Memperingati 17-an Antara Ketaatan dan Kemaksiatan IV (Prinsip Islam Dalam Berhubungan Dengan Pemerintah)

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Afifudin

Prinsip 4 : Prinsip Islam Dalam Berhubungan Dengan Pemerintah

Bila prinsip yang mulia di atas dapat dipahami dengan baik maka pembicaraan tentang masalah yang berhubungan dengan penguasa atau pemerintahpun harus selalu dalam koridor prinsip tadi, tidak bisa dengan semata-mata semangat kebangsaan dan jiwa patriotis apalagi dengan selera hawa nafsu untuk memuaskan ambisi kekuasaan.

Berikut ini akan kita ulas prinsip besar yang diajarkan di dalam Islam sehubungan dengan muamalah terhadap pemerintah supaya kita semua hidup berjalan di atas bimbingan ilmu dan dalam naungan sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam.

Ketahuilah! Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua bahwa Islam memerintahkan segenap kaum Muslimin untuk mendengar dan menta’ati penguasa mereka yang muslim. Hal ini termaktub dengan jelas di dalam Al Qur’an dan Sunnah serta penjelasan para ulama. Allah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kalian.” (QS. An Nisaa’ : 59)

Yang dimaksud dengan ulil amri dalam ayat di atas adalah para umaro’ (para penguasa) dan ini adalah pendapat mayoritas ulama dahulu maupun sekarang, baik dari pakar hadits, ahli tafsir atau imam fiqh. Sebagaimana yang dinukil oleh Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim 12/223.

Keta’atan kepada penguasa muslim adalah kewajiban setiap Muslim di manapun dia berada dari manapun asal dan apa pun statusnya. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيْمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ

“Wajib atas setiap muslim untuk mendengar dan ta’at dalam perkara yang disukai atau yang dia benci…” (Muttafaqun ‘Alaih dari Ibnu Umar )

Keta’atan pada penguasa, berlaku untuk semua jenis penguasa muslim bagaimanapun keadaannya, baik itu adil atau dholim, dari bangsa budak atapun merdeka, baik fisiknya bagus atau rusak.

Dari Ady bin Hatim beliau bertanya: “Wahai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam! kami tidak bertanya tentang keta’atatan kepada penguasa yang bertaqwa, namun penguasa yang berbuat begini dan begitu ?” , lalu beliau menyebutkan kejelekan, Jawab Beliau Shalallahu ‘alaihi wa salam : “Bertakwalah kalian kepada Allah , dengarkan dan ta’atilah dia!!” (HR. Ibnu Abi Ashim dalam ‘As Sunnah’ [1069])

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam juga bersabda:

إِنْ أُمِرَعَلَيْكُمْ عَبْدٌحَبَشِيٌّ مُجَدَّعٌ فَاسْمَعُوْا وَأَطِيْعُوْا مَاقَادَكُمْ بِكِتَابِ اللهِ

“Walaupun kalian dipimpin oleh seorang budak Habasyah (Ethiopia) yang terpotong kedua telinganya, maka dengarkan dan ta’atilah dia, selama dia membimbing kalian dengan Kitabullah.” (HR. Ibnu Abi Ashim dalam ‘As Sunnah’ [1063])

Bahkan penguasa yang bengis seperti perangai syaithon dengan sistem pemerintahannya yang tidak islami sekalipun, tetap diwajibkan mendengar dan menta’atinya selama dia masih muslim. Hal ini terekam dalam hadits Hudzaifah bin Al Yaman riwayat Muslim (1847-52), Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda :

يَكُوْنُ بَعْدِيْ أَئِمَّةُ لاَ يَهْتَدُوْنَ بِهُدَايَ وَلاَ يَسْتَنُّوْنَ بِسُنَّتِيْ أَوْ سَيَقُوْمُ فِيْهِمْ رِجَالٌ قُلُوْبُهُمْ قُلُوْبُ الشَّيَاطِيْنِ في جُسْمَانِ إِنْس قُلْتُ: كَيْفَ أَصْنَعُ يَارَسُوْلَ اللهِ ! إِنْ أَدْرَكْتُ ذلِكَ ؟ قَالَ: تَسْمَعُ وَتُطِيْعُ لِلأَمِيْرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ

“Akan ada sepeninggalku nanti para pemimpin, mereka tidak terbimbing dengan petunjukku dan tidak menjadikan sunnahku sebagai pedomannya dan akan muncul pada mereka orang-orang yang hatinya (seperti) hati syaithon dalam jasad manusia” saya bertanya ” ‘Wahai Rasulullah, apa yang harus aku perbuat bila aku mendapati hal itu?’ jawab Beliau Shalallahu ‘alaihi wa salam : “Engkau mendengar dan menta’ati sang penguasa walaupun punggungmu dicambuk dan hartamu dirampas, dengarkanlah dan ta’atilah…!”

Demikianlah dengan jelas dan gamblang, prinsip ini diuraikan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam sehingga tidak ada yang samar dalam bab ini. Untuk itulah, para ulama kita dahulu sampai sekarang bersepakat untuk mendengar dan ta’at kepada penguasa yang muslim.

Yang juga perlu diingat adalah bahwa keta’atan kepada penguasa itu berlaku untuk setiap penguasa muslim yang sah, baik diangkat dengan cara yang sesuai syar’i yaitu penunjukan dari penguasa sebelumnya seperti yang dilakukan oleh Abu Bakar ketika menunjuk Umar ataupun dengan kesepakatan Ahlul Halli Wal Aqdi seperti pengangkatan Utsman maupun dengan cara yang melanggar syar’i seperti denan kudeta militer atau semisalnya, hal ini dengan kesepakatan para ahli fiqh sebagaimana yang dinukil oleh Imam besar Madzhab Safi’iyah pada masanya, yaitu Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqolany. Beliau berkata menukil ucapan Ibnu Baththol: “Para ahli fiqh telah sepakat tentang kewajiban menta’ati penguasa yang berkuasa dengan kudeta dan berjihad bersamanya, dan bahwasanya keta’atan kepadanya lebih baik dari pada memberontak kepadanya sebab dengan itu akan terjaga darah (kaum muslimin) dan keadaan akan kondusif.” (Fathul Baary 14/496, Cet I, Daarul Fikr-Lebanon-Beirut-th. 1995 M/1415 H.)

Yang tidak kalah penting untuk diketahui adalah bahwa penguasa yang harus dita’ati adalah bukan hanya penguasa tunggal yang menguasai kaum muslimin seluruh dunia, tapi juga penguasa muslim yang menguasai wilayah – wilayah kaum muslimin seperti sekarang ini, sebab kaum Muslimin belum lagi punya khalifah akbar semenjak pertengahan daulah Abbasiyah, demikian yang diuraikan oleh Ash Shon’any dalam ‘Subulus Salam’ (3/486-487 cet. I Darul Fikr-Beirut-th. 1991 M/1411 H.)

Ketaatan ini berlaku untuk para penguasa muslim apa pun namanya baik itu Presiden, Perdana Menteri, Raja, Sulthan atau yang lain, bahkan juga kepada jajaran pemerintah militer atau sipil dari pusat hingga tingkat desa, demikin yang dijelaskan oleh Syaikh Ibnul Utsaimin dalam ‘Syarah Aqidah Safariniyah’ hal 670 cet. Darul Bashiroh-Iskandariyah-Mesir tanpa tahun.

Bila hal di atas telah dipahami, maka ketauhilah! Semoga Allah merahmati kita bahwa keta’atan kepada penguasa muslim tidaklah secara mutlaq, namun berkait dengan suatu ketentuan yaitu “selama tidak bermaksiat kepada Allah “

Bila ada unsur kemaksiatan, maka tidak boleh didengarkan dan dita’ati, hal ini ditegaskan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam dalam sabdanya:

عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيْمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ إِلاَّ أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَّةٍ فَإِنْ أُمِرَ ِبمَعْصِيَّةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ

“Wajib atas setiap muslim untuk mendengar dan taat dalam perkara yang dia suka dan dia benci kecuali bila diperintah dengan kemaksiatan, bila diperintah demikian maka tidak didengarkan dan ditaati.” (Muttafaq ‘Alaih dari Ibnu Umar)

Dalam hadits Ali bin Abi Tholib riwayat Al Bukhari (7145), Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam menegaskan :

إِنَّمَا الطَّاعَةُ في الْمَعْرُوْفِ

“Sesungguhnya keta’atan itu hanya dalam perkara kebaikan.”

Namun bukan berarti diperbolehkan untuk memberontak dan melepaskan keta’atan, banyak hadits yang melarang pemberontakan, ringkasnya apa yang diuraikan oleh Imam Harb Al Karmany dalam ‘Al Aqidah’ yang dia nukil dari seluruh ulama terdahulu: “Bila sang penguasa memerintahkan sesuatu yang ada unsur kemaksiatan kepada Allah maka engkau tidak boleh menaatinya dan juga tidak boleh memberontaknya dan menghalangi haknya.” (Lihat Aqidah Ahlul Islam hal. 20 karya Abdussalam Barjis)

Dengan uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa perintah atau himbauan pemerintah terbagi menjadi beberapa bagian:

  1. Perintah tersebut sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam , maka wajib untuk dita’ati.
  2. Perintah tersebut dalam perkara duniawi untuk kemaslahatan umum yang tidak ada unsur kemaksiatan padanya, maka wajib dita’ati, seperti rambu-rambu lalu lintas, memakai helm, sabuk pengaman dan sebagainya.
  3. Perintah tersebut ada unsur kemaksiatan kepada Allah, maka tidak ditaati. Demikian ringkasan penjelasan Syaikh Ibnul Utsaimin sebagaimana dalam fatawa syar’iyah hal. 83-85. Wallahul Muwaffiq

Maka dengan dasar prinsip di atas dan semata-mata ikhlas mengharap ridlo Allah bukan karena tendensi tertentu, bukan pula karena kepentingan pribadi ataupun golongan, kami menyatakan:

  1. NKRI adalah Negara berdaulat sebagai Negara tempat mayoritas kaum muslim berdomisili.
  2. Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Wakil President Yusuf Kalla adalah pemimpin Negara yang sah, harus didengar dan dita’ati dalam rangka ta’at kepada Allah.
  3. Mendukung program/perintah/himbauan Pemerintah yang bersifat positif sesuai dengan bimbingan Allah dan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam
  4. Dengan ucapan maaf beribu maaf yang sebesar-besarnya, kita tidak bisa menta’ati perintah/himbauan Pemerintah yang bertentangan dengan ketentuan syariat bukan karena kita anti pemerintah bukan pula karena hendak memberontak namun semata-mata karena prinsip Islam yang harus kita pegangi dan kita dahulukan di atas segala-galanya. Seorang muslim yang ta’at dan baik, tentu akan mendahulukan perintah penciptanya dan Rasul-Nya dari pada perintah manusia mana pun.

    Apalagi Allah menegaskan hal ini dalam firman-Nya:

    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Al-Hujurat: 1)

  5. Justru ketidaktaatan seorang muslim kepada pemerintahnya di saat dia diperintah untuk bermaksiat adalah bukti kecintaan dia kepada pemerintah tersebut, dia tidak mau penguasanya menanggung dosa sekian banyak rakyatnya akibat kemaksiatan tadi. Semua orang yang berakal akan memahami masalah ini, sama halnya dengan seorang bapak yang memukul atau menasehati anaknya ketika dia nakal, bukan berarti bapak tersebut tidak cinta kepada anaknya, namun justru tindakannya tadi sebagai bukti kecintaannya kepada sang anak, kalau sang bapak tersebut tidak cinta lagi sama sang anak, maka dia tidak akan menggubrisnya dan membiarkannya sesuai keinginannya.

Wallahul muwafiq

Published in: on 31 Agustus 2010 at 21:40  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://adealam.wordpress.com/2010/08/31/memperingati-17-an-antara-ketaatan-dan-kemaksiatan-iv-prinsip-islam-dalam-berhubungan-dengan-pemerintah/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: