HUKUM SHOLAT WITIR

Penulis : Ustadz Muhammad Umar As-Sewed

Shalat witir adalah shalat ganjil yang dikerjakan pada malam hari, waktunya memanjang dari setelah isya’ sampai sebelum terbitnya fajar. Walaupun shalat ini bukan termasuk shalat wajib, namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah meninggalkannya, baik dalam keadaan muqim (tinggal di daerahnya) maupun dalam keadaan safar (bepergian). Shalat witir adalah sebaik-baik shalat setelah shalat wajib
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ. رواه مسلم رقم 1163

Sebaik-baik puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram. Dan sebaik-baik shalat setelah shalat fardhu adalah shalat lail. (HR. Muslim)

Diriwayatkan pula dari Abu Umamah al-Bahili radhiallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:

عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأَبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ وَهُوَ قُرْبَةٌ إِلَى رَبِّكُمْ وَمَكْفَرَةٌ لِلسَّيِّئَاتِ وَمَنْهَاةٌ لِلْإِثْمِ. (رواه الترمذي رقم 3549، والحاكم في ((المستدرك)) 1/308)

Atas kalian untuk menegakkan shalat malam! Karena sesungguhnya itu adalah kebiasaan orang-orang shalih sebelum kalian. Ia merupakan pendekatan kalian kepada Rabb kalian, menghapuskan dosa-dosa kalian dan menghalangi kalian dari dosa-dosa. (Hadits Hasan Riwayat Tirmidzi dan Hakim; dihasan-kan oleh Syaikh al-Albani dalam Irwaul Ghalil, 2/199;Lihat Bughyatul Mutathawwi’, hal. 45)

Diriwayatkan pula dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ زَادَكُمْ صَلاَةً فَحَافِظُوا عَلَيْهَا وَهِيَ الْوَتْرُ. رواه أحمد 2/206، 208، وابن أبي شيبة في المصنف 2/297

Sesungguhnya Allah menambahkan untuk kalian satu shalat, maka peliharalah dia, yaitu shalat witir. (HR. Ahmad dan Ibnu Abi Syaibah; dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Irwaul Ghalil, 2/159; Lihat Bughyatul Mutathawwi’, hal. 46)

Sengaja kami bawakan hadits-hadits tentang shalat malam sebagai dalil ten-tang hukum shalat witir karena tidak ter-pisah shalat witir dengan shalat malam. Dengan kata lain, bahwa shalat witir harus selalu mengiringi shalat malam. Sebagaimana ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

اجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا. رواه البخاري رقم 998 ومسلم رقم 751

Jadikanlah akhir shalat malam kalian adalah witir. (Muttafaq alaihi)

Shalat witir adalah haq
Diriwayatkan pula dari Abdullah ibnu Buraidah radhiallahu ‘anhuma, dari ayahnya bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الْوِتْرُ حَقٌّ. رواه أحمد في المسند، 4/274 وابو داود رقم 1419

Shalat witir adalah haq. (HR. Ahmad dan Abu Dawud dengan derajat hasan li ghairihi; lihat Bughyatul Mutathawwi’, oleh Muhammad Ibnu Umar ibnu Salim Ibnu Bazmul, hal. 47)

Demikian pula dalam riwayat Abu Ayyub al-Anshari, dikatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الْوِتْرُ حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِخَمْسٍ فَلْيَفْعَلْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِثَلاَثٍ فَلْيَفْعَلْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِوَاحِدَةٍ فَلْيَفْعَلْ. رواه أبو داود مع عون المعبود، 1/534

Witir adalah haq atas setiap muslim. Barang siapa yang suka silakan mengerjakan witir dengan lima rakaat, barang siapa yang suka silakan mengerjakannya dengan tiga rakaat dan barang siapa yang suka untuk mengerjakan satu rakaat pun silakan. (Dalam riwayat lain): Barang siapa yang ingin mengerjakan witir tujuh rakaat silakan. Barangsiapa yang suka silakan lima rakaat. Barangsiapa yang suka silakan tiga rakaat. Barangsiapa yang suka silakan satu rakaat. Dan barang siapa yang suka silakan dengan isyarat. (HR. Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Majah)

Oleh karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat witirnya dalam safar di atas kendaraan yang tentunya dengan menggunakan isyarat.
Diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata:

كَانَ يُوْتِرُ عَلَى الْبَعِيْرِ. متفق عليه

Bahwasanya beliau shallallahu ‘alaihi wasallam shalat di atas untanya. (muttafaq alaihi)

Teguran bagi orang yang meninggalkan shalat witir
Maka orang yang meninggalkan shalat witir –walaupun bukan wajib–, ia diingkari dan ditegur seperti riwayat dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiallahu ‘anhuma, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya:

يَا عَبْدَاللَّهِ لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ. رواه البخاري رقم 1152، ومسلم رقم 1159

Wahai Abdullah, jangan kau seperti fulan! Tadinya ia bangun malam, kemudian ia tinggalkan. (HR. Bukhari Muslim)

Demikian pula tentang Ali bin Abi Thalib, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengetuk rumahnya pada satu malam. Kemudian mengingatkannya untuk shalat malam:

أَلاَ تُصَلِّيَانِ؟ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنْفُسُنَا بِيَدِ اللَّهِ فَإِذَا شَاءَ أَنْ يَبْعَثَنَا بَعَثَنَا فَانْصَرَفَ حِينَ قُلْنَا ذَلِكَ وَلَمْ يَرْجِعْ إِلَيَّ شَيْئًا ثُمَّ سَمِعْتُهُ وَهُوَ مُوَلٍّ يَضْرِبُ فَخِذَهُ وَهُوَ يَقُولُ ( وَكَانَ اْلإِنْسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلاً). رواه البخاري رقم 1127 ومسلم رقم 775

Tidakkah kalian berdua (yakni Ali dan Fatimah –pent.) shalat?. Maka Ali pun menjawab: Jiwa-jiwa kami di tangan Allah. Allah kehendaki kami bangun, maka kami pun akan bangun. Maka Rasulullah pun berpaling sambil membacakan ayat Allah subhanahu wa Ta’ala:

وَكَانَ اْلإِنْسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلاً.

Memang manusia banyak berdebat. (Muttafaq alaihi)

Jarh bagi yang meninggalkan witir
Memperhatikan betapa pentingnya shalat witir, maka para ulama menyikapi orang-orang yang meninggalkan sunnah witir ini dengan keras, bahkan mereka berpendapat bolehnya mengingkari orang yang meninggalkan shalat witir.

Imam Malik rahimahullah berkata: “Shalat witir tidaklah wajib, namun orang yang meninggalkannya harus diberi pelajaran dan jatuh derajatnya dalam persaksian (majruh). (Dinukil oleh Ibnu Hazm 2/314; lihat Dharuratul Ihtimam, hal. 62)

Demikianlah yang terkenal dalam madzhab malikiyyah adalah ucapan Syahnun rahimahullah: “Orang yang meninggalkan shalat witir dijarh (tidak diterima riwayatnya)”. Berkata pula Asbugh rahimahullah: “Orang tersebut harus diberi pelajaran”. (Lihat Syarh Zarruq terhadap ar-Risalah). (Lihat footnote Dharuratul Ihti-mam, hal. 62)

Imam Ahmad rahimahullah berkata: “Barangsiapa meninggalkan shalat witir secara sengaja, maka dia adalah orang yang jelek dan tidak sepantasnya untuk diterima riwayatnya”. (al-Mughni, 2/594; (Lihat Dharuratul Ihtimam, hal. 62)

Yang terus-menerus meninggalkan witir adalah fasiq
Ibnu Muflih rahimahullah berkata: “Beliau berkata demikian terhadap orang yang tidak pernah mengerjakannya atau sering meninggalkannya, karena ia dianggap fasiq. Demikian pula terhadap orang yang meninggalkan sunnah-sunnah rawatib secara terus-menerus. Karena dengan ditinggalkannya secara terus-menerus akan muncul sifat enggan terhadap sunnah, sedangkan nabi صلى الله عليه وسلم ber-sabda:

مَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي. متفق عليه

Barangsiapa yang tidak suka terhadap sunnahku, maka dia bukan termasuk golonganku. (muttafaq ‘alaihi)” (al-Furu’ 6/560-561; lihat Dharuratul Ihtimam, hal. 62)

Demikianlah beliau rahimahullah mengatakan bahwa orang yang terus-menerus meninggalkan satu sunnah –yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah meninggalkannya—seperti shalat witir dan sunnah rawatib khususnya sunnah fajar merupakan tanda kalau dia tidak suka terhadap sunnah atau akan menimbulkan gejala tidak yakinnya bahwa itu adalah sunnah. Tentu berbeda hukumnya antara orang yang meninggalkan sesuatu yang tidak wajib dengan orang yang tidak suka terhadap ajaran tersebut.

Berkata penulis kitab al-Fushul: “Terus-menerus meninggalkan sunnah rawatib adalah tidak diperbolehkan”. Kemudian beliau berdalil dengan ucapan imam Ahmad tentang shalat witir, karena yang demikian menunjukkan ketidak-sukaannya terhadap sunnah.

Setelah menukil ucapan imam Ahmad rahimahullah, ia pun berkata: “Ucapan beliau ini menunjukkan bahwa beliau menghukumi orang yang meninggalkannya terus-menerus sebagai orang yang fasiq”.

Dinukil pula oleh beberapa ulama bahwa orang yang meninggalkan shalat witir tidak adil.
Nawawi rahimahullah berkata: “Barangsiapa yang membiasakan meninggalkan sunnah-sunnah rawatib, maka ia ditolak persaksiannya. Karena berarti dia meremehkan agama dan menunjukkan kalau ia tidak peduli dengan perkara-perkara yang sangat penting”. (Lihat Dharuratul Ihtimam, hal. 63)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Shalat witir adalah sunnah muakkad (sunnah yang sangat ditekankan) dengan kesepakatan kaum muslimin, barang siapa yang terus-menerus meninggalkannya, maka dia adalah seorang yang fasiq”.

Beliau rahimahullah pernah ditanya tentang orang yang selalu meninggalkan sunnah-sunnah rawatib, maka ia menjawab: “Barang siapa yang terus-menerus meninggalkannya menunjukkan rendahnya agama dia dan ditolak persaksiannya menurut madzhab Imam Ahmad, Imam Syafii dan lain-lain”. (Majmu’ Fatawa, 23/ 88; Lihat Dharuratul Ihtimam, hal. 64)

Shalat witir adalah sunnah mu’akaddah
Shalat witir adalah shalat sunnah yang paling ditekankan dan paling utama di atas seluruh shalat-shalat sunnah lainnya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Shalat witir adalah shalat sunnah yang lebih ditekankan di atas shalat sunnah rawatib yang mengiringi shalat dhuhur, maghrib dan isya’. Shalat witir adalah shalat sunnah yang paling utama di atas seluruh shalat sunnah siang hari seperti shalat dhuha. Bahkan paling utama setelah shalat wajib ada-lah shalat lail khususnya shalat witir dan dua rakaat shalat fajar”. (Majmu’ Fatawa, 23/88)

Imam Syathibi rahimahullah berkata: “Jika sebuah amal bersifat anjuran secara parsial, maka dia wajib secara global seperti adzan di masjid-masjid jami’, shadaqadah, nikah, shalat witir dan shalat rawatib. Maka semuanya memiliki hukum mandub (anjuran) secara parsial. Namun jika ditinggalkan secara keseluruhan (tidak pernah melakukan-nya, maka orag itu tercela). (al-Muwaffaqat, 1/7980; lihat Dharuratul Ihti-mam, hal. 65)

Demikianlah kaidah yang diterangkan oleh imam Syathibi rahimahullah kalau meninggalkan satu sunnah dari sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, apalagi sunnah muakkad seperti shalat witir dan shalat sunnah fajar secara terus-menerus, maka ia telah meninggalkan satu kewajiban yaitu kewajiban mencintai sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka tentunya orang yang meninggalkan secara terus-menerus menunjukkan bahwa ia tidak suka dan tidak peduli terhadap agamanya. Berbeda dengan orang yang meninggalkannya sesekali karena satu dan lain hal, maka ia tidak tercela karena memang ia tidak wajib.

Sumber : Risalah Dakwah Manhaj Salaf Edisi: 137/Th. III 25 Rabi’ul Awwal 1428 H/13 April 2007 M

Risalah Dakwah MANHAJ SALAF, Insya Allah terbit setiap hari Jum’at. Ongkos cetak dll Rp. 200,-/exp. tambah ongkos kirim. Pesanan min 50 exp. bayar 4 edisi di muka. Diterbitkan oleh Yayasan Dhiya’us Sunnah, Jl. Dukuh Semar Gg. Putat RT 06 RW 03, Cirebon. telp. (0231) 222185. Penanggung Jawab & Pimpinan Redaksi: Ustadz Muhammad Umar As-Sewed; Sekretaris: Ahmad Fauzan/Abu Urwah, HP 081564634143; Sirkulasi/pemasaran: Abu Abdirrahman Arief Subekti..

Iklan
Published in: on 31 Agustus 2010 at 07:09  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://adealam.wordpress.com/2010/08/31/hukum-sholat-witir/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: