Mempererat Ukhuwah dengan Salam

Penulis : Ustadz Muhammad Umar As-Sewed

Salam adalah sapaan Nabi Adam ‘Alaihis salam dan anak turunannya
Ucapan salam “السلام عليكم” adalah ucapan selamat yang telah diajarkan sejak nabi adam ‘Alaihis salam diciptakan. Kemudian ucapan salam ini menjadi kalimat sapaan bagi seluruh anak turunannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَمَّا خَلَقَ اللهُ آدَمَ قَالَ: اذْهَبْ فَسَلِّمْ عَلَى أُولَئِكَ النَّفَرِ وَهُمْ نَفَرٌ مِنَ الْمَلآئِكَةِ جُلُوسٌ فَاسْتَمِعْ مَا يُجِيبُونَكَ فَإِنَّهَا تَحِيَّتُكَ وَتَحِيَّةُ ذُرِّيَّتِكَ قَالَ فَذَهَبَ. فَقَالَ: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ. فَقَالُوا: السَّلاَمُ عَلَيْكَ وَرَحْمَةُ اللَّهِ. قَالَ: فَزَادُوهُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ. متفق عليه

Ketika Allah Subhanahu wata’ala menciptakan Adam, Allah berfirman kepadanya: ”Pergilah engkau dan berikanlah salam kepada mereka –yakni para malaikat yang ada di sana, dengarkanlah apa jawaban mereka, karena itu adalah sapaanmu dan sapaan anak turunanmu”. Maka Adam mengucapkan kepada para malaikat: “Assalamu ’alaikum”. Mereka menjawab: “Assalamu ‘alaika Warahmatullah”. Yakni mereka menambah dalam jawaban salamnya dengan kalimat “Warahmatullah”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits ini kita mendapatkan pelajaran bahwa sapaan dengan ucapan السلام عليكم adalah sapaan yang diajarkan oleh Allah Subhanahu wata’ala secara langsung kepada Adam ‘Alaihis salam, kemudian ucapan ini dijadikan sebagai sapaan untuk seluruh anak turunannya.

Salam adalah sapaan khas umat Islam
Sapaan ini merupakan sapaan umat Islam yang beriman kepada Allah dan seluruh para Rasul-Nya.
Diriwayatkan dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘anhuma, bahwa seorang shahabat bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam :

أَيُّ اْلإِسْلاَمِ خَيْرٌ؟

Bagaimanakah keislaman yang terbaik?
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:

تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ. متفق عليه

Engkau memberi makan orang miskin dan memberi salam kepada orang yang kau kenal maupun tidak kau kenal. (HR. Bukhari Muslim)

Salam mempererat ukhuwah
Dengan sapaan salam yang mengandung doa keselamatan, ikatan ukhuwah kaum muslimin akan semakin erat dan tumbuh rasa saling cinta sesama mereka.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا. أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ. رواه مسلم

Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Dan kalian tidak akan beriman hingga kalian saling cinta- mencintai. Maukah aku tunjukkan pada kalian sesuatu yang jika kalian kerjakan maka kalian akan saling cinta- mencintai? Sebarkanlah salam diantara kalian. (HR. Muslim)

Dengan hadits ini kita ketahui betapa besarnya peranan salam dalam membantu seseorang untuk masuk ke dalam surga. Demikian juga dapat kita ketahui betapa besarnya peranan salam dalam mempererat ukhuwah islamiyah.

Tata cara salam
Dalam memberikan salam kita diperintahkan untuk mengucapkan kalimat yang paling sempurna, yang akan mendapatkan nilai lebih sempurna pula di sisi Allah Shubhanahu wata’ala, yaitu “Assalamu ’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh” (agar tidak menggunakan kalimat singkatan yang akan mengurangi nilai kesempurnaannya -peny).

Dalam satu hadits yang diriwayatkan oleh Imran bin Hushain Radhiallahu ‘anhuma, disebutkan bahwa ketika seorang sahabat datang mengucapkan Assalamu ‘alaikum, beliau menjawab salamnya seraya berkata: ”sepuluh”. Ketika ada sahabat lain datang dan mengucapkan: “Assalamu ‘alaikum Warahmatullah”. Beliau menjawab salamnya seraya berkata: ”Dua puluh”. Kemudian ketika datang sahabat yang ketiga dan mengucapkan: ”Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh”. Beliau menjawab salamnya dan berkata: ”Tiga puluh”. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, dan dia berkata: “Hadits ini Hasan”. Syaikh al-Albani menshahihkannya dalam Jami’ at-Timirdzi, hadits no. 2689)

Sedangkan ketika menjawab salam, kita diperintahkan untuk menjawabnya dengan yang lebih baik, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا. النساء: 86

Apabila kalian disapa dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu. (an-Nisa’: 86)

Memberi salam ketika masuk rumah
Di antara waktu diperintahkannya mengucapkan salam adalah ketika masuk rumah. Allah Subhabahu wata’ala berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. النور: 27

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memasuki rumah yang bukan rumah kalian sebelum
meminta izin dan memberi salam kepada penghu-ninya. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian, agar kalian (selalu) ingat
. (an-Nuur: 27)

Memberi salam tidak terlalu keras dan tidak pula terlalu pelan
Karena memberi salam adalah adab dan akhlak yang mulia, maka janganlah ucapan ini justru menjadi pengganggu orang yang sedang tidur. Oleh karena itu ketika kita memberi salam jangan terlalu keras dan jangan pula terlalu pelan hing-ga tidak terdengar.
Diriwayatkan dari Miqdad Radhiallahu ‘anhu dalam hadits yang panjang, di antaranya dia berkata:

كُنَّا نَرْفَعُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَصِيبَهُ مِنَ اللَّبَنِ. فَيَجِيءُ مِنَ اللَّيْلِ فَيُسَلِّمُ تَسْلِيمًا لاَ يُوقِظُ نَائِمًا وَيُسْمِعُ الْيَقْظَانَ. فَجَاءَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فَسَلَّمَ كَمَا كَانَ يُسَلِّمُ. رواه مسلم

Kami membawakan susu untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, datanglah seseorang ke rumah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pada waktu malam dan memberi salam dengan suara yang tidak membangunkan orang tidur tapi didengar oleh orang yang terjaga. Maka datanglah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan menjawab salam dengan suara yang sama”. (HR. Mus-lim)

Dengan cara salam yang seperti ini kita tidak mengganggu tuan rumah. Apabila tidak mendapatkan jawaban sampai tiga kali, maka pulanglah sesungguhnya yang demikian lebih mulia buat kita dan lebih baik buat mereka.

Memberi salam kepada kaum wanita
Jika tidak dikhawatirkan timbulnya fitnah atau kesalahpahaman, disunnahkan pula memberi salam kepada para wanita. Misalnya jika wanita tadi tidak sendirian –yakni sekelompok para wanita, maka disunahkan untuk mengucapkan salam kepada mereka.
Diriwayatkan oleh Asma’ binti Yazid Radhiallahu ‘anhuma :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ فِي الْمَسْجِدِ يَوْمًا وَعُصْبَةٌ مِنَ النِّسَاءِ قُعُودٌ فَأَلْوَى بِيَدِهِ بِالتَّسْلِيمِ. (رواه الترمذي)

Pada suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berangkat ke masjid dan melewati sekelompok para wanita, maka beliau memberi salam kepada mereka. (HR. Tirmi-dzi; Syaikh al-Albani menghasankannya dalam Jami’ at-Tirmidzi, hadits no. 2697)

Siapa yang memulai salam
Ketika kita bertemu dengan seorang muslim terkadang kita mengucapkan salam bersamaan pada saat ia mengucapkan salam. Atau sebaliknya kita menunggu dia memberi salam, ternyata diapun menunggu kita salam.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kita siapa yang hendaknya memulai salam dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يُسَلِّمُ الرَّاكِبُ عَلَى الْمَاشِي وَالْمَاشِي عَلَى الْقَاعِدِ وَالْقَلِيلُ عَلَى الْكَثِيرِ. متفق عليه

Seorang yang berkendaraan memberi salam kepada yang berjalan kaki, yang berjalan kaki memberi salam kepada yang duduk, kelompok yang sedikit memberi salam kepada kelompok yang banyak. (HR. Bukhari Muslim)

Dalam riwayat Bukhari disebutkan:

وَالصَّغِيْرُ عَلَى الْكَبِيْرِ.

Yang lebih muda memberi salam kepada yang lebih tua. (HR. Bukhari)

Namun jika keadaan, jumlah dan umurnya sama, maka semulia-mulia manusia di hadapan Allah adalah mereka yang memulai salam. Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Umamah bin Ajlan bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِاللَّهِ مَنْ بَدَأَهُمْ بِالسَّلاَمِ. رواه أبو داود

Sesungguhnya semulia-mulianya manusia di hadapan Allah adalah barang-siapa yang memulai dengan salam. (HR. Abu Dawud; Syaikh al-Albani menshahihkannya dalam Sunan Abi Dawud, no. hadits 5197)

Diperbolehkannya mengirim salam kepada yang lain
Diriwayatkan oleh Aisyah Radhiallahu ‘anha, dia berkata: Berkata kepadaku Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam :

إِنَّ جِبْرِيلَ يَقْرَأُ عَلَيْكِ السَّلاَمَ. قَالَتْ: فَقُلْتُ وَعَلَيْهِ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ. متفق عليه

Sesungguhnya Jibril menyampaikan salam untukmu. Aku berkata: Aku menjawab wa alaihis salam warahmatullahi (dan baginya keselamatan dan rahmat Allah). (HR. Bukhari dan Muslim)

Diharamkannya memulai salam kepada orang kafir
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ فَإِذَا لَقِيتُمْ أَحَدَهُمْ فِي طَرِيقٍ فَاضْطَرُّوهُ إِلَى أَضْيَقِهِ. رواه مسلم

Janganlah kalian mendahului salam kepada Yahudi dan Nashara. Jika salah seorang kalian bertemu dengan mereka dalam satu jalan, maka paksalah oleh kalian ke jalan yang paling sempit. (HR. Muslim)

Adapun jika mereka (ahlul kitab) memulai salam –baik berupa do’a keselamatan maupun do’a kecelakaan– kepada kaum muslimin, maka jawablah wa ‘alaikum. Sebagaimana diriwayatkan dari Anas radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمْ أَهْلُ الْكِتَابِ فَقُولُوا وَعَلَيْكُمْ. متفق عليه

Jika ahlul kitab mengucapkan salam kepada kalian, maka jawablah: “Wa ‘alaikum”.

Dalam riwayat lain dari Abdullah Ibnu Umar Radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمُ الْيَهُودُ فَإِنَّمَا يَقُولُ أَحَدُهُمُ السَّامُ عَلَيْكَ فَقُلْ وَعَلَيْكَ. متفق عليه

Jika seorang Yahudi mengucapkan salam kepada kalian dengan ucapan as-saamu ‘alaika (semoga kecelakaan atas engkau), maka jawablah: “Wa ‘alaika” (dan atasmu pula). (HR. Bukhari Mus-lim)

Sumber : Risalah Dakwah Manhaj Salaf Edisi: 106/Th. III 19 Jumadil Awal 1427 H/16 Juni 2006 M

Risalah Dakwah MANHAJ SALAF, Insya Allah terbit setiap hari Jum’at. Ongkos cetak dll Rp. 200,-/exp. tambah ongkos kirim. Pesanan min 50 exp. bayar 4 edisi di muka. Diterbitkan oleh Yayasan Dhiya’us Sunnah, Jl. Dukuh Semar Gg. Putat RT 06 RW 03, Cirebon. telp. (0231) 222185. Penanggung Jawab & Pimpinan Redaksi: Ustadz Muhammad Umar As-Sewed; Sekretaris: Ahmad Fauzan/Abu Urwah, HP 081564634143; Sirkulasi/pemasaran: Abu Abdirrahman Arief Subekti HP 081564690956

Published in: on 1 September 2010 at 13:10  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://adealam.wordpress.com/2010/09/01/mempererat-ukhuwah-dengan-salam/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: