Ikhtilaf Para Sahabat radhiallahu ‘anhum

Penulis : Ustadz Muhammad Umar As-Sewed

Kebenaran hanya satu
Imam Malik dan al-Laits Ibni Sa’ad rahimahullah berkata tentang perbedaan yang terjadi pada para shahabat nabi shallallahu ‘alaihi wasallam : “Tidaklah perselisihan itu merupakan tawassu’ah (keluasan), melainkan benar dan salah.” (Jami’ Bayanil Ilmi, Ibnu Abdil Barr, 2/82; lihat Shifat Shalat Nabi hal. 62)

Demikian pula ketika imama Malik rahimahullah ditanya tentang seorang yang mengambil ucapan para shahabat: “Apakah ada keluasan dalam hal tersebut?” (yakni apakah boleh memilih ucapan yang mana saja dari ucapan mereka?). Beliau menjawab: “Tidak, demi Allah hingga perkataan tersebut mencocoki kebenaran dan tidaklah kebenaran itu kecuali hanya satu. Apakah 2 pendapat yang saling bertentangan akan dikatakan benar seluruhnya? Sungguh tidaklah hak dan kebenaran, kecuali satu” . (Jami’ Ba-yanil Ilmi, Ibnu Abdil Barr, 2/82, 88-89; lihat Shifat Shalat Nabi hal. 62)

Al-Muzani –salah seorang murid Imam Syafi’I berkata: “Telah berselisih para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam , sebagian menyalahkan sebagian lainnya, sebagian melihat ucapan yang lain kemudian mengkritiknya. Kalau saja ucapan mereka seluruhnya adalah kebenaran, niscaya mereka tidak akan melakukan hal tersebut. Bahkan Umar bin Khathab radhiallahu ‘anhu marah ketika terjadi perselisihan antara Ubay bin Ka’ab dan Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhuma tentang shalat dengan 1 pakaian. Ubay bin Ka’b berkata: “Sesungguhnya shalat dengan 1 pakaian adalah baik”. Sedangkan Ibnu Mas’ud berkata: “Itu adalah ketika pakaian sedikit!”. Umar keluar dari tempat tersebut dengan marah dan berkata: “Dua orang shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang terapandang dan banyak diambil pendapatnya telah berselisih.
Sungguh telah benar Ubay bin Ka’b dan tidak tepat Ibnu Mas’ud. Namun aku tidak ingin mendengar ada seorang pun yang berselisih setelah ini, kalau terjadi aku akan begini dan begitu
. (Shifat Shalat Nabi, hal. 62)

Beliau rahimahullah juga berkata: “Kita katakan kepada orang yang memperbolehkan perbedaan dan mengatakan bahwa 2 orang alim telah berijtihad dalam satu masalah, yang satu berpendapat halal dan yang lain berpendapat haram, maka masing-merasa benar”. Kita katakan kepada orang tersebut: “Apakah anda mengucapkan demikian dengan dasar dalil-dalil atau hanya dengan akal?! Kalau dengan dalil, maka al-Qur’an telah jelas melarang ikhtilaf, kalau dengan akal maka kita katakan bagaimana mungkin dalil menyatakan tidak boleh ikhtilaf sedangkan engkau membolehkan ikhtilaf? Ini tidak mungkin dilakukan oleh seorang yang berakal apalagi ulama.

Ikhtilaf shahabat bukan ikhtilaf yang disengaja
Jika ada yang bertanya: “Bagaimana dengan para shahabat, bukankah mereka juga berselisih. Apakah mereka juga tidak mendapatkan rahmat?”

Kita katakan bahwa para shahabat adalah manusia yang tidak ma’shum. Namun mereka adalah generasi yang terbaik setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Adapun ikhtilaf yang terjadi di antara mereka sangat berbeda dengan ikhtilaf yang terjadi di kalangan manusia pada hari ini dari semua sisinya, baik dari sisi kuantitas, sebab maupun pengaruhnya.
Dari segi kuantitas, mereka adalah manusia-manusia yang paling sedikit berikhtilaf jika dibandingkan dengan generasi-generasi setelahnya dengan perbedaan yang amat jauh.

Adapun dari sisi penyebabnya juga sangat berbeda dengan apa yang menyebabkan manusia berikhtilaf di hari ini. Para shahabat sama sekali bukan membela hawa nafsu, kepentingan pribadi, ashabiyyah, ambisi atau keuntungan duniawi. Ikhtilaf mereka adalah karena ijtihad dan masing-masing mengharapkan yang lebih tepat dan lebih sesuai dengan kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga perselisihan mereka mudah diselesaikan. Ketika datang kepada mereka hadits dari Rasu-lullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka mereka pun menerimanya dan mengalahkan pendapat pribadinya.

Seperti ikhtilaf mereka tentang khilafah sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apakah dari kalangan muhajirin, dari kalangan anshar atau masing-masing memiliki pemimpinnya sendiri? Perselisihan ini segera dapat diselesaikan dengan mudah ketika dibawakan hadits yang diriwayatkan dari Ali radhiallahu ‘anhu , bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

اْلأَئِمَّةُ مِنْ قُرَيْشٍ… رواه الحاكم، وصححه الألباني في صحيح جميع الصغير

Pemimpin itu dari Quraisy. (HR. Hakim. Syaikh al-Albani menshahihkannya dalam Shahih Jami’ ash-Shaghir).

Demikian pula perselisihan mereka tentang siapa yang berhak menjadi khalifah dari kalangan Quraisy. Perselisihan ini segera dapat diselesaikan dengan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengisyaratkan Abu Bakar radhiallahu ‘anhu layak menjadi khalifah.
Di antaranya apa yang diriwayatkan dari Jubair bin Muth’im, dia berkata:

أَتَتِ امْرَأَةُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَرَهَا أَنَ تَرْجِعَ إِلَيْهِ قَالَتْ أَرَأَيْتَ إِنْ جِئْتُ وَلَمْ أَجِدْكَ كَأَنَّهَا تَقُوْلُ الْمَوْتَ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنْ لَمْ تَجِدِيْنِيْ فَأْتِي أَبَا بَكْرٍ. رواه البخاري

Datang seorang wanita kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maka Rasulullah menyuruhnya untuk datang kembali. Wanita itu berkata: “Bagaimana jika aku tidak mendapatimu?” –seakan-akan wanita itu memaksudkan jika telah meninggalnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau menjawab: “Jika engkau tidak mendapatiku, maka datangilah Abu Bakar”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Berkata Syaikh Shalih Fauzan dalam risalah kecil yang merupakan transkrip ceramah beliau di kota Ihsa’ Saudi Arabia: “Kemudian sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terjadi perselisihan siapa yang berhak memegang urusan ini sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun Tidak lama selesailah perselisihan mereka dan mereka bersatu di bawah kepemimpinan Abu Bakar dan membaiatnya untuk dengar dan taat”. (al-Ijma’ wa Nabdzul Furqah, hal. 10)

Adapun ikhtilaf manusia di zaman kita ini, adalah karena tarikan-tarikan hawa nafsu, ashabiyyah atau kepentingan dunia, sehingga walaupun mereka mendengar hadits atau dalil-dalil yang sangat jelas dari al-Qur’an dan ucapan para salafus shalih, mereka tidak mau menerima dan tetap memilih ikhtilaf. Inilah yang tercela dalam ayat Allah:

وَلاَ تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ. ال عمران: 105

Dan janganlah kalian menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat. (Ali Imran: 105)

Syaikh al-Albani rahimahullah berkata: “Adapun ikhtilaf para shahabat hanya terjadi dalam keadaan terpaksa, karena perbedaan pemahaman mereka. Bukan karena mereka menginginkan perselisihan. Ditambah lagi perkara-perkara lain yang terjadi pada zaman mereka yang merupakan sebab terjadinya perselisihan, namun kemudian hilang. Ikhtilaf seperti ini tidak mungkin akan bisa dihindari secara keseluruhan. Dan juga orang yang terjatuh di dalamnya tidak termasuk yang dicela dalam ayat-ayat di atas dan yang semakna dengannya. Karena tidak adanya syarat untuk dibalas dengan dosa, yaitu kesengajaan dan israr (terus menerus walaupun telah jelas hujjah. –pent.) (Shifat Shalat Nabi, Syaikh al-Albani, hal. 60)

Sedangkan dari sisi pengaruhnya, beliau rahimahullah juga berkata: “Perbedaan dari sisi pengaruh lebih jelas lagi. Yaitu bahwa para shahabat radhiallahu ‘anhum bersama perbedaan yang ada di tengah-tengah mereka dalam masalah-masalah furu’ (ijti-hadiyah –pent.) Maka mereka orang-orang yang sangat menjaga suasana persatuan, mereka sangat jauh dari perkara-perkara yang memecah-belah atau memporak-perandakan barisan. Di antara mereka terjadi perbedaan, misalnya sebagian mereka berpendapat disyariatkannya mengeraskan basmalah, sedangkan sebagian lainnya berpenda-pat tidak disyariatkan. Di antara mere-ka ada yang berpendapat dianjurkannya mengangkat kedua tangan, sebagian lainnya tidak. Di antara mereka ada yang berpendapat batalnya wudu’ ketika menyentuh wanita, sedangkan yang lain tidak. Namun mereka seluruhnya tetap dalam keadaan shalat berjama’ah dengan satu imam. Tidak ada di antara mereka seorang pun yang menolak untuk shalat di belakang yang lainnya ha-nya karena perbedaan-perbedaan maz-hab tadi. Adapun perbedaan yang terjadi di antara muqalidun (orang-orang yang taqlid/ikut-ikutan), maka perselisihan mereka berbeda sama sekali. Di antara pengaruh perbedaan mereka memecah-belah rukun yang paling mendasar setelah dua syahadat yaitu shalat. Mereka menolak untuk shalat di belakang satu imam dengan alasan bahwa shalat imam terse-but batil (tidak sah) atau paling sedikit makruh menurut mereka yang berbeda madzhabnya. Kami telah mendengar dan menyaksikan yang demikian… hingga beliau berkata: ”… bahkan pengaruhnya sampai batas yang lebih dahsyat yaitu dilarangnya menikah antara orang yang bermadzhab Hanafi dengan orang yang bermadzhab Syafi’i”. (Shifat Shalat Nabi hal. 62)

Pemicu perpecahan adalah hawa nafsu
Perbedaan ijtihad yang terjadi di kalangan para ulama adalah wajar, namun perpecahan seperti tidak maunya shalat berjama’ah dengan lain madzhab adalah satu bentuk perpecahan yang tercela. Karena para ulama tersebut dalam keadaan berijtihad dan berupaya untuk mencocoki al-Qur’an dan sunnah dan shalat mereka masih sah. Demikian pula halnya dengan pernikahan.
Beda halnya dengan ahlul ahwa (pengekor hawa nafsu), khususnya yang kebid’ahannya telah mencapai kekufuran seperti syi’ah rafidhah atau ingkarus sunnah. Maka para ulama menyatakan tidak sahnya shalat di belakang mereka.

Pengaruh yang lebih jahat lagi ada-lah pengkafiran dan penghalalan darah terhadap sesama muslim seperti apa yang dilakukan oleh khawarij, syi’ah rafidhah dan mu’tazilah. Hanya saja mu’ta-zilah menyebutnya dengan istilah fasiq, bukan kafir. Tetapi mereka meyakini orang fasiq bukan muslim dan akan kekal dalam neraka.

Semua kelompok di atas (khawarij, syi’ah dan mu’tazilah) mewajibkan pemberontakan dengan senjata terhadap penguasa yang fasiq dan dhalim walaupun masih muslim dan masih shalat. Mereka menyerang, meneror dan membunuh para penguasa dan yang bersamanya dengan alasan nahi mungkar. Sungguh ini adalah pemandangan jelek dan perpecahan yang sangat dahsyat.

Mereka berpecah-belah karena hawa nafsu, menyelisihi nash-nash dari al-Qur’an, sunnah dan menyelisihi para shahabat, maka pengaruhnya pun sangat dahsyat yaitu pertumpahan darah.
Inilah bahaya ikhtilaf yang bersumber dari hawa nafsu.

Berkata Imam al-Barbahari rahimahullah: “Ketahuilah bahwa sesungguhnya seluruh hawa nafsu adalah jelek dan seluruhnya mengajak pada pertumpahan darah…. (Syarhu Sunnah, imam al-Bar-bahari, hal. 119)

Adapun pertikaian berdarah yang terjadi antara Ali dan Mu’awiyyah radhiallahu ‘anhuma, pemicunya adalah seorang Yahudi bernama Abdullah bin Saba’ dan didukung oleh kaum khawarij dan syi’ah juga. Bahkan Ali radhiallahu ‘anhu terbunuh bukan oleh Mu’awiyah, tetapi oleh seorang khawarij yang bernama Ibnu Muljam. Dan ketika Hasan bin Ali radhiallahu ‘anhuma mengalah kepada Mu’awiyah radhiallahu ‘anhu, maka bersatulah seluruh para shahabat dan kaum muslimin di bawah kepemimpinan Mu’awiyah. Mereka bergembira dengan persatuan tersebut, kecuali kaum syi’ah dan khawarij. (Lihat Al-Ijtima’ wa Nabdzul Fur-qah, hal. 10-12)

Wallahu a’lam

Sumber : Risalah dakwah Manhaj Salaf Edisi: 132/Th. III 12 Safar 1428 H/02 Maret 2007 M

Risalah Dakwah MANHAJ SALAF, Insya Allah terbit setiap hari Jum’at. Ongkos cetak dll Rp. 200,-/exp. tambah ongkos kirim. Pesanan min 50 exp. bayar 4 edisi di muka. Diterbitkan oleh Yayasan Dhiya’us Sunnah, Jl. Dukuh Semar Gg. Putat RT 06 RW 03, Cirebon. telp. (0231) 222185. Penanggung Jawab & Pimpinan Redaksi: Ustadz Muhammad Umar As-Sewed; Sekretaris: Ahmad Fauzan/Abu Urwah, HP 081564634143; Sirkulasi/pemasaran: Abu Abdirrahman Arief Subekti HP 081564690956.

Iklan

The URI to TrackBack this entry is: https://adealam.wordpress.com/2010/09/01/ikhtilaf-para-sahabat-radhiallahu-anhum-2/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: