Sikap Seorang Muslim Terhadap HADITS

Penulis : Ustadz Muhammad Umar As Sewed

Ahlul bid’ah alergi terhadap hadits
Sebagian kaum muslimin, khususnya kaum mu’tazilah dan para rasionalis atau orang-orang yang terpengaruh dengan mereka, menolak berita-berita hadits yang
–menurut anggapan mereka– tidak masuk akal. Mereka menganggap hadits-hadits tersebut hanya akan membuat orang lari dari Islam.
Ketika mereka mendengarkan hadits-hadits tentang diangkatnya Nabi Isa ‘Alaihis salam dalam keadaan hidup, akan turunnya beliau pada akhir zaman, berita tentang Dajjal –yang sudah ada wujudnya dalam keadaan terbelenggu– atau tentang Ya’juj wa Ma’juj yang terus menerus berupaya untuk keluar dari benteng yang dibuat oleh Dzulqarnain dan lain-lainnya, mereka benar-benar gelisah, panas dadanya seraya berkata: “Untuk apa hadits-hadits seperti ini disampaikan. Hadits-hadits ini akan menjadikan manusia semakin jauh dari Islam”. Mereka mengucapkan ucapan-ucapan olok-olok, celaan dan berbagai macam ucapan penolakan terhadap hadits-hadits tersebut. Keadaan mereka ini persis seperti yang dikatakan oleh para ulama tentang ahlul bid’ah:
Berkata Ahmad Ibnu Sinan al-Qathan: “Tidak ada seorang ahlul bid’ah pun, kecuali mesti akan membenci ahlul hadits. Dan tidaklah seseorang mengadakan kebid’ahan, kecuali akan dicabut manisnya hadits dari hatinya.” (Diriwayatkan oleh Imam Abu Utsman ash-Shabuni dalam Aqidatus Salaf Ash-habul Hadits, hal. 300).

Berkata Abu Nashr Ibnu Sallam al-Faqiih: “Tidak ada yang paling berat atas kelompok sesat, dan tidak pula yang paling dibenci oleh mereka, melainkan mendengarkan hadits dan periwayatan hadits dengan sanadnya”. (Aqidatus Salaf Ash-habul Hadits, hal. 302).

Orang mukmin mendapatkan faedah dari hadits
Sungguh kalau saja di hati mereka ada keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya mereka tidak akan bersikap sinis terhadap hadits. Orang-orang yang beriman akan semakin beriman dengan berita-berita hadits tersebut. Mereka akan semakin yakin bahwa hari kiamat telah dekat dan benar-benar akan terjadi. Kemudian mereka takut kepada Allah dan beramal dengan amalan yang shalih.
Namun sayang, Mereka –kaum rasionalis dan mu’tazilah- adalah orang-orang yang mengambil pelajaran dari kaum orientalis kafir yang tidak mau percaya (baca: beriman) kepada hadits, kecuali setelah “dibuktikan” secara akal. Padahal, betapa banyak perkara-perkara ghaib yang akal, telinga, mata dan seluruh panca indera kita tidak dapat membuktikannya. Ciri khas orang yang taqwa adalah beriman kepada hal-hal yang ghaib –yang tidak dapat diraba oleh panca indera manusia.

الم (1) ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ (2) الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ. (البقرة: 1-3)

Alif Laam Miim. Kitab (al-Qur’an) ini ti-dak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka. (al-Baqarah: 1-3)

Menolak hadits menyebabkan kesesatan
Maka perlu kiranya nasehat para ulama untuk seluruh kaum muslimin bagaimana seharusnya bersikap terhadap berita-berita hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam agar jangan menyimpang dan sesat.
Berkata Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiallahu ‘anhu : “Aku tidak akan meninggalkan sedikit pun dari apa yang telah diamalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam , kecuali aku pun mengikutinya. Sungguh aku khawatir jika aku meninggalkan sesuatu dari perintahnya aku akan menyimpang”. (al-Ibaanah oleh Ibnu Bathah, juz 1 hal. 246; lihat Ta’dhimus Sunnah hal. 24)

Kemudian Ibnu Bathah al-Uqbari mengomentari ucapan Abu Bakar Radhiallahu ‘anhu di atas: “Lihatlah wahai saudaraku, seorang shiddiq yang besar, beliau Radhiallahu ‘anhu mengkhawatirkan dirinya akan sesat jika menyelisihi sedikit saja dari perintah nabinya Shallallahu ‘alaihi wasalam. Maka bagaimanakah yang akan terjadi pada zaman ini, saat banyak orang berani memperolok-olokkan nabi mereka dan perintah-perintahnya. Mereka justru berbangga dengan sesuatu yang menyelisihi beliau Shallallahu ‘alaihi wasalam, bahkan memperolok-olokan sunnahnya Shallallahu ‘alaihi wasalam. Kita meminta kepada Allah Subhanahu wata’ala perlindungan dari kesesatan dan keselamatan dari kejelekan amal. “ (al-Ibaanah oleh Ibnu Bathah, juz 1 hal. 246; lihat Ta’dhimus Sunnah hal. 24)

Berkata Yazid bin Harun Abu Khalid al-Wasithi Rahimahullah di majlisnya, meriwayatkan hadits tentang dilihatnya Allah pada hari kiamat. Tiba-tiba ada seorang yang berkata di majelisnya: “Wahai Khalid bagaimana maksud hadits ini?”. Maka Yazid bin Harun marah dan gemetar: “Sungguh engkau persis dengan Shabigh1), dan betapa perlunya engkau diperlakukan seperti Shabigh. Celaka engkau!! Siapa yang tahu seperti apa dan siapa yang berhak untuk melampaui berita yang datang dalam hadits. Siapa yang berani berbicara dari pribadinya sendiri, kecuali orang yang bo-doh dan kurang agamanya? Kalau engkau mendengar hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam, tunduklah padanya dan jangan mengada-adakan perkara baru padanya. Sungguh jika kalian mengikutinya dan tidak membantahnya kalian akan selamat. Namun, kalau tidak, niscaya kalian akan binasa. (Diriwayatkan oleh imam ash-Shabuni dalam Aqidatus Salaf ash-Habul Hadits, hal. 236-237)

Jangan membantah hadits shahih dengan hawa nafsu
Berkata Umar bin Abdul Aziz Rahimahullah: “Tidak ada pendapat siapa pun bersama sunnah yang telah disunnahkan oleh Ra-sulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam”. (I’lamul Muwaqi’in, Ibnul Qayyim, juz 2 hal. 282)

Yakni, jika telah datang sunnah dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam, maka tidak ada pendapat siapa pun yang boleh menentangnya.
Ini merupakan bantahan yang jelas bagi orang-orang yang menentang hadits-hadits yang shahih dengan pendapatnya sendiri. Yaitu mereka yang menentang hadits dengan ucapan: “Tapi saya pikir…..”, “Namun saya rasa…..” atau ucapan “Tapi menurut saya….” Dan lain-lain. Yang demikian merupakan bahasa-bahasa penentangan terhadap hadits dengan hawa nafsu. Dengarkanlah ucapan ulama berikut:

Berkata Abu Kilabah Rahimahullah: “Jika seseorang engkau ajak bicara dengan sunnah, kemudian berkata: “Tinggalkan kami dari yang demikian, coba berikan bukti dari al-Qur’an2). Maka ketahuilah kalau dia orang yang sesat”. (Thabaqat Ibnu Sa’ad, juz ke-7 hal. 184; lihat Ta’dhimus Sunnah hal. 25)

Imam Dzahabi Rahimahullah mengomentari ucapan di atas: “Dan jika engkau melihat seorang ahlul kalam, mubtadi’, berkata: “Tinggalkan kami dari al-Qur’an dan hadits-hadits aahaad, tapi coba buktikan secara akal”, maka ketahuilah bahwa dia adalah Abu Jahl. Dan jika engkau melihat seorang sufi, pengikut aliran wihdatul wujud, berkata: “Tinggalkan kami dari nukilan-nukilan (al-Qur’an dan as-Sunnah) maupun akal, tapi coba berikan kepada kami bukti dengan perasaan hati dan naluri”, maka ketahuilah bahwa Iblis telah muncul dalam bentuk seorang manusia atau telah merasuk pada orang tersebut. Kalau kamu takut, larilah darinya; kalau kamu berani, jatuhkanlah ia dan duduklah di atas dada-nya kemudian bacakan ayat kursi… (yakni diruqyah –pent.)”. (Siyaar A’laamu Nuba-la, adz-Dzahabi, juz 4 hal. 742)

Wajib menerima hadits shahih
Dengan demikian tidak pantas seorang muslim yang mendengarkan hadits yang shahih, kemudian menolaknya dengan ber-bagai macam alasan hawa nafsunya. Allah mengancam orang yang menyelesihi nabi-Nya setelah jelas hadits baginya.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا. النساء: 115

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Ja-hannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (an-Nisaa’: 115

Abul Harits Ibnu Abi Dz’ib Rahimahullah ketika meriwayatkan hadits kepada Abu Hanifah ibnu Sammak, dia ditanya: “Wahai Abul Harits, apakah engkau sependapat dengan hadits ini?” Sungguh Abul Harits sangat marah dan memukul dada Abu Hanifah seraya menjerit dengan suara yang keras dan berkata: “Aku sampaikan kepadamu ucapan Rasulullah Shallallau ‘alaihi wasalam, kemudian engkau katakan apakah aku sependapat dengannya?!! Ya!, tentu saja aku sependapat dengannya! Dan yang demikian wajib bagiku dan bagi setiap orang yang mendengarnya!!” (Dikisahkan oleh Imam Syafi’i dalam ar-Risalah, hal. 450; lihat Ta’dzimus Sunnah, hal. 26-27)

Berkata Imam Syafi’i Rahimahullah: “Telah sepakat kaum muslimin (secara ijma’) bahwasanya siapa yang telah jelas baginya sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam, maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya karena ucap-an siapa pun”. (Lihat I’lamul Muwaqi’in, Ibnul Qayyim, juz 2/282)

Bahkan al-Khumaedi mengisahkan bahwa pernah pada suatu hari imam Syafi’i meriwayatkan hadits, kemudian aku berka-ta kepadanya: “Apakah engkau sependapat dengannya?” Maka Imam Syafi’i berkata: “Apakah engkau melihat aku keluar dari gereja, atau engkau melihat di jubahku ada sabuknya (ciri jubahnya pendeta Nashrani –pent.) hingga ketika aku mendengar ha-dits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam kemudian aku tidak sependapat dengannya?!!” (Hil-yatul Auliya, juz 9/106; Siyar a’lamu nu-bala, 10/34; lihat Ta’dhimus Sunnnah, hal. 28)

Dalam riwayat lain, Imam Syafi’i Rahimahullah pernah ditanya tentang satu masalah, kemudian beliau menjawab dengan hadits. Maka si penanya tadi berkata: “Apakah engkau sependapat dengan hadits ini?” Maka Imam Syafi’i gemetar dan keluar otot lehernya seraya berkata: “Ya hadzaa, bumi mana yang akan aku pijak dan langit mana yang akan menaungiku, kalau aku meriwayatkan satu hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam kemudian aku tidak sependapat dengannya?!!. Na’am, ‘ala sam’i wal bashar (yakni: Ya, kami dengar dan kami taati)”. (Sifatu ash-Shahwah, Ibnul Jauzi, juz 2/256)

Berkata Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah: “Barang siapa yang menolak hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasalam, maka dia berada di pinggir jurang kehancuran”. Thabaqat al-Hanabilah, 2/11 dan al-Ibaanah, 1/269; lihat Ta’dhimus Sunnah, hal. 29)

Berkata Imam al-Barbahari: “Jika engkau mendengar seseorang mencela riwayat-riwayat (yakni riwayat hadits yang shahih), menolaknya atau mengingingkan selainnya, maka tuduhlah keislamannya dan jangan ragu kalau dia adalah pengekor hawa nafsu, ahlul bid’ah”. (Syarhus Sunnah hal. 51)

Berkata Abul Qashim al-Ashbahani: “Berkata ahlus sunnah dari kalangan salaf: “Barangsiapa yang mencerca riwayat-riwayat hadits, maka sepantasnya untuk dituduh keislamannya”. (al-Hujjah fi Bayanil Mahajjah, 2/248; lihat Ta’dhimus Sunnah, hal. 29)

Berkata Imam Az-Zuhri Rahimahullah –imamnya para imam pada zamannya-: “Dari Allah keterangannya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam yang menyampaikannya, maka kewajiban kita adalah menerimanya.” (Aqidatus Salaf Ash-Habil Hadits, hal. 249)

Beliau berkata juga: “Diriwayatkan dari salaf bahwa kaki Islam tidak akan kokoh, kecuali di atas fondasi at-Taslim (yakni me-nerima dan tunduk pada seluruh ucapan Allah dan Rasul-Nya –pent.). (Aqidatus Sa-laf ash-Habul Hadits hal. 200)

Catatan Kaki
1) Yakni Shabigh ibnu ‘Ishlin, seorang yang dipukul oleh khalifah Umar bin Khathab رضي الله عنه dan diperintahkan kepada kaum muslimin untuk memboikotnya, karena selalu mempertanyakan perkara yang tidak perlu dipertanyakan. (Lihat Aqidatus Salaf Ash-Habul Hadits, Imam ash-Shabuni, hal. 237-238)

2) Yakni dia hanya mau menerima dalil dari al-Qur’an dan tidak mau menerima dalil dari hadits.

Sumber : Risalah Dakwah Manhaj Salaf Edisi: 73/Th. II 29 Jumadi tsani 1426 H/5 Agustus 2005 M

Published in: on 1 September 2010 at 13:29  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: ,

The URI to TrackBack this entry is: https://adealam.wordpress.com/2010/09/01/sikap-seorang-muslim-terhadap-hadits/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: