Memperingati 17-an Antara Ketaatan dan Kemaksiatan (Perayaan Hari Besar Terkhusus HUT RI)

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Afifudin

Perayaan Hari Besar Terkhusus HUT RI

Dalam kesempatan ini ada beberapa perkara yang perlu kita angkat ke permukaan untuk diketahui dengan jelas, bahwa seorang muslim tidak bisa mentaati penguasanya. Dalam hal tersebut, semoga dapat dimaklumi oleh pemerintah NKRI
Sebelumnya baca dulu artikel-artikel berikut:

Kewajiban Kembali Kepada Al Quran dan As Sunnah Dalam Beragama

Ancaman Keras Bagi Siapa Saja yang Menentang dan Menyelisihi Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Salam

Keharusan Kembali Kepada Pemahaman Generasi Terbaik Umat Ini

Prinsip Islam Dalam Berhubungan Dengan Pemerintah

Sesuatu acara yang berulang-berulang tiap bulan atau tahun disertai serangkaian amalan dan perkumpulan orang yang dalam Islam disebut dengan ‘Ied (hari raya).

Dalam prespektif Islam, ‘ied adalah suatu amalan yang bernilai ibadah, padanya disyaria’atkan serangkaian amalan ibadah untuk bertaqarrub kepada Allah sekaligus ada serangkaian untuk melakukan hal-hal yang mubah (boleh).

Dalam realita ajaran Islam, ‘ied ditetapkan setelah melakukan ibadah-ibadah besar, ‘Iedul Fitri ditetapkan setelah ibadah puasa Ramadhan, ‘Iedul Adha adalah setelah dan di tengah-tengah ibadah haji.

Bukti bahwa ‘ied adalah kegiatan ibadah yang tidak dapat keluar dari koridor syar’i.adalah bahwa kita semua tahu, dalam islam hanya ada 2 ‘ied dalam setahun yaitu ‘Iedul Fitri dan ‘Iedul Adha, hal ini dijelaskan dengan gamblang dalam hadits Anas bin Malik a Beliau berkata:

“Rasulullah datang dalam keadaan penduduk Madinah memiliki 2 hari yang mereka biasa bermain-main padanya di masa Jahiliyah (yaitu hari Nairuz dan Mahrojan, pent.), Beliau bersabda:

قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُوْنَ فِيْهِمَا في الجَاهلِيِّةِ وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ الله ُبِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ النًّحْرِوَيَوْمَ الفِتْرِ

“Saya datang kepada kalian, sedang kalian punya 2 hari yang kalian biasa bermain- main padanya di masa jahiliyah, sungguh Allah telah mengganti kedua hari itu dengan 2 hari yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari Nahr (Adha) dan hari Fitri.” (HR. Ahmad 3/103,178,253, Abu Dawud 1134 dan An Nasaa’I 3/179 dengan sanad Shahih)

Perhatikanlah hadits di atas, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam mengganti perayaan penduduk madinah dengan 2 hari raya besar Islam, karena:

  1. Perayaan mereka itu menyerupai ‘iednya bangsa Romawi dan Persia, sebab hari Nairuz dan Mahrojan adalah hari besar mereka.
  2. Dua hari raya Islam lebih baik dan itu adalah ketentuan dari Allah yang tidak bisa ditambah.

Kalau seandainya melakukan kegiatan ulang tahun itu tidak masalah dalam Islam, niscaya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam tidak akan melarang mereka, ini menunjukkan bahwa urusan ultah harus ada bimbingannya dalam sunnah.

Karena itulah Asy-Syaikh Ali Hasan Al-Halaby dalam kitabnya Ahkamul Iedain halaman 14 menegaskan: “Adapun di masa sekarang, maka hari-hari raya ini hampir tidak dapat dihitung di setiap negeri-negeri Islam apalagi negeri selain Islam, engkau melihat adalah perayaan ultah untuk kubah-kubah, kuburan-kuburan, seseorang, negara, dan lain sebagainya dari acara perayaan yang tidak diizinkan oleh Allah, bahkan hal tersebut dalam sebagian konsensus bahwa muslimin India mempunyai 144 perayaan dalam setahun.”

Sumbangan Acara Agustusan

Biasanya dalam bulan Agustus para pamong desa meminta dana Agustusan di masyarakat untuk mensukseskan beragam agenda acara yang mereka buat, seringnya disebutkan minimalnya.

Bila kita memahami apa yang telah diuraikan di atas, maka kita akan tahu bahwa penarikan dana ini tidak sesuai syar’i dengan alasan sebagai berikut:

  1. Termasuk membantu acara yang tidak ada bimibinganya dalam agama Islam. Allah berfirman:

    “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al Maidah: 2).

  2. Penarikan dana tersebut tidak berdasar pada sebuah Perda sedikit pun bahkan terkesan memaksa, terbukti mereka marah bila ada yang tidak menyumbang.

    Ketahuilah! Semoga Allah menambahkan umur kepada kita, bahwa harta seorang muslim adalah haram untuk diambil kecuali dengan izin dan kerelaannya, maka menarik pungutan tanpa dasar syar’i termasuk memakan harta orang lain dengan kebatilan. Allah menyatakan:

    “Dan janganlah sebahagian kalian memakan harta sebahagian yang lain di antara kalian dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kalian membawa (urusan) harta itu kepada Hakim, supaya kalian dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kalian Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 188)

  3. Uang tersebut dipergunakan untuk acara yang sia-sia, hanya bersenang-senang dan berfoya-foya. Walaupun ada sedikit unsur olah raga namun kemadlorotannya lebih banyak, di antaranya: menghambur-hamburkan uang untuk perkara yang sia- sia, bercampurnya lelaki dan wanita, alunan musik yang bertalu-talu, keluarnya wanita dengan bersolek dan dandanan yang sengaja dipertunjukkan, adanya sikap fanatisme terhadap desanya masing-masing karena diperlombakan, tidak jarang terjadi tindakan anarkis antaranak desa, melalaikan sholat jama’ah pada waktunya, seringkali kita melihat mereka tidak mengubris panggilan adzan untuk menghadap Allah dan masih banyak lagi kerusakan yang lainnya.

    Allah telah mengecam tindakan tabdzir (sia-sia) dan pelakunya tergolong saudara syaithon, firman-Nya:

    “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaithon dan syaithon itu adalah sangat ingkar kepada Robbnya.” (QS. Al Israa’: 26- 27)

    Dan ini adalah tindakan yang sangat dibenci oleh Allah, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

    إِنَّ الله َكَرِهَ لَكُمْ ثَلاَثًا … وَإِضَاعَةِ الْمَالِ

    “Sesungguhnya Allah membenci tiag perkara dari kalian …. dan menyia-nyiakan harta.” (HR. Muslim 1715)

    Bagaimana mungkin kita bisa bergembira bila tindakan tadi dibenci dan dikecam oleh Allah? siapa yang mau digolongkan dengan saudara-saudara syaithon? Orang yang berakal sehat tentu akan menghindar dari hal-hal demikian.

Seharusnya kita berpikir jernih, bukankah dahulu para pejuang kita membebaskan bumi pertiwi ini dari kungkungan penjajah dengan tetesan darah dan air mata? Mengorbankan jiwa raga, harta benda, sabar dalam berjuang dan menanggung penderitaan demi penderitaan? Akankah kita generasi masa kini membalas budi bakti mereka dengan tindakan sia-sia, foya-foya, senang-senang yang dibenci oleh Allah bergembira di atas penderitaan orang lain? Apakah kita tidak melihat bahwa bangsa ini sedang terjajah justru oleh anak-anak bangsa sendiri? Dapatkah hati kita lapang ketika di saat yang sama kita menyaksikan anak-anak bangsa dirundung duka dengan bencana yang menimpa mereka? Sekali lagi, akankah kita bisa tenang berbahagia di saat anak-anak bangsa sendiri menderita?

Coba kita pikirkan, kalau seadainya dana tersebut dikumpulkan, anggaplah satu desa bisa mengumpulkan satu juta, berapa ribu desa yang ada ditanah air dari Sabang sampai Merauke? Niscaya, akan terkumpul uang milyaran bahkan triliyunan rupiah, coba kalau uang itu dialokasikan ke anak bangsa yang dirundung musibah, tentunya akan sangat membantu dan menyenangkan hati mereka, pikirkanlah hal ini baik baik wahai anak bangsa!!!.

Pemasangan Bendera Merah Putih Untuk Hari-Hari Besar Nasional Terkhusus HUT RI

Perlu dipahami bahwa kita tidak mengingkari keberadaan bendera di sebuah Negara, karena hal itu ada pada masa Rasulullah, demikian pula masalah warna bendera, pada dasarnya tidak mengapa selama tidak ada padanya hal-hal yang melanggar syar’i seperti gambar bernyawa, simbol-simbol khusus orang kafir dan sebagainya.

Di zaman Rasulullah bendera Beliau ada yang berwarna putih adapula yang berwarna hitam, dari Ibnu Abbas Beliau berkata:
“Dahulu bendera Rasulullah berwarna hitam.” (HR. Ahmad, Tirmidzi dengan sanad hasan.) Dalam riwayat At Tirmidzi disebutkan “Bendera Beliau Shalallahu ‘alaihi wa salam berwarna putih.”

Dengan dasar ini, maka kami mengakui keberadaan bendera merah putih untuk negeri kita yang tercinta NKRI. Namun, kita perlu menengok sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam dalam masalah bendera ini, apa fungsi dan kegunaannya?

Dalam banyak riwayat di sebutkan bahwa bendera ini difungsikan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam untuk berjihad fisabilillah melawan orang-orang kafir, orang yang menelaah sejarah beliau akan dapat memastikan hal ini, bahkan kalau kita melihat dalam sejarah, mereka (para shahabat) mempertahankan bendera itu sampai titik darah penghabisan, sedikitpun tidak membiarkan bendera itu jatuh ketanah walaupun harus mengorbankan jiwa raga mereka. Berikut ini saya bawakan beberapa riwayat yang menjelaskan masalah ini.

Dari Sahl bin Sa’id, bahwasanya Rasulullah pada waktu perang khoibar bersabda :

َلأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ غَدًا رَجُلاً يُحِبُّ الله َوَرَسُوْلَهُ وَيُحِبُّهُ الله ُوَرَسُوْلُهُ يَفْتَحُ الله ُعَلَى يَدَيْهِ

“Sungguh besok aku akan berikan bendera ini kepada seorang yang cinta kepada Allah dan Rasul-Nya dan dicintai Allahkdan rasul-Nya, Allah akan menangkan melalui kedua tanganya” (muttafaq ‘alaih)

Dalam lanjutan riwayat di atas disebutkan bahwa para Shahabat sampai begadang malam membicarakan, siapakah gerangan yang bakal diserahi bendera? Bahkan mereka semua berkeinginan untuk mendapatkannya, dan ternyata yang mendapatkannya adalah Ali bin Ali Tholib. Riwayat ini jelas menunjukkan bahwa bendera tersebut untuk kepentingan Jihad fisabilillah.

Juga dalam riwayat Imam Ahmad dalam Musnadnya dari Abdullah bin Ja’far disebutkan, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam mengutus pasukan perang dan menunjuk Zaid bin Harits sebagai panglima, beliau bersabda:
“Bila Zaid terbunuh maka panglima kalian adalah Ja’far, bia dia terbunuh maka panglima kalian adalah Abdullah bin Rawahah.”
Pasukan pun berhadapan dengan musuh, panglima Zaid pun memegang bendera, beliau berperang hingga terbunuh, kemudian bendera perang diambil oleh Ja’far, beliau berperang hingga terbunuh, kemudian bendera diambil oleh Abdullah bin Rawahah, beliau berperang hingga terbunuh, lalu bendera dipegang oleh Kholid bin Walid, maka Allah menangkan melalui tangannya. (lihat: ‘ Jami’us Shahih ‘ 3/246-247, karya Syaikh Muqbil dan beliau menshahihkan riwayat ini.)

Lihatlah! Bagaimana para panglima tadi mempertahankan bendera, tidak dia lepas sedikit pun hingga dia terbunuh.

Inilah fungsi bendera di masa itu, dan inilah yang kita baca dalam sejarah perjuangan NKRI, para pejuang-pejuang kita dengan gigihnya mempertahankan bendera merah putih sampai titik darah penghabisan, itu semua mereka lakukan untuk melawan kebringasan para penjajah kafir di masa itu, maka fungsikanlah bendera ini sebagaimana mestinya!!!

Adapun pemasangan bendera dalam rangka peringatan hari besar nasional, maka tidak pernah kita lihat dilakukan di zaman Rasulullah karena tidak ada dalam bimbingan beliau peringatan-peringatan seperti itu sebagaimana yang kita uraikan dalam pembahasan sebelumnya.

وخير الهدي هدي محمد

“Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah.”

Demikianlah apa yang bisa kami tulis, sebenarnya masih banyak perkara yang tidak bisa ditaati karena adanya larangan dalam agama Islam seperti PEMILU, dan lainnya. Insya’ Allah bila ada kesempatan kami akan berusaha melanjutkannya. Semoga Allah memberi hidayah kita semua ke jalan yang diridloiNya. Amin …..

Sidayu, 20 Agustus 2006

Published in: on 31 Agustus 2010 at 21:49  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://adealam.wordpress.com/2010/08/31/memperingati-17-an-antara-ketaatan-dan-kemaksiatan-perayaan-hari-besar-terkhusus-hut-ri/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: