Memperingati 17-an Antara Ketaatan dan Kemaksiatan III (Keharusan Kembali Kepada Pemahaman Generasi Terbaik Umat Ini)

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Afifudin

Pasal 3 : Keharusan Kembali Kepada Pemahaman Generasi Terbaik Umat Ini

Ketahuilah! Semoga Allah memberi hidayah kepada kita semua bahwa Al Qur’an dan Sunnah tidak boleh dipahami sesuai selera hawa nafsu kita atau kepentingan, perasaan dan adat istiadat kita. Al Qur’an dan Sunnah haruslah dipahami dengan pemahaman orang yang tahu seluk beluk keduanya, dan mereka adalah generasi terbaik umat ini dari kalangan para shahabat, para tabi’in dan atba’ut tabi’in serta para imam besar yang diakui keilmuannya oleh kaum muslimin yang sejalan dengan langkah yang ditempuh oleh para pendahulunya.

Banyak dalil yang menjelaskan tentang keharaman berbicara dalam perkara agama tanpa ilmu, di antaranya adalah firman Allah:

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung jawabannya.” (QS. Al Israa’ : 36)

Allah juga berfirman, menjelaskan tentang hal-hal yang diharamkannya dimulai yang paling ringan dosanya dan diakhiri dengan yang paling berat:

Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al A’raaf : 33)

Dalam ayat ini Allah jadikan tindakan berbicara atas nama Allah tanpa dasar ilmu sebagai dosa diurutkan terakhir yang itu menunjukkan bahwa tindakan tersebut adalah dosa terberat, bahkan dalam ayat di atas tindakan tersebut disebutkan setelah dosa kesyirikan kepada Allah. Dengan dasar ayat ini para ulama menyatakan bahwa berbicara tentang agama tanpa ilmu dosanya lebih besar daripada kesyirikan dari sisi kalau kesyirikan pada umumnya hanya berhubungan dengan pelakunya saja, sedangkan berbicara tanpa ilmu dampaknya meluas mengenai segenap kaum muslimin yang terpengaruh dengannya.

Oleh karena itu, berbicara tentang agama ini, memahami ayat dan hadits Rasulullah haruslah diserahkan kepada ahlinya yang mengerti betul maksudnya, dan mereka itu adalah generasi terbaik umat ini! Berikut ini argument yang kuat yang mengharuskan kita meruju’ kepada pemahaman mereka:

  1. Mereka adalah generasi yang disanjung dan dipuji oleh Allah dan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam, Allah berfirman:

    ” Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka Surga – Surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At Taubah : 100)

  2. Mereka itulah generasi pertama yang dimaksud dengan “sebaik-baik umat” adapun yang setelah mereka maka akan mendapat predikat ini bila sejalan dengan mereka, Allah berfirman:

    “Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imron: 110)

  3. Mereka adalah generasi terbaik umat ini dengan persaksian Rasulullah dalam sabdanya ;

    خَيْرَ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ

    “Sebaik-baik orang adalah generasiku (shahabat) kemudian setelah mereka (tabi’in) dan kemudian setelah mereka (tabi’ut tabi’in).”

  4. Al Imam Al Hafidz Al Hasan Al Bashri menguraikan sifat kemuliaan mereka dengan perkataanya: “Sesunguhnya mereka (shahabat) adalah orang-orang yang paling baik hatinya di kalangan umat ini dan yang paling dalam umurnya dan paling jarang bersifat memberat-berakan diri. Mereka adalah suatu kaum yang dipilih oleh Allah k untuk menemani Nabi.” Lalu beliau menasehatkan: “Hendaklah kalian mencontoh akhlaq dan jalan hidup yang mereka tempuh sebab mereka itu demi Allah Rabbnya Ka’bah sungguh di atas bimbingan yang lurus.” (Riwayat Ibnu Abdil Bar dalam Al Jami’ 2/97 lihat Dzamnut Takwil halaman 39)
  5. Mereka adalah orang-orang yang menyaksikan langsung turunnya wahyu. Mereka tahu kapan turunnya (ayat) di mana turunnya dan tentang apa diturunkannya serta bagaimana kronologinya.
  6. Mereka adalah orang-orang yang mendengar langsung sabda-sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam dan menyaksikan langsung amaliah dan kehidupan Beliau Shalallahu ‘alaihi wa salam
  7. Kita semua tahu bahwa Al Qur’an dan Sunnah menggunakan bahasa Arab yang jelas sedang mereka adalah suku Arab yang pada masa itu telah mencapai puncak kefasihan sastra Arab. Al Qur’an turun dengan bahasa mereka dan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam dari kalangan mereka dan bersabda dengan bahasa mereka.
  8. Mereka adalah orang-orang yang langsung dididik (digembleng) oleh Rasulullah sehingga kalaupun ada hal-hal rumit yang tidak mereka fahami di tengah-tengah mereka maka ada seorang Rasul yang menjelaskan dan menguraikannya.

Dan masih banyak lagi argumentsi lainnya bahkan ada 46 argumentasi dalam masalah ini sebagaimana yang dijabarkan oleh Imam besar Madzhab Hambali pada masanya, yaitu Ibnul Qoyyim Al Jauziyah dalam karya besarnya ” I’lammul Muwaqqi’in ” Juz 4/99 – 126 cet. 3 Darul Hadits Mesir th. 1997 M. / 1417 H.

Bersambung…

Published in: on 31 Agustus 2010 at 21:37  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://adealam.wordpress.com/2010/08/31/memperingati-17-an-antara-ketaatan-dan-kemaksiatan-iii-keharusan-kembali-kepada-pemahaman-generasi-terbaik-umat-ini/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: