ORANG YANG TELAH MATI TIDAK DAPAT MENDENGAR

Penulis : Ustadz Muhammad Umar As-Sewed

Di antara sebab-sebab kesyirikan dalam bentuk meminta-minta pada kuburan-kuburan adalah anggapan mereka bahwa ruh-ruh orang yang telah mati masih ada di sekitar kuburan dan masih dapat mendengar dan berhubungan dengan yang memintanya.
Anggapan ini adalah anggapan yang batil dan telah dibantah oleh para ulama dari semua madzhab yang ada termasuk madzhab imam Syafi’i dan madzhab imam Hanafi. Hal itu dikarenakan telah jelas dan shahih dalil-dalil yang menyatakan bahwa orang-orang yang telah mati itu putus hubungan dengan yang masih hidup. Dan ruh-ruh mereka berada di alam lain yaitu alam barzakh yang tidak berkaitan dan terpisah dengan alam dunia.

  1. Dalil tentang telah terputusnya hubungan antara orang yang telah mati dengan yang masih hidup
    Di antara hadits yang menyatakan terputusnya hubungan antara orang yang telah mati dengan yang masih hidup adalah:

    إِذَا مَاتَ اْلإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَه. رواه مسلم)

    Jika telah mati seorang manusia, maka terputuslah amalannya, kecuali dari tiga hal: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat baginya atau anak shalih yang mendoakan baginya. (HR. Muslim)

  2. Dalil mengenai tempat/alam bagi orang yang telah mati adalah alam lain, terpisah dari alam dunia
    Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ (99) لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلاَّ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ. المزمنون: 100

    (Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Rabb-ku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan”. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding (alam barzakh) sampai hari mereka dibangkitkan. (al-Mu’minun: 99-100)

  3. Dalil-dalil tentang orang yang telah mati tidak dapat mendengar
    Allah subhanahu wata’ala berfirman:

    وَمَا يَسْتَوِي اْلأَحْيَاءُ وَلاَ اْلأَمْوَاتُ إِنَّ اللَّهَ يُسْمِعُ مَنْ يَشَاءُ وَمَا أَنْتَ بِمُسْمِعٍ مَنْ فِي الْقُبُورِ. فاطر: 22

    Dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati. Sesungguhnya Allah memberikan pendengaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan kamu sekali-kali tidak akan sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar. (Faathir: 22)

    إِنَّكَ لاَ تُسْمِعُ الْمَوْتَى وَلاَ تُسْمِعُ الصُّمَّ الدُّعَاءَ إِذَا وَلَّوْا مُدْبِرِينَ.
    النمل: 80 والروم: 52

    Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar dan (tidak pula) menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan, apabila mereka telah berpaling ke belakang. (Fa-thir: 22)

    … وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ (13) إِنْ تَدْعُوهُمْ لاَ يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلاَ يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ. فاطر: 13-14

    ….Dan orang-orang yang kalian seru (sembah) selain Allah tidak mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kalian menyeru kepada mereka, mereka tidak akan dapat mendengar seruan kalian. Dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaan kalian. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikan kalian dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepada kalian sebagaimana yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui. (Fathir: 13-14)

    Ayat ini berbicara tentang perbuatan kaum musyrikin yang meminta-minta kepada para wali dan para nabi seperti kaum Nashrani yang meminta kepada Isa dan kaum Musyrikin Arab yang meminta kepada kuburan orang Shalih Latta.
    Dan Allah subhanahu wa Ta’ala menyatakan bahwa mereka tidak mendengar doa mereka.
    Ini merupakan dalil bahwa orang shalih atau bahkan nabi sekalipun yang telah wafat tidak dapat mendengar, kecuali pada saat-saat tertentu yang telah dikabarkan dalam beberapa hadits yang shahih.
    Kalimat Allah “…وَلَوْ سَمِعُوا” yakni “Dan kalau mereka mendengar…”, menunjukkan bahwa pada saat-saat tertentu mereka mendengar; seperti ketika diberi salam, ketika dibangkitkan untuk ditanya oleh dua malaikat dan lain-lain. Maka Allah subhanahu wa Ta’ala mengatakan kalaupun mereka dapat mendengar, mereka tidak akan dapat mengabulkan permintaan kalian. Karena mereka telah mati dan terputus seluruh amalannya, tidak dapat beramal apa pun, dan tidak dapat membantu dengan bantuan apa pun.

Jadi, atas dasar apakah mereka meratap dan meminta pada kuburan-kuburan orang shalih?!
Adapun adanya dalil-dalil yang seakan-akan mengesankan bahwa orang-orang yang mati masih dapat mendengar, dijelaskan oleh para ulama hal itu bukan merupakan hukum asalnya, tapi hanya bersifat kasuistik (pada kasus tertentu) dan temporer, seperti yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma :

وَقَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى قَلِيبِ بَدْرٍ فَقَالَ هَلْ وَجَدْتُمْ مَا وَعَدَ رَبُّكُمْ حَقًّا ثُمَّ قَالَ إِنَّهُمُ اْلآنَ يَسْمَعُونَ مَا أَقُولُ فَذُكِرَ لِعَائِشَةَ فَقَالَتْ إِنَّمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّهُمُ اْلآنَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّ الَّذِي كُنْتُ أَقُولُ لَهُمْ هُوَ الْحَقُّ ثُمَّ قَرَأَتْ (إِنَّكَ لاَ تُسْمِعُ الْمَوْتَى) حَتَّى قَرَأَتِ اْلآيَةَ رواه البخاري

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berhenti di atas sumur di Badr, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Bukankah telah kalian dapatkan bahwa apa-apa yang telah dijanjikan oleh Rabb kalian adalah benar?” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Sesungguhnya mereka sekarang ini mendengarkan apa yang aku ucapkan”. Maka ketika disebutkan (hal ini) kepada Aisyah radhiallahu ‘anha , beliau radhiallahu ‘anha berkata: “Hanya saja Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Sesungguhnya mereka sekarang mengetahui bahwa sesungguhnya apa yang telah aku ucapkan pada mereka adalah haq”. Kemudian beliau radhiallahu ‘anha membaca ayat: إِنَّكَ لاَ تُسْمِعُ الْمَوْتَى (Sesung-guhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar) hingga akhir ayat”. (HR. Bukhari, Nasa’i, dan Ahmad).

Dalam riwayat lain, para shahabat mempertanyakan ucapan nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada mayat-mayat tadi seperti perkataan Umar ibnul Khathab:

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا تُكَلِّمُ مِنْ أَجْسَادٍ لاَ أَرْوَاحَ لَهَا.

Ya Rasulullah apakah engkau berbicara kepada mayat-mayat yang tidak memiliki ruh? (HR. Bukhari)

Dari kedua hadits di atas kita mendapatkan dua kesimpulan:
Ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits pertama dengan kalimat اْلآنَ (sekarang ini), dapat dipahami bahwa sesungguhnya mereka tidak dapat mendengar pada selain waktu itu, dan inilah yang tepat.
Faedah yang penting ini telah dikabarkan oleh al-‘Allamah al-Alusy dalam kitabnya Ruhul Ma’aani (6/455): “Di da-lamnya terdapat peringatan yang kuat bahwa sesungguhnya hukum asal dari orang yang telah mati adalah mereka tidak dapat mendengar. Hanya saja orang-orang yang dilempar dalam sumur pada saat itu dapat mendengarkan panggilan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam karena diperdengarkannya (ucapan Nabi) oleh Allah kepada mereka, sebagai kejadian luar biasa dan merupakan mu’jizat bagi nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Lihat Al-Ayaatul Bayyinat Fie ‘Adami Sima’il Am-waat, Mahmud Alusy).

Disebutkan dalam Tafsir al-Qurthubi (13/232): “…Maka kisah Badr ini merupakan kejadian luar biasa (mukjizat) yang Allah berikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena Allah telah mengembalikan kepada mereka pendengarannya, yang dapat mendengarkan perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan kalau pun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengabarkan akan pendengaran mereka, maka panggilan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada mereka merupakan cercaan kepada orang-orang yang telah kafir dan merupakan obat penenang bagi dada-dada orang beriman”. (Li-hat Al-Ayaatul Bayyinat Fie ‘Adami Sima’il Amwaat, Mahmud Aaluusy).
Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyetujui ucapan Umar dan lainnya dari para shahabat atas apa-apa yang telah menjadi keyakinan bagi mereka bahwa orang yang telah mati tidak akan dapat mendengar.
Lebih jelas lagi apa yang telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad (3/286) dengan sanad yang shahih atas syarat Muslim, dari hadits Anas bin Malik rahimahullah:

…فَسَمِعَ عُمَرُ صَوْتَهُ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتُنَادِيهِمْ بَعْدَ ثَلاَثٍ وَهَلْ يَسْمَعُونَ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ (إِنَّكَ لاَ تُسْمِعُ الْمَوْتَى). رواه أحمد

…Maka Umar mendengar suara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya bertanya; “Wahai Rasulullah apakah mereka dapat mendengarkan (ucapan) engkau setelah tiga hari? Apakah mereka dapat mendengar? Bukankah Allah azza wa jalla telah berfirman: “إِنَّكَ لاَ تُسْمِعُ الْمَوْتَى (Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar)”. (HR. Ahmad)

Dari hadits ini telah jelas bagi Umar dan para shahabat Rasulullah radhiallahu ‘anhum bahwa ayat yang tersebut di atas adalah inti dari pembahasan ini yakni orang-orang yang telah dikubur (mati) tidak akan dapat mendengar ucapan orang yang masih hidup.

Oleh karena itu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada mayat-mayat orang kafir yang dimasukkan ke dalam sumur Badr, para shahabat mempertanyakannya. Dan karena telah menjadi kesulitan bagi para para shahabat, maka Rasulullah menjelaskan kepada mereka untuk menghilangkan kesulitan ini dengan kalimat اْلآنَ (sekarang ini), yakni kekecualian pada saat tersebut.

Pendapat Ulama dari madzhab Hanafi
Karena kebanyakan keyakinan ini bersumber dari India, Pakistan dan Banglades yang kebanyakan mereka mengaku madzhab Hanafi, perlu kiranya kita sebutkan pendapat Ulama mereka.
Dalam kitab Al-Fatawa al-Bazaziyah –yang merupakan salah satu kitab madz-hab Hanafi– disebutkan: “Ulama kami berkata bahwa barangsiapa yang menyatakan ruh-ruh para syaikh yang telah mati dapat hadir dan mengetahui, maka dia telah kafir”. (Fathul Majid, Alu Syaikh, Cet. Darul Kutubil Ilmiyah, , hal. 179)

Juga berkata Syaikh Shun’ullah al-Hanafi: “Sekarang telah muncul di kalangan kaum muslimin sekelompok orang yang menganggap bahwa para wali mempunyai peranan di alam ini ketika hidup dan setelah matinya, hingga mereka meratap dan meminta kepadanya di kala terjadi bencana dan musibah. Mereka menganggap dengan mementingkan para wali tersebut akan tersingkap segala macam kesulitan. Mereka mendatangi kuburan-kuburannya, memanggil-manggilnya dan memohon untuk ditunaikan hajat-hajat mereka. Mereka berdalil bahwa yang demikian adalah merupakan karomah yang Allah berikan kepada para wali tersebut (keramat -pent.) Mereka menyebutnya Abdal, Nuqaba, Autad, Nujaba, Sab’un wa sab’ah, arba’un wa arba’ah dan al-Qutub yang merupakan pimpin-an tertinggi para wali –menurut anggapan mereka, pent.–. Kemudian mereka memperbolehkan memberikan kurban-kurban, sembelihan-sembelihan (untuk sesajen -pent.) serta membolehkan nadzar-nadzar untuk kuburan dan ruh para wali tersebut dan meng-anggap akan mendapatkan pahala. Ucapan ini adalah ucapan yang melampaui batas dan sangat berle-bihan, bahkan merupakan kebinasa-an yang abadi dan akan mendapatkan adzab selama-lamanya, karena di dalamnya terdapat syirik besar yang sebenar-benarnya dan menentang ki-tab yang mulia dan maha benar yaitu al-Qur’an. Ucapan ini juga menyelisihi akidah para imam dan ulama dan apa yang telah disepakati oleh umat secara ijma’. (Fathul Majid, Alu Syaikh, Cet. Darul Kutubil Ilmiyah, hal. 179)

Wallahu a’lam

Sumber : Risalah Dakwah Manhaj Salaf Edisi: 62/Th. II 11 Rabi’ul Akhir1426 H/20 M e i 2005 M

Risalah Dakwah MANHAJ SALAF, Insya Allah terbit setiap hari Jum’at. Ongkos cetak dll Rp. 200,-/exp. tambah ongkos kirim. Pesanan min 50 exp. bayar 4 edisi di muka. Diterbitkan oleh Yayasan Dhiya’us Sunnah, Jl. Dukuh Semar Gg. Putat RT 06 RW 03, Cirebon. telp. (0231) 222185. Penanggung Jawab & Pimpinan Redaksi: Ustadz Muhammad Umar As-Sewed; Sekretaris: Ahmad Fauzan/Abu Urwah, HP 081564634143; Sirkulasi/pemasaran: Abu Abdirrahman Arief Subekti..

Published in: on 30 Januari 2010 at 14:21  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: ,

The URI to TrackBack this entry is: https://adealam.wordpress.com/2010/01/30/orang-yang-telah-mati-tidak-dapat-mendengar/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: