KEBENARAN DI SISI ALLAH HANYA SATU

Penulis : Ustadz Muhammad Umar As-Sewed

Kita memaklumi terjadinya perbedaan dan perselisihan di kalangan shahabat radhiallahu ‘anhum dan para ulama karena mereka seluruhnya adalah orang-orang yg berupaya untuk mencocoki kebenaran. Oleh karena itu ijtihad dan kesungguhan mereka untuk mencari yang paling benar mendapatkan pahala di sisi Allah.

Namun berbicara tentang kebenaran tetap hanya satu sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

Jika seorang hakim berijtihad dan tepat, maka dia mendapatkan dua pahala. Dan jika seorang hakim berijtihad dan tidak tepat, maka dia mendapatkan satu pahala.

Hadits di atas menunjukkan kalau ijtihad mereka tetap mendapatkan pahal, namun tetap ada yang benar dan ada yang salah, ada yang tepat dan ada pula yang menyimpang/keliru. Sehingga kita diperintahkan untuk mengambil mana yang lebih rajah dan mana yang lebih dekat pada kebenaran.
Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Maka (Dzat yang demikian) itulah Allah Rabb kalian yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kalian dipalingkan (dari kebenaran)? (Yunus: 32)

Qurthubi rahimahullah berkata: “Ayat ini memutuskan bahwa tidak ada selain haq dan batil kedudukan yang ketiga dalam masalah ini yaitu masalah tauhid dan demikian pula dalam masalah-masalah lain yang semisalnya seperti masalah-masalah prinsip yang lain maka tidak ada kebenaran kecuali hanya satu”. (al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an, 8/336)

Para salafus shalih juga tidak berdalil dengan keumuman ayat di atas untuk semua masalah agama bahwa selian kebenaran adalah kebatilan. Dengan kata lain kebenaran hanya satu. (Zajrul Mutahawin, Hamd bin Ibrahim, hal. 36)

Karena itulah Imam Malik rahimahullah berkata tentang perbedaan para shahabat: “Tidak, demi Allah. Tidaklah kebenaran kecuali hanya satu. Apakah dua pendapat yang berbuda keduanya dapat dikatakan benar? Tidaklah kebenaran kecuali hanya satu”. (Shifat Shalat Nabi, Syaikh al-Albani, hal. 61).

Lagi pula Allah subhanahu wa Ta’ala memerintahkan agar kita jangan menyelisihi kebenaran dan melarang kita untuk berselisih setelah dating kebenaran yang jelas. Ini pun menunjukkan bahwa kebenaran di sisi Allah hanya satu.
Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Dan janganlah kalian menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat. (Ali Imran: 105)

Allah juga memerintahkan kita untuk bersatu dengan memegang tali Allah dan melarang untuk berpecah-belah. Ini pun menunjukkan bahwa kebenaran di sisi Allah hanya satu.
Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Dan berpeganglah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian ketika kalian dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hati kalian, lalu menjadilah kalian karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kalian telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian, agar kalian mendapat petunjuk. ( Ali Imran: 103)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Ayat-ayat yang melarang perselisihan dan berpecah-belah dalam agama mengandung cercaan kepadanya merupakan bukti yang jelas bahwa kebenaran di sisi Allah hanya satu. Sedangkan selainnya adalah kesalahan. Kalau saja semua pendapat itu benar, niscaya Allahd dan rasul-Nya tidak melarang perselisihan dan mencercanya”. (Mukhtashar Shawaiqil Mursalah, Ibnul Qayyim, 2/566)

Bukti lain tentang kebenaran hanya satu adalah ayat yang menyatakan bahwa perselisihan bukan satu hal yang disyariatkan oleh Allah.
Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapati pertentangan yang banyak di dalamnya. (an-Nisaa’: 82)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Allah mengabarkan bahwa perselisihan bukan dari sisi-Nya (syariat-Nya). Maka apa yang bukan dari sisi Allah adalah bukan merupakan kebenaran”. (Mukhtashar Shawaiqil Mursalah, Ibnul Qayyim, 2/566)

Bahkan jika perselihan terjadi antara dua nabi sekalipun –yang keduanya dimuliakan dan dipuji oleh Allah–, Allah tetap menyebutkan ada yang benar ijtihadnya dan ada pula yang keliru.
Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu, maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan Kamilah yang melakukannya. (al-Anbiyaa’: 7879)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Inilah dua nabi yang mulia. Keduanya memerintahkan pada satu wilayah dan menghukumi satu perkara yang sama. Namun Allah khususkan salah satu dari keduanya dengan pemahaman dan tetap memuji keduanya bahwa keduanya mendapatkan dari Allah ilmu dan hukuml Demikian pula para ulama –semoga Allah meridhainya– yang berijtihad, yang benar dari mereka mendapatkan dua pahala, sedangkan yang keliru mendapatkan satu pahala. Namun masing-masingnya adalah orang yang taat kepada Allah, karena upayanya dengan kemampuannya. Allah tidak membebani seseorang dengan sesuatu yang tidak mampu ilmunya. (Majmu’ Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, 33/41)

Muhammad Amin asy-Syinqithi rahimahullah berkata: “Dalam ayat ini ada dua bukti kalau hukum yang diputuskan oleh keduanya adalah dengan berijtihad, bukan dengan wahyu. Dan bahwasanya Nabi Sulaiman lebih tepat ijtihadnya, maka ia berhak mendapatkan pujian karena ketepatan ijtihadnya. Adapun nabi Daud ijtihadnya tidak tepat, namun ia pun berhak mendapatkan pujian karena ijtihadnya. Ia tidak mendapatkan cercaan atau teguran karena ketidak-tepatannya….”
Kemudian beliau berkata: “Kalau saja masalah itu sudah ada wahyu yang turun, niscaya tidak akan terjadi perseisihan”. (Adwaul Bayan, asy-Syinqithi, 4/650)

Perhatikanlah! Syaikh asy-Syinqithi membedakan antara sesuatu yang sudah ada dalilnya yang jelas dari wahyu, maka tidak pantas terjadi perselisihan. Adapun yang menyelisihi wahyu adalah tercela dan tidak dianggap sebagai seorang mujtahid yang dihargai usaha ijtihadnya.

Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudry radhiallahu ‘anhu bahwa kaum Yahudi Bani Quraidhah meminta dihukumi oleh Saad dengan mengendarai seekor keledai. Ketika dekat dengan masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam , ia mengatakan: “Bangunlah kalian untuk sayyid kalian”. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Apakah mereka meminta dihukumi olehmu?” Sa’ad pun berkata: “Bunuh semua orang-orang laki-laki dewasa dan jadikan tawanan semua wanita dan anak-anak”. Maka nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Sungguh engkau telah menghukumi mereka dengan hukum Allah yang Maha Tinggi kerajaan-Nya. (HR. Bukhari Muslim)

Demikianlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memuji keputusan Sa’ad dan menyatakan bahwa ijtihadnya tepat dan mencocoki hukum Allah.

Diriwayatkan pula bahwa Ibnu Ma’ud radhiallahu ‘anhu ketika diminta untuk menyetujui pendapat Abu Musa al-Asy’ari dalam masalah warisan anak perempuan dan anak anak perempuannya anak laki-laki dan saudara perempuan, yakni diberikan untuk anak perempuan setengah dans audara perempuan setengah. Ibnu Mas’ud menjawab: “Kalau begitu aku sesat dan aku tidak mendapatkan petunjuk. Aku memutuskan dengan apa yang telah diputuskan oleh Nabi yaitu untuk anak perempuan setengah, uantuk anak perempuannya anak laki-laki seperenam, sedangkan sisanya untuk saudara perempuan”. Maka diberitakanlah jawaban ini kepada Abu Musa al-Asy’ari, maka ia berkata: “Jangan kalian Tanya kepadaku selama ahlul ilmi tersebut ada pada kalian!”(Atsar riwayat Bukhari)

Bahkan Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma sempat menantang mubahalah ketika terjadinya perbedaan pendapat tentang hukum waris. Beliau radhiallahu ‘anhuma berkata: “Sungguh aku ingin mereka-mereka yang menyelisihi aku dalam masalah hukum waris ini berkumpul bersama dan meletakkan tangan-tangannya di tiang ini. Kemudian kita bermubahalah menjadikan laknak Allah pada orang-orang yang berdusta. (Atsar riwayat Abdurrazzaq dalam Mushannaf).

Wallahu a’lam

Sumber : Risalah Dakwah Manhaj Salaf Edisi: 134/Th. III 26 Safar 1428 H/16 Maret 2007 M

The URI to TrackBack this entry is: https://adealam.wordpress.com/2010/09/01/kebenaran-di-sisi-allah-hanya-satu-2/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: