Memperingati 17-an Antara Ketaatan dan Kemaksiatan I (Kewajiban Kembali Kepada Al Quran dan As Sunnah Dalam Beragama)

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Afifudin

إن الحمدلله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذبالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له.
وأشهد أن لاإله إلا الله وحده لاشريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله.
أما بعد :
فإن خير الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد j وشر الأمورمحدثاتُها
وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار

Ketahuilah, semoga Allah memberi hidayah kita semua ke jalan yang benar, bahwa prinsip mendasar lagi agung yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam beragama adalah kembali kepada bimbingan Allah ta’ala dan bimbingan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam serta memahaminya dengan pemahaman generasi terbaik umat ini dari kalangan para Shahabat, para tabi’in, dan tabi’ut tabi’in baik itu dalam masalah aqidah, ibadah, akhlaq, mu’amalah, dan semua aspek kehidupan, duniawiyah ataupun ukhrowiyah. Prinsip inilah yang menghantarkan umat manusia kepada kebahagiaan dunia dan akhirat yang dengannya pula umat manusia akan selamat dari penyimpangan aqidah dan dekadensi (kerusakan) akhlaq.

Banyak sekali ayat-ayat Al Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah yang shahih serta ucapan-ucapan para ulama yang menjelaskan prinsip di atas. Berikut ini akan kami paparkan prinsip di atas agar kita semua kaum muslimin memahami dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Perlu diingat, bahwa prinsip ini berlaku untuk segenap kaum muslimin dari golongan mana pun, kelompok manapun, baik dia sebagai pemerintah maupun rakyat jelata, kapan pun dan di mana pun dia berada.

Pasal 1 : Kewajiban Kembali Kepada Al Quran dan As Sunnah Dalam Beragama

Berikut ini ayat-ayat yang menjelaskan masalah di atas:
Allah berfirman (artinya):

“Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Rabbmu; tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Dia, dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.” (QS. Al An’am: 106)

Dan Firman-Nya pula:

“Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), Karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al An’am: 153)

Dan Firman-Nya pula:

“Dan Al-Quran itu adalah Kitab yang kami turunkan yang diberkati, Maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat.” (QS. Al An’am: 155)

Dan Firman-Nya pula:

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya).” (QS. Al A’raaf: 3)

Dan Firman-Nya pula:

Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya Aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Rabb (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah Dia, supaya kamu mendapat petunjuk.” (QS. Al A’raaf : 158)

Dan Firman-Nya pula:

“Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan bersabarlah hingga Allah memberi keputusan dan Dia adalah Hakim yang sebaik- baiknya.” (QS. Yunus :158)

Dan Firman-Nya pula:

“Dan ikutilah apa yang diwahyukan Tuhan kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. ” (QS. Al Ahzaab: 2)

Dan Firman-Nya pula:

“Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya.” (QS.Az Zumar: 55)

Dan Firman-Nya pula:

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS. Al Jatsiyah: 18)

Dalam ayat yang lainnya Allah ta’ala menjadikan sikap mengikuti Rasulullah sebagai bukti kecintaan seseorang kepada-Nya dan sebagai sebab mendapatkan maghfiroh (ampunan) dari-Nya, Allah ta’ala menyatakan:

“Katakanlah: Jika kalian (benar- benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai dan mengampuni dosa- dosa kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imran : 31)

Di ayat yang lain Allah ta’ala memerintahkan segenap kaum muslimin untuk kembali kepada bimbingan Allah ta’ala dan Rasulullah di saat terjadi perselisihan dan perbedaan pemahaman di kalangan mereka dalam semua perkara kehidupan mereka, dan ini sebagai bukti keimanan kepada Allah ta’ala dan hari akhir serta sebagai solusi terbaik di masa sekarang dan akan datang. Allah ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian, jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar- benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. An Nisaa’ : 59)

Inilah sikap dan prinsip yang harus ditunjukkan oleh setiap muslim yakni mendengar dan menta’ati bimbingan Allah dan Rasulullah, Allah ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh”. Daan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. An-Nuur : 51)

Allah ta’ala juga berfirman: “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya. Maka sungguhlah dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (QS. Al Ahzab : 36)

Ayat yang paling jelas dan gamblang menjelaskan prinsip ini adalah firman Allah ta’ala:

“Apa-apa yang diberikan Rasul kepada kalian, maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagi kalian, maka tinggalkanlah.” (QS. Al Hasyr : 7)

Ayat di atas diuraikan dengan sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam

مَانَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوْا مِنْهُ مَااسْتَطَعْتُمْ

“Apa saja yang aku melarang kalian daripadanya maka jauhilah dan apa saja yang aku memerintahkan kepada kalian untuk melaksanakannya maka kerjakanlah semampu kalian.” (HR. Bukhary 13/251 – Fath dan Muslim 1337 dari Abu Huroiroh radliallahu anhu)

Dan masih banyak lagi ayat-ayat Al Qur’an yang dengan jelas dan tegas memerintahkan kaum muslimin untuk mengikuti bimbingan Al Qur’an dan Sunnah (ajaran) Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam, menjadikan keduanya sebagai ideologi dan barometer dalam menjalani kehidupan dunia menuju alam akhirat yang kekal abadi.

Belum lagi ayat-ayat yang mewajibkan kaum muslimin untuk meta’ati Allah dan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam yang itu merupakan bukti kejujuran seseorang dalam berupaya kembali dan mengikuti bimbingan Allah ta’ala dan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam. Ayat yang berbicara tentang masalah ini, jumlahnya tidak hanya satu, dua ayat namun puluhan, bahkan Al Imam Abu Bakr Muhammad bin Al Husein Al Ajurry yang wafat tahun 360 H. salah satu seorang imam besar madzhab Syafi’iyah pada zamannya menyebutkan ayat tentang masalah ini mencapai lebih dari 30 ayat di dalam Al Qur’an, periksa kitab Beliau ” Asy Syari’ah ” halaman 395 cetakan Darul Bashiroh Iskandariyah Mesir tanpa tahun

Ini semua menunjukkan dengan gamblang bahwa masalah ini adalah prinsip mendasar yang harus diyakini dan diamalkan oleh setiap muslim, adapun Hadits- hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam yang menjelaskan kewajiban kembali kepada bimbingan Allah ta’ala dan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam sangatlah banyak. Berikut ini akan kita bawakan beberapa di antaranya agar kita semua semakin yakin dan mantap akan kebenaran prinsip ini.

Dari Abu Huroiroh, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda :

كُلُّ أُمَّتِيْ يَدْخُلُوْنَ الجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبَى قَالُوْا: وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِيْ دَخَلَ الجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِيْ فَقَدْ أَبَى

“Semua umatku akan masuk surga kecuali yang enggan, para Shahabat bertanya : ‘Siapakah gerangan yang enggan itu ?’ jawab Beliau, orang yang ta’at kepadaku dia masuk surga dan yang durhaka kepadaku maka sungguh dialah orang yang enggan itu.” (HR. Bukhary 7280)

Dari Abu Huroiroh radliallahu’anhu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda :

تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تُضلُّوْا بَعْدَهُمَا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّتِي

“Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang dengannya. Yaitu Kitabullah dan Sunnahku.” (HR. Al Hakim 1/93 dan Beliau menshahihkannya) Hadits ini memiliki banyak penguat.

Dari Irbadl bin Sariyah, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda :

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ المَهْدِيِّيْنَ مِنْ بَعْدِيْ تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِدِ

“Barangsiapa di antara kalian yang hidup nanti maka dia akan menyaksikan perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang terbimbing sepeninggalku, pegangilah sunnahku dan gigitlah dengan geraham-geraham kalian.” (HR. Abu Dawud 4607, At Tirmidzy 2676, Ibnu Majah 440 dan Ahmad 4/126 dengan sanad yang shahih)

Dan masih banyak lagi hadits yang menjelaskan prinsip mulia nan agung ini,
wallahul muwaffiq.

Untuk melengkapi pembahasan ini dan semakin menjelaskan prinsip ini akan kita bawakan penjelasan ulama-ulama besar pada masa Shahabat dan generasi yang setelahnya yang semuanya mewajibkan kaum muslimin berpengang teguh dengan prinsip yang mulia ini, di antaranya :

Ubay bin Ka’ab a berkata, ” Ikutilah oleh kalian sunnah Rasulullah dan janganlah kalian membikin kebid’ahan…..” (Riwayat Muhammad bin Nasher Al Marwazy dalam As Sunnah (28) dan Ibnu Wadldloh dalam Al Bida’ (17)

Az Zuhry berkata, “Berpegang teguh dengan sunnah adalah keselamatan” (riwayat Al Lalikaiy 15)

Abul Aliyah berkata, “Wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnah nabi kalian dan apa yang dijalani oleh para Shahabat “. (riwayat Abdur Rozzaq dalam Al Mushonnaf 20758, Al Marwazy dalam Sunnah 8 dan Lalikaiy 17)

Al Auza’iy berkata, “Kita berjalan bersama dengan Sunnah kemanapun dia berjalan.” (riwayat Al Lalikaiy 47)

bersambung…

Published in: on 31 Agustus 2010 at 21:30  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://adealam.wordpress.com/2010/08/31/memperingati-17-an-antara-ketaatan-dan-kemaksiatan-i-kewajiban-kembali-kepada-al-quran-dan-as-sunnah-dalam-beragama/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: