Islam Tidak Menyuruh Dakwah Kepada Kekuasaan Negeri, Namun Menyuruh Dakwah Kepada Tauhid (6 – Habis)

Syaikh Abdul Malik Ramadhani Al Jazairi

Riya’.
Sebagaimana halnya tauhid yang merupakan lawan dari syirik, maka lawan ikhlas adalah riya’. Dan sebagaimana cahaya ikhlas akan padam dari hati seseorang yang berpenyakit ‘ujub atau bangga terhadap diri sendiri, maka demikian pula halnya dengan penyakit riya’. Ikhlas tidak akan pernah bersanding dengannya. Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ رِئَاءَ النَّاسِ وَلا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلا بِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَنْ يَكُنِ الشَّيْطَانُ لَهُ قَرِينًا فَسَاءَ قَرِينًا

“Dan orang-orang yang menginfakkan harta-harta mereka karena riya’ kepada manusia, dan tidak didasari iman kepada Allah dan hah akhir. Barangsiapa yang menjadikan setan sebagai teman, maka (setan itu) sejelek-jelek teman.” (QS. An Nisaa: 38)

Riya’ adalah sifat orang munafik yang paling nyata, karena mereka menampakkan apa yang tidak ada di batin mereka. Allah Ta’ala berfirman:

يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلا قَلِيلا

“Mereka riya’ kepada manusia dan tidak berdzikir kepada Allah kecuali sedikit.”(QS. An Nisa: 142)

Karena itu, syarat (diterimanya) taubat mereka adalah dengan cara memurnikan ketaatan hanya untuk Allah saja. Alah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الأسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا. إِلا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَاعْتَصَمُوا بِاللَّهِ وَأَخْلَصُوا دِينَهُمْ لِلَّهِ فَأُولَئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) di neraka pada tingkatan yang paling bawah. Dan kamu sekalian tidak akan mendapat seorang penolong pun untuk mereka. Kecuali orang-orang yang bertaubat dan melakukan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah serta memurnikan agama mereka hanya untuk Allah, maka mereka itulah bersama orang-orang yang beriman.” (QS. An Nisa: 145- 146)

Jadi, segala amal perbuatan yang tidak bertujuan mencari wajah Allah Subhanahu waTa’ala maka tidak akan diterima. Justru amal seperti itu hanya akan menjadi bencana bagi pelakunya di hari kiamat. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu bahwa beliau berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

قال اللَّه تعالى: أنا أغنى الشركاء عن الشرك، من عمل عملاً أشرك فيه معي غيري تركته وشركه

“Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: ‘Aku adalah Dzat yang paling tidak butuh sekutu. Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal dibarengi dengan menyekutukan selain Aku dengan-Ku, maka Aku akan meninggalkan orang tersebut bersama dengan sekutunya.’” (HR. Muslim no. 2985)

Dalam riwayat lain: “Maka Aku berlepas diri darinya dan dia bersama yang dia sekutukan.” (HR. Ibnu Majah no. 4202, shahih)

Disebutkan bahwa pengertian ikhlas [1] adalah kesesuaian antara yang tampak dengan yang tersembunyi di dalam hati dalam segala tindak dan laku seorang hamba. Sedang riya adalah ketika yang tampak lebih baik dari yang tersembunyi di dalam hati. Keikhlasan yang benar dan jujur adalah ketika hati seorang hamba lebih baik dibanding amalan yang tampak.

Bilal bin Sa’ad rahimahullah berkata: “janganlah anda menjadi wali Allah di hadapan manusia tetapi ketika anda sedang sendiri menjadi musuh-Nya.” [2]

Pengertian yang terakhir tentang ikhlas yang benar merupakan perwujudan dari firman Allah Ta’ala:

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ

“Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan sedekah tersebut kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu.” (QS. Al Baqarah: 271)

Ikhlas yang benar adalah salah satu dari tujuh penyebab seorang hamba mendapat perlindungan di hari yang tidak ada lagi perlindungan kecuali perlindungan-Nya sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Shallallahu’alaihi wasallam:

ورجل تصدّق بصدقةفأحفاهاحتّى لاتعلم شماله ماتنفق يمينه

“Dan seorang laki-laki yang bersedekah dengan sedekah secara sembunyi- sembunyi, sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari no. 660 dan Muslim no. 1031)

Manusia biasanya suka menutupi kejelekan mereka tapi tidak suka menutupi kebaikan mereka, karena mereka ingin nampak terhormat di hadapan orang lain. Bahkan kamu lihat kebanyakan mereka suka (beramal) ketika bersama orang banyak dan malas ketika sendirian. Karena itu dikatakan: “Ikhlas itu engkau tidak meminta persaksian pada amalanmu kecuali kepada Allah dan tidak meminta balasan selain dari-Nya.”

Seandainya seseorang bersungguh-sungguh untuk menutupi kebaikannya dari manusia sebagaimana dia bersungguh-sungguh menutupi kejelekannya dari mereka, niscaya dia akan mencapai derajat orang-orang yang ikhlas sebagaimana perkataan Abu Hazim Salmah bin Dinar rahimahullah, “Tutupilah kebaikan-kebaikanmu sebagaimana kamu menutupi kejelekan-kejelekanmu.” (Riwayat Abu Nu’aim, Al Baihaqi dan yang lainnya) [3]

Juga disebutkan bahwa ikhlas adalah hanya meniatkan untuk Allah subhanahu saja dalam melaksanakan ketaatan. Atau ikhlas adalah membersihkan perbuatan dari mencari perhatian makhluk. Karena itu pernah dikatakan kepada Sahl, “Perkara apa yang paling sulit bagi jiwa manusia?” Dia berkata: “Yang paling berat adalah ikhlas, dikarenakan jiwa sendiri tidak mempunyai bagian didalamnya.”

Abu Bakar Al Mawardzi berkata: “Aku mendengar seorang laki-laki berkata kepada Abu ‘Abdillah menyebutkan tentang kejujuran dan keikhlasan. Dalam jalan yang lain ditanya, “Dengan apa orang-orang suatu kaum itu bisa mencapai derajat yang tinggi hingga mereka dipuji” Abu ‘Abdillah berkata: ‘Dengan ikhlas ini suatu kaum terangkat derajatnya.’” (Riwayat Ibnul jauzi dalam Manakib Imam Ahmad) [4]

Para imam umat Islam tidak menginginkan ketenaran atau popularitas. Justru sebaliknya, mereka ingin agar tidak terkenal. Mereka memelihara keikhlasan, mereka takut jangan sampai hati mereka terkena fitnah ‘ujub (bangga diri). Di antara manusia ada yang diuji dengan sesuatu yang bisa menimbulkan fitnah ‘ujub (bangga diri), untuk kembali oleh orang yang menyanjungnya, atau dicium tangannya, dilapangkan tempatnya dalam suatu majelis, disebutkan namanya secara khusus dalam suatu bacaan doa dengan tujuan mendapatkan berkahnya dan lain sebagainya. [Lihat Al Fawaid oleh Ibnul Qayyim hal. 223]

Berkata Hammad bin Zaid rahimahullah: “Saya pernah berjalan bersama Ayyub tapi beliau melewati jalan-jalan yang membuat diriku heran dan bertanya-tanya kenapa beliau sampai berbuat seperti ini (berputar-putar melewati beberapa jalan). Ternyata beliau berbuat seperti itu karena beliau tidak mau orang-orang mengenal beliau dan berkata: ‘Ini Ayyub, ini Ayyub! Ayyub datang, Ayyub datang!'” (Riwayat Ibnu Sa’ad dan yang lainnya) [5]

Hammad berkata lagi: “Ayyub pernah membawa saya melewati jalan yang lebih jauh, maka saya pun berkata: ‘Jalan ini lebih dekat!’ Beliau menjawab: ‘Saya menghindari kumpulan orang-orang di jalan tersebut.’ Dan memang apabila dia memberi salam, akan dijawab oleh mereka dengan jawaban yang lebih baik dari jawaban kepada yang lainnya. Dia berkata: ‘Ya Allah sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku tidak menginginkannya! Ya Allah sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku tidak menginginkannya!'” [6]

Abu Zar’ah Yahya bin Abu ‘Amr bercerita: Pernah Adh Dhahhak bin Qais keluar untuk memohon hujan bersama-sama dengan orang-orang, tapi ternyata hujan tidak turun dan beliau juga tidak melihat awan. Beliau berkata: “Dimana gerangan Yazid bin Al Aswad?” (dalam satu riwayat: tidak seorang pun yang menjawab pertanyaan beliau. Beliau pun bertanya lagi: “Dimana Yazid bin Al Aswad Al Jurasyi? Jika beliau mendengar, saya sangat berharap beliau berdiri”). “Ini saya”, seru Yazid. “Berdirilah dan tolonglah kami ini di hadapan Allah. Jadilah kamu perantara kami agar Allah menurunkan hujan kepada kami,” kata Adh Dhahhak bin Qais. Kemudian Yazid pun berdiri seraya menundukkan kepala sebatas bahu serta menyingsingkan lengan baju beliau kemudian berdoa: “Ya Allah, sesungguhnya hamba-hamba-Mu ini memohon syafaatku kepada-Mu.” Beliau berdoa 3 kali, dan seketika itu pula turunlah hujan yang sangat deras sehingga hampir terjadi banjir. Kemudian beliau pun berkata: “Sesungguhnya kejadian ini membuat saya dikenal orang banyak. Bebaskanlah saya dari keadaan seperti ini.” Kemudian hanya berselang satu hari, yaitu Jum’at setelah peristiwa ini beliau pun wafat.”[7]

Definisi ikhlas mencakup beberapa pengertian dalam penjelasan terdahulu, adalah seperti yang dijelaskan oleh Abu Utsman Sa’id bin Isma’il rahimahullah. Dia berkata: “Ikhlas yang benar adalah tidak menghiraukan perhatian makhluk karena terus- menerus memperhatikan Al Khaliq. Sedangkan ikhlas itu sendiri adalah engkau menginginkan keridhaan Allah Ta’ala dengan hatimu, amalanmu dan perbuatanmu dibarengi rasa takut dari kemurkaan-Nya, seakan-akan engkau melihat-Nya disertai keyakinan bahwa Dia melihatmu sehingga musnahlah riya’ dari hatimu. Kemudian ingatlah bahwa semua itu atas karunia dan pemberian Allah kepadamu. Allahlah yang telah memberi petunjuk kepadamu untuk mengerjakan atau melakukan suatu amal perbuatan dengan karunia-Nya tersebut. Bila kamu bisa bersikap demikian, penyakit ‘ujub bisa hilang dari hatimu. Dan bersikap lemah lembutlah dalam setiap amal perbuatanmu, agar penyakit terburu-buru bisa hilang dari hatimu. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُوْنَ فِي شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ

“Sesungguhnya kelembutan itu tidaklah ada pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya (menjadikan sesuatu itu indah). Dan tidaklah dihilangkan kelembutan itu dari sesuatu melainkan akan memperjeleknya.” (Shahih, HR. Muslim no. 2594)

Berkata Abu ‘Utsman: “Sikap tergesa-gesa itu mengikuti hawa nafsu, sedangkan kelembutan mengikuti sunnah. Apabila engkau telah menyelesaikan amalanmu maka hendaknya hatimu merasa khawatir dan takut kepada Allah kalau amalanmu tidak diterima. Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al Mukminun: 60)

Barangsiapa yang merealisasikan empat sifat ini (yakni jujur, ingat akan karunia Allah, lemah lembut, dan tidak tergesa-gesa serta takut tidak diterima amalannya), niscaya dia akan menjadi orang yang ikhlas dalam amalannya, insya Allah. [8]

Perhatikanlah bagaimana beliau mengatakan bahwa sikap ar rifqu mengikuti sunnah! Yang demikian itu karena jiwa memiliki banyak keinginan atau kecenderungan. Dan apabila jiwa menyukai sesuatu, maka dia akan cenderung untuk cepat-cepat mencari dan mendapatkannya karena hal-hal (yang dapat menjadikannya puas dan nikmat) berada disitu. Dan hawa nafsu atau keinginan jiwa itu tidak akan terkontrol arahnya melainkan dengan At Ta’anni (ketenangan). Dengan ketenangan memungkinkan seseorang untuk mengoreksi amalannya dengan kaca mata sunnah agar tetap berada dalam kebenaran, tidak dengan kaca mata hawa nafsu. Karena itu berkata Ibrahim Al Khawwash: “Al ‘Ajalah (terburu-buru) menghalangi tercapainya kebenaran.” [9]

Yang terakhir, bahwa tema atau pembahasan tentang ikhlas ini sangatlah panjang. Bahkan pembahasan tentang masalah ini adalah pembahasan terbesar dalam agama kita yang hanif ini. Di sini saya hanya mengemukakan dasar-dasarnya saja yang tidak boleh disepelekan.

[Diambil dari kitab Sittu Duror min Ushuul Ahlil Atsar, Penulis Asy Syaikh Abdul Malik Ramadhani Al Jazairi, Penerbit Maktabah Al Ilmiyah, Judul Asli: Landasan 1 – Ikhlash]

_________
Footnote
[1] Lihatlah definisi ini dan setelahnya dalam Madaarijus Salikin
[2] Riwayat Ahmad dalam Az-Zuhd (hal. 385), Al Faryabi dalam Shifatul Munafiq (91), Abu Fadhl Az Zuhry dalam (401), Abu Nu’aim dalam Al Hilyah (5/228), Al Baihaqi dalam Asy Syu’ab (6548) dan Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyq (10/488- 489), Adz Dzahabi di As Siyar (11/518). Dan shahih riwayatnya sekalipun di dalamnya ada Al Walid bin Muslim seorang yang meriwayatkan dengan lafadz Akan tetapi pada sebagian jalan-jalan yang lain dia menyebutkan dengan lafadz “telah menceritakan kepadaku.” Kemudian dia ikuti riwayatnya oleh Baqiyah bin Al Walid sebagaimana terdapat pada salah satu dari dua jalan Abu Nu’aim.
[3] Riwayat Al Fasawi dalam Al Ma’rifah dan At Tarikh (1/ 679), Abu Nu’aim dalam Al Hilyah (3/240), Al Baihaqi dalam Asy Syu’ab (6496), Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyq (22/ 68) dan dia shahih dan dalam riwayat Al Baihaqi dalam Asy Syu’ab (6500) dengan latadz: “Sembunyikanlah kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan kejelekanmu dan janganlah sekali-kali kamu bangga dengan amalanmu, karena engkau tidak tahu apakah kelak engkau termasuk yang celaka atau yang bahagia?”
[4] Riwayat Ibnul Jauzi dalam Manaqib Imam Ahmad (hal. 267 dan hal. 274) dari tiga jalan yang sebagiannya men-shahih-kan sebagian yang lain.
[5] Riwayat Ibnu Sa’ad (7/239), Al Fasawi dalam Al Ma’rifah dan At Tarikh (2/232) dan Shahih.
[6] Riwayat Ibnu Sa’ad (7/248) dan Al Fasawi (2/239 -pada penggal yang terakhir). Atsar ini Shahih.
[7] Riwayat Al Fasawi dalam Al Ma’rifah dan At Tarikh (2/381), dan dari jalan Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyq (65/112), Al Baihaqy dalam Asy Syu’ab (6577) dan dari jalan Ibnu ‘Asakir juga (65/113). Diriwayatkan oleh Abu Zur’ah Ad Dimsyiqi dalam (1704 -secara ringkas) juga dari jalan Ibnu Asyakir (65/113 -secara ringkas) Dalam sanadnya ada rawi bernama Ayyub bin Syuwaid, dengan mutabaah.
[8] Riwayat Al Baihaqi dalam Asy Syu’ab (6475)
[9] Riwayat Al Baihaqi dalam Asy Syu’ab (6477) dengan sanad yang shahih

————–T A M M A T———————–

Published in: on 31 Agustus 2010 at 07:37  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://adealam.wordpress.com/2010/08/31/islam-tidak-menyuruh-dakwah-kepada-kekuasaan-negeri-namun-menyuruh-dakwah-kepada-tauhid-6-habis/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: