Tercelanya Ikhtilaf (Perselisihan)

Penulis : Ustadz Muhammad Umar As-Sewed

Berawal dari kaidah toleransi, muncullah pemikiran untuk memaklumi adanya perselisihan dan ikhtilaf. Bahkan pada akhirnya mereka justru memuji ikhtilaf seraya menyatakan bahwa ikhtilaf adalah rahmat.

Orang yang dirahmati tidak berikhtilaf
Bagi seorang muslim yang berpegang dengan al-Qur’an dan as-sunnah dan berjalan di jalan generasi pertamanya tentu akan mengatahui bahwa ikhtilaf adalah jelek, tercela dan merupakan adzab bukan rahmat. Hal itu karena telah dijelaskan dalam al-Qur’an:

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلاَ يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ (118) إِلاَّ مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ… هود: 118-119

…Jikalau Rabb-mu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabb-mu… (Huud: 118-119)

Dalam ayat di atas disebutkan bahwa manusia senantiasa berikhtilaf kecuali mereka yang dirahmati oleh Allah. Hal ini menunjukkan makna yang sangat jelas bahwa orang-orang yang dirahmati oleh Allah subhanahu wa Ta’ala tidak akan berselisih dan sebaliknya mereka yang senantiasa berselisih bukan golongan yang dirahmati Allah.

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata: “Allah menciptakan golongan yang di-rahmati agar mereka tidak berselisih”. (Ahkamul Qur’an, Abu Bakr ibnul Arabi, 3/1072; lihat Zajrul Mutahaawin, hal. 28)

Abu Muhammad Ibnu Hazm rahimahullah berkata: “Allah mengecualikan orang-orang yang dirahmati dari golongan orang-orang yang berselisih. Maka orang-orang yang dirahmati keluar dan terpisah dari orang-orang yang berselisih”. (idem)

Asy-Syathibi rahimahullah berkata: “Sesungguhnya ayat tersebut menunjukkan bahwa golongan yang berselisih dibedakan dengan golongan yang dirahmati. Maka tampak jelas bahwa golongan yang dirahmati bukan golongan yang berselisih”. (al-I’tisham, Syathibi, 2/169)

Ibnu Wahb rahimahullah berkata: “Aku mendengar imam Malik rahimahullah berkata tentang ayat ini: “Orang-orang yang dirahmati Allah tidak berselisih” (al-Ah-kam, 5/66)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Allah mengkhabarkan bahwa golongan yang dirahmati tidak berselisih yaitu orang-orang yang mengikuti para nabi secara ucapan dan perbuatan, yaitu golongan al-Qur’an dan hadits dari umat ini. Maka Barang siapa yang menyelisihi mereka akan berkurang rahmatnya sesuai dengan kadar penyelisihannya”. (Majmu’ Fata-wa, 4/25)

Ikhtilaf adalah kebiasaan orang-orang kafir
Ayat lain tentang hal ini adalah firman Allah subhanahu wa Ta’ala:

وَلاَ تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ. ال عمران: 105

Dan janganlah kalian menjadi seperti orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat. (Ali Imran: 105)

Dari ayat di atas pun sangat jelas menerangkan bahwa kita kaum muslimin dilarang berpecah-belah dan berselisih setelah datangnya kejelasan.
Bagi orang-orang kafir yang tidak memiliki agama yang satu, maka wajar jika mereka berikhtilaf dan berpecah-belah. Demikian pula orang-orang musyrik yang beribadah kepada banyak tuhan dan orang-orang yang membuat syariat sendiri wajarlah kalau mereka berikhtilaf.

Adapun umat Islam yang beribadah kepada ilah yang satu, mengikuti nabi yang satu dan memiliki syariat yang baku dari Allah dan rasul-Nya, maka tidak semestinya mereka berikhtilaf dan berpecah-belah.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

…وَلاَ تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (31) مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ. الروم: 31-32

Dan janganlah kalian menjadi orang-orang musyrik, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. (ar-Ruum: 31-32)

Tercelanya ikkhtilaf
Sebagai contoh, pada suatu saat ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama para shahabatnya singgah di suatu lembah, mereka berpencar-pencar di tempat-tempat yang berjauhan, maka beliau <i.shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ تَفَرُّقَكُمْ فِي هَذِهِ الشُّعابِ وَاْلأَوْدِيَةِ إِنَّمَا ذَلِكُمْ مِنَ الشَّيْطَانِ. (رواه أبو داود وصححه الشيخ الألباني في سنن أبي داود)

Sesungguhnya berpecah-pecahnya kalian di lembah-lembah tersebut adalah dari setan. (HR. Abu Dawud; Syaikh al-Albani menshahihkannya dalam Sunan Abi Dawud)

Maka sejak saat itu setiap singgah di suatu tempat, para shahabat tidak berpencar-pencar, tetapi berkumpul di satu tempat.

Perhatikanlah, nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang untuk berpecah-belah meskipun secara lahirnya. Tentu saja apabila perpecahan terjadi dalam keyakinan dan pemahaman akan lebih jelek lagi.
Contoh lain lagi adalah apa yang dilakukan oleh Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu. Beliau radhiallahu ‘anhu berpendapat bahwa shalat di Mina ketika haji adalah dengan diqashar 2 rakaat 2 rakaat. Namun karena amirul mukminin, khalifah Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu shalat dengan menggenapkan 4 rakaat, maka Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu pun ikut shalat bersamanya genap 4 rakaat. Ketika ada yang bertanya kepada beliau: “Mengapa engkau shalat bersamanya?” beliau radhiallahu ‘anhu menjawab:

الْخِلافُ شَرٌّ. رواه أبو داود

Perselisihan itu jelek. (Atsar riwayat Abu Dawud)

Muzani rahimahullah berkata: “Allah mencerca ikhtilaf dan perselisihan dan memerintahkan untuk kembali kepada al-Qur’an dan sunnah. Kalau saja ikhtilaf dalam agama ini tidak tercela dan pertikaian itu mengandung rahmat, tentu tidak akan diperintahkan untuk kembali kepada al-Qur’an dan sunnah”. (Jami’ Bayanil Ilmu wa Fadhlihi, 2/910)

Demikian pula apa yang dikatakan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu: “Putuskanlah apa yang kalian putuskan, aku tidak suka perselisihan hingga manusia menjadi satu jama’ah atau aku mati seperti matinya para shahabatku”. (Atsar riwayat Bukhari no. 3707)

Oleh karena itulah para ulama menyampaikan bahwa al-jama’ah (kebersamaan) adalah rahmat sedangkan furqah (perpecahan) adalah adzab.

Abu Ja’far ath-Thahawi rahimahullah berkata: “Kami berpendapat bahwa al-Jama’ah adalah hak dan kebenaran. Sedangkan furqah (perpecahan) adalah penyimpangan dan adzab”. (Aqidah ath-Thahawiyah, 2/775)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Sesungguhnya jama’ah adalah rahmat, sedangkan perpecahan adalah adzab”. (Majmu’ Fatawa, 3/421)

Maka bagaimana mungkin dikatakan ikh-tilaf sebagai rahmat?

Kepalsuan hadits “Ikhtilaf adalah rahmat”
Adapun hadits yang berbunyi:

اخْتِلاَفِ أُمَّتِي رْحْمَةٌ. حديث لا أصل له. انظر ضعيف الجامع الصغير رقم 230 والسلسلة الضعيفة رقم 57 للشيخ الألباني

Perbedaan yang terjadi pada umatku adalah rahmat.

Adalah hadits lemah sanad dan matannya. Hadits tersebut tidak tersebut dalam kitab-kitab hadits mana pun dengan lafadh seperti itu (tidak ada asalnya/laa ashla lahu). (Lihat Dhaiful Jami’ ash-Shaghir hadits no. 230 dan Silsilah adh-Dhaifah hadits no. 77, Syaikh al-Albani)

Kalaupun ada hadits lain dengan lafadh yang berbeda yaitu:

وَاخْتِلاَفُ أَصْحاَبِي لَكُمْ رَحْمَةٌ. موضوع

Dan ikhtilaf yang terjadi pada para shahabatku adalah rahmat bagi kalian.

Hadits ini pun hadits yang tidak dikenal di kalangan pakar-pakar ahlul hadits sebagaimana dikatakan oleh as-Subkhi rahimahullah dalam Faidhul Qadir. Beliau rahimahullah berkata: “Hadits ini tidak dikenal di kalangan para ulama pakar-pakar ilmu hadits. Dan aku tidak mendapatkan satu sanad-pun yang shahih, dhaif maupun yang maudhu’” (Faidhul Qadir, 1/212)

Abu Muhammad Ibnu Hazm rahimahullah berkata: “Adapun hadits tersebut adalah batil dan merupakan kedustaan orang-orang fasiq”. (al-Ahkam fi Ushulil Ah-kam, 5/61)

Syaikh al-Albani rahimahullah berkata; “Ringkasnya bahwa ikhtilaf adalah tercela dalam syariat ini. Yang diwajibkan adalah berupaya untuk melepaskan dari diri perselisihan sebisa mungkin, karena yang demikian merupakan sebab kelemahan umat ini sebagaimana Allah subhanahu wa Ta’ala katakan:

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلاَ تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ. الأنفال: 46

Dan ta’atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kalian berbantah-bantahan, yang menyebabkan kalian menjadi gagal dan hilang kekuatan kalian dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (al-Anfaal: 46)

Jadi tidak ada pilihan lain kecuali aku katakan kepada mereka: “Kalau ikhtilaf yang terjadi pada umatku adalah rahmat, maka apakah persatuannya merupakan adzab?” (Silsilah adh-Dhaifah, 1/77)

Ikhtilaf adalah akibat dosa-dosa
Perselisihan dan ikhtilaf yang terjadi di tengah-tengah kaum muslimin adalah adzab yang disebabkan dosa-dosa mereka.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

كَيْفَ بِكَ يَا عَبْدَ اللهِ إِذَا كُنْتَ فِي حُثَالَةٍ مِنَ النَّاسِ؛ قَدْ مَرِجَتْ عُهُودُهُمْ وَأَمَانَاتُهُمْ وَاخْتَلَفُوا فَصَارُوا هَكَذَا؟ –وَشَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ- رواه البخاري معلقا

Bagaimana denganmu wahai Abdullah jika engkau berada di tengah manusia rendahan yang tidak memegang janji, telah hilang amanah-amanah dan mereka mereka berikhtilaf seperti ini –beliau menyilang-nyilangkan jari jemarinya–?” (HR. Bukhari)

Dalam riwayat lainnya juga dikatakan:

مَا تَوَادَّ اثْنَانِ فِي اللَّهِ، ثُمَّ يُفَرِّقُ بَيْنَهُمَا إِلاَّ بِذَنْبٍ يُحْدِثُهُ أَحَدُهُمَا. رواه البخاري في أداب المفرد 104، وصححه الألباني في الصحيحة 637

Tidaklah 2 orang saling mencintai karena Allah kemudian dipisahkan antara keduanya, kecuali karena dosa yang dilakukan oleh salah satunya”. (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad. Syaikh al-Albani menshahihkannya dalam ash-Shahihah, no. 637)

Ikhtilaf akibat kebid’ahan-kebid’ahan
Adapun orang-orang yang menambah-nambah dalam agama ini dari hasil pemikirannya sendiri, maka mereka pasti akan terjatuh dalam ikhtilaf. Hal itu dikarenakan pemikiran dan pendapat manusia saling berbeda dan berlawanan. Oleh karena itu para ulama menafsirkan ayat:

إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا… الأنعام: 159

Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan… (al-An’aam: 159)

bahwa mereka adalah ahlul bid’ah.
Al-Baghawi rahimahullah berkata: “Mereka adalah ahlul bid’ah dan pengikut hawa nafsu”. (Syarhus Sunnah, al-Baghawi, 1/210)

Asy-Syathibi rahimahullah berkata: “Perpecahan adalah sifat yang khas dari ahlul bid’ah”. (Al-I’tisham, 1/113)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Kebid’ahan selalu beriringan dengan perpecahan, sedangkan sunnah selalu beriringan dengan kebersamaan (jama’ah). Maka dikatakan ahlus sunnah wal jama’ah, sebagai-mana pula dikatakan ahlul bid’ah wal furqah”. (al-Istiqamah, 1/42)

Jalan keluar dari ikhtilaf

  1. Jika ikhtilaf terjadi karena kebodohan, maka diselesaikan dengan menebarkan ilmu.
  2. Jika ikhtilaf terjadi karena dosa-dosa, maka diselesaikan dengan taubat dan istighfar.
  3. Jika ikhtilaf terjadi karena kebid’ahan, maka diselesaikan dengan memperingatkan umat dari bahaya bid’ah dan ahlul bid’ah.

Wallahu a’lam

Sumber : Risalah Dakwah Manhaj Salaf Edisi: 131/Th. III 05 Safar 1428 H/23 Februari 2007 M

Risalah Dakwah MANHAJ SALAF, Insya Allah terbit setiap hari Jum’at. Ongkos cetak dll Rp. 200,-/exp. tambah ongkos kirim. Pesanan min 50 exp. bayar 4 edisi di muka. Diterbitkan oleh Yayasan Dhiya’us Sunnah, Jl. Dukuh Semar Gg. Putat RT 06 RW 03, Cirebon. telp. (0231) 222185. Penanggung Jawab & Pimpinan Redaksi: Ustadz Muhammad Umar As-Sewed; Sekretaris: Ahmad Fauzan/Abu Urwah, HP 081564634143; Sirkulasi/pemasaran: Abu Abdirrahman Arief Subekti HP 081564690956.

The URI to TrackBack this entry is: https://adealam.wordpress.com/2010/01/30/tercelanya-ikhtilaf-perselisihan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: