wanita awam. Adapun  wanita-wanita milik para pemimpin (sayyid) Syi’ah Rafidhah tidak boleh  dinikahi secara mut’ah.</strong> (Lillahi… Tsumma Lit-Tarikh hal. 37-38)</li>
<li><strong> Diperbolehkan seorang pria menikahi seorang wanita bersama  ibunya, saudara kandungnya, atau bibinya dalam keadaan pria tadi tidak  mengetahui adanya hubungan kekerabatan di antara wanita tadi.</strong> (Lillahi… Tsumma Lit-Tarikh hal. 44)</li>
<li><strong>Sebagaimana mereka membolehkan digaulinya seorang wanita  oleh sekian orang pria secara bergiliran. Bahkan, di masa Al-’Allamah  Al-Alusi ada pasar mut’ah, yang dipersiapkan padanya para wanita dengan  didampingi para penjaganya (germo).</strong> (Lihat Kitab Shobbul Adzab hal. 239)</li>
</ol>
<p><strong>Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu Menentang Nikah Mut’ah</strong><br />
Para pembaca, bila kita renungkan secara seksama hakikat nikah mut’ah  ini, maka tidaklah berbeda dengan praktek/transaksi yang terjadi di  tempat-tempat lokalisasi. Oleh karena itu di dalam Shahih Al-Bukhari dan  Shahih Muslim diriwayatkan tentang penentangan Ali bin Abi Thalib  radhiyallahu ‘anhu –yang ditahbiskan kaum Syi’ah Rafidhah sebagai imam  mereka- terhadap nikah mut’ah. Beliau radhiyallahu ‘anhu mengatakan:  “Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang nikah  mut’ah dan daging keledai piaraan pada saat perang Khaibar.” Beliau (Ali  radhiyallahu ‘anhu) juga mengatakan bahwa hukum bolehnya nikah mut’ah  telah dimansukh atau dihapus sebagaimana di dalam Shahih Al-Bukhari  hadits no. 5119.</p>
<p>Wallahu A’lam Bish Showab.</p>
<p>Sumber: Buletin Islam Al Ilmu Edisi 33/IV/II/1425, Ma’had As Salafy Jember. dengan judul asli Syi’ah dan Mut’ah</p>
<p><a rel="nofollow" href="http://www.assalafy.org/al-ilmu.php?tahun2=31" target="_blank">http://www.assalafy.org/al-ilmu.php?tahun2=31</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adealam.wordpress.com/995/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adealam.wordpress.com/995/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adealam.wordpress.com/995/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adealam.wordpress.com/995/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/adealam.wordpress.com/995/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/adealam.wordpress.com/995/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/adealam.wordpress.com/995/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/adealam.wordpress.com/995/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adealam.wordpress.com/995/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adealam.wordpress.com/995/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adealam.wordpress.com/995/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adealam.wordpress.com/995/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adealam.wordpress.com/995/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adealam.wordpress.com/995/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adealam.wordpress.com&amp;blog=1504761&amp;post=995&amp;subd=adealam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adealam.wordpress.com/2010/09/02/syi%e2%80%99ah-menghalalkan-zina/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-6.760319 108.486755</georss:point>
		<geo:lat>-6.760319</geo:lat>
		<geo:long>108.486755</geo:long>
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ternyata Al-Qur’an Islam Berbeda dengan Al-Qur’an Syi&#8217;ah</title>
		<link>http://adealam.wordpress.com/2010/09/02/ternyata-al-qur%e2%80%99an-islam-berbeda-dengan-al-qur%e2%80%99an-syiah/</link>
		<comments>http://adealam.wordpress.com/2010/09/02/ternyata-al-qur%e2%80%99an-islam-berbeda-dengan-al-qur%e2%80%99an-syiah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 02:35:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[Firqah]]></category>
		<category><![CDATA[Syi'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adealam.wordpress.com/?p=993</guid>
		<description><![CDATA[Bismillah.. Saudaraku, diantara keyakinan Syi’ah adalah bahwa Al-Qur’an yang berada ditengah-tengah kaum muslimin sekarang ini telah mengalami perubahan. Sebenarnya tentang hal ini telah kami jelaskan dengan rinci disertai bukti-bukti kuat. Namun seperti biasanya, kaum Syi’ah dan para kawan setia acap kali mengingkarinya. Padahal bukti sudah sangat jelas ada dalam kitab-kitab rujukan mereka. Diantara ulama’ Syi’ah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adealam.wordpress.com&amp;blog=1504761&amp;post=993&amp;subd=adealam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bismillah..<br />
Saudaraku, diantara keyakinan Syi’ah adalah bahwa Al-Qur’an yang berada  ditengah-tengah kaum muslimin sekarang ini telah mengalami perubahan.  Sebenarnya tentang hal ini telah kami jelaskan dengan rinci disertai  bukti-bukti kuat.<br />
<span id="more-993"></span><br />
Namun seperti biasanya, kaum Syi’ah dan para kawan setia acap kali  mengingkarinya. Padahal bukti sudah sangat jelas ada dalam kitab-kitab  rujukan mereka.</p>
<p>Diantara ulama’ Syi’ah Imamiyah yang meyakini hal ini adalah:<br />
‘Ali bin Ibrahim Al-Qummi, Ni’matullah Al-Jazairi, Faidh Al-Kasysyani,  Ahmad Ath-Thabrisi, Muhammad Baqir Al-Majlisi, Muhammad bin Nu’man yang  digelari Al-Mufid, Abul Hasan Al-’Amili ‘Adnan Al-Bahrani, Yusuf  Al-Bahrani, Nuuri Ath-Thabrisi, Habibullah Al-Khuu-i, Muhammad bin  Ya’qub Al-Kulaini, Muhammad Al-’Ayyasyi.</p>
<p>Dalam kitab Ushulul Kafi (1/239) disebutkan: “Sesungguhnya ada sebuah  mushfah yang disebut dengan mushaf Fathimah, ia tiga kali lipat lebih  banyak dari Al-Qur’an yang ada.”</p>
<p>Diantara ayat yang mereka yakini terjadi perubahan adalah firman Allah dalam surat Al-Maidah ayat 67:</p>
<p>يا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ ما أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَ إِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَما بَلَّغْتَ رِسالَتَهُ</p>
<p>mereka meyakini ada kalimat yang hilang disela-sela ayat diatas, seharusnya -menurut mereka- adalah:</p>
<p>يا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ ما أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ في علي وَ إِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَما بَلَّغْتَ رِسالَتَهُ</p>
<p>yang hilang adalah: “Fii ‘Ali” pada/tentang ‘Ali.</p>
<p>Hal ini disebutkan oleh Ath-Thabrisi dalam kitabnya Fashlul Khithab fi Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab Hal.182</p>
<p>Biar lebih yakin kami punya bukti “DNA” yang sangat akurat: <a title="http://www.youtube.com/watch?v=KcHKo_EMYBg" rel="nofollow" href="http://www.youtube.com/watch?v=KcHKo_EMYBg" target="_blank">Klik disini</a></p>
<p>Sumber : <a rel="nofollow" href="http://haulasyiah.wordpress.com/" target="_blank">http://haulasyiah.wordpress.com/</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adealam.wordpress.com/993/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adealam.wordpress.com/993/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adealam.wordpress.com/993/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adealam.wordpress.com/993/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/adealam.wordpress.com/993/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/adealam.wordpress.com/993/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/adealam.wordpress.com/993/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/adealam.wordpress.com/993/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adealam.wordpress.com/993/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adealam.wordpress.com/993/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adealam.wordpress.com/993/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adealam.wordpress.com/993/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adealam.wordpress.com/993/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adealam.wordpress.com/993/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adealam.wordpress.com&amp;blog=1504761&amp;post=993&amp;subd=adealam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adealam.wordpress.com/2010/09/02/ternyata-al-qur%e2%80%99an-islam-berbeda-dengan-al-qur%e2%80%99an-syiah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-6.760319 108.486755</georss:point>
		<geo:lat>-6.760319</geo:lat>
		<geo:long>108.486755</geo:long>
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SYI’AH DAN TAQIYYAH</title>
		<link>http://adealam.wordpress.com/2010/09/02/syi%e2%80%99ah-dan-taqiyyah/</link>
		<comments>http://adealam.wordpress.com/2010/09/02/syi%e2%80%99ah-dan-taqiyyah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 02:33:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[Firqah]]></category>
		<category><![CDATA[Syi'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adealam.wordpress.com/?p=991</guid>
		<description><![CDATA[Seseorang belumlah dikatakan mengenal hakekat Syi’ah Rafidhah dengan sebenar-benarnya bila belum mengetahui hakekat taqiyyah disisi mereka. Padahal dengan taqiyyah inilah, mereka berhasil mengelabui sekian banyak kaum muslimin. Maka janganlah kita tercengang kalau mendengar atau membaca sedemikian ragam tanggapan positif sebagian kaum muslimin terhadap mereka seperti: “Para penganut Syi’ah Rafidhah merupakan bagian dari kaum muslimin, Negara [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adealam.wordpress.com&amp;blog=1504761&amp;post=991&amp;subd=adealam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seseorang belumlah dikatakan mengenal hakekat Syi’ah Rafidhah dengan  sebenar-benarnya bila belum mengetahui hakekat taqiyyah disisi mereka.  Padahal dengan taqiyyah inilah, mereka berhasil mengelabui sekian banyak  kaum muslimin.<br />
Maka janganlah kita tercengang kalau mendengar atau membaca sedemikian  ragam tanggapan positif sebagian kaum muslimin terhadap mereka seperti:  “Para penganut Syi’ah Rafidhah merupakan bagian dari kaum muslimin,  Negara Iran yang resmi berasaskan aqidah Syi’ah Ja’fariyah (bagian dari  sekte Syi’ah Rafidhah) adalah negara Islam, Khomeini merupakan tokoh  revolusi Islam Iran, gagasan untuk diadakan taqrib (persatuan pandangan)  antara Syi’ah dan Sunni (Ahlus Sunnah), anggapan bahwa aqidah Syi’ah  Rafidhah yang menyatakan bahwa para sahabat Nabi telah kafir, Al Qur’an  telah mengalami perubahan hanyalah sekedar tuduhan Ahlus Sunnah semata”.<br />
<span id="more-991"></span><br />
<strong>Definisi Taqiyyah</strong><br />
Taqiyyah menurut etimologi bahasa Arab bermakna: Menyembunyikan dan  menjaga. (Lisanul Arab 15/401 dan Al Qamus Al Muhith hal. 1731)</p>
<p>Sedangkan secara terminologi syariat, taqiyyah memiliki arti:  Menyembunyikan keimanan karena tidak mampu menampakkannya  ditengah-tengah orang kafir dalam rangka menjaga jiwa, kehormatan dan  hartanya dari kejahatan mereka. (Disarikan dari Atsarut Tasyayyu’ hal 33  – 34)</p>
<p><strong>Taqiyyah Menurut Tinjauan Syariat Islam</strong><br />
Islam sebagai agama yang sempurna dan penuh rahmat telah mengatur  hubungan penganutnya dengan orang-orang kafir yang zhalim dan menguasai  kehidupan keagamaan kaum muslimin. Pada saat yang sama, Islam juga  sangat memperhatikan kelangsungan hidup para pemeluknya.</p>
<p>Dalam rangka mencapai dua keadaan itu, Islam memberikan salah satu  solusi kepada umatnya berupa taqiyyah berdasarkan bimbingan dalil-dalil  syar’i. Di dalam dalil–dalil tersebut terdapat kriteria-kriteria yang  membolehkan seorang muslim melakukan taqiyyah. Kriteria-kriteria  tersebut adalah:</p>
<ol>
<li>Dia tidak mampu melakukan hijrah syar’i dari negeri orang kafir  yang dia tinggal di dalamnya, karena alasan (udzur) yang syar’i pula.  (An Nisaa’: 97-98)</li>
<li>Taqiyyah dilakukan dihadapan orang-orang kafir. (Ali Imran: 28)</li>
<li>Taqiyyah ditempuh karena dia benar-benar dalam keadaan dipaksa untuk mengucapkan atau mengerjakan kekufuran. (An Nahl: 106)</li>
<li>Bersamaan itu, dia benar-benar merasa ketakutan dari kejahatan orang-orang kafir. (Ali Imran: 28)</li>
<li>Walaupun demikian, hatinya tetap tenang dan kokoh diatas keimanan. (An Nahl: 106)</li>
</ol>
<p><strong>Taqiyyah Menurut Tinjauan Syi’ah Rafidhah</strong><br />
Atas dasar riwayat-riwayat batil yang ada pada mereka, maka dapat dipastikan bahwa mereka telah berbuat 3 kesalahan fatal:<br />
<strong>A. Definisi Taqiyyah Yang Bertentangan Dengan Definisi Taqiyyah Secara Syar’i</strong><br />
Di dalam Al Kasykul 1/202 karya Yusuf Al Bahrani mengatakan: “ Yang  dimaksud dengan taqiyyah adalah menampakkan kesamaan dengan keyakinan  agama orang-orang yang menyelisihi mereka karena adanya rasa takut.”</p>
<p>Al Kulaini meriwayatkan -dengan dusta- dari Abu Ja’far, beliau berkata:  “Berkumpullah dengan mereka (orang-orang yang menyelisihi Syi’ah  Rafidhah -red) secara dhahir namun selisihilah mereka secara batin”.</p>
<p>Al Khomeini di dalam Kasyful Asrar hal. 147 mendefinisikan makna  taqiyyah: “Seseorang yang mengucapkan atau mengamalkan sesuatu, berbeda  dengan kenyataan (hatinya) yang membatalkan timbangan-timbangan syariat  …”.</p>
<p>Tampak dari ucapan-ucapan mereka bahwa definisi taqiyyah menurut Syi’ah Rafidhah:</p>
<ol>
<li>Tidak membedakan apakah taqiyyah mereka amalkan dihadapan kaum  muslimin atau orang-orang kafir. Lalu apa bedanya mereka dengan  orang-orang munafik di jaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam  ?!.</li>
<li>Apa yang mereka sembunyikan bukanlah keimanan namun justru kekufuran tatkala berkumpul dengan kaum muslimin.</li>
<li>Taqiyyah mereka tidak memperhatikan timbangan-timbangan atau kriteria-kriteria syar’i.</li>
</ol>
<p><strong>B. Kedudukan dan Keutamaan Taqiyyah yang Berlebihan Menurut Syi’ah Rafidhah</strong></p>
<ol>
<li><span style="text-decoration:underline;">Taqiyyah adalah pokok agama mereka.</span><br />
Al Kulaini di dalam Al Kafi 2/174 menukilkan –dengan dusta- ucapan Abu  Ja’far: “Taqiyyah merupakan agamaku dan agama para pendahuluku. Tidak  ada keimanan bagi seseorang yang tidak bertaqiyyah”. Dalam riwayat lain  -dengan dusta- dari Abu Abdillah: “Tidak ada agama bagi seorang yang  tidak bertaqiyyah”.</li>
<li><span style="text-decoration:underline;"> Taqiyyah adalah kemuliaan agama seseorang.</span><br />
Al Kulaini di dalam Al Kafi 2/176 meriwayatkan –dengan dusta- ucapan Abu  Abdillah kepada Sulaiman bin Khalid: “Wahai Sulaiman, sesungguhnya  engkau diatas agama yang apabila seseorang menyembunyikannya  (bertaqiyyah), maka Allah akan muliakan dia. Barangsiapa menampakkannya  maka Allah akan hinakan dia”.</li>
<li><span style="text-decoration:underline;">Taqiyyah merupakan sebuah ibadah yang paling dicintai Allah</span><br />
Abu Abdillah mengatakan di dalam Al Kafi 2/219 karya Al Kulaini –dengan  dusta- : “Tidaklah Allah diibadahi dengan suatu amalan yang lebih Dia  cintai daripada Al Khab’u. Aku (periwayat) bertanya: “Apa itu Al Khab’u ?  Beliau menjawab: “Taqiyyah”.</li>
<li><span style="text-decoration:underline;">Taqiyyah merupakan seutama-utama amalan hamba.</span><br />
Di dalam Tafsirul Askari hal. 163 dinukilkan -dengan dusta- bahwa Ali  bin Abi Thalib pernah berkata: “Taqiyyah merupakan salah satu amalan  mukmin yang paling utama. Dia menjaga diri dan saudaranya dengan  taqiyyah dari orang-orang jahat (kaum muslimin -red).</li>
<li><span style="text-decoration:underline;">Taqiyyah merupakan semulia-mulia akhlak.</span><br />
Dari Al Baqir, dia berkata: “Semulia-mulia akhlak para imam dan  orang-orang mulia dari kelompok kami adalah taqiyyah”. (Al Ushul  Ashliyah hal. 320 karya Abdullah Syabbar)</li>
<li><span style="text-decoration:underline;">Hukum taqiyyah setingkat tauhid dan shalat wajib</span><br />
Al Qummi di dalam Al I’tiqadaat mengatakan: “Taqiyyah hukumnya wajib.  Barangsiapa meninggalkannya maka kedudukannya seperti meninggalkan  shalat wajib.”<br />
Dia meriwayatkan didalam kitab tersebut dari Ali bin Hasan –dengan  dusta– beliau berkata: “Allah mengampuni seluruh dosa seorang mukmin dan  mensucikannya di dunia dan akhirat kecuali 2 dosa: meninggalkan  taqiyyah dan meninggalkan hak-hak saudaranya (saudara sesama Syi’ah  Rafidhah –red).”</li>
<li><span style="text-decoration:underline;"> Mereka membatasi kewajiban bertaqiyyah sampai munculnya Imam Mahdi</span><br />
Al Qummi di dalam Al I’tiqadaat juga mengatakan: “Taqiyyah hukumnya  wajib. Tidak boleh menghapus kewajiban itu sampai muculnya Imam Mahdi…”.</li>
</ol>
<p><strong>C. Munculnya Amalan-Amalan Kemungkaran Sebagai Realisasi Pandangan Sesat Mereka Terhadap Taqiyyah</strong></p>
<ol>
<li>Pengkafiran kaum muslimin yang tidak melakukan taqiyyah ala Syi’ah Rafidhah<br />
Al Qummi di dalam Al I’tiqadaat ketika menyebutkan tentang kewajiban  taqiyyah, mengatakan: “… Barangsiapa meninggalkan (taqiyyah) sebelum  munculnya Imam Mahdi maka dia telah keluar dari agama Allah, agama  Imamiyyah dan menyelisihi Allah, Rasul serta para imam mereka.”</li>
<li>Pembolehan untuk melakukan taqiyyah didalam segala keadaan walaupun dalam keadaan tidak terpaksa<br />
Ath Thusi meriwayatkan –dengan dusta– di dalam Al Amaali hal. 229 dari  Ash Shadiq, beliau berkata: “Bukanlah dari golongan kami, seseorang yang  tidak menjadikan taqiyyah sebagai syiar dan bajunya walaupun ditengah  orang-orang yang dia percayai. Hal itu tetap dia lakukan agar selalu  menjadi tabiatnya ketika ditengah orang-orang yang mengancamnya.”</li>
<li>Ibadah yang diiringi dengan taqiyyah memiliki keutamaan besar<br />
Ash Shaduq di dalam Man Laa Yahdhuruhul Faqih 1/266 meriwayatkan –dengan  dusta– dari Abu Abdillah, berkata: “Tidaklah salah seorang diantara  kalian menunaikan shalat wajib sesuai waktunya lalu shalat lagi dengan  taqiyyah bersama mereka (kaum muslimin) dalam keadaan berwudlu’ kecuali  Allah tulis (keutamaan) baginya sebesar 25 derajat. Oleh karena itu  berharaplah kalian untuk mendapatkannya.”</li>
<li>Riwayat-riwayat para Imam mereka yang bertolak belakang dengan  aqidah mereka dianggap sebagai taqiyyah (diringkas dari Firaqusy Syi’ah  hal. 85-87 karya An Naubakhti)</li>
<li>Penafsiran yang batil terhadap ayat-ayat Allah Ta’ala<br />
Surat Fushshilat 34 :</p>
<p>وَلاَ تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلاَ السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ</p>
<p>yang artinya: “Dan tidaklah sama antara kebaikan dan kejelekan. Balaslah (kejelekan itu) dengan cara yang lebih baik.”</p>
<p>Abu Abdillah berkata: “Kebaikan itu adalah taqiyyah, sedangkan kejelekan  itu adalah terang-terangan di dalam beragama.” (Al Kafi 2/173 karya Al  Kulaini)</p>
<p>Sedangkan ‘cara yang lebih baik’ itu adalah taqiyyah. (Al Kafi hal. 482 karya Al Kulaini)</p>
<p>Surat Al Hujurat 13 :</p>
<p>إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ</p>
<p>yang artinya: “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian disisi Allah adalah yang paling taqwa.”</p>
<p>Ash Shadiq – seorang syi’i – berkata: “Yaitu orang-orang yang paling  mengetahui tentang taqiyyah.” (Al I’tiqadaat karya Al Qummi)</p>
<p>Aqidah Taqiyyah Merupakan Ciri Khas Syi’ah Rafidhah</p>
<p>Di dalam Al I’tiqadaat karya Al Qummi diriwayatkan –dengan dusta– dari  Ali bin Husain, beliau berkata: “Kalau seandainya tidak ada taqiyyah  maka wali-wali kami tidak akan dikenal diantara musuh-musuh kami.”</p>
<p>Hakekat Taqiyyah Syi’ah Rafidhah Sama Dengan Kemunafikan</p>
<p>Sangat tepat untuk dinyatakan bahwa hakekat taqiyyah mereka tidaklah  beda dengan kemunafikan di masa kenabian Rasul Shallallahu ‘alaihi  wassallam. Padahal Allah Ta’ala banyak memperingatkan sifat-sifat mereka  (kaum munafik) di dalam kitab-Nya, diantaranya:</p>
<p>وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ ءَامَنُوا قَالُوا ءَامَنَّا وَإِذَا خَلَوْا  إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ  مُسْتَهْزِئُونَ</p>
<p>Artinya : “Dan jika mereka (kaum munafik) bertemu dengan orang-orang  beriman mereka berkata: ‘Kami beriman.’ Namun bila mereka bertemu dengan  para syaithan, mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami bersama kalian. Kami  hanyalah mengejek mereka (kaum muslimin).” (Al Baqarah: 14)</p>
<p>Allah juga berfirman :</p>
<p>قُولُونَ بِأَلْسِنَتِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ</p>
<p>yang artinya: “Mereka (orang-orang munafik) mengatakan sesuatu yang berbeda dengan apa yang ada di hatinya.” (Al Fath: 11)</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam mengingatkan tentang keadaan mereka:<br />
“Dan kalian akan dapati sejelek-jelek manusia adalah yang bermuka dua,  yaitu dia mendatangi suatu kaum dengan satu wajah dan mendatangi kaum  yang lain dengan wajah yang lain pula.” (Muttafaqun ‘alaihi)</li>
</ol>
<p><strong>Ahli Bait Berlepas Diri Dari Taqiyyah</strong><br />
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah di dalam Minhajus Sunnah 2/46  menyebutkan bahwa Allah membersihkan kaum mukminin dari kalangan Ahli  Bait dari perbuatan taqiyyah. Bahkan mereka merupakan manusia paling  jujur dalam keimanan. Agama mereka adalah ketaqwaan dan bukan taqiyyah.</p>
<p>Sumber : Buletin Al Ilmu Jember . Diterbitkan Ma’had As Salafy Jember.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adealam.wordpress.com/991/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adealam.wordpress.com/991/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adealam.wordpress.com/991/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adealam.wordpress.com/991/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/adealam.wordpress.com/991/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/adealam.wordpress.com/991/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/adealam.wordpress.com/991/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/adealam.wordpress.com/991/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adealam.wordpress.com/991/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adealam.wordpress.com/991/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adealam.wordpress.com/991/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adealam.wordpress.com/991/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adealam.wordpress.com/991/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adealam.wordpress.com/991/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adealam.wordpress.com&amp;blog=1504761&amp;post=991&amp;subd=adealam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adealam.wordpress.com/2010/09/02/syi%e2%80%99ah-dan-taqiyyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-6.760319 108.486755</georss:point>
		<geo:lat>-6.760319</geo:lat>
		<geo:long>108.486755</geo:long>
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
