Islam Tidak Menyuruh Dakwah Kepada Kekuasaan Negeri, Namun Menyuruh Dakwah Kepada Tauhid (2)

Syaikh Abdul Malik Ramadhani Al Jazairi

Karena berbagai kepentingan, mereka mencela da’i-da’i yang menyeru kepada tauhid dengan anggapan bahwa usaha para da’i tersebut hanya menghabiskan waktu, sementara umat dalam kondisi terkepung oleh musuh dari segala penjuru dan tempat. Mereka melemparkan tuduhan keji terhadap orang-orang yang berjuang untuk membela tauhid dengan mengatakan bahwa para da’i ini hanya akan memecah belah kaum muslimin dan tidak akan bisa menyatukan mereka. Mereka menamakan usaha pembelaan terhadap hak Allah ini dengan nama yang tidak semestinya supaya manusia lari darinya. Mereka mengistilahkan dakwah tauhid ini dengan “Pernyataan-pernyataan yang kacau” atau “Debat orang-orang Romawi Timur (Bizantium)”. Kita berlindung kepada Allah dari kemurkaan-Nya. Keterangan di atas menjadi bekal bagi kamu menghadapi orang-orang yang menyeru kepada akidah yang rusak yang menjelek-jelekkan orang-orang yang menyelisihinya. Tidak ada gunanya membantah mereka (terlampau dalam) di sini, karena dasarnya mereka memang sudah rusak.

Oleh karena itu, Nabi Shallallahu’alaihi wasallam senantiasa menekankan kepada para da’i untuk memperhatikan benar-benar perkara ini dan agar mereka memulai dakwahnya dengan tauhid. Disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Radhiallahu’anhu bahwa beliau berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda kepada Mu’adz bin Jabal Radhiallahu’anhu tatkala beliau Shallallahu’alaihi wasallam mengutusnya ke negeri Yaman:

إنك تأتي قوما من أهل الكتاب، فليكن أول ما تدعوهم إليه شهادة أن لا إله إلا الله – وفي رواية : إلى أن يوحدوا الله -، فإن هم أطاعوك لذلك فأعلمهم أن الله افترض عليهم خمس صلوات في كل يوم وليلة، فإن هم أطاعوك لذلك فأعلمهم أن الله افترض عليهم صدقة تؤخذ من أغنيائهم فترد على فقرائهم، فإن هم أطاعوك لذلك فإياك وكرائم أموالهم، واتق دعوة المظلوم فإنه ليس بينها وبين الله حجاب”

“Sesungguhnya engkau akan mendatangi Ahlul Kitab. Jika engkau telah sampai kepada mereka maka ajaklah mereka untuk bersaksi bahwa tidak ada llah (yang berhak disembah) kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasullullah.” (Dalam riwayat lain: “Maka jadikan yang kamu seru pertama kali kepada mereka adalah ibadah kepada Allah.”) (Dalam riwayat lain: “Supaya mereka mentauhidkan Allah.”) “Kalau mereka menaatimu (Dalam riwayat lain: “Apabila mereka telah mengenal Allah”), maka kabarkan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka shalat lima kali sehari semalam. Apabila mereka telah menaatimu dalam perkara itu, kabarkanlah bahwa Allah mewajibkan atas mereka zakat yang diambil dari orang- orang kaya mereka dan diberikan kepada para fakirnya. jika mereka menaatimu dalam perkara itu, maka berhati-hatilah engkau terhadap harta mereka yang bagus- bagus (jangan sampai engkau hanya mau mengambil dan mengutamakan harta mereka yang bagus-bagus) sebagai zakat dan takutlah kamu terhadap doa orang yang teraniaya, karena sesungguhnya tidak ada hijab (penghalang) antara dia dengan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits yang agung di atas ini tidak memberikan pilihan lain bagi orang yang telah siap berdakwah. Allah berfirman:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا مُبِينًا

“Dan tidaklah pantas bagi orang mukmin laki-laki dan mukmin perempuan, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan lain bagi mereka. Barang-siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya dia telah sesat sejauh-jauhnya.”(QS. Al Ahzab: 36)

Namun kenapa sekarang manusia terheran-heran dan menganggap aneh keutamaan tauhid ini. Padahal hak Allah Azza wajalla sebagai satu-satunya Ilah yang patut disembah adalah hak yang paling layak untuk dipenuhi dan diucapkan dengan lidah. Itulah hak Allah. Akan tetapi, mengapa hal ini diremehkan oleh para pemuka dan tokoh manhaj-manhaj dakwah yang ada sekarang ini? Bukankah aturan Allah yang paling berhak untuk ditaati dan dipakai aturan-Nya??!

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Tauhid adalah kunci dari dakwah para rasul…..” Kemudian beliau menyebutkan hadits Mu’adz di atas. [Madarikus Salikin (3/3)]

Tauhid merupakan dakwah setiap rasul ‘alaihimus shalaatu wassalaam. Dan Allah sekali-kali tidak akan melapangkan dada orang yang merasa sempit dengan jalan itu. Allah Ta’ala berfirman:

لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya. Dia berkata: ‘Hai kaumku, sembahlah Allah. (Sekali-kali) tidak ada bagi kalian sesembahan yang lain selain Dia.’ (QS. Al A’raf: 59)

وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

“Dan kepada kaum ‘Aad (Kami utus) saudara mereka, Huud.Dia berkata: ‘Hai kaumku, sembahlah Allah! (Sekali-kali) tidak ada bagi kalian sesembahan yang lain selain Dia.’ (QS. Al A’raf: 65)

وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

<i.”Dan kepada kaumTsamud (Kami utus) saudara mereka Shalih yang berkata, ‘Hai kaumku, sembahlah Allah! (Sekali-kali) tidak ada sesembahan yang lain selain Dia. ‘“(QS. Al A’raf: 73)

وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

“Kepada penduduk Madyan (Kami utus) saudara mereka, Syu’aib. Dia berkata: ‘Hai kaumku, sembahlah Allah! (Sekali-kali) tidak ada bagi kalian sesembahan yang lain selain Dia.'”‘ (QS. Al A’raf: 85)

Demikianlah. Sekalipun umat para rasul itu berbeda-beda dan beragam pula permasalahannya, akan tetapi dakwah kepada tauhid tetap sebagai dasar yang paling penting, baik yang mereka hadapi masalah ekonomi, seperti kaum Madyan, atau yang mereka hadapi masalah politik, karena mereka (umat para rasul tersebut) waktu itu tidak berhukum dengan hukum yang diturunkan oleh Allah. Dan cahaya dakwah tauhid yang diberkahi ini janganlah padam sampai kapanpun lantaran adanya anggapan bahwa tauhid telah bersemayam di hati setiap manusia. Apakah kalian tidak mendengar permohonan pemimpin orang-orang yang bertauhid, Nabi Ibrahim Al Khalil ‘alaihis salaam. Karena beliau sangat takut terkena syirik, beliau berdo’a:

رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الأصْنَامَ. رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ

“Ya Rabb-ku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman dan jauhkanlah aku dan anak cucuku dari menyembah kepada berhala-berhala. Ya Rabb-ku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah banyak menyesatkan manusia.” (QS. Ibrahim: 35-36)

Berkata Mughirah bin Miqsam: Pernah Ibrahim At Taimi berkata, “Siapakah orang yang merasa aman dari bencana terjatuh kepada syirik setelah Khalilullah Ibrahim ‘alaihis salaam, yang berkata: Ya Tuhanku, jauhkanlah aku dan anak-anakku dari menyembah patung-patung?’ [Riwayat Ibnu Jarir di dalam Tafsirnya (71460 cetakan Daar Al Kutub Al ‘llmiyah)]

Berkata Syaikh Mubarak Al Maili rahimahullah:
“Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam tidak henti-hentinya melarang manusia menjadikan patung-patung sebagai sekutu-sekutu bagi Allah padahal beliau sendirian (di Mekah). Beliau tidak pernah melalaikan (dakwah tauhid) walaupun diboikot oleh beberapa kabilah suku Quraisy selama tiga tahun hingga mengalami kesulitan hidup. Beliau tidak pernah melupakannya sekalipun beliau sedang bersembunyi dari kejaran musuh yang berusaha keras mencarinya. Beliau tiada pernah berhenti membicarakan (tauhid) walaupun beliau telah memperolah kemenangan di Madinah di tengah-tengah para pembelanya. Beliau tidak pernah berhenti menyelami dan membahasnya sekalipun kota Makkah telah dibuka dan ditundukkan. Beliau tidak lalai darinya, meskipun beliau sibuk berjihad, menyerang musuh, kemudian meraih kemenangan. Beliau tidak mencukupkan dengan hanya mengajak dan meminta bai’at para pengikutnya untuk tetap berjihad, tetapi lebih dari itu beliau mengingatkan mereka untuk mengembalikan kehormatan bai’at tersebut dengan berjalan di atas tauhid dan menghapus kesyirikan. Inilah kisah dan perjalanan hidup yang ditempuh oleh beliau Shallallahu’alaihi wasallam yang terekam dalam sejarah dan benar-benar merupakan kenyataan. Oleh karena itu, telusurilah jalan tersebut niscaya kalian akan menemukan kebenaran dari apa yang telah kami kemukakan dan akan mendapatkan penjelasan rinci dari apa yang kami sebutkan secara global tersebut.” [Risaalah Asy Syirki wa Mazhahiruhu hal. 19]

Kemudian ketika tauhid telah kokoh di dada kaum muslim dan bendera Islam telah berkibar tinggi, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mendengar kabar bahwa di Yaman ada sebuah patung yang disembah yang bernama Dzul Khalashah. Beliau tidak bisa tidur tenang dan hati beliau gundah gulana. Beliau kemudian mengutus Jarir bin Abdullah Radhiallahu’anhu ke Yaman. Jarir Radhiallahu’anhu berkata Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda kepadaku: “Tidakkah engkau ingin membuatku tenang dari Dzul Khalashah?” Aku jawab, “‘Ya wahai Rasulullah.” Jarir melanjutkan: “Maka segeralah aku berangkat bersama seratus lima puluh pasukan penunggang kuda dari suku Ahmas, padahal aku sendiri tidak begitu mahir berkuda. Kemudian saya beritahukan hal ini kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam lalu beliau pun menepuk dadaku dengan tangannya sampai-sampai aku melihat bekas tepukan telapak tangan beliau di dadaku seraya berdoa, ‘Ya Allah, kokohkanlah dia (berada di atas punggung kuda) dan jadikanlah dia seorang pemberi petunjuk dan yang ditunjuki.’ Maka setelah itu aku tidak pernah terjatuh dari atas punggung kuda.” Dia (Jarir) berkata: “Dulu Dzul Khalashah adalah nama sebuah rumah di Yaman milik dua orang yang bernama Khats’am dan Bajilah. Di dalamnya terdapat patung-patung yang disembah yang mereka istilahkan dengan ‘Ka’bah’.” Periwayat berkata: “Maka dia mendatanginya, membakarnya dan memecahkannya.”

Diriwayatkan: ketika Jarir bin Abdullah Radhiallahu’anhu beserta pasukannya baru saja tiba di Yaman, ada seorang laki-laki yang suka mengundi nasib dengan anak- anak panah. Kemudian dikatakan kepada orang itu, “Sesungguhnya utusan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam sedang berada di sini. Bisa jadi dia nanti akan membunuhmu.” Periwayat berkata, “Maka tatkala dia sedang memukulkan anak- anak panahnya, tiba-tiba Jarir berdiri di sisinya dan berkata, “Kamu pecahkan anak- anak panah itu dan bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah atau saya penggal lehermu.”

Periwayat berkata, “Orang itu dengan serta-merta bangkit dan menghancurkan berhala-berhala tersebut dan bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah.”

Setelah itu Jarir mengutus seseorang dari suku Ahmas yang dijuluki Abu Arthaah memberi kabar gembira kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam. Tatkala dia menemui Nabi Shallallahu’alaihi wasallam dia berkata: “Ya Rasulullah demi Dzat yang mengutus engkau dengan kebenaran, aku datang kembali kemari setelah aku membuat Dzul Khalashah dalam keadaan seperti unta terserang kudis. [1]

Maka Nabi Shallallahu’alaihi wasallam mendo’akan agar kuda-kuda Ahmas dan penunggang-penunggangnya diberi barakah, sebanyak lima kali.” [HR. Bukhari (4355-4357) dan Muslim (136-137) dan yang lainnya]

Hadits di atas mengandung dua hal:

  1. Ibnu Hajar menjelaskan sabda Nabi Shallallahu’alaihi wasallam: “Tidakkah engkau ingin membuatku tenang dari….” Dia berkata, “Yang dimaksud dengan ketenangan di sini adalah ketenangan hati [raahatul qalb). Tidak ada yang lebih melelahkan hati Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam selain masih adanya syirik, penyembahan kepada selain Allah Ta’ala.” [Al Fath (8172)]
  2. Termasuk kebiasaan Nabi Shallallahu’alaihi wasallam apabila sangat berharap dalam berdo’a beliau mengulanginya sebanyak tiga kali, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Ibnu Mas’ud Radhiallahu’anhu dan yang lainnya. Akan tetapi di sini Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam mengulang doa sampai lima kali karena permasalahan tauhid merupakan perkara yang paling mendapat prioritas untuk dido’akan dan ditolong. Oleh karenanya, pahamilah dengan benar perkara ini! [Lihat: Al Fath (8/74)]

[Diambil dari kitab Sittu Duror min Ushuul Ahlil Atsar, Penulis Asy Syaikh Abdul Malik Ramadhani Al Jazairi, Penerbit Maktabah Al Ilmiyah, Judul Asli: Landasan 1 – Ikhlash]

_________
Footnote
[1] Maksudnya: Dia menjadi seperti unta yang dilumuri dengan ter karena berpenyakit kudis sebagai isyarat bahwa berhala itu menjadi hitam karena terbakar. Demikian dikatakan oleh Al Khattabi. Fathul Baari(8/83)

Published in: on 31 Agustus 2010 at 07:26  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://adealam.wordpress.com/2010/08/31/islam-tidak-menyuruh-dakwah-kepada-kekuasaan-negeri-namun-menyuruh-dakwah-kepada-tauhid-2/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: