Memperingati 17-an Antara Ketaatan dan Kemaksiatan II (Ancaman Keras Bagi Siapa Saja yang Menentang dan Menyelisihi Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Salam)

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Afifudin

Pasal 2 : Ancaman Keras Bagi Siapa Saja yang Menentang dan Menyelisihi Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Salam

Di antara argumentasi yang tegas dan akurat untuk menunjukkan kewajiban kembali kepada bimbingan Allah dan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam adalah adanya larangan dan ancaman keras bagi siapa saja yang berani menentang dan menyelisihi prinsip yang mulia ini. Ada beberapa ayat dan hadits yang menjelaskan permasalahan ini, berikut ini penjabarannya.

Allah ta’ala berfirman:

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih” (QS. An Nuur 63)

Kalimat (perintahNya) dalam ayat di atas ada sebagian ahli tafsir yang mengatakan : ‘Yang dimaksud adalah perintah Nabi dan ada lagi yang mengatakan perintah Allah, kedua pendapat ini tidak bertentangan sebab yang memerintah pada hakikatnya adalah Allah ta’ala sementara Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam sebagai muballigh-Nya.”

Dalam ayat yang mulia di atas Allah mengancam siapa saja yang menyelisihi perintah-Nya atau perintah Rasul-Nya atau perintah kedua-Nya dengan dua jenis hukuman yang keras, yang satu hukuman dunia dan yang lainnya adalah hukuman akhirat :

  1. Ditimpa fitnah di dunia
    Para ulama menjelaskan maksud fitnah dalam ayat ini dengan uraian yang beragam :

    • Fitnah adalah pembunuhan
    • Fitnah adalah Gempa
    • Fitnah adalah berkuasanya penguasa bengis dan kejam memimpin rakyat
    • Fitnah adalah hati mereka akan tertutup dari kebenaran

    Semua makna di atas bisa dipakai untuk menjelaskan maksud fitnah sebab lafal fitnah pada ayat di atas bersifat umum.

    Dengan penafsiran di atas jelas menunjukkan bahwa di antara akibat menentang sunnah adalah maraknya pembunuhan dengan berbagai macam modus, seringnya terjadi bencana alam seperti gempa, banjir, longsor, tsunami dan lain sebagainya. Masyarakat menjadi buta mata hatinya tanpa melihat lagi sisi kebenarannya secara syar’i dan juga Allah akan menguasakan atas mereka para pemimpin-pemimpin yang jahat, sadis, kejam, bengis, tidak ada rasa kasih pada rakyatnya dan segala macam perangai jahat seorang penguasa.

    Sungguh sangat mengerikan hukuman duniawi ini sebagai akibat dari perbuatan menentang sunnah Rasulullah apalagi hukuman di akhirat nanti.

  2. Ditimpa adzab yang pedih di akhirat.
    Ini semua menujukkan kewajiban kembali kepada sunnah Rasulullah dan keharaman menyelisihi dan menentangnya.

    Lihat uraian tentang ayat di atas dalam tafsir Fathul Qodir karya Imam Asy Syaukany 4/79 cetakan 2 Darul Wafa’ Al Manshuroh Mesir Th. 1997 M.
    Allah juga berfirman:

    “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”. (QS. An Nisaa’ : 115)

    Dalam ayat yang mulia ini ada ancaman yang tegas bagi orang-orang yang menentang Rasulullah setelah dia tahu bahwa apa yang Beliau bawa adalah al Haq, ada dua ancaman dalam ayat ini :

    • Di dunia, yaitu Allah akan menyimpangkan dia kemana saja yang dia inginkan oleh selera hawa nafsunya.
    • Di akhirat, yaitu Allah akan memasukkan dia kedalam neraka Jahannam sebagai tempat kembalinya yang sangat hina dina dan mengerikan. Wallahul Musta’an

    Allah berfirman:

    “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu Hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, Kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. (QS. An Nisaa’ : 65)

    Ayat yang mulia ini juga secara tegas menunjukkan bahwa Allah meniadakan keimanan dari seseorang hingga dia menjadikan Rasulullah sebagai Hakim yang memutuskan semua permasalahannya, lalu dia patuh, tunduk dan menerima keputusan Beliau dengan lapang dada dan penuh suka cita.

    Maka siapa saja yang tidak memiliki prinsip di atas maka dia akan terancam keimanannya, bisa berkurang atau bahkan bisa pupus tergantung dari tingkatan penentangan dia terhadap sunnah Rasulullah.
    Wallahul Musta’an

    Begitu pula dalam hadits-hadits yang shahih banyak terdapat ancaman dan hukuman bagi para penentang dan yang menyimpang dari prinsip agama yang mulia ini. Penjelasan para ulama di setiap generasi dari mulai masa shahabat sampai masa para imam besar semisal, Imam Malik, Asy Syafi’ie, Ahmad dan lain-lain. Juga sama dengan yang dijelaskan dalam Al Qur’an dan As Sunnah.

    Ringkas kata Al Imam Al Lalikaiy Hibatullah bin Al Hasan (wafat th. 418) dalam karya besarnya Sarah Ushul I’tiqod Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Juz I/22 cetakan Dar Thoyyibah tanpa tahun menyatakan : “…. Maka kami tidak mendapat dalam Kitabullah, Sunnah Rasulullah dan penjelasan para Shahabat melainkan ajakan (anjuran) untuk ittiba’ (mengikuti sunnah) dan larangan memberat-beratkan diri dan kebid’ahan…”

    bersambung…

Published in: on 31 Agustus 2010 at 21:34  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://adealam.wordpress.com/2010/08/31/memperingati-17-an-antara-ketaatan-dan-kemaksiatan-ii-ancaman-keras-bagi-siapa-saja-yang-menentang-dan-menyelisihi-sunnah-rasulullah-shalallahu-%e2%80%98alaihi-wa-salam/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: