Membela Sunnah Nabawiyah (1)

Penulis : Ustadz Muhammad Umar as-Sewed

Hari ini, dengan linangan air mata kita menyaksikan tragedi yang menimpa kaum muslimin di mana-mana. Umat Islam dewasa ini telah ditimpa musibah hampir di segala bidang. Pengetahuan mereka terhadap syariat Islam semakin krisis. Hal ini merupakan kemerosotan yang luar biasa jika dibandingkan dengan jaman-jaman sebelumnya.

Namun alhamdulillah, sebagian besar kaum muslimin telah memahami kelemahan dan kemerosotan ini dan berlomba-lomba memperbaiki keadaan diri dan umatnya. Akan tetapi sungguh sangat disesalkan apabila mereka bergerak dengan semangat saja tanpa merujuk (berpegang) kepada al-kitab dan as-sunnah. Mereka masing- masing mencari dan memutuskan metode dan ide-ide baru (baca: bid’ah). Di mana yang setiap “ide” tersebut memiliki pendukung dan pengikut. Akhirnya muncullah musibah berikutnya yaitu pelecehan terhadap sunnah nabawiyyah, karena setiap ide bid’ah tidak akan pernah cocok dengan sunnah. Dan orang yang telah puas dengan bid’ah, tidak akan merasa perlu dengan sunnah.

Baiklah, marilah kita simak ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tentang masalah ini dalam kitabnya Iqtidla As-Shirathil Mustaqim:

“… jika seorang hamba memenuhi beberapa kebutuhannya dengan selain amal-amal yang disyariatkan, akan berkurang keinginannya terhadap perkara-perkara yang disyariatkan. Dan berkuranglah manfaat yang dia peroleh, sesuai dengan banyaknya perkara baru (bid’ah) yang dia penuhi. Berbeda dengan seorang yang mengarahkan keinginan dan semangatnya pada yang disyariatkan. Maka sungguh akan semakin besar kecintaan dan manfaatnya yang dia peroleh, hingga makin sempurnalah agamanya dan makin lengkaplah keislamannya. Oleh karena itu engkau jumpai orang yang banyak mendengar sya’ir-sya’ir untuk memperbaiki hatinya, akan berkurang kemauannya untuk mendengarkan Al-Qur`an bahkan sampai tidak menyukainya. Seseorang yang banyak bepergian untuk berziarah ke tempat-tempat keramat atau sejenisnya, maka tidak akan tersisa di dalam hatinya kecintaan dan pengutamaan terhadap haji ke baitul haram sebagaimana kecintaan sesorang yang hatinya dipenuhi sunnah. Seseorang yang gandrung mengambil hikmah dan adab-adab dari tokoh-tokoh hikmah Romawi dan Persia, tidak akan tersisa tempat di dalam hatinya untuk mengambil hikmah-hikmah dan adab-adab Islam. Demikian pula seseorang yang gandrung terhadap cerita raja-raja dan perjalanan hidup mereka, tidak akan tersisa perhatiannya terhadap kisah-kisah para Nabi dan riwayat hidup mereka. Hal seperti ini sangat banyak terjadi.

Perhatikanlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Tidaklah suatu kaum mengada-adakan satu kebid’ahan, kecuali Allah akan mencabut dari mereka satu sunnah yang sebanding dengannya (HR. Imam Ahmad 4/105 dan disebutkan oleh Imam Suyuthi dalam Jami’us Shaghir, juz 2 hal. 480 hadits no. 7790. Beliau berkata: hadits ini hasan, demikian dalam Tahqiq Iqtidla. Adapun Abdus Salam bin Barjas menyatakan bahwa sanad hadits ini lemah, lihat Al-Hujaj Al- Qawiyyah, hal. 86).

Hal ini akan didapati oleh seorang yang melihat dirinya dari kalangan orang berilmu, ahli ibadah, para pemerintah atau pun orang awam.” (Iqtidla As-Shirathil Mustaqim 1/483-484).

Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu berkata:

Tidaklah suatu ummat mengada-adakan suatu bid’ah dalam Dien mereka, kecuali akan Allah angkat dari mereka suatu sunnatul huda dan tidak akan kembali selamanya. (diriwayatkan oleh Muhammad bin Nashr dalam kitab As-Sunnah, hal. 24; lihat Al-Hujaj Al-Qawiyyah, hal. 41).

Perhatikan pula ucapan Ahmad bin Sinan Al-Qaththan:

Tidak ada seorang mubtadi’ pun di dunia, kecuali ia membenci ahlul hadits. Jika seseorang mengada-adakan suatu bid’ah, maka akan dicabut kemanisan hadits (sunnah) dari hatinya. (diriwayatkan oleh Abu Utsman As-Shabuni dalam Aqidatus Salaf Ashabil Hadits, hal 116-117. Berkata Syaikh Badr Al-Badr dalam Tahqiqnya: Riwayat ini sanadnya hasan).

Demikian pula perhatikanlah ucapan Imam Al-Auza’i yang senada dengan ucapan di atas. Beliau berkata:

Tidak ada seorang pun dari ahlul bid’ah yang engkau ajak bicara dengan hadits yang tidak sesuai dengan bid’ahnya, kecuali dia mesti membenci hadits itu. (Diriwayatkan oleh Imam Al-Lalika`i, lihat Sallus Suyuf, hal. 84).

Dan masih banyak lagi ucapan para ulama yang senada yang menjelaskan bahwa pelaku bid’ah atau ahlul bid’ah pasti akan membenci sunnah sesuai dengan tingkat kebid’ahannya. Semakin tinggi kebid’ahannya, semakin tinggi pula kebenciannya terhadap sunnah dan ahlus sunnah. Fenomena ini telah nyata terbukti sejak dulu hingga sekarang ini.

Sumber: Majalah Salafy edisi XIII, Sya’ban – Ramadhan 1417 H

Iklan
Published in: on 31 Agustus 2010 at 16:33  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://adealam.wordpress.com/2010/08/31/membela-sunnah-nabawiyah-1/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: